
Setelah menangis Nesya cuci muka lagi, takut terlihat sembab matanya, keluar dari kamar seperti biasa Nesya dan Elvan bergandengan Gavin berada di belakang mereka.
"Selamat pagi Mah, Pah, pagi semuanya", sedikit menunduk menghormati adik dan ipar juga keponakan mertuanya itu.
"Pagi sayang", Mama Diana tersenyum sedangkan Papa Aditya hanya mengangguk dan tersenyum juga.
"Selamat pagi Oma, Opa, pagi semuanya".
"Tuh kan Opa, cucu kita sekarang pintar banget ya".
"Maminya hebat bisa mengubah karakter dua manusia batu", Papa Aditya tergelak karena ucapannya sendiri.
Raya kali ini bungkam karena ada Gavin dirinya takut Gavin marah lagi padanya.
Sarapan dengan hening pokus ke makannan masing masing, semua orang menikmati sarapannya, bumbu racikan yang Nesya buat sukses menghipnotis lidah semua orang yang ada di meja makan itu.
"Bisa bisa Papa bulet Nes kalau ada di rumah terus bahaya ini".
"Di kontrol Pah mau se enak apapun, ingat umur ingat penyakit", saut Mama Diana.
Nesya tersenyum, pujian dari Papa Aditya sebenarnya menambah semangat untuk dirinya masak lagi, "Nanti Nesya buatin jamu Pah buat turunin kolestrol".
"Tuh kan Mah, mau cari dimana lagi menantu yang seperti ini tidak bakalan ada lagi di dunia ini".
__ADS_1
"Papa itu berlebihan", Nesya malu malu.
Sedangkan keluarga sebelah merasa muak dengan obrolan yang sok manis dari keluarga ini, sudah susah payah mereka sedikit demi sedikit memberantakan dan ingin menghancurkan keluarga Matthew, sepertinya Nesya adalah orang yang harus mereka singkirkan terlebih dahulu bagaimanapun caranya.
Ketiga manusia itu bangkit dari duduknya masing masih lalu pergi.
Gavin dengan sigap menangkap gerak gerik mencurigakan Om dan Tantenya itu, "Cih tidak akan saya biarkan kalian menghancurkan keluarga saya lagi", merasa tertangtang, Gavin akan lebih mempersiapkan semuanya.
"Ayo Dad katanya kita mau pergi", Elvan tidak sabaran dengan janji Daddy nya kemarin.
"Mau kemana sayang?", tanya Mama Diana yang tingkat ke kepoannya 100%, apalagi melihat pemandangan manis antara bapak dan anak itu yang baru kali ini dirinya lihat.
"Mau jalan jalan kata Daddy Oma".
"Mas benar kata Elvan?", Nesya tidak di tahu dengan rencana bapak dan anak itu.
"Haihhh ko mau pergi gak bilang bilang dulu, kamu saja sama Elvan sana aku mau tiduran nonton di kamar", kesal Nesya.
Pantas saja pagi pagi bapak dan anak itu sudah rapih tidak seperti Nesya yang masih pakai baju rumah, rambut juga di ikat asal.
"Mana bisa seperti itu Sya".
"Pada ngeselin sih mau pergi gak bilang bilang".
__ADS_1
"Ya ini baru bilang Sya".
"Iya bilang sudah mau berangkat gitu, gak niat banget ngajaknya, ngeselin".
Setelah minum Nesya pamit pada mertuanya, sebab keluarga sebelah sudah tidak ada di situ, " Mah Pah Nesya ke kamar duluan ya", pamitnya, mendapat anggukan dari kedua mertuanya langsung berlalu dari sana.
"Boy kita salah lagi Mami ngambek", adu Gavin pada Elvan.
"Gimana dong Dad", mata Elvan berkaca kaca takut Maminya marah beneran, Elvan yang sekarang cengeng apa apa mau sama Maminya terus.
Bwahahaahaa Mama Diana dan Papa Aditya tertawa melihat muka panik anak dan cucunya hanya karena Nesya ngambek.
"Cemen banget sih Vin, kehilangan duit beratus ratus juta tidak panik sama sekali, ini hanya karena istri ngambek paniknya setengah mati hahhaa", benar benar papa Aditya tidak bisa menahan tawanya.
"Iya nih pah jiwa mapianya hilang kalau sudah keremu sama pawangnya".
"Dia lebih dari duit dan permataku Pah",
Dengan cepat Gavin turun dari kursinya berjalan sambil menggendong Elvan yang sudah melelehkan air mata.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤