
Oma Opa dan Elvan sudah pamit pulang dari tadi jam 7 malam, kini di ruangan itu hanya ada Gavin dan Nesya.
Sebenarnya Gavin sudah tidak betah berada di rumah sakit dari siang meminta untuk pulang tapi kekuatan dan kekayaan nya tidak bisa mengalahkan Nesya.
"Sya sini naik", Gavin menyuruh Nesya untuk naik ke ranjang pasien yang dirinya tempati.
"Aku di sini mas nanti tangan kamu ke senggol, udah deh ngantuk mau tidur, kamu juga udah taruh ipad nya istirahat tidur".
"Sini di sebelahnya lagi cepetan kalau gak mau saya gendong".
"Kamu tuh ya mas lagi sakit juga maksa mulu".
"Yang sakit kan hanya tangan tidak dengan yang lain", mengerlingkan matanya.
"Mas Astagfirulloh punya suami sudah bapak bapak gini juga rasanya".
Gavin sampai tertawa keras, ngisengin Nesya hiburan yang paling mahal untuknya, tapi kadang harus hati hati juga takut nantinya ngambek beneran bisa gawat.
"Sini sayang".
"Gak mau aku mau tidur di sini aja".
"Mih".
"Hmmm".
"Nesya Arabelle Matthew", mode maksa sudah di tingkat paling tinggi.
"Bapak Gavin Matthew Daddy nya Elvano Ganendra Matthew, anda sepertinya jika sehari saja tidak menyebalkan susah ya".
Dengan cepat Nesya naik ke atas ranjang langsung merebahkan badan dan memejamkan matanya di samping Gavin.
"Mih marah?".
"Tidak".
"Sayang istri kecilku", singa betinaku, batin Gavin sambil terkekeh.
"Haduhh gak usah ngegombal gak pantas tau mas muka kamu itu garang".
"Tidak menggombal lagian kata kata apa itu, ya memang kamu kecil kan tapi cantik bahkan paling cantik di muka bumi ini".
"Ko aku mual ya mas dengarnya".
"Sya kamu ini", prustasi Gavin.
__ADS_1
"Hahahaa apa suamiku, yang paling menyebalkan", mencubit pipi Gavin dengan gemas.
"Peluk dong Sya tangan saya susah di angkat".
Nesya memeluk Gavin kepalanya berbantal tangan yang tidak sakit, "Mas".
"Apa sayang".
"Hihh kadang aku geli denger kamu bilang sayang tapi seneng juga hihiii", mendongak menatap Gavin.
"Kau itu terlalu menggemaskan Sya bisa bisa saya khilap kalau kita sedang di rumah sakit".
"Jangan dong takut ada yang lihat".
"Suami istri wajar saja bukan di tempat umum juga".
"Akunya gak mau".
"Iya iya mana bisa saya maksa kamu", mencium bibir Nesya sekilas.
"Mas cerita dong ko bisa sampai ada kejadian gini".
"Katanya tadi ngantuk".
"Udah nggak, sekarang maunya dengar cerita dari kamu tentang kejadian kemarin.
"Terus ko bisa sampai pada terluka begini mas, kan bisa bicara baik baik kita asuh Elvan sama sama mau bagaimanapun dia ibunya".
"Kamu rela Elvan di asuh mereka?".
Nesya menggeleng, Elvan sudah di anggap anak dari rahimnya jangankan untuk berpisah berhari hari kadang tidak ketemu karena kuliah dan sekolah saja sudah rindu.
"Ya begitupun saya meskipun awalnya saya benci dengan anak itu tapi tidak dengan sekarang".
Bahkan apapun saya akan korbankan demi kalian mau nyawa pun taruhannya.
Mereka sudah menghancurkan masa muda saya, mereka sudah menghancurkan impian saya meskipun pada akhirnya saya bersyukur bertemu sama kamu.
Tiba tiba datang minta Elvan dengan alasan dia sudah tidak bisa mengandung lagi, itu bukan urusanku, kemungkinnan itu karma untuknya karena sudah meninggalkan Elvan dari sejak baru lahir.
Saya tidak sudi Elvan di ambil mereka dengan alasan apapun.
"Terus mereka marah sampai seperti ini".
"Ya rencana mereka bahkan lebih licik sampai mau membunuhku".
__ADS_1
"Astagfirulloh ko ada orang seperti itu ya".
"Buktinya mereka, pada akhirnya mereka juga yang lukanya paling parah".
"Mbak Yona nemilih bunuh diri lagi karena tidak mau di penjara".
"Biarkan saja itu urusan dia dengan tuhannya".
"Kasian juga mas, aku juga seorang wanita".
"Kamu dan dia beda Sya".
"Sama sama wanita".
"Ya jika di bilang wanita memang sama tapi tidak dengan sikap dan perilakunya".
Nesya mengangguk mengiyakan, "Bagaimana nanti kalau Elvan menanyakan dimana ibunya".
"Simpel Sya dia pasti langsung paham".
"Ya aku tau itu, tetap aja namanya anak mas".
"Bahkan dia yang membuat bangkrut perusahaan mereka juga".
"Anak sama bapak sama".
"Yang penting kami mencintaimu, adiknya kapan jadi Mih", Gavin mengelus pipi Nesya dengan jarinya, malas membahas dua manusia itu dengan cepat mengalihkan topik.
"Sabar mas baru juga 1 bulan 3 hari kita menikah".
"Lama juga ya harus sering melakukannya agar cepat jadi".
Plakss, pukulan Nesya mendarat di paha Gavin, "Kamu kira nanam jagung".
"Sakit sayang".
"Biarin ngeselin mulu, sudahlah aku mau tidur".
Gavin menatap wajah Nesya yang sedang terpejam, "Entah sejak kapan gue jatuh cinta dengan tiba tiba ini Sya, bahkan baru kali ini merasakan cinta yang begitu besar", tersenyum lalu mengecup kening Nesya ikut memejamkan mata juga.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤