
Nesya dan Elvan setelah sarapan mereka juga berangkat memakai mobil Nesya, membawa mobil sendiri dengan ijin mertuanya, sebenarnya karena maksa juga.
Setelah sampai sekolah Elvan langsung siap siap turun, tidak lupa mengucapkan terimakasih pada wanita yang rela mengurusnya meskipun bukan siapa siapa, "Terimakasih mih, love you", ucapnya tersenyum sambil menyalami Nesya.
Deg,,, kaget ini pertamakalinya Elvan mengucapkan kata kata manis itu, Nesya sampai berkaca kaca saking bahagianya.
"Sama sama sayang, love you more jagoan Mami, yang pintar sekolahnya, bekalnya habiskan, siang nanti di jemput mbak Erna seperti biasa ya, Mami pulang telat karena banyak tugas juga, jangan lupa makan siang dan bobo jangan main ipad terus", ucap Nesya panjang lebar seperti ibu pada umumnya yang memberi pesan nasehat pada anak.
"Siap Ibu Ratu", hormat Elvan.
Nesya tersenyum melihat anaknya masuk ke dalam gerbang sekolah di tuntun satpam yang ada di sana.
Huwhhh kamu yang menjadi pelipur rara buat aku Van, mungkin jika kamu tidak ada aku entah seperti apa jadinya sekarang, bahkan aku sempat putus asa karena merasa tuhan tidak adil padaku selalu memberi cobaan di luar kapasitasku.
Nesya menjalankan mobilnya lagi menuju kampus, kali ini dirinya tidak terburu buru karena masih punya satu jam lebih lagi waktu luang.
Sampai kampus ketiga sahabat karibnya belum sampai, jadi dirinya memilih ke perpus, Nesya anak yang cerdas dan bisa di bilang salah satu kutu buku.
Sampai perpus Nesya memilih dua buku untuk iya bawa ke kelas, buku di sana boleh di pinjam dan di bawa kemanapun dengan satu syarat pengembalian harus tepat waktu.
"Nes sudah sampe, tumben sendiri?", tanya Guin salah satu calon dokter muda.
__ADS_1
"Ehh kak Guin, hehee iya kak mereka belum sampai".
"Sayang banget saya sudah mau masuk Nes", ucapnya, padahal ini kesempatan untuk bisa ngobrol dengan Nesya, waktu tidak mendukung, dengus Guin.
"Iya gak apa apa kak silahkan", ucap Nesya tersenyum.
Makin hari makin cantik aja lu Nes, semakin tertang tang gue buat dapetin lu, batinnya.
Nesya juga membawa dua buku ke kelasnya memanpaatkan waktu untuk belajar itulah Nesya.
.
.
Gavin menatap lurus kotak bekal yang iya bawa tadi dan di taruh di sopa, meskipun malas namun seolah berat untuk iya lepaskan dari tangannya.
Ck gue sudah seperti anak tk yang di bawakan bekal oleh ibunya, batin Gavin.
Namun 5 menit kemudian dirinya merasa laper, tadi malam belum sempat makan karena terjebak macet di jalan, pagi juga dirinya tidak sempat sarapan.
Mengambil kotak bekal yang dirinya bawa tadi dengan was was Gavin membukanya, pelan pelan iya buka dan di tutup lagi, tiga detik kemudian di buka lagi, berkali kali buka tutup kotak makan itu, ada rasa was was dalam hatinya.
__ADS_1
Ck gue laper awas saja dia kalau sampai meracuniku, gerutunya.
Satukali suapan, menyendokan makannan itu ke dalam mulutnya, Gavin mengunyahnya juga dengan pelan dan hati hati.
Enak juga, belum pernah merasakan nasi goreng yang seperti ini rasanya, batin Gavin.
Satukali duakali tigakali suapan, semakin banyak menyuapkan makannan itu ke mulutnya semakin nikmat rasanya, jadinya Gavin makan dengan lahap bahkan sampai bersih tidak ada satupun yang tersisa di sana.
Padahal botol mineral ada di sana di atas mejanya juga tiga, namun Gavin lebih memilih botol minum yang ada di sopa di bag kecil yang iya bawa tadi dengan kotak makan.
Kenapa air ini juga rasanya beda ya, batin Gavin lagi, apa dia menggunakan ramuan khusus, tapi ini bersihkan tidak ada apa apa, bicara sendiri sambil terus memperhatikan botol minumnya, tidak ada yang aneh juga di sana.
.
.
.
pak Gavin mulai mulai nih ya š¤£š¤£š¤£
Happy readingā¤ā¤ā¤
__ADS_1