
Bahkan soto juga sudah sangat dingin namun Nesya hanya mengaduk ngaduknya.
Ketiga sahabatnya sudah Nesya suruh mencari buku untuk materi tugasnya, dirinya sudah memohon kali ini ingin sendiri.
Gavin memesan kopi ke kantin itu, memang kebiasaanya tidak bisa jauh dari kopi hitam tanpa gula, iya melewati gadis yang sedang melamun dan mengaduk ngaduk makannan, dirinya hanya melirik sekilas pada istrinya tidak ada niatan bertanya atau apalah, padahal sangat terlihat jelas kalau Nesya bengong dan melamun.
Cih bocah kesambet baru tau rasa, monolognya sambil melewati Nesya.
Nesya tidak bergeming sama sekali dia benar benar hanya raganya saja yang duduk di sana.
"Haii Nes, loh kenapa melamun?", tanya Afgan salah satu cowok yang naksir sama Nesya dari jaman pertama mereka masuk kuliah, namun Nesya tidak pernah meresponnya.
"Hahh apa?", tanya Nesya gelagapan, kaget terkejut jantungnya hampir saja copot rasanya.
"Heii santai, nih minum dulu", Afgan menyodorkan botol minum yang di bawanya dan menepuk nepuk punggung Nesya dengan pelan.
"Huhh Gan plis jangan kaya tadi lagi, hampir saja jantung gue copot", ucapnya, Nesya mematukan keningnya ke meja kantin itu, badannya sampai gemeteran karena terkejut.
"Sorry gue gak maksud ngagetin elo", Afgan juga merasa bersalah, sudah tau orang melamun malah dirinya langsung nanya.
"Yah gakpp".
__ADS_1
Entah mengapa melihat istrinya di samperin cowok membuat Gavin semakin marah sama Nesya.
Tatapan matanya semakin tajam, melewati dua manusia itu lagi, Nesya sempat melirik Gavin pas lewat ke samping meja yang mereka pakai, padahal jalan bukan hanya ke situ doang, sampai menggeridik ngeri sudah seperti serigala yang mengeluarkan taringnya siap memangsa.
Astagfirullohalazim dia kenapa sih ngeri banget, padahal rasanya di sini bukan gue yang salah dan bukan gue juga yang mau, gue juga terpaksa sumpah.
"Afgan gue mau ke perpus dulu ya, lagi ada tugas", pamint Nesya.
"Ya gak apa apa, semoga tugasnya cepat selesai ya", Afgan tersenyum manis pada Nesya.
.
Sampai perpus Nesya sudah di hadang oleh ketiga sahabatnya.
"Gue gak apa apa, gue hanya sedang rindu Bunda aja", ucap Nesya, airmatanya tidak terbendung lagi, dirinya sudah dari kemarin ingin menangis ingin menghilangkan beban yang menggunung sesak di dalam dadanya.
Ketiga sahabat Nesya memeluk dengan erat, mereka sahabatan dari SMA jadi banyak tau tentang bagaimana Nesya, kecuali tentang Nesya yang sudah menikah dengan Gavin.
Tangis pilu yang sangat pecah sampai sesegukan, bahkan mereka ber empatt menangis, melihat Nesya menangis membuat ketiga sahabatnya ikut menangis juga.
Mereka tidak pernah melihat Nesya menangis seperti ini, bahkan bisa di bilang tidak pernah menagis.
__ADS_1
"Lo kuat dong, Bunda sudah bahagia di surga, melihat lo kaya gini pasti Bunda sedih juga", ucap Sena sambil menghapus air mata Nesya.
Nesya menggeleng dan terus menangis, dirinya bukan hanya rindu ke Bundanya, Nesya menangis karena meratapi takdirnya juga.
"Gue tau lo sedih gue tau lo rindu Bunda, tapi gak kaya gini Nes, lo itu perempuan yang paling kuat, menangislah hari ini bersama kami tapi lo harus janji mulai dari besok dan seterusnya menjadi wanita kuat lagi", ucap Risa.
Nesya mengangguk meski masih sesegukan.
"Udahan nagisnya kita cuci muka yuk, sebentar lagi jam bu Gayatri", ucap Alana.
"Iya kita jangan sampai bolos kuliah", Risa menimpali.
Setelah tangisan Nesya reda mereka berempat sepakat cuci muka dan masuk kelas lagi.
Buku yang sudah mereka dapat tadi untuk tugas Nesya, sudah mereka masukin ke bag dan di beri nama Nesya agar yang lain tidak mengambilnya lagi, dan petugas perpus tidak menaruh ke rak buku.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤