
~ Selamat siang Pak Arya yang terhormat , ingat besok hari terakhir untuk anda membuat keputusan ~
Arya mendesah pelan , menyandarkan tubuhnya di sofa , lalu mematikan ponsel .
Waktu seminggu terasa begitu cepat sekali berlalu dan semua ini sangat mengganggu pikiran dan perhatiannya .
Apa yang akan terjadi besok ...
Ia mengusap rambutnya berkali-kali . Kepalanya hampir pecah memikirkan semua ini . Semua pekerjaan hampir terbengkalai karena konsentrasinya buyar .
Sementara kalau di rumah ,ia harus tetap terlihat baik-baik saja setidaknya jangan sampai Luna curiga ada masalah yang sedang di hadapinya , meski ia tak yakin kalau Luna tidak mencurigainya .
Pintu ruangannya terbuka , Sarah langsung masuk .
" Kenapa kamu ?" Tanyanya heran , melihat Arya terlihat kusut dan berantakan , tidak seperti biasanya .
Ia hanya menggeleng .
" Heii ..kenapa sih , cerita sama aku ...lagi berantem sama Luna ...?"
" Nggak ."
Sarah menatapnya , wajah itu tak bisa berbohong ada sesuatu yang mengganggu pikirannya .
" Hmm ...masih anggap aku sahabat kan ?"
" Kenapa ngomong gitu ...?" Tanya Arya balik .
" Buktinya kamu nggak mau berbagi .."
Arya menatapnya .
" Kita makan siang ...siapa tahu kamu mau cerita sedikit dan aku bisa membantu ..." Tawarnya .
Arya berdiri , mengambil jas di sebelahnya dan berjalan keluar .
Sarah mengikuti di belakangnya .
*****
Di rumah ...
Luna masih menemani Sasa tidur siang . Kebetulan rumah juga sepi .
Papa dan Mamanya sedang keluar , sementara Mia dan Minah sedang ke supermarket , jadi hanya berdua dengan Sasa saja dirumah .
Setelah memastikan Sasa terlelap , ia bangun dan berjalan keluar .
Ini saatnya ia mencari tahu soal masalah Dimas .
Sepertinya ia sendiri yang harus menghubungi Dimas , tetapi nomor nya ada di ponsel yang di simpan Arya .
Langsung ditujunya ruang kerja , karena pasti disimpan disana .
Ia membuka laci atas , tengah , sampai bawah ...tidak ada ponsel disana .
Pandangannya tertuju ke bufet di belakangnya . Pasti disana ...ia membukanya dan benar saja menemukan ponsel nya .
Begitu dinyalakan , banyak pesan masuk , tapi tak ada dari Dimas .
Dicarinya nomor Dimas di pesan masuk , mudah-mudahan Arya belum menghapusnya .
Ia menarik nafas lega , masih ada ternyata .
Lowbat ...ia mengambil charger di laci .
__ADS_1
Dicarinya stopkontak yang ada di pojok ruangan , sambil mencharger ponsel ia menghubungi nomor Dimas , nada panggil berkali-kali .
*****
" Disini enak loh steaknya ." Seru Sarah , setelah pesanan mereka sampai .
Arya hanya tersenyum , ia lebih banyak diam juga sepanjang perjalanan .
Sarah kembali menatapnya .
" Arya ..." Panggilnya .
" Ya ..."
" Cerita aja sedikit , mungkin aku bisa kasih solusi ."
Arya mengusap keningnya .
" Ada hubungannya sama Luna ..?" Tebaknya .
Ia mengangguk .
" Kenapa ?"
" Ada seseorang di masa lalu yang membuat masalah ..."
" Maksud kamu mantannya Luna ?"
" Bisa dibilang begitu .."
" Terus ..."
" Dia tahu satu rahasia soal kita , tapi aku nggak bisa cerita ...dan ini sangat berdampak buruk bagi reputasi aku kalau sampai semua orang tahu ..."
" Tunggu ..." Sergah Sarah ." Maksud kamu kalau sampai dia menyebarkan soal ini ,karier kamu bisa hancur ...?"
Sarah diam sebentar , memang tidak seharusnya dia menanyakan lebih detail soal masalah yang menimpa Arya sekarang . Ini sangat penting , jadi nggak mungkin dia membiarkan orang lain tahu , termasuk dirinya .
" Memangnya tidak bisa dibicarakan baik-baik , maaf ....maksudnya mungkin dia mau imbalan atau apa begitu ..."
" Yang dia mau cuma Luna ."
" Luna ?"
Arya mengangguk .
" Jadi dia melakukan semua ini karena masih mencintai Luna ..?"
Arya diam .
" Dia hanya memberi pilihan kamu untuk meninggalkan Luna ...?"
" Ya ." Jawabnya singkat .
" Dan pilihan kamu ...?"
" Rasanya nggak perlu aku bilang , juga kamu tahu ."
Sarah mengangguk ." Menurut kamu Luna lebih penting dari semua yang kamu dapatkan selama ini ...?"
" Tentu saja ."
" Kamu sangat mencintai Luna ya ..."
Arya tersenyum .
__ADS_1
" Arya dengar ,semua akan baik-baik saja ...uang dan karier masih bisa dicari , tapi keputusan kamu tepat untuk mempertahankan cinta ..."
Arya mengangguk .
" Apapun kesalahan yang pernah kamu lakukan ,tapi pasti masih ada orang yang akan percaya dengan kamu ...aku akan bantu sebisa mungkin ..." Ucap Sarah menenangkan .
" Makasih ya ."
*****
" Halo sayang ."
Luna merasa lega , setelah menghubungi berkali-kali akhirnya Dimas mau mengangkat telpon darinya .
" Apa yang sudah kamu sepakati dengan Mas Arya ?" Tanyanya langsung .
" Loh jadi suami kesayangan kamu itu tidak menceritakan semuanya ..."
" Sudahlah Dimas ...tidak usah bertele-tele , mau kamu apa hah ..?!"
" Aku cuma mau kamu , sayang ."
" Jangan kurang ajar kamu !"
" Silahkan ...tanyakan sendiri sama suami kamu kalau tidak percaya ."
Tak ada jawaban dari Luna .
" Aku hanya memberi pilihan pada Arya , kalau dia mau karier dan reputasinya terselamatkan karena surat kontrak itu , dia harus meninggalkan kamu , cukup mudah bukan ..." Lanjutnya .
" Dimas ...kenapa sih kamu selalu membuat masalah , kita sudah tidak ada hubungan lagi ."
" Tapi aku masih mencintai kamu ... Luna ."
" Aku tidak akan kembali sama kamu apapun yang terjadi ."
" Terserah ...kalau kamu mau melihat Arya hancur ."
Luna mengusap wajahnya pelan ,matanya mulai berkaca-kaca . Dimas yang dikenalnya sangat nekat dan bisa berbuat apa saja asal keinginannya tercapai .
" Dan besok akan menjadi hari dimana Arya harus menentukan pilihannya ."
" Besok ...?" Sontak Luna .
" Ya ...Arya pasti akan lebih memilih karier daripada kamu ...dan kita akan segera bersatu ."
" Jangan mimpi kamu ...!"
Terdengar suara tawa Dimas yang membahana .
Kalau Arya lebih memilih kariernya ,itu artinya ini akan menjadi hari terakhir buat mereka , tapi sebaliknya ...bisa juga menjadi hari terakhir untuk melihat kehancuran seorang Arya Perwira .
Apa mungkin masih bisa ia mencoba membuat kesepakatan lain dengan Dimas ...
" Bisa kita bertemu hari ini ?" Tanya Luna .
" Oh tentu dengan senang hati ."
Luna berpikir sebentar , Papa dan Mama nya pasti akan pulang agak malam ,begitu juga Arya dan kalau Minah sebentar lagi pasti pulang ,jadi ia bisa meninggalkan Sasa di rumah .
" Jam 4 sore , di Panorama Cafe ."
" Baiklah sayang ...aku pasti datang tepat waktu ."
Luna cepat-cepat memutus sambungan . Sampai detik ini pun ia belum menemukan kesepakatan lain yang mungkin ditawarkan nya ke Dimas .
__ADS_1
Cepat-cepat dicabut charger dan mematikan ponsel , menaruhnya di tempat semula .