
Setelah pulang kuliah menghabiskan waktu bahkan masak juga makan bareng dengan anak sambungnya Nesya merasa bahagia.
Ternyata punya anak sambung tidak seburuk yang dirinya bayangkan kemarin pas pertamakali mengetahuinya, kini semuanya mengalir begitu saja, Nesya sudah ikhlas menerima Elvano, untuk bagaimana pernikahan ini kedepannya dia tidak mau ambil pusing.
Kemarin kemarin dirinya memikirkan bagaimana nantinya menjadi janda muda, namun sekarang Nesya sudah masabodolah dengan hidupnya akan iya jalani dengan sabar dan ikhlas.
Ini sudah jam 9 malam lewat, setelah menidurkan Elvan, Nesya turun ke bawah dirinya akan pulang ke kontrakan.
"Bu Sanah, saya titip Elvan dulu ya besok saya akan kesini lagi insya Allah sebelum dia bangun".
"Non Nesya mau kemana?", tanya Bu Sanah kebingungan.
Nesya mengajak pelayan itu mengikutinya, Nesya mau bicara 4 mata dengan orang kepercayaan mertuanya itu.
"Bu aku bingung mau ngomong darimana dulu, tapi aku mohon sama Bu Sanah tolong tutup mulut ya, aku cerita hanya sama Ibu doang".
"Loh Non kenapa?".
"Aku dan pak Gavin menikah karena terpaksa bu, dan yang paling tepatnya aku hanya pengantin pengganti yang tidak di harapkan suami hehee lucu ya kisah hidupku", Nesya berusaha tegar dan menahan air matanya.
__ADS_1
"Aku titip Elvan besok aku akan kesini lagi sebelum dia bangun, aku akan pulang pergi selama Mama sama Papa di luar kota ya, pliss Bu Sanah tutup mulut ya".
Bu Sanah sampai tercekat mendengar penuturan Nesya, bagaimana dia nanti, selama ini tidak pernah ada yang iya tutupi dari bos besarnya.
Hanya bisa mengangguk, meskipun dirinya juga tidak tau bagaimana nantinya.
"Aku juga belum tau bu bagaimana pernikahan kami ini, pak Gavin belum pernah membahasnya, mungkin besok atau lusa kemungkinan besar kami akan cerai", ucap Nesya lagi.
Ya Allah kenapa mereka yang akan bercerai hatinya yang sakit, Bu Sanah memikirkan bagaimana Elvan nanti jika tidak ada Nesya lagi, baru 3 hari ini dirinya melihat Elvan ceria seperti punya kehidupan.
"Non apa tidak kasian dengan den Elvan?".
Iya juga ya, batin Bu Sanah.
"Bertahanlah non, saya yakin nak Gavin akan luluh akan menerima pernikahan ini, apa Non juga tidak ada perasaan atau Non punya laki laki lain?, maaf kalau saya lancang", bu Sanah menunduk.
Nesya tersenyum dan menggeleng, "Aku gak punya perasaan padanya bu, dan aku juga tidak punya peria lain, aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia dengan caraku sendiri, menata hidup dan meniti karir".
Lemah sudah, bu Sanah rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk memaksa Nesya bertahan dengan rumah tangga yang tidak ada arahnya ini.
__ADS_1
"Ini sudah malam Non sebaiknya jangan pulang untuk malam ini saja, Non tidur di kamar den Elvan gak apa apa, Nyonya juga kan sudah mengijinkannya".
Nesya menggelengkan kepala dan tersenyum, "Hehee tidak apa apa bu aku pulang saja dekat ko, aku sekarang tidur di kontrakan".
"Kenapa di kontrakan non?, apakah itu tidak apa apa?".
Nesya tersenyum dan menggelengkan kepalanya lagi, "Aku ingin hidup mandiri bu, dan aku tidak mau membawa Ayah ke masalah pernikahan ini".
"Ya sudah kalau begitu Non hati hati ya, apa boleh saya minta nomer ponsel Non Nesya".
"Ini bu, aku pamit ya, ada apa apa sama Elvan kabarin ya bu", setelah pamit Nesya buru buru pulang, ini sudah hampir jam 10 malam, untung saja dari kediaman Aditya ke kontrakannya tidak terlalu jauh dan menggunakan jalan besar, jadi dirinya tidak takut preman begal atau apalah.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1