KAWIN KONTRAK

KAWIN KONTRAK
bab 19


__ADS_3

Bagas dan fatma turun dari motor,


lalu rian medekat ke arah mereka


" salam kenal, saya rian teman nya fatma"


Rian mengasongkan tangan nya pada bagas untuk bersalaman


"saya bagas suami nya fatma "


Bagas membalas salaman dari rian


"kapan kamu kembali fatma? "


Rian menoleh pada fatma


"oh... Itu kemarin "


Fatma menjadi salah tingkah


"sepertinya aku pernah meliat kamu sebelum nya , tapi lupa dimana ya"


Bagas mengingat ngingat


"mungkin pernah ketemu di jalan, saya kan penyalur tenaga kerja luar negri, jadi agak sering ke daerah sini juga "


Rian menjelaskan


"oh iya mungkin "


Ucap bagas


"ya sudah saya pamit dulu ya, "


Ucap rian memberi seulas senyum pada fatma juga bagas


"iya silahkan "


Tutur bagas


Fatma melirik kepergian rian dari sudut matanya


"ayo naik , kita pulang "


Pinta bagas


Fatma menaiki motor, kedua tangan nya memeluk melingkari pinggang bagas untuk berpegangan , sepanjang perjalanan fatma hanya terdiam, fikiran nya melayang mengikuti kepergian rian tadi.


"sayang, sudah sampai"


Ucap bagas


Fatma yang masih dalam bayang bayang rian tidak melepaskan pegangan nya pada bagas , bahkan dia tak bersuara


"sayang? Kamu tidur? Kita sudah sampai "


Bagas menoleh ke belakang membuat fatma terkejut


"sayang kamu tidur? "


Tanya bagas


"ah... Iya bang maaf, aku ketiduran "


Fatma berusaha berbohong


"ya udah ayo turun, kita sudah sampai "


"iya bang"


Fatma dan bags turun dari motor kemudian masuk ke rumah dengan bergandengan


Begitu masuk ke dalam rumah tercium harum wangi masakan, bagas yang kebetulan sudah merasa lapar segera melihat ke arah dapur.


Hana yang tengah mengoseng oseng masakan sadar dengan kehadiran mereka


"Mba sama mas sudah pulang, sebentar ya hana masakin dulu , nanti kita makan bareng. "


"iya hana, cepat sedikit aku sudah lapar , kamu lapar engga sayang? " tanya bagas pada fatma


"iya bang.


Aku masuk kamar dulu ya, nanti kalau sudah siap panggil aja "


Fatma terlihat lesu , tak seperti biasa nya , berjalan ke kamar dengan pelan

__ADS_1


Bagas memperhatikan kepergian fatma hingga fatma hilang di balik pintu kamar


"kamu masak apa hana? "


Bagas menghampiri hana


"aku masak telur balado mas,


Mas mau aku masakin yang lain? "


"tidak usah, udah itu aja. Lagian di kulkas juga stok lauk sudah habis kan? "


"iya mas, besok aku akan pergi ke pasar untuk belanja ya "


"iya, tapi sepertinya besok aku tak bisa mengantar mu, besok aku mau ke penggilingan "


"iya tidak apa apa mas , aku bisa sendiri ko .


Masakan nya udah jadi, mas panggil mba fatma dulu ya , kita makan bareng "


"iya, aku ke kamar dulu mau panggil fatma. Kamu siapin aja di meja "


"iya mas "


hana menunggu bagas dan fatma keluar dari kamar cukup lama, membuat hana harus menahan rasa lapar nya yang sejak tadi berbunyi kruyuk kruyuk


Semenjak fatma datang, hana bersikap seolah pembantu di rumah itu, mengerjakan semuanya sendirian.


Sebenar nya jauh sebelum fatma kembali hana memang mengerjakan tugas rumah sendirian, hanya saja selain harus melayani suami nya, sekarang hana juga harus melayani fatma .


Fatma sendiri enggan membantu hana , dia merasa bahwa hana pantas melakukan semua pekerjaan rumah sensitise , setelah dia kembali justru ingin membuat hana tak betah .


Fatma akan memberi pelajaran pada hana, wanita yang di katakan ita perempuan pintar dan licik, yang sudah membuat bagas suami nya berubah


"mba, mas silahkan duduk "


Hana mempersilahkan fatma dan bagas duduk setelah kembali dan kini berada di dekat meja


Seperti biasa hana duduk berhadapan dengan fatma, hana hanya mengambil makan untuk nya, sedangkan bagas mengambil piring yang di isi nasi juga telur balado untuk dirinya juga fatma


Di tengah tengah makan fatma bertanya pada hana


"hana, berapa usia kandungan mu "


"7 bulan jalan mba"


"lalu usia mu? "


"16 tahun lebih mba"


"berarti kamu belum punya KTP ?"


"Iyan belum mba "


"hana, aku mau bernegosiasi sama kamu "


"maksud nya gimana mba? "


"maksud nya aku mau memberi mu tawaran sekaligus permintaan "


"permintaan apa? "


Bagas menyekal tangan fatma yang ada di atas meja, memberi kode untuk tidak bicara, namun fatma melihat ke arah bagas dengan kepala menggeleng pelan


"permintaan ku tidak banyak hana, tapi penawaran ku bisa di bilang besar "


"apa itu mba? "


"mungkin kamu sudah mendengar nya dari bang bagas,


Iya kan bang? "


Fatma menoleh kepada bagas , namun bagas hanya diam memandang hana yang juga tengah memandang nya


"aku ingin setelah nanti kamu melahirkan, kamu memberikan hak asuh nya pada ku juga bang bagas,


Aku akan mengurus nya dengan sepenuh hati sebagai mana pada anak ku sendiri. Aku akan menjamin hidup nya sampai dewasa, juga dengan pendidikan yang lebih baik "


"tapi mba...


Aku juga ingin merasakan mengurus nya "


"hana, kamu ini masih belum dewasa , Di usia mu yang sekarang ini tidak pantas untuk mengurus seorang bayi.


Kalau boleh aku beri Saran, setelah nanti kamu lahir, urus lah diri kamu agar lebih terawat.

__ADS_1


Kamu itu masih muda , kamu masih bisa mencari pengalaman hidup di luar sana tanpa harus mengurus seorang bayi "


Hana hanya terdiam dengan memegang perut nya


"Lagi pula jika kamu pulang membawa bayi itu, siapa yang akan mengurus nya, siapa juga yang akan memberi nya nafkah.


Sedangkan pernikahan mu dengan bang bagas hanya menikah sirih dan kamu takan dapat apa apa setelah berpisah dari nya,


Dan anak itu nanti, tak ada hak bagi bang bagas untuk memberi nya nafkah "


Degggg!


Hati hana begitu goyah, air matanya mengalir membasahi pipi nya.


Tak di sangka di usia pernikahan nya yang baru berjalan 7 bulan harus serumit itu.


Hana yang berniat untuk mengurus anak nya nanti kini berfikir kembali menimbang perkataan fatma,


(aku memang masih belum dewasa, aku di paksa dewasa oleh keadaan, sebenarnya aku juga masih ingin di manja ibu dan bapak, tapi anak ini.. Ini adalah anak ku.


Tapi aku juga tak mungkin pulang dengan membawa bayi ini ,nanti akan menambah beban orang tua yang juga mengurus adik kecil ku yang masih bayi.


Wahai bayi kecil ku, maafkan aku, mungkinkah ini keputusan yang tepat ? atau aku harus sekuat tenaga mempertahankan mu?


Hatiku rapuh wahai bayi kecil.. Sejak awal walau kau tak di inginkan aku tetap mengijinkan mu tinggal di rahim ku, dan kini setelah aku berjuang mempertahankan mu kau jadi rebutan


Aku tidak siap untuk berpisah dengan mu wahai bayi kecil ku)


Batin hana


"kamu boleh memikirkan nya hana, aku hanya kasihan saja padamu.


Tentang tawaran nya, aku akan memberi mu sejumlah uang yang cukup banyak untuk kebutuhan hidup mu kedepan nya setelah nanti pulang dari sini.


Rawat lah diri mu, aku yakin kamu akan menemukan kehidupan yang baru yang lebih pantas untuk mu."


tanpa berkata kata, hana bangkit lalu pergi menuju kamar, meninggalkan fatma dan bags yang masih memegang sendok dan piring di hadapan nya


"kamu ko ngomong nya gitu sih? "


Bagas bernada tinggi


"kenapa bang? Ada yang salah dengan ucapanku? "


"bukan begitu juga cara nya, kamu gak ngehargain hana "


"oh... Jadi sekarang abang membela hana? "


Fatma mulai marah dengan nada tinggi


"bukan masalah membela, abang kira kamu akan bicara baik baik dulu "


"baik baik bagai mana maksud abang?


Aku harus ngemis ngemis pada wanita licik itu?


Dasar wanita bermuka dua , kelihatan nya lugu dan baik, padahal dia itu licik bang,


Dia ingin kita berpisah,


Dan sekarang, kenyataan nya kita bertengkar hanya karena dia "


"cukup fatma,, aku tidak membela nya.


Aku menyayangi mu , apapun yang kau minta aku selalu turuti, tapi aku tak ingin kau menjadi se tega ini pada orang lain.


Kita bisa meminta nya tanpa harus membuat nya sakit hati "


"sudah lah bang, abang memang sudah berubah sekarang,


Benar kata orang, abang sudah terbujuk oleh rayuan hana "


Fatma meneteskan air mata , dia bangkit dari kursi lulu pergi setengah berlari meninggalkan bagas sendiri


Bagas menelungkup kan wajahnya di meja, menahan nya dengan ke dua tangan nya , kemudian menyandarkan tubuh nya pada kursi yang di duduki nya


Matanya terpejam memikirkan apa yang harus di lakukan nya,


Dia merasa menyesal telah bicara sedikit keras pada fatma


Di sisi lain hana terisak mendengar pertengkaran bagas dan fatma di ruang makan yang begitu jelas terdengar sampai kamar nya


( maaf kan aku bayi kecil, aku tak ingin masalah ini semakin besar dan semakin sulit .


Aku akan membuat keputusan yang terbaik untuk mu juga untuk ku )

__ADS_1


Batin hana


__ADS_2