
Elvan menepati janji, pagi pagi benar saja menjemput Rena ke rumahnya.
Bahkan dari jam 6 mami Nesya sudah ribut terus menyuruh Elvan cepat berangkat.
Sengaja memakai mobil sebab dirinya pulang sekolah langsung ke kantor, seharusnya Elvan masih asik menikmati masa remajanya, apalah daya bahkan dari sejak kecil di paksakan untuk mandiri dan dewasa.
"Pagi banget jemputnya kak, gue belum sarapan tau".
"Ya kenapa gak sarapan dulu aja", cuek Elvan.
Ck kumat kan cuman kemarin doang baiknya, gerutu Rena, "Lo tau sendiri mama kayanya lebih sayang ke elo daripada gue, daritadi di buru buru terus supaya lo gak nunggu lama tau gini gue ogah di jemput lo".
"Ngapain marah marah, tinggal cari sarapan di jalan atau di kantin gitu aja repot".
"Ngeselin tau gak lo itu".
Elvan lebih milih diam jika dirinya menyauti pasti akan lebih panjang debatnya.
Sampai sudah dekat ke sekolah barulah dirinya bertanya, "Mau sarapan apa?".
"Gak usah gue gak butuh sarapan".
"Bubur aja ya".
"Ogah".
"Tu ada lontong sayur enak tau".
"Gak mau".
"Mau beli roti nanti turun di depan".
"Gak suka roti gue".
__ADS_1
"Terus maunya apa", semua serba ogah dan gak mau haihh gini amat cewek, batin Elvan.
"Mau makan ginjal orang".
"Beli aja ginjal harimau biar semakin meraung kalau lagi ngambek".
"Ginjal lo yang gue mau".
"Emang lo mampu beli ginjal gue?".
"Gak usah di beli cukup di bunuh aja".
"Ck jaga ucapannya Rena, jangan suka aneh aneh ngaur banget".
"Serah gue, ini hidup gue".
Ya tapi lo calon istri gue, ck geli gue ngomongnya juga, lagian para orang tua pada ngebet banget mau nikahin anak nya, haihhh.
"Gak butuh temen".
"Butuhnya gue kan", Elvan memberikan kartu kredit yang dirinya punya.
"Gue juga punya", Rena mendorong tangan Elvan yang ada di hadapinnya.
"Gak usah pakai punya om lagi duitnya, nih punya gue aja".
"Gue bukan istri lo yang harus di kasih napkah ya".
"Ya tapi sebentar lagi lo jadi istri gue".
"Gak usah bercabda kak".
Emang dirinya suka Elvano dari dulu tapi ya gak secepat ini bahkan masih sekolah, Elvan sih iya lulus bulan ini, tapi dirinya baru kelas 11.
__ADS_1
"Udah ya pake ini aja, bisa gak sehari aja lo sama gue gak ribut, lagi pusing banget gue sumpah, kali ini aja nurut jangan bawel gue juga bingung tapi ikuti apa yang orang tua kita mau".
Gimana gak pusing tiba tiba di tunjukin hotel yang pengerjaan dekornya sudah 50%, tiba tiba di beri tahu bahwa 3 minggu lagi dirinya dan Rena akan menikah, bukan lagi sebagai ketua osis dirinya harus menyiapkan semua untuk acara sekolah.
Urusan kerjaan juga semakin menumpuk menunggu dirinya untuk di kerjakan.
Belum tau apa tujuan orang tuanya secepat ini menikahkan dirinya, tidak mau mengecewakan mami nya, Elvan hanya bisa menuruti apa yang mami Nesya ucapkan, sebab selama ini sudah begitu baik dan sangat berperan penting dalam hidupnya, Elvan tidak mau membuat wanita itu kecewa karena dari dulu sampai sekarang hanya kali ini mami nya meminta di turutin apa yang dirinya mau.
"Gak bisa berpikir gue", keluh Rena.
"Gue habis sekolah langsung ke kantor Daddy nanti lo mau ikut?, gue pulang malam pasti dari sana, atau gue suruh sopir mami jemput dan anterin lo".
"Gue pulang nanti suruh sopir biasa aja yang jemput, gue butuh mikir kak, serius ini badan gue sampai lemas banget".
"Ya terserah lo aja".
"Lo tau gue suka sama lo dari dulu iya emang, tapi gak secepat ini bahkan gue masih sekolah huwhh".
Mau kenal dan dekat dengan Elvan memang iya, tapi gak sampe se serius ini yang Rena mau.
Rena mau dirinya dan Elvan bak remaja pada umumnya pacaran asik menikmati masa remaja, pergi jalan berdua tampa embel embel suami istri.
.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤❤
__ADS_1