
Paginya ...
Sasa agak rewel saat mau berangkat sekolah , kebetulan hari ini masuk sekolah lebih pagi karena ada olahraga . Pak Sanusi yang mengantarkan mereka berangkat .
Arya sendiri juga disibukkan dengan pekerjaan , meeting yang seharusnya agak siangan , harus dipercepat karena kliennya ada urusan mendadak siangnya , mau tak mau harus pagi ini mereka bertemu .
Sekali lagi , ia belum sempat berbicara dengan Luna soal masalah kemarin .
Setelah selesai bersiap , ia ke ruang kerjanya dan mengambil setumpuk berkas yang disimpan di laci , lalu menaruhnya di map kertas yang ada di atas meja dan bergegas keluar .
" Ma , aku berangkat dulu ya ...Sasa udah jalan ."
" Udah barusan ."
" Ya udah ."
Setelah mencium tangan Mamanya , ia berlari keluar .
Di mobil ,ia menaruh map nya di jok samping , lalu mengambil ponsel di saku dan menghubungi Maya .
" May ...Pak Aris sudah datang ?"
" Belum Pak ."
" Oh syukurlah ...sekitar 30 menitan lagi saya sampai ya , kalau Pak Aris datang langsung ajak ke ruang meeting aja ."
" Baik Pak ."
Setelah menutup ponsel , ia bergegas berangkat .
Tak sampai 30 menit , ia sampai di kantor dan memarkir mobilnya di depan lobi .
Seorang satpam menghampiri saat ia keluar mobil , lalu diberikannya kunci mobil .
Ia berjalan ke samping , mau mengambil map berisi beberapa berkasnya tadi , ketika seseorang menyapanya .
" Selamat Pagi , Pak Arya ..."
Arya menoleh dan raut keterkejutan di wajahnya nampak jelas , melihat siapa yang berdiri disana .
*****
Setelah mengantar Sasa ke sekolah , rencananya tadi mau langsung ke supermarket , tetapi akhirnya ia memutuskan langsung pulang .
Tak tahu kenapa , tiba-tiba perutnya kram .
Sesampainya di rumah , ia duduk di teras depan .
Pak Sanusi yang nampak panik mengantarnya sampai teras .
" Ibu nggak papa ..."
__ADS_1
Luna menggeleng ." Nggak papa kok Pak .
Takut kalau sampai terjadi sesuatu , Pak Sanusi masuk ke dalam rumah dan bertemu Minah di sana .
" Minah , Bu Karina mana ?"
" Ada di dapur , sebentar saya panggilkan ."
Tak lama Karina terlihat menghampirinya sambil melepas celemek dan menaruhnya di sofa .
" Ada apa Pak Sanusi ?" Tanyanya .
" Bu ...itu tadi Bu Luna katanya perutnya sakit ,tapi saya antar ke rumah sakit nggak mau , minta langsung pulang saja ."
" Perutnya sakit ..?" Tanya Karina khawatir ." Sekarang dimana ?"
" Duduk di teras Bu ."
Karina setengah berlari keluar .
" Luna , kenapa ?" Tanyanya cemas , melihat Luna meremas perutnya di sana .
" Sedikit kram aja Ma ."
" Kita ke dokter aja ..."
" Nggak usah Ma ...aku buat tiduran aja paling juga hilang ."
" Pak Sanusi ..." Panggilnya .
" Iya Bu ." Pak Sanusi menghampirinya .
" Kita ke rumah sakit ya ..." Ucap Karina ." Sebentar Mama ambil tas dulu ."
*****
" Kamu ..."
Dimas tertawa lebar . " Senang ya kita bisa bertemu lagi disini ."
Arya masih diam . Rupanya dia sudah keluar dari penjara dan sekarang apa yang mau dilakukannya .
" Mau apa kamu ?"
" Kenapa masih tanya ... anda pasti tahu apa yang saya inginkan ..."
" Maksud kamu apa , hah ...?!"
Dimas tersenyum sinis ." Saya nggak akan berhenti sebelum anda mengembalikan Luna ."
" Cukup ...jangan kurang ajar kamu ..!!!"
__ADS_1
" Anda menikahi Luna hanya untuk terlihat sempurna di depan orang , memiliki istri , anak dan harta serta jabatan . Bukankah itu hidup yang sempurna ...?" Ejeknya .
" Saya nggak punya waktu untuk meladeni omong kosong kamu ..."
Dimas terkekeh . " Saya punya penawaran menarik , anda bisa kembali kepada Kinan ...anda sangat mencintainya bukan ...?"
Arya melengos , hanya bisa menarik nafas panjang , tidak mungkin juga ia meluapkan emosi disini .
" Dan anda tinggal kembalikan Luna , cukup impas rasanya ."
Arya mengacungkan jari telunjuknya .
" Jangan pernah berpikir bisa merebut Luna , sampai kapanpun saya tidak akan melepaskannya ." Ucapnya sedikit pelan , karena bersamaan dengan kedatangan beberapa karyawannya di depan .
" Pak Arya maaf ..." Maya berlari keluar menghampirinya .
" Iya ..."
" Bapak sudah ditunggu di ruang meeting ."
" Oh iya sebentar ." Jawabnya , lalu membuka pintu mobil dan mengambil map di dalamnya .
Menatap Dimas sebentar , lalu ia berjalan masuk terburu-buru , tanpa disadari beberapa lembar kertas di map nya berhamburan jatuh ke lantai .
Setelah menjauh , Dimas mengamati kertas-kertas itu dan mengambilnya .
*****
" Jadi gimana dok ...apa kandungannya ada masalah ...?" Tanya Karina khawatir .
" Semua baik-baik saja Bu , hanya saja ini Bu Luna terlalu capek dan mungkin agak stres , jadi harus dikurangi itu semua ya , yang pasti harus banyak istirahat ."
" Baik Dok , terima kasih ."
*****
Dimas merapikan kertas itu di tangannya dan bermaksud membuang ke tong sampah yang ada di dekatnya , tapi sekelebat ia membaca tulisan di kertas paling bawah .
Ia mengambil dan membacanya dengan seksama .
Matanya menatap tak percaya dan membacanya sekali lagi , memastikan semua yang dibacanya tak salah .
Sungguh sulit dipercaya ...tapi tiba-tiba terlintas ide di benaknya .
Ia tersenyum sendiri , sepertinya tanpa perlu bekerja keras , semua sudah ada di depan mata .
Dengan ini , ia pasti bisa mendapatkan Luna lagi .
Ia melipat kertas dan memasukkan ke dalam tas nya .
Sebentar lagi bom itu akan meledak dan menghancurkan seorang Arya Yuda Perwira .
__ADS_1
Sekali lagi , ia tertawa puas sambil berlalu meninggalkan pelataran kantor .