
Gavin dengan kecepatan tinggi membawa mobil untuk menemui client yang sudah menunggunya lama.
Selesai menemui client Gavin pergi ke perusahaan lagi ada beberapa berkas yang belum dirinya tanda tangani tadi pagi.
Jam 5 sore barulah bisa pulang lagi ke rumah, dengan langkah cepat Gavin masuk ke dalam kamarnya.
Nesya yang baru saja mandi dan sedang mengeringkan rambutnya di buat terkejut dengan lingkaran tangan yang ada di pinggangnya.
"Pak Gavin", ucap Nesya dengan terkejut.
"Ya Saya, biarkan seperti ini sebentar", Gavin mengeratkan pelukannya, menghirup dalam dalam wangi tubuh istrinya.
"Pak Gavin geli", ucap Nesya mengeliat, tubuhnya meremang mendapat kecupan dari Gavin di punggungnya.
"Biasakan".
Apasih maksudnya tadi siang marah marah sampai mau patahin kaki aku juga, sekarang berlaga seolah tidak punya dosa, hihhh manusia es.
"Terimakasih", ucapnya melepaskan pelukannya, mengambil handuk yang ada di tangan Nesya lalu masuk ke kamar mandi dengan santai.
Hihhh kenapa juga tu orang aneh banget sih, apa tadi dia mencium punggungku iiiiihhh semaunya saja main sosor tadi siang bibir sampai bengkak ini lagi akhhhhh dosen gila.
Nesya masih belum keluar dari kamar, takut tiba tiba tidak punya kaki, batinnya.
Merebahkan badan di sopa, Elvan lagi ngappain ya, kangen juga sama tu anak, monolognya.
__ADS_1
.
10 menit di kamar mandi, Gavin dengan santainya keluar hanya menggunakan handuk sampai batas pinggang doang.
"Astagfirullohalazim pak Gavinnnn", teriak Nesya, kaget melihat Gavin bertelanjang dada.
"Ambilkan baju", titahnya, tidak memperdulikan teriakan Nesya, Gavin malah menyuruh untuk mengambilkan bajunya.
Hihhhh "Kenapa tidak pakai baju di kamar mandi sih", gerutunya tanpa mau menoleh ke arah Gavin.
"Yang ikhlas jika mengambilkan barang suami".
"Suami sementara", celetuknya.
Ck tidak enak mendengar ucapan Nesya yang katanya suami sementara, Gavin mendekat pada Nesya langsung mengangkat tubuh mungil membawanya ke atas kasur.
"Pak mau apa hihhh", Nesya memalingkan wajahnya.
cup Gavin mencium bibir Nesya lagi, kali ini berbeda dengan tadi siang bahkan ini sangat lembut penuh perasaan.
Tidak ada pergerakan balasan dari Nesya, Gavin sedikit menggigit agar Nesya membuka mulutnya, benar saja sedetik itu juga Nesya membuka mulutnya.
Ini sangat manis berbeda dengan rasa dari perempuan perempuan sebelumnya yang pernah iya coba.
Ciuman yang sangat menuntut, padahal belum seberapa namun sangat membakar gairah bagi Gavin, menekan pinggulnya sesekali menggesekan benda tumpul yang sudah berdiri tegak ke sela sela paha Nesya.
__ADS_1
Ciuman Gavin beralih ke leher bahkan membuat tiga tanda di sana, sedangkan Nesya sudah dari tadi berontak namun ketika merasakan benda keras yang menggesek pahanya Nesya mematung.
"Pak Gavin, apa itu yang menonjol di bawah hihhh keras sekali menusuk di paha saya", ucap Nesya setelah lumayan sadar dari keterkejutannya.
Akhhh Gavin rasanya ingin teriak sekencang mungkin, dirinya sudah berada di ujung tanduk namun mendengar Nesya bertanya seperti itu seketika hilang etah kemana, "Nanti malam akan tau", ucapnya, bangkit dari tubuh Nesya mengambil bajunya.
"Pak saya boleh keluar ya, kan pak Gavin sudah pulang", ijin Nesya sudah mau membuka pintu kamar itu.
"Kalau mau kakimu tidak ada satupun besok pagi silahkan", ucap Gavin.
Nesya memilih duduk di lantai bersandar pada pintu kamar, maunya apa sih laki laki ini, dirinya serba salah, mulai jengah dengan keadaan yang selalu seperti ini.
Gavin dengan cepat memakai bajunya bahkan tidak segan membuka handuk dan memakai kolornya.
Hihhh Nesya hanya bisa memalingkan wajah protenpun tidak bisa.
"Ngapain duduk di situ, sini", panggilnya.
"Mau apa?", tanya Nesya.
"Memakan kamu".
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤