
Jam 7 malam Gavin baru sampai dari kantor polisi, Nesya masih berusaha membujuk Mama Diana untuk makan malam.
"Mah makan dulu sedikit saja ya, Nesya suapin".
"Mama gak laper Nes".
"Dari siang Mama belum makan, Nesya takut Mama sakit nanti".
"Mama masih gak habis pikir kurang apa kebaikan mama selama ini sama mereka, apa yang mereka inginkan selagi mama bisa turutin mama kasih, bahkan minta salah satu butik mama juga mama kasih walawpun hasil jerih payah dari masih muda".
Kakak yang sudah di anggap orang tua ternyata perlahan menghancurkannya, bahkan berencana ingin membunuhnya juga, Tuhan dosa apa hambamu ini, batin Mama Diana menjerit.
Nesya memeluk Mama Diana memberikan ketenangan dan kekuatan, tidak tau bagaimana cerita kehidupan keluarga suaminya tapi Nesya merasakan sakit juga melihat mertuanya menangis.
"Sudah jangan di pikirkan mereka sudah mendapatkan balasannya", Gavin mengelus punggung ibunya juga.
"Ayo kita makan sedikit saja Mah".
Akhirnya mau makan walapun benar hanya sedikit, Nesya setelah mengambilkan suaminya makan langsung menyuapi Mama Diana.
Gavin melihat Nesya yang begitu tlaten mengurus ibunya merasa bersyukur, Nesya bagaikan lampu yang memberi terang dan seperti pelangi memberi warna di keluarga Matthew yang berantakan.
Bersyukur Nesya yang menjadi istrinya sikap keibuan dan sikap lemah lembutnya, meskipun di luar kadang bar bar tapi jika di rumah menjadi contoh baik untuk anak, benar benar mengurus anak dan suami dengan baik.
__ADS_1
Papa Aditya juga baru sampai karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan dan mengurus masalahnya.
Setelah selesai makan Nesya mengantarkan Mama Diana ke kamarnya meskipun sudah ada Papa Aditya.
"Istrirahat Mah, jangan banyak pikiran kesehatan nomer 1".
"Terimakasih sayang", Mama Diana tersenyum menatap menantunya dengan lembut.
"Terimakasih nak, istirahat sana biarkan Mama sudah ada Papa", Papa Aditiya juga tidak kalah lembut jika bicara dengan menantu pilihannya itu.
"Sama sama Mah, Pah, Nesya ke kamar dulu ya, kalau Mama mau apa panggil aja".
"Iya sayang".
"Mas ko masih di sini, bukannya cepetan naik terus mandi ini udah malam kebiasaan banget mandi tengah malam terus, tidak baik buat kesehatan".
Bukannya marah mendapat omelan dari istri Gavin malah tersenyum lebar, jika ngomel seperti ini Nesya terlihat lebih lucu menggemaskan menurutnya, tapi kalau sudah ngomel marah merajuk Gavin angkat tangan.
"Nungguin kamu".
"Astagfirulloh lebih dari Elvan manjanya".
"Daddy nya Elvan kan".
__ADS_1
"Iya bapaknya Elvan yang manjanya lebih dari anak bayi, sudah mandi sana cepetan pakai air hangat sudah malam, jangan lama lama jangan berendam".
"Jangan apalagi Sya?", jailnya Gavin.
"Mas aku marah nih ya", melihat Gavin malah duduk di sopa.
"Iya iya ini mau mandi sayang", padahal sangat lelah badannya rasanya Gavin langsung ingin membantingkan badannya ke atas kasur, dengan langkah gontai mansuk ke kamar mandi.
Nesya bukannya tidak tau dan tidak mengerti suaminya sedang lelah, tapi Gavin kalau tidak di buru buru akan lama dan malah sering tidur tanpa membuka sepatunya juga jika sangat lelah.
Setelah mandi Gavin terlihat lebih segar tidak seperti tadi, langsung merangkak naik ke atas kasur dan memeluk Nesya dengan erat membenamkan wajahnya ke dada Nesya.
"Ada apa?", sambil mengusap kepala Gavin sedikit memberikan pijatan ke sela sela rambut.
"Tidak ada hanya merasa lelah, biarkan seperti ini sebentar saja Sya, saya lelah".
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤