
Nesya menyengit, apalagi yang mau laki laki ini bicarakan, dari kemarin pembicaraan mereka tidak ada keputusannya akan seperti apa, Gavin malah semakin berubah dan banyak ulah.
"Bicara saja di sini", ucap Nesya.
"Jangan bicara serius di hadapan anak kecil", alasan Gavin.
Haihhh apalagi yang mau dia bicarakan sih, ini juga tangan tidak bisa diam sekali dari tadi, meskipun Nesya menyingkir nyinggkirkan tangan Gavin dari pinggangnya namun tetap saja tangan itu merayap ke punggung dan pinggang.
"Elvan mau masuk kamar apa sama mbak dulu?, Mami mau bgobrol sebentar sama Daddy".
"Aku ke kamar Mih, emuahh love you Mami", mencium pipi Maminya, okelah kali ini Elvan mengalah tapi tidak dengan besok dan seterusnya.
"Iya sayang gak lama langsung bobo ya", Nesya tersenyum dan mencium balik pipi anak itu dengan gemas.
Niiatnya nanti setelah bicara dengan Gavin, Nesya akan pulang ke kontrakannya.
Cih Gavin berdecih tidak suka dengan tingkah Elvan yang lebih dekat dan leluasa pada istriny.
Gavin langsung menggandeng Nesya menaiki tangga masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu.
Grepp memeluk Nesya dari belakang mencium pipi berkali kali menghilangkan jejak bibir Elvan yang ada di pipi Nesya.
"Pak ihhh", Nesya mengeliat geli dan jengah.
"Tadi di cium Elvan diam diam saja giliran saya yang cium protes", menggendong Nesya membawanya ke kasur.
"Elvan 2x pak Gavin terus terusan".
"Halal", ucap Gavin gampang, cih padahal sejak kapan dirinya ingat dengan yang halal dan haram selama ini.
__ADS_1
Nesya mencebikan bibirnya, cup Gavin tidak menyia nyiakan kesempatan kali ini.
Lama Gavin menikmati bibir manis Nesya, menyesapnya dengan kuat tangannya tidak tinggal diam.
Ini sudah keberapa kali Gavin memperlakukan dirinya dengan seperti ini, Nesya ikhlas tidak ikhlas mau bagaimanapun Gavin suaminya yang memang sebenarnya itu hak nya.
Namun dalam hatinya bertanya tanya kenapa Gavin seperti ini seolah tidak ada jarak lagi dengannya.
Nesya melengguh merasakan tangan Gavin yang tidak diam di atas tubuhnya.
Melihat tanda yang tadi sore dia buat masih terpangpang nyata membuat senyum Gavin mengembang.
"Pak Gavin berhenti", ucap Nesya di iringi leguhan kegelian.
Bukannya berhenti tangan Gavin malah maksa untuk masuk kedalam kaos yang Nesya gunakan, menyingkirkan penutup dan berhasil iya genggam.
"Pas enak", cup Gabin mengecup bibir Nesya lagi.
Ayah Bunda sekarang Nesya sudah gak perawan lagi, batin Nesya.
"Apa maksud pak Gavin seperti ini, jangan samakan saya dengan perempuan di luaran sana pak", air matanya mulai rembes.
"Bisa tidak berhenti memanggil pak, mari kita mulai pernikahan ini dengan saling menerima", Gavin membawa Nesya kedalam pelukannya.
"Apa saya tidak salah dengar, bukannya pak Gavin tidak mau ada pernikahan di antara kita".
"Saya mau mencoba menerima semuanya, maaf jika saya banyak salah dan berkata kasar".
"Bagaimana jika calon istri pak Gavin datang lagi ke sini meminta untuk menikahi dirinya".
__ADS_1
"Dia pergi dengan ke kasihnya karena sudah ada mahluk hidup di dalam kehidupannya", ucap Gavin mencleos, padahal dirinya sangat menjaga Helen selama 2 tahun ini.
Gavin memang bukan laki laki yang sempurna bahkan dirinya juga pecinta maksiat hanya baru 2 tahun ini saja dirinya lebih sering menghindar dari perbuatan itu.
Yang lebih pintarnya Gavin tidak pernah mencari di negara ini, dirinya sering pergi ke luar negri jika ingin bersenang senang.
"Mau kan kamu memulai semuanya denganku".
Nesya bingung di sisi lain tidak ada cinta di dalam hatinya pada peria ini, namun iya pikir lagi apa salahnya saling menerima yang memang sudah tuhan takdirkan untuk mereka, tapi bagaimana jika Gavin membohonginya.
"Sya", panggil Gavin sambil membenarkan rambut istrinya yang berantakan karena ulahnya.
"Kenapa memanggilku Sya, itu sangat aneh".
"Ingin beda dan hanya suamimu yang memanggil seperti itu".
"Pak Gavin serius ingin memulai semuanya".
"Ya, saya berpikir juga tidak ingin terus mengecewakan kedua orang tua saya, selama ini mereka sudah seringa saya kecewakan, padahal harapan mereka hanya saya satu satunya".
"Mau kan kamu menerima masalalu dan semua ke kurangan saya".
"Apa janji pak Gavin bisa aku pegang".
"Ya silahkan kamu coba dulu, berhenti memanggil saya pak, saya suamimu bukan bapakmu", dengus Gavin.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤