KAWIN KONTRAK

KAWIN KONTRAK
BAB 100


__ADS_3

Kinan masih menundukkan kepalanya ,masih tak menyangka dengan perlakuan yang diterima .


Air matanya mengalir deras . Untuk pertama kalinya , laki-laki yang pernah hidup lama bersama , bisa berbuat kasar bahkan sampai memukul .


Sosok yang selalu lembut dan penyayang itu telah berubah drastis .


Ia mengusap pipi nya , rasa sakit itu bahkan terasa lebih perih sekarang .


Sambil mencoba menegakkan duduknya , ia mendongakkan kepala .


Wajah yang sedang menatapnya itu nampak sangat marah .


" Mas ..." Ucapnya lirih , sambil mencoba meraih tangannya .


Arya mundur beberapa langkah .


Kinan berusaha berdiri .


" Mas ...tolong jangan ...."


" Stop !!!" Bentak Arya ." Hentikan sandiwara kamu sekarang ...!!"


Kinan menggelengkan kepalanya berkali-kali , dengan masih sesenggukan .


Arya mengacungkan jari telunjuk ke mukanya .


" Aku sudah berbaik hati memberikan kamu kesempatan untuk bisa tetap menemui Sasa , tapi ternyata kamu tak pernah berubah ...!!"


Kinan menatapnya lekat ."Aku janji akan berubah ..." Ucapnya terbata .


" Kamu ingat baik-baik ...mulai detik ini juga aku cabut ijin kamu untuk bisa bertemu Sasa dan jangan pernah masuk ke rumah ini lagi ...atau coba menemui keluarga aku ... mengerti ...!!!!" Dengan wajah memerah menahan geram , Arya menatap tajam padanya .


Kinan membelalakkan matanya tak percaya ." Mas ...tapi Sasa anak aku , dia butuh ibunya ." Belanya .


" Sasa tidak membutuhkan ibu seperti kamu ...!!!"


Arya mengambil ponsel di saku dan menghubungi seseorang .


" Pak Halim , bisa kesini cepat , di teras samping ."


Lalu mematikan ponsel .


Tak berapa lama Pak Halim menghampiri nya dengan tergopoh-gopoh .


" Iya Pak ." Ucapnya begitu sampai dan sedikit terkejut melihat apa yang terjadi di depannya .


" Bawa perempuan ini keluar ..." Ucapnya sambil menunjuk ke wajah Kinan .


Pak Halim nampak terkejut dan hanya bisa diam .


" Dan ingat ...jangan pernah biarkan dia masuk ke rumah ini dengan alasan apapun ...beritahukan juga ke yang lain ."


Pak Halim mengangguk ." Baik Pak ."


Pak Halim menatap Kinan yang masih bersimbah air mata .

__ADS_1


" Mari Bu ." Ucapnya ramah , tapi Kinan hanya terdiam .


" Nggak ...!" Tolaknya ." Mas tolong ..." Ratapnya .


" Pak Halim bawa dia pergi sekarang juga ...!" Sentak Arya lagi ." Kalau menolak kamu paksa saja ."


Arya membalikkan badan dan berjalan masuk .


Kinan masih menatapnya dari kejauhan , kali ini ia menurut saat Pak Halim mengajaknya untuk keluar .


Ia langsung ke kamar , tak ada Luna disana , lalu masuk ke kamar mandi .


Menyalakan kran air di wastafel dan mulai membasuh wajahnya .


Menutup matanya sebentar , mengingat kejadian tadi .


Membuka matanya perlahan . Diusapnya bibir dengan punggung tangannya . Dulu , semua ini akan sangat berarti dalam hidupnya ...tetapi sekarang , ia bahkan jijik merasakannya .


Satu kesalahan besar membiarkan Kinan masuk kembali ke kehidupannya . Kehadirannya hanya akan menghancurkan keluarganya kini .


Ia meraih handuk di sebelah dan mengusap wajahnya , lalu berjalan keluar .


*****


Di kamar Sasa ...


" Mama kenapa ?" Tanya Sasa cemas .


Luna sedang membantunya mewarnai gambar , tapi tiba-tiba air matanya menetes .


Sasa mengangguk , mengambil crayon ditangannya dan mulai sibuk mewarnai .


Pintu kamar terbuka , Arya masuk , tapi Luna pura-pura tidak melihat .


Sasa menoleh ." Papaaaa ..." Panggilnya .


Arya hanya tersenyum menanggapinya , lalu ponsel di sakunya berdering .


" Ya May ..."


" Iya , 30 menit lagi saya sampai kantor ."


" Papa mau ke kantor lagi ...?" Tanya Sasa .


Arya mengangguk ." Iya masih ada kerjaan ." Menoleh ke Luna yang sama sekali tak mau menatapnya .


Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bicara , ia masih terlihat sangat marah .


Sasa mendekat dan mencium tangannya .


" Tidur siang ya habis ini ..."


Sasa mengangguk , lalu kembali sibuk dengan buku gambarnya .


Luna menatapnya sekilas , lalu sibuk memperhatikan Sasa .

__ADS_1


Arya hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun .


Sebelum pergi , ia mengusap rambutnya sebentar , tetap tak ada reaksi apapun dari Luna .


Ia menarik nafas pelan , lalu berbalik dan berjalan keluar .


" Ada apa ?" Tanya Ardi dan Karina , mereka bertemu di ruang tengah .


Arya menggeleng .


" Tadi Mama bertemu Kinan diluar , dia menangis saat di minta Pak Halim keluar gerbang ."


Arya mengusap wajahnya .


" Kalian berantem ?" Tanya Ardi lagi .


" Aku mengusirnya tadi ."


Ardi dan Karina cukup kaget mendengarnya .


" Apa yang terjadi ...?"


Arya akhirnya menceritakan semua yang terjadi tadi antara dirinya dan Kinan .


Ardi menatapnya marah ." Dari awal Papa kurang setuju dengan Kinan yang sering datang ke rumah ini ..." Ucapnya geram .


" Iya Pa ...aku juga nggak nyangka dia ternyata masih sama seperti dulu ."


" Kemarin ...Papa sudah bicara juga sama dia , tapi tak digubris ."


" Luna mana ?" Tanya Karina .


" Di kamar Sasa ."


" Kamu sudah bicara ?"


Arya menggeleng ." Dia masih nggak mau bicara ..."


" Ya sudah ...biarkan dia sendiri dulu ."


" Keputusan kamu kali ini tepat , jangan biarkan Kinan kesini lagi dengan alasan apapun , ingat ...Luna sedang hamil , itu nanti akan berpengaruh juga dengan kesehatannya ."


" Iya Pa ..."


" Kamu harus lebih sabar juga ..." Sambung Karina . " Perempuan hamil lebih sensitif perasaannya ."


Arya mengangguk ." Aku ke kantor dulu , masih ada kerjaan yang belum selesai ."


" Ya sudah ..."


" Mama nanti tolong cek Luna ya ..."


" Iya ...kamu tenang aja , Mama nggak kemana-mana kok ."


Arya berjalan keluar dengan langkah gontai . Apa bisa Luna mengerti dengan penjelasannya nanti ...

__ADS_1


__ADS_2