
Nesya tidak bisa bergerak bebas karena Gavin sejak tadi terus mengurunya dalam dekapan.
"Pak mau sampai kapan sih katanya tadi sebentar saja ini sudah hampir 1 jam loh".
"Semalaman juga tidak masalah", ucap Gavin dengan santai.
"Tidak masalah bagi anda tapi masalah bagiku, gerah tidak bisa bebas gerak engap tau".
"Bawel juga kau ini", bukannya melepaskan Gavin malah semakin memeluk Nesya dengan erat.
"Ini namanya bukan meluk tapi membunuh", kesalnya.
Ck Nesya benar benar tidak mengerti perasaanku, batinnya, "Ayo makan", ajaknya dan Gavin langsung mendudukan Nesya.
Tak lama mereka berdua keluar dari kamar, menuruni anak tangga sampai di ujung tangga sana, Elvan sudah menunggu Nesya.
Melihat Maminya menuruni tangga Elvan langsung lari dan memeluknya.
"Haii sayang duhh manja banget sih", Nesya membalas pelukan Elvan.
Cih Gavin berdecih, dirinya tadi meluk sangat lama jangankan di balas pelukannya dia malah di punggungi terus, pilih kasih sekali batinnya.
"Cepat mau makan tidak".
Ucapan Gavin sangat dingin tidak bersahabat.
Hihhh kenapalagi sih ni orang tadi udah biasa aja ngomongnya sekarang kaya gitu lagi dasar bunglon, gerutu Nesya.
__ADS_1
"Ayo sayang kita makan dulu", Nesya menggandeng Elvan meninggalkan Gavin, membuat Gavin melongo dan marah, dirinya merasa sangat di abaikan.
Bukannya lanjut ke meja makan Gavin malah kembali ke kamar mengambil laptopnya dan pergi ke ruangan kerja.
Kekesalannya iya lampiaskan ke pekerjaan, meskipun hatinya sedang dongkol namun otaknya masih bisa berjalan seperti biasanya.
"Loh Van Daddy mana?", tanya Nesya baru menyadari kalau Gavin tidak ada di sana.
"Paling ke ruangan kerjanya", ucap Elvan acuh.
Haihh tadi ngajak makan sekarang malah kerja, apa sih maunya tuh bapak bapak bingung gue makin kesini makin aneh.
Nesya dan Elvan sedang makan dengan santai benar benar ibu dan anak itu sangat menikmati makan malam mereka.
Gavin mengira Nesya akan menyusulnya ternyata dia salah, Nesya sama sekali tidak mencarinya dan mengajaknya makan bareng.
Melihat Nesya sedang santai makan dengan Elvan, Gavin mendengus sebal.
"Makan pak?", tanya Nesya.
Bukannya jawaban yang Nesya dapatkan namun tatapan kemarahan sama seperti kemarin kemarin.
Melihat Gavin yang mengambil gelas dan sendok, Nesya tau kebiasaan laki laki itu yang suka memilih kopi daripada nasi.
"Makan dulu, kopi nanti habis makan", ucap Nesya menarik Gavin sampai duduk di meja makan.
"Pemaksa", cetusnya.
__ADS_1
"Gantian jangan aku terus yang di paksa harus nurut dan takut".
Nesya mengambilkan makan untuk Gavin pas seperti yang biasa porsi laki laki itu makan.
Elvan menatap sengit Daddy nya, cih bilang saja mau di perhatiin sama Mami, dalam hatinya.
Sedangkan Gavin menatap mengejek pada sang anak yang jarang sekali iya tatap dan lihat setiap harinya meskipun serumah.
Mata Nesya yang awas pada dua laki laki berbeda umur itu menyengit bingung, dirinya menemukan kejanggalan lagi pada dua sosok ini.
Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga hanya sekedar duduk dan menonton, tidak ada percakapan di antara ketiga manusia yang berbeda beda umur itu, hanya saja Gavin memeluk pinggang Nesya dengan posesif dan Elvan berada dalam pangkuan Maminya.
Ini kali pertamanya Gavin mau duduk lagi di ruang keluarga setelah 5 tahun yang lalu.
Gavin jengah dengan dengan Elvan yang terus mau menempel pada istrinya.
"Sya ke kamar yuk ada yang mau saya bicarakan", ucap Gavin.
Hahh Nesya bengong ini kali pertamanya di panggil Sya dan kenapa Gavin memanggilnya Sya bukan Nes kaya yang lain.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1