
Sebulan telah berlalu,
"hana, hana "
Bagas berteriak memanggil hana
"iya mas " hana setengah berlari menghampiri bagas
"minum ini 2 biji "
Bagas memberikan pelastik berisikan sebotol obat
"obat apa ini mas "
Tanya hana menilik nilik botol obat yang di berikan bagas
"minum saja, gak usah banyak tanya "
Ketus bagas
Hana hanya mengangguk sambil mengamati botol obat ,
Hana membaca tulisan di botol obat tersebut
( obat terlambat datang bulan )
Hana menelan saliva, dia tau bagas menyuruh menggurkan kandungan nya sekarang dengan obat itu.
di usapnya perut yang sudah mulai sedikit mengeras
(maafkan aku ya bayi.. Aku merasa senang meskipun hanya sebentar memiliki mu)
Batin hana
Bagas beranjak pergi entah kemana,
semenjak sebulan yang lalu hana tak pernah lagi bertanya mau kemana atau dari mana pada suami nya itu
Bukan hana tak ingin bertanya ,hanya saja suami nya sudah menjadi laki laki yang arogan, hana juga di larang mencanpuri urusan nya, bahkan untuk sekedar bertanya mau kemana atau dari manapun hana tak di perbolehkan nya.
Hana mengambil segelas air, meminum 2 butir obat dari botol kecil dan menelan nya
Setelah 3 jam lama nya hana menunggu dengan cemas,
Menunggu apa yang akan terjadi selanjut nya
Perut hana mulai merasa sakit, lebih sakit dari sakit perut saat dia datang bulan
Hana memegang perut nya menahan sakit , mata nya iku terpejam
(bayi kecil ku..
Jika kamu tidak ingin keluar, kamu boleh tinggal.
Aku tau kamu juga sakit, aku pun merasakan nya )
Batin hana .
Air mata nya mulai berderai
Tiba tiba hana merasa tubuh nya ringan, tangan yang sedari tadi memegang perut terkulai lemas , matanya mulai meredup dan
Bugh.... Hana jatuh pingsan
Hana celingukan melihat keadaan sekitar nya di kelilingi gordeng putih , mata nya yang masih belum sepenuh nya terbuka melihat ke atas, ada benda yang menggantung berisi air dengan selang kecil di bawah nya.
Di amati nya selang kecil sampai ujung, ternyata selang itu berakhir di punggung tangan kanan nya , perlahan dia menggerakan tangan nya yang tertempel selang
"awwwww " pekik hana.
Dia merasa kesakitan saat menggerakan tangan nya denga mengepal
Terdengar suara pintu di buka, kemudian masuk seorang perempuan berseragam putih dari balik gordeng putih
"ibu hama sudah pulih? Jangan banyak gerak dulu ya "
Ucap perawat memperingati hana
"saya dimana ya? "
Ucap hana bertanya
"ibu hana di rumah sakit umum,
Tadi suami ibu membawa ibu kasini dalam keadaan tak sadarkan diri.
katanya ibu mengalami pendarahan karena keracunan obat "
Perawat menjelaskan
(bukan keracunan obat, tapi di racuni obat oleh mas bagas)
Batin hana
"ibu istirahat lagi ya, saya permisi dulu "
Ucap perawat kembali meninggalkan hana
Setelah perawat pergi, bagas kemudian masuk menghampiri hana
"kamu gimana sih?
Obat nya di minum berapa biji?
Kan sudah ku bilang minum nya 2 biji "
Bagas mengomeli hana yang masih terlentang lemas
"aku minum 2 biji mas "
__ADS_1
Lirih hana
"bukan nya anak itu lenyap, malah aku dapat malu disini. Ngabisin duit pula lagi "
Gerutu bagas sambil menunjuk perut hana
"jadi bayi nya selamat ?"
Tanya hana
"iya, itu janin kenapa juga gak mau keluar !"
Bentak bagas tapi suara nya tidak terlalu keras
"maaf mas.
Aku juga engga tau"
Lirih hana
"sudah lah, nanti kita pakai cara lain saja ,
Kamu juga jangan manja, cuma pendarahan sedikit , jadi jangan seperti orang mau mati begitu!
Bilang kamu udah gak kenapa kenapa kalau ada perawat , biar cepet pulang "
Bagas tetap menggerutu hana
"iya mas "
Jawab hana pelan
selang beberapa hari dokter mengatakan bahwa hana sudah boleh pulang , bagas membawa nya pulang menaiki motor nya.
Sebenar nya motor itu milik hana , mas kawin dari bagas . Namun bagas berkata motor nya akan dia pergunakan untuk mencari nafkah, hana pun meng iya kan nya
Sesampai nya di rumah hana beristirahat di kamar , bagas ikut naik ke atas tempat tidur menemani hana
"hana, nanti malam aku ingin tidur dengan mu "
Ucap bagas
"tapi mas, aku "
"jangan menolak ku hana,
Ingat, kau hanya harus patuh"
Bagas memotong ucapan hana
Bagas turun dari tempat tidur berjalan menuju kamar mandi.
Semenjak ningrum positif hamil , bagas tak di perbolehkan ningrum tidur bercinta bersama nya.
Setiap bagas meminta untuk bercinta, ningrum selalu menolak nya , dengan alasan dokter menganjurkan untuk tidak dulu berhubungan suami istri di trimester pertama nya.
Hana lah yang akan jadi pemuas nafsu nya ketika dia menginginkan bercinta , walau hana tak menginginkan nya ,tapi bagas selalu memaksanya dengan kekerasan
****
Beberapa hari kemudian bagas mengajak hana ke satu tempat dimana hanya ada satu rumah di bawah pohon mahoni besar,
Hana di bawa nya masuk ke rumah yang sudah tua namun masih Terlihat kokoh
"seperti nya sudah menginjak 4 bulan "
Ibu paruh baya yang bernama mak atin memegang perut hana,
Hana terperenjat kaget karna mak atin tiba tiba menyentuh perut nya tanpa permisi
"Sepertinya akan sedikit sulit "
Ucap mak atin menatap hana
Hana yang duduk berhadapan dengan mak atin sedikit bergeser ke belakang karena ketakutan, membuat tangan mak atin tak lagi menyentuh perut nya
"mak tidak akan menyentuh nya, tapi mak akan memberi ramuan untuk membuat nya keluar,
Nanti kalau sudah sampai rumah baru di minum "
Mak atin yang duduk berhadapan dengan hana bangkit berjalan ke ruangan rahasia nya, lalu kemudian kembali dengan membawa botol kecil sebesar botol obat pada umum nya, berisikan air ramuan yang dia racik
"tak ada yang gagal dengan ramuan ini ,
Kalau nanti istri mu pendarahan hebat jangan kaget , itu berarti janin nya keluar "
Ucap mak atin menatap bagas
"iya mak"
Jawab bagas singkat
"ini ramuan nya "
Mak atin menyodorkan botol ramuan pada bagas, dengan segera bagas meraih nya
Bagas memberi amplop berisi uang , sebelum dia dan hana beranjak pergi dari tempat mak atin
Sesampai nya di rumah bagas menyuruh hana untuk meminum ramuan yang di berikan mak atin, hana pun meminum nya di depan bagas
"jangan hawatir, aku akan menunggu mu "
Ucap bagas datar
Setelah meminum ramuan hana merasa ada yang aneh di perut nya, rasa seperti ada yang bergeser .
Wajah hana mengerut ke anehan membuat bagas langsung mendekatinya
"kamu merasakan sesuatu? "
__ADS_1
Tanya bagas penasaran
"sepertinya ada yang bergerak di perut ku mas " jawab hana
"kamu tidak merasakan sakit? Atau merasa akan keluar darah? "
Tanya bagas lagi
"engga tau mas, sepertinya belum terjadi apa apa "
Jawab hana santai
Bagas kemudian duduk di kursi dengan wajah memalas
Bberapa jam berlalu, bagas belum juga memejamkan matanya, sementara hana sudah tertidur pulas di samping nya
Malam kian gelap, mata bagas perlahan tertutup namun dia segera menyadarkan dirinya untuk tidak tidur, taku takut terjadi sesuatu pada hana seperti yang mak atin katakan .
***
"Mas "
Hana menepuk pelan bahu bagas
"iya kenapa hana?
Apa kamu merasakan sesuatu?
Atau sudah pendarahan? "
Bagas seketika bangun , mata nya melotot dan langsung melempar beberapa pertanyaan pada hana hingga membuat hana tersontak kaget
"mas kenapa? "
Kening hana mengkerut kebingungan
Bagas melihat sekitar, matahari sudah masuk menerangi kamar nya, gordeng juga sudah terbuka lebar . kini dia sudah menyadari bahwa dirinya tertidur semalam,
"tak ada yang terjadi sesuatu pada mu? "
Bagas menjadi parnoan, sedikit perhatian pada hani
"tidak mas, memang nya kenapa ?"
"aku menghawatirkan mu semalam, ku kira kamu akan pendarahan seperti yang mak atin katakan "
"tadi pagi aku memang merasakan sedikit mules mas, ku kira akan terjadi sesuatu , ternyata hanya ingin buang air besar "
Ucap hana dengan sedikit tersenyum
"kamu ya, orang lagi cemas malah becanda "
Gerutu bagas
Hana sedikit terharu dengan ucapan suami nya itu,
Segalak galak nya bagas tetap merasa cemas pada nya, walaupun keadaan nya bagas sendiri yang membuat nya harus mencemaskan hana
Hana tersenyum bahagia atas perhatian suami nya itu, bibir nya terus senyam senyum sendiri
"kenapa kamu malah senyam senyum begitu "
Tanya bagas jutek
"oh.. Tidak apa apa mas "
Hana kini tak lagi tersenyum
Bagas bangkit mengambil ponsel di atas laci, sementara hana melajukan kaki nya ke luar kamar
"halo sayang, maaf mas baru bangun "
"belum sayang "
"mas juga gak tau "
"iya nanti mas coba lagi"
"iya mas tau"
"kirim saja alamat nya "
Bagas menyimpan kembali ponsel nya lalu beranjak keluar untuk sarapan , menghampiri hana yang sudah menunggu nya di meja makan.
"hana, nanti kita coba lagi ke tempat lain" ucap bagas
"iya mas "
Beberapa kali bagas mencoba mencari cara agar janin yang ada dalam kandungan hama lenyap , namun tak pernah berhasil
Bahkan saat ningsih memberi tahu dukun bayi yang bagus untuk menggugurkan kandungan pun bagas dan hana mendatangi nya, namun tetap saja hasil nya sama
Hingga bagas merasa bosan kesana kemari , tapi kandungan hana baik baik saja .
Bagas sudah putus asa, hingga dia membiarkan hana mengandung sampai dia melahirkan
"janin itu tak mau keluar juga " ucap bagas
"aku tidak tau mas " ucap hana
"sudahlah.. Aku sudah lelah mengurus janin itu, biarkan saja janin itu lahir "
Dengan wajah kecewa bagas mengatakan nya pada hana
Hana begitu bahagia mendengar nya, ingin rasa nya hana berterimakasih pada suami nya namun dia juga harus terlihat sama kecewanya seperti bagas
"baiklah mas, tapi bagaimana dengan surat perjanjian nya mas? "
Tanya hana
__ADS_1
"akan ku urus surat perjanjian nya "