JODOH YANG TIDAK TERDUGA

JODOH YANG TIDAK TERDUGA
Mulai Gendut


__ADS_3

Menghabiskan waktu di akhir pekan Bapak dan anak itu masih asik di dalam selimut padahal sama sama sudah membuka mata, Nesya juga merasa aneh yang biasanya Gavin bangun langsung cuci muka dan olah raga tapi kali ini malah asik memeluk anaknya.


"Daddy gak olah raga?", tanya Nesya yang baru saja mengeringkan rambutnya.


"Nanti Mih badannya masih nyaman nempel di kasur".


"Boleh ikut olah raga gak Dad?", tanya Elvan.


"Gak Mami gak ijinnin, mau bakar lemak dari mana baru juga pipi yang mulai keliatan cubby".


"Saya juga mulai gendut gara gara kamu Sya, selalu masak dengan menu yang tidak bisa saya hindari", dumelnya.


Nesya terkekeh mendengar dumelan Gavin, memang porsi makan Gavin sekarang lebih dari pertama dirinya lihat makan pas baru menjadi suaminya.


"Sukses ya kan aku jadi istri bisa buat anak sama suami ngembang hahahaa, banyakin olah raga aja biar sehat mas".


"Boy mandi dulu sana kita pergi yuk".


"Pergi kemana Dad?".


Anak itu langsung bangun dengan semangat di ajak liburan di akhir pekan sangat menyenangkan.


"Kemana saja yang kamu dan Mami suka, hari ini waktu Daddy akan habiskan dengan kalian".


"Wihhh ada angin apa pak tumben amat tar juga gak lepas dari ponsel atau ipad", sindir Nesya, sudah tau bagaimana kelakuan Gavin meskipun bicara akan menghabiskan waktu dengan anak dan istrinya tidak bisa lepas dari kerjaan.

__ADS_1


"Serius Mih kalau perlu silahkan sita semua benda itu".


"Horeee tumben Daddy baik ya sayang ayo cepetan mandi", menyuruh Elvan buru buru mandi.


"Siap Mih, tunggu ya", heboh Elvan langsung turun dari kasur dan keluar dari kamar orang tuanya.


"Kita gak perlu liburan jauh ke luar negri atau ke luar angkasa ko mas, ke taman depan saja sudah bahagia".


"Percuma saya kerja siang malam untuk kalian", Gavin merasa percuma kerja kerasnya.


Nesya tidak pernah minta barang yang harganya mahal begitupun Elvan anak itu bahkan mau di belikan saja sering nolak.


Gavin menginginkan Nesya itu setidaknya seminggu sekali belanja menggunakan uangnya, paling sekali belanja ke supermarket membeli bahan masakan dan cemilan.


Padahal mau se isi yang ada di dalam supermarket itu di bawa ke rumah juga silahkan geratis sebab itu produk perusahaan punya Gavin, Nesya ya Nesya tetap kekeh harus bayar.


"Sudah saya siapkan mau 10 anak juga Sya, asal kamu mampu dan kuat".


"Ya tidak 10 anak juga dong mas, aku bukan mesin anak ya ingat itu".


"Tambah 3 dari kamu ya".


"1 aja ya", Nesya tersenyum mengejek Gvin.


"Terlalu sedikit".

__ADS_1


"Se di kasihnya aja mas mau berapapun itu aku akan ikhlas menjalani dan merawatnya", Nesya mengelus rahang suaminya yang sekarang mulai terasa ada lemak di pipi laki laki itu.


Gavin memeluk pinggang Nesya yang berdiri di hadapannya, mencium perut yang belum tentu ada jabang bayi nya, "Cepat tumbuh sayang Daddy sudah tidak sabar mendengar tangisan dan suara ribut dari kalian".


"Nanti kalau sudah ada dan ribut terus sama kakak nya gimana".


"Saya yakin kamu bisa menjadi pawang untuk anak anak".


"Heheheee, yaudah mandi sana, nanti Elvan keburu selesai Daddy masih belum mandi".


"Mandiin Mih".


"Mas", Nesya mendelik tajam.


"Kenapa sekarang jadi kamu yang galak sih sayang", dengan gemas Gavin mencium Nesya.


"Sekali kali jangan di galakin terus".


Sambil terkekeh Gavin masuk ke dalam kamar mandi, rasa bahagianya semakin dan selalu bertambah dari hari ke hari bersama Nesya dan Elvan.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2