
" Kok kamu yang bawa ?" Tanya Luna heran .
" Iya tadi aku ketemu mbaknya disitu , kan ini memang pesanan kita , ya udah aku yang bawa ."
Dimas memberikan satu gelas padanya .
Ia meminumnya sedikit .
Di rumah ...Arya yang tiba-tiba merasa tak enak , akhirnya menelpon Widya . Mungkin Mamanya Luna tahu anaknya pergi kemana .
" Halo Tante ...Ini Arya ."
" Iya ada apa ?"
" Apa Tante tahu Luna pergi kemana ?"
" Iya dia bersama Dimas tadi ."
" Kemana ...?"
" Kata Luna ke Cafe yang di Hotel Permata ."
Setelah menutup sambungan ponselnya , Arya berdiri dan berlari ke kamarnya . Memakai jaket dan mengambil kunci mobil .
" Papa kemana , katanya ke rumah Tante Luna ..."
Sasa menghampirinya .
" Besok aja sayang ya ." Arya mengusap rambutnya ." Papa ada keperluan penting sekarang ."
Sasa mengangguk juga .
Setelah itu , Arya bergegas keluar , untungnya Hotel Permata tak begitu jauh dari rumahnya .Lebih cepat sampai lebih bagus . Ia yakin Dimas pasti akan melakukan sesuatu ke Luna .
Sementara di cafe ...
Luna merasa kepalanya sedikit pusing , mungkin karena kondisinya memang belum membaik tadi , tapi ia memaksakan tetap pergi juga .
" Lun ...kamu kenapa ?" Tanya Dimas cemas .
Luna menggeleng lemah ." Nggak papa cuma sedikit pusing aja ."
" Atau aku pesan makanan , mungkin karena kamu belum makan ?" Tanya Dimas lagi .
" Nggak usah , makasih ."
" Ya sudah , kamu habiskan minumannya , setelah ini aku antar pulang ."
Luna mengangguk dan mengambil gelasnya , meminumnya dan hanya menyisakan sedikit .
Ia memejamkan matanya sebentar , lalu membukanya lagi .
Pandangannya sedikit buram . Kepalanya semakin berdenyut sekarang .
" Dimas kita pulang sekarang ." Ucapnya parau .
" Iya sebentar , aku bayar dulu ." Dimas berdiri lalu berjalan ke dalam .
Luna masih diam di mejanya . Badannya semakin tak enak .
Ia coba memijat sendiri pelipisnya . Kepalanya terasa semakin berat .
Tak lama Dimas kembali .
__ADS_1
" Luna , ayo ." Ajaknya .
Luna berdiri , tapi badannya sangat lemas , ia hampir terjatuh karena pandangannya terasa berputar begitu ia bangkit dari kursi .
Dimas mendekat dan berusaha merangkulnya , tapi ia menolak .
" Aku cuma bantu kamu ...nanti jatuh ."
Akhirnya Dimas memegangi tangannya , karena ia mulai sempoyongan jalannya .
" Kenapa lewat sini ?" Tanya Luna heran , karena mereka malah berjalan masuk menuju hotel , sementara arah keluar dari cafe harusnya berbelok ke kanan tadi .
" Kita lewat pintu yang samping ,biar lebih cepat ke parkiran ."
Luna menurut juga .
Dan kali ini pandangannya semakin kabur , langkah kakinya terasa berat .
Sampai di satu lorong , Dimas menuntunnya dan semakin mempercepat langkahnya .
" Dimas kenapa kesini ?" Tanyanya pelan .
Suasana hotel cukup sepi sore ini .
Tanpa menjawab , Dimas menarik tangannya .
Luna berjalan tergesa dengan pandangannya yang semakin terlihat gelap .
Sampai mereka masuk ke satu ruangan .
Luna membelalakkan matanya terkejut .
" Dimas , mau apa kamu ?! " Sentaknya di sisa tenaga yang mungkin masih dimilikinya sekarang .
Luna berusaha memberontak , tapi Dimas lebih kuat mencengkeramnya .
Dengan kasar ...Dimas mendorong tubuhnya sampai ia terjatuh ke kasur .
Ia mulai menangis , tapi Dimas malah tertawa penuh kemenangan di depannya .
Luna berdiri dan berusaha keluar , tapi Dimas mencegatnya .
Terjadi sedikit pertengkaran sebentar . Sampai beberapa detik kemudian , pandangannya benar-benar gelap dan setelah itu ...ia tak tahu lagi apa yang terjadi .
Di parkiran Hotel Permata ...
Arya memarkirnya di depan , kemudian berlari masuk .
Ia langsung menuju cafe yang ada di samping kiri hotel .
Sudah sepi disana , hanya ada dua pengunjung di sudut meja .
Ia menghampiri waiters yang sedang membersihkan meja .
" Mbak permisi ."
" Iya Mas ."
" Tadi ada pengunjung disini laki-laki sama perempuan .." Arya mengambil ponsel di sakunya . " Ini yang perempuan ." lalu menunjukkan sebuah foto .
" Oh iya Mas ,tadi duduk di meja ini ." Jawabnya yakin .
" Sekarang kemana ?"
__ADS_1
" Tadi istrinya seperti sedang sakit Mas ."
" Istri ?"
" Iya , karena tadi suaminya juga memesan satu kamar disini ."
" Apa ?!" Sentaknya terkejut . " Sekarang mereka kemana ?"
" Kayaknya sudah masuk ke kamar Mas ."
" Mbak tahu mereka di kamar berapa ?"
Ia menggeleng .
Arya berlari masuk menuju meja resepsionis .
Di kamar ...
Dimas menidurkan Luna di kasur . Matanya masih terpejam .
Ia tertawa senang , sambil melihat sosok yang terbaring di depannya .
Sekarang , Luna akan menjadi miliknya seutuhnya .
Ia duduk di pinggir kasur dan dapat melihat wajah di depannya itu semakin dekat .
Perlahan ia mengangkat tangan dan menyentuh lembut wajah itu . Menyibakkan sedikit rambut yang menutupi wajahnya .
Sosok yang sudah lama tak ditemuinya , setelah peristiwa itu ...saat ia sendiri yang mengkhianatinya dan membuat hubungan keduanya berakhir .
Dan hari ini , ia akan mendapatkan lagi seutuhnya . Ia tak rela kalau sampai orang lain memilikinya .
Mata itu masih terpejam .
Tetapi itu justru membuatnya semakin terpesona dengan sosok di depannya .
Ia menarik nafas panjang dan mendekatkan wajahnya , sampai hampir tak berjarak di antara mereka .
Nafasnya semakin cepat ,saat bibirnya mulai menyentuh bibir yang terasa hangat , berbarengan dengan ******* nafasnya .
Ia semakin terbuai ...sampai akhirnya ...
" Jangan sentuh dia !!"
Sebuah sentakan mengejutkannya , ia sontak berdiri dan berbalik .
Arya menatapnya geram .
Belum sempat lepas keterkejutannya , Arya sudah menarik kerah bajunya dan ...
BRAKKKK !!!
Sebuah pukulan mendarat di wajahnya , membuatnya terjerembab dan menabrak nakas yang disamping tempat tidur .
Ia bangkit , dengan wajah yang nampak lebam .
Belum berdiri dengan sempurna , satu pukulan lagi diterimanya .
Ia kembali tersungkur ... , 2 satpam hotel masuk dan segera menghampirinya .
" Pak tolong bawa dia ke kantor polisi , nanti saya menyusul ."
" Baik Pak ." Ucap seorang satpam , lalu mereka menarik Dimas keluar dari kamar .
__ADS_1