
Hana masih tertidur lemas di ruangan oprasi setelah dia melahirkan secara sesar, masih jelas terasa sakit nya saat para dokter ahli bedah menyuntikan obat bius di bagian pungggung nya membuat tubuh nya kebas tak berasa apapun.
Bahkan saat proses pembedahan hana tak merasakan sakit sedikitpun, hanya terdengar suara alat trak trek trak trek dan suara para ahli bedah berbicara.
Lampu besar yang begitu terang menyorot ke tubuh bagian perut nya menerangi para dokter saat mengeluarkan bayi dari perut hana , namun dia tak dapat melihat aktifitas para ahli bedah karena terhalang gordeng tepat di atas dadanya
"ambil gunting nya "
"perban nya "
"tolong lap "
"bayi nya sudah kelihatan "
"bayi nya keluar "
"cepat cepat "
Begitulah beberapa kata yang hana dengar dari bberapa ahli bedah yang berada di ruangan tersebut , lalu tak lama terdengar suara bayi menangis dengan begitu keras
"oowaa oowaa "
Lantas para ahli bedah mengucap hamdalah bersama sama, begitupun dengan hana yang seketika meneteskan air mata seraya mengucap hamdalah.
"alhamdulillah bu, bayi nya sudah lahir , berat nya 4.3kg , tinggi nya 54cm , berjenis kelamin laki laki, bayi nya sangat tampan bu"
Salah satu ahli bedah memghampiri hana
"alhamdulillah, coba di cek pak apa ada yang kurang " pinta hana tanpa bergerak sedikitpun
"alhamdulillah bu tak ada yang kurang satu pun, bayi nya sehat dan sempurna "
Ucap ahli bedah lagi yang kemudian tak terlihat terhalang gordeng berwarna hijau
Hana tidak bisa melahirkan normal Karena terdapat kista yang menghalangi jalan lahir nya, di tambah lagi bayi nya melintang hingga membuat hana harus melahirkan secara sesar
Tanpa berfikir lama bagas memutuskan menyetujui melahirkan secara sesar saat dia mengantarkan hana ke rumah sakit terdekat dengan di dampingi bidan nita.
Setelah bayi nya di bersihkan dan di balut kain, dokter bedah menempelkan bayi itu tepat di dada hana yang terbuka, membuat bayi nya memeluk area gunung kembar milik hana
"biarkan bayi nya mencari asi nya sendiri ya bu, dan untuk ibu jangan terlalu banyak bergerak ya, dokter bedah masih bekerja "
Seorang perawat mengawasi bayi yang di tempelkan di dada hana
"iya pak "
Tangan hana pelan pelan mengelus bayi yang sangat gemuk , putih dan juga sangat lembut .
"kalau begini boleh tidak pak? "
Hana terus mengelus bayi nya dengan tangan terpasang selang infusan
"iya tidak apa apa bu, asal jangan terlalu menggerakan bagian perut dan kaki saja "
Ucap perawat
Bberapa menit berlalu, para dokter bedah berkumpul dan terlihat keluar ruangan, hanya tersisa 2 orang di dalam ruangan tersebut
"mohon maaf ya bu, bayi nya akan kami pindah kan dulu ke ruang husus bayi agar lebih steril dan jauh dari aktifitas orang demi kesehatan nya" ucap perawat
"panggil dulu suami saya pak, bayi nya biar di adzanin dulu "
Pinta hana
"baiklah, tunggu sebentar ya bu " perawat laki laki keluar ruangan, memanggil bagas yang berada di luar di temani fatma
" mohon maaf, apa disini ada suami nya bu hana yang bernama pak bagas? "
Perawat menghampiri bagas yang berada di samping fatma
"saya pak "
Bagas berdiri dengan mengacungkan lima jari tangan nya
" mari ikut saya ke ruangan pak, bapa di minta untuk meng adzani bayi nya"
bagas mengikuti perawat dari belakang
"mas, tolong adzanin bayi nya ya "
Pinta hana setelah bagas berada di samping nya
"iya sini bayi nya "
ucap bagas,
perawat meagambil bayi nya lalu memberikan nya ke pangkuan bagas
"allohu akbar allohu akbar .........................
La ilaaha illalloh "
__ADS_1
bagas melantunkan adzan tepat di dekat telinga bayi nya , tak terasa air matanya berlinang dan menetes mengenai bayi di pangkuan nya.
Hana ikut meneteskan air mata , getaran lantunan adzan yang bagas kumandangkan begitu membuat nya terharu bahagia
"maaf ya pak, bayi nya kami pindahkan dulu ke ruang husus bayi "
Perawat mengambil bayi itu kembali dari tangan bagas, lalu memasangkan gelang berwarna biru pada tangan yang begitu kecil dan mungil
"oh iya pak, mau di kasih nama siapa ya bayi nya? "
Tanya perawat
"bayi nya laki laki atau perempuan pak? "bagas balik bertanya
"laki laki pak "
" kalau irfan firdaus gimana mas? "
Ucap hana memberi pendapat sambil menatap bagas
"ya sudah boleh.
itu saja nama nya pak "
Ucap bagas pada perawat
"baik pak, saya tulis ya
Irfan firdaus ya pak "
Perawat menuliskan nama bayi di gelang yang terpasang di pergelangan tangan mungil tersebut
"iya pak "
Tutur bagas
"baik pak, bu, saya bawa dulu bayi nya ya,
Nanti bisa di lihat di ruang sebelah kanan ya pak bu dekat ruang perawat "
Perawat berlalu keluar dari ruangan meninggalkan hana dan bagas di sana , kemudian bagas juga ikut berjalan keluar tanpa berbicara lagi dengan hana
"mas mau kemana? "
Hana menghentikan lagkah bagas
"aku mau keluar , kenapa? "
"memang nya kenapa?
Nanti juga perawat masuk lagi nemenin kamu, aku lapar mau makan dulu "
Bagas menutup pintu setelah berbicara pada hana .
Hana memejamkan mata, mengeluarkan butiran butiran bening yang mengalir di pipi nya, membasahi bantal yang di tiduri nya
(ya alloh sakit sekali rasa nya, selama ini aku sudah menjadi wanita yang patuh terhadap suami, juga hormat terhadap suami, tapi inikah balasan nya ya robb?
Aku yang rela meninggalkan masa remaja ku demi menikah dengan laki laki yang terkenal baik di mata orang, padahal yang ku dapat hanya penderitaan dan hinaan.
Aku tak pernah meminta apapun yang suami ku tak sanggup, aku hanya ingin di perlakukan adil selayak Selayak nya seorang istri.
Buk, pak, seandai nya kalian tau penderitaan ku selama ini )
Batin hana terhenti saat pintu ruangan bergeser tanda ada yang masuk , segera hana mengusap air mata yang membasahi pipi nya
"ibu hana, kita pindah ke ruang rawat inap ya, biar ibu isrirahat dan cepat pulih "
Seorang perawat laki laki dan perempuan menghampiri hana
"iya pak "
Perawat laki laki mendorong ranjang yang hana tempati ke lantai 2 di ikuti perawat perempuan yang membawa bberapa map berisi kertas setumpukan
Setelah sampai di ruang rawat inap, hana di sarankan untuk banyak beristirahat,
"ibu jangan terlalu banyak bergerak ya, ini darah nya sudah naik tanda nya ibu banyak bergerak "
Perawat membenarkan selang infusan yang sudah setengah berwarna merah di tangan kiri hana .
"iya pak " jawab hana
2 perawat kemudian keluar setelah menyuntikan bberapa cairan obat ke dalam infusan, lalu tanpa menunggu lama hana merasa matanya begitu ngantuk dan ahir nya terlelap .
Beberapa hari di rumah sakit hana di nyatakan sudah bisa pulang oleh dokter, dengan syarat harus tetap kontrol setelah obat yang di berikan dokter habis .
Selepas melahirkan hana belum melihat lagi bayi yang selama 9 bulan telah dia kandung , hanya saat setelah melahirkna dia mengelus bayi itu, itupun hanya beberapa menit , bayi itu telah di bawa pulang lebih dulu oleh fatma dan bagas, sementara dia di rawat dengan di dampingi tetangganya yang di bayar bagas untuk mengurus hana selama di rumah sakit.
"bi maaf, saya ingin sekali melihat bayi saya , bisa kita ke ruangan bayi "
Tanya fatma pada tetangga yang mendampingi nya
__ADS_1
"bayi neng sudah di bawa pulang sama pak bagas dan bu fatma "
Hana termenung mendengar jawaban pendamping nya.
Hari ini hana bersiap siap untuk pulang di pegangi oleh supir yang akan membawa nya , serta tetangga nya yang mengikuti dari belakang dengan membawa tas besar berisi pakaian kotor nya selama di rumah sakit.
"pak, ko jalan nya kesini, bukan nya lurus ya? "
Tanya hana yang duduk di depan, dia menyadari arah jalan bukan menuju rumah bagas
"oh iya neng, saya lupa ngasih tau kalau neng sekarang tinggal nya di rumah pak bagas yang di daerah sini "
Supir melajukan mobil nya
" loh, kenapa mas bagas gak ngomong apa apa sama aku ya? " hana bertanya pada diri sendiri namun matanya menoleh pada supir
"saya kurang tau neng, saya hanya di suruh saja sama pak bagas dan bu fatma "
Tutur supir
"gak apa apa neng, kan ada saya yang menemani. Kalau neng butuh apa apa neng tinggal panggil saya aja "
Ucap bibi tetangga hana
"bukan begitu bi, saya rindu dengan bayi saya bi "
Hana menunduk lesu
"yang sabar neng, nanti juga pasti ketemu " ucap bibi pendamping, membuat hana bersandar lemah di kursi mobil
Setelah sampai di depan sebuah rumah yang lumayan besar , setengah dari rumah yang biasa hana tempati, hana di pegangi 2 orang yang sejak tadi mendampingi nya lalu memasukan hana ke kamar untuk beristirahat .
"mang , tolong sampai kan sama mas bagas, aku ingin melihat bayi kecil irfan, aku ingin merawat nya sebentar saja, tolong di sampaikan ya mang, maaf saya lancang nyuruh nyuruh "
"iya neng, nanti saya sampai kan . Sekarang neng istirahat aja saya mau pulang. Mari neng "
Supir berlalu pergi
"neng butuh sesuatu? "
Tanya bibi
"tidak bi , kalau bibi mau istirahat silahkan , nanti saya panggil kalau saya ada perlu "
"iya neng, bbi istirahat di kamar sebelah ya neng "
Bibi pendamping pun berlalu pergi
Hana kembali termenung sendirian meratapi nasib nya .
*****
Fatma menggendong bayi yang di beri nama irfan itu sambil mengajak nya bicara,
"bang, bayi nya ganteng banget ya, percis abang "
Ucap fatma pada bagas yang berada di samping nya
"masa sayang "
"iya bang, tanyain aja sama ibu.
Iya kan bu"
Kali ini fatma menoleh ke arah ibu nya bagas yang berada di samping nya juga
"iya mirip kamu, cucu ibu ini memang paling ganteng "
Ibu menoleh pada bagas lalu mengelus bayi di pangkuan fatma
"itu si hana udah pulang ya kata nya dari rumah sakit?
Kamu suruh dia tinggal di rumah ci saga sendirian gas? "ucap ibu bagas
"engga bu, ada bi nani yang ngurusin dari sejak dia di rumah sakit.
Aku sudah membayar bi nani untuk mengurus nya sampai dia sembuh, nanti kalau dia sudah sembuh akan ku pulang kan ke tasik "
Ucap bagas tanpa dosa
"lalu bagai mana kompensasi yang kamu janjikan itu?
Sayang banget di berikan sama dia, padahal dia disini udah kasih hidup enak masih aja di kasih kompensasi " ucap ibu bagas jutek
"ya kan biar dia gak inget sama bayi ini kalau sudah di kasih kompensasi. Itung itung gantian aja, dia dapat duit ya kita dapat bayi ini" ucap bagas
"pinter juga ya kamu , lagian nanti mau jadi gembel anak kamu kalau dia yang ngurus! , ngurus diri aja dia gak becus, apalagi ngurus bayi .
eh tapi apa orang tua nya sudah tau tentang ini "
"orang tua nya gak akan kaget kalau aku pulangkan hana ke tasik, mereka pasti sudah mengerti kalau fatma sudah kembali ke luar negri.
__ADS_1