
Nesya baru keluar dari kelasnya sebenarnya bingung dirinya bagaimana cara menjelaskan sama ke tiga sahabatnya itu.
"Ajak ke ruangan saya saja Sya", ucap Gavin yang entah dari mana datangnya.
Seolah tau kebingungan istrinya Gavin menyuruh 4 wanita itu masuk ke ruangannya.
"Masuk ke ruangan saya", titah Gavin.
"Perasaan gue gak punya salah sama pak Gavin tapi kenapa di suruh masuk ke ruangannya", ucap Alana.
"Guys lo pada denger gak tadi pak Gavin panggil apa Sya Sya gitu siapa sih, ehhh jangan jangan lo ya Nes", Resa mulai curiga.
"Ehhh iya ya tadi pak Gavin bilang Sya iya kan".
"Udah ayo kesana dulu nanti gue jelasin di sana", hyaaa padahal Nesya belum berani dan belum siap menjelaskan ini semua.
4 sekawan itu beriringan masuk ke ruangan Gavin, karena Nesya yang paling depan mereka di kagetkan anak keci yang bertanya, "Mami udahan?", 3 orang yang ada di belakang Nesya saling lirik dan melotot.
"Udah sayang", ucapan Nesya semakin membuat ketiga sahabatnya melotot tidak percaya.
"Duduk dulu", titah Gavin suaranya seperti biasa tidak ada lembut lembutnya.
Setelah semuanya duduk bukan Nesya yang menjelaskan pada ketiga wanita itu tapi Gavin.
Gavin menjelaskannya secara rinci, yang mendengarkan penjelasan Gavin sudah seperti sedang di beri materi harus memahaminya secara jeli.
Resa yang paling nyesek di antara ketiga wanita yang selalu memuja muja Gavin, kenapa malah Nesya yang mendapatkannya padahal Nesya tidak pernah tertarik jika mereka membahas Gavin.
__ADS_1
"Gue benci elo Nes tapi gue juga sayang sama elo, kenapa lo ngambil dia dari gue", derama Resa.
"Markonah ingat jodoh woyy", Alana memukul paha gadis itu.
"Sorry ya Ris", Nesya tidak enak hati.
Banyak derama di antara ke 4 wanita itu Gavin hanya menjadi pendengar dan sesekali menyunggingkan senyumnya.
.
Gojek makanpun datang pesannan Radit atas suruhan Gavin, karena sudah jam 1 siang waktunya makan siang.
"Pada makan dulu nih", Gavin menyodorkan makannan yang dirinya terima tadi.
Sebenarnya ketiga sahabat Nesya masih merasa ini seperti mimpi.
"Iya gue juga merasa ini seperti mimpi sumpah", timpal Alana .
"Kalian masih belum jelas ya hahahaa", Nesya tertawa jangankan sahabatnya kadang dirinya juga masih merasa seperti mimpi.
"Udah makan dulu aja kasian laki gue udah beliin makannan buat kita kalau di anggurin".
Cih Gavin yang merasa salting karena Nesya terdengar jelas mengakuinya suami, dengan cepat dirinya ke toilet untuk menyembunyikan senyumnya.
"Elvan sini sayang jangan jauh jauh ini sahabat Mami aunty kamu".
Ehh dari tadi mereka melupakan anak kecil itu karena pokus dengan penjelasan Gavin.
__ADS_1
"Anak siapa Nes?", Sena sedikit lemot.
"Anak gue lah Sen haha lo gak denger dia panggil Mami".
"Ck paket lengkap lo ya Nes dapetnya duda tajir melintir ganteng plus anaknya juga ganteng menggemaskan", puji Alana.
"Mas makan", Nesya memberikan piring pada Gavin berisi makannan.
"Ya terimakasih Sya", Gavin tersenyum mengelus pinggang Nesya.
Hah ketiga wanita yang baru saja membuka bungkus makannya melotot tidak percaya.
"Ternyata pak Gavin bisa bucin juga ya", ucap Sena sambil terkekeh.
"Iya gue baru tau, emang semuanya juga mau segalak apapun kalau udah ketemu pawangnyamah pasti lemah", saut Alana.
Risa hanya diam memperhatikan lembutnya sikap Gavin pada Nesya, sejujurnya dia iri karena bukan dirinya yang berada di posisi Nesya sekarang.
Tapi Risa juga sadar kalau Gavin memang bukan jodohnya, tidak bisa berbuat apa, apalagi Nesya sahabatnya sendiri yang menjadi istri Gavin.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1