
Pukul 23.00
Luna masih duduk di sofa kamarnya . Sibuk dengan ponsel , membantu Mamanya menghubungi orang yang memesan catering ,karena kebetulan yang memesan adalah Adelia , teman SMA nya dulu , yang memesan makanan untuk acara lamaran nya lusa . Jadi Mama meminta untuk bertanya lebih detail soal menu makanan dan jumlah nya .
" Iya Ma , besok aku hubungi lagi ...kalau nggak nanti aku suruh ke rumah aja biar ngomong sama Mama langsung ."
" Iya ...besok aku kabari ."
Setelah sambungan terputus , ia melihat beberapa pesan yang masuk .
Ia menyandarkan punggungnya di sofa , lalu mematikan ponsel .
Kepalanya terasa semakin berat , dipijitnya sendiri pelipis kirinya , ia memang sering migrain setelah kena air hujan .
Terdengar pintu kamar tertutup , ia menoleh .
Ternyata Arya yang masuk dan memang sedari tadi kamar di biarkan terbuka .
Masih ada sedikit kecanggungan dirasakannya setelah kejadian tadi , itu sebabnya ia memilih tetap diam .
Sampai Arya mendekat padanya , memberikan sebutir pil yang ada ditangannya , lalu segelas air putih .
" Cepat minum ." Ucapnya singkat .
Tanpa bertanya lebih lanjut , Luna mengambil dan langsung meminumnya .
Arya mengambil lagi gelas di tangannya dan menaruh nya di nakas , lalu beralih ke remote AC dan mengatur suhu nya .
Setelah itu , Arya kembali mendekat dan memegangi keningnya .
" Ayo tidur ." Ucapnya sambil menarik tangan Luna dan membawanya naik ke tempat tidur .
Luna sendiri langsung merebahkan diri dan kasur , menarik selimut sampai batas perutnya .
Lampu kamar dimatikan dan hanya lampu tidur saja yang masih menyala .
Luna berniat mengubah posisi tidurnya miring ke kiri ,membelakanginya ... tapi Arya mencegah .
Luna hanya menatapnya .
Terlihat Arya mengambil minyak kayu putih di laci , membuka tutup dan menuangkan di tangan . Saat tangan itu mendekat ke wajahnya .
..Luna memegangnya .
" Udah Mas nggak usah ." Tolaknya ." Kamu tidur aja udah malam ."
Tetapi Arya melepaskan pegangannya dan mengoleskan minyak kayu di kening dan pelipisnya .
Luna menarik nafas panjang , kalau sudah begini ...akan membuatnya semakin merasa bersalah dengan kejadian tadi .
" Mas ...aku minta maaf soal yang tadi ." Ucapnya akhirnya .
__ADS_1
Arya menatapnya , sementara jari-jari tangan mengusap keningnya .
" Ya udah lupain aja ."
Luna sedikit kaget mendengarnya .
" Kamu nggak marah ?" Tanyanya lagi .
" Memang kamu mau aku marah ?" Tanyanya balik .
Luna menggeleng .
" Makanya nggak usah bohong pura-pura sakit ...jadinya sakit beneran kan ." Ucapnya lagi .
" Aku nggak bohong ." Sanggah Luna .
" Ya udah hadap sini ."
Luna memiringkan tubuhnya ke kanan , sehingga mereka tidur berhadapan sekarang .
Cukup lama mereka saling bertatapan tanpa bicara .
Sampai telapak tangan Arya menyentuh wajahnya .
" Masih pusing disini ..? " tanya Arya sambil menyentuh bagian kiri keningnya .
Luna mengangguk pelan .
Luna memejamkan mata dan merasakan pijatan lembut yang cukup menenangkannya ,menghilangkan nyeri yang sedari tadi menyiksanya , hanya beberapa menit mampu membuatnya terlelap .
Melihatnya terlelap , Arya menarik selimut dan masih menatap wajah didepannya .
Ia tersenyum sendiri , tiba-tiba mengingat semuanya .Awal mereka bertemu dan tiba-tiba saja memutuskan menikah dan ini sudah beberapa bulan berlalu , itu berarti akan semakin dekat juga dengan kontrak mereka yang akan berakhir .
" ...semakin kamu mengenal kepribadiannya , aku bisa pastikan kamu akan tergila-gila padanya ."
Ia ingat apa yang dikatakan Rafi waktu itu .
Apa benar semua itu akan terjadi padanya ...
Apa semudah itu ia akan melabuhkan hatinya ...setelah dulu pernah melakukan kesalahan besar dengan mencintai seseorang yang salah .
Ia melingkarkan lengan di pinggangnya .
Sekarang mereka hampir tak berjarak ...******* nafasnya dapat ia rasakan juga .
Ia mendekat dan mendaratkan ciuman di bibir itu .Terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya .Dadanya berdegup cepat .
Ia semakin mengeratkan pelukannya .
Untuk sekarang ,hanya ini yang diinginkan ,melihatnya setiap hari cukup membuatnya senang dan nyaman ,bahkan mungkin melupakan semua yang pernah dialami dulu .
__ADS_1
Tak lama ia pun terlelap dengan sejuta asa yang masih memenuhi mimpinya .
Paginya ...
Luna masih menggeliat malas dikasurnya dan melihat kamar yang sudah terang , biasanya ia yang bangun lebih awal .
Meski masih berhalangan dan tidak sholat subuh tak ada bedanya juga baginya , ia tetap bangun lebih awal .
Ia menatap jam di atas nakas .
Matanya terbelalak tak percaya .
Pukul 06.30
Ia bergegas bangun ,saat mau ke kamar mandi ..berpapasan dengan Arya disana yang sudah rapi .
" Kok aku nggak dibangunin ?"
Arya memegangi keningnya ." Masih pusing ?"
Luna menggeleng ." Sasa gimana ?" Tanya nya khawatir .
" Biar sama Mia aja ke sekolah ."
Luna berbelok dan langsung masuk kamar mandi .
Tak lama ia keluar dan bergegas ke meja makan .
Semua sudah berkumpul dan untuk kali ini ia masih menggunakan piyama karena belum sempat mandi juga .
" Loh Lun udah enakan ?" Tanya Papa yang sudah menikmati nasi gorengnya .
Luna mengangguk ." Udah Pa .
" Nggak mau ..." Sasa menyilangkan tangan di dada saat Mia mau menyuapinya .
" Kenapa Sa ?" Tanya Luna .
Sasa menatapnya ." Nggak mau ini ." Jawabnya .
" Mau dibuatin omelet aja ?" Tanya Luna lagi .
Sasa mengangguk ." Pakai sosis ya ..." Tambahnya .
" Iya ." Luna berjalan ke dapur .
Luna hanya mengantarnya di depan . Sasa berangkat sekolah bersama Mia diantar Pak Sanusi .
Sementara Arya dan Papa sudah berangkat lebih dulu tadi .
Ia masuk ke kamar dan mandi , setelah ini sebaiknya ia ke tempat Mama , mengurus masalah catering kemarin .
__ADS_1