
Meeting selesai pukul 15.00
Arya kembali ke ruangannya .
" Pak ini laporannya yang tadi ." Maya masuk dan menaruh map di atas meja .
" Oh iya makasih ."
Setelah Maya keluar , ia mengambil cangkir di meja dan menghabiskan kopinya yang tinggal setengah .
Ponsel di sakunya berdering .
Rafi .
" Ya ...Bro ." Sapanya .
" Ketemuan sebentar bisa ..."
Arya menatap jam ditangannya ." Hmm ...iya setengah jam an lagi bisa , dimana ?"
" Oke ...ditempat biasa aja ."
*****
Luna masih di kamarnya , bersiap mau berangkat . Jantungnya berdegup tak karuan , apa bisa ia menyelesaikan masalahnya dengan Dimas .
Ia tak akan sanggup membiarkan Dimas menghancurkan hidup Arya . Semua yang telah dicapainya bisa hancur dengan sebuah kesalahan yang mereka lakukan .
Entah ...Dimas mau mendengarnya atau tidak , tapi setidaknya ia harus mengusahakan itu semua .
Diambilnya ponsel di sofa .Sebaiknya ia berangkat sendiri ,tak perlu diantar Pak Sanusi .
Dibukanya sebuah aplikasi taksi online dan membuat pesanan .
Ia mendesah pelan , semoga semua bisa selesai , tanpa ada satupun yang tersakiti .
*****
Setengah jam kemudian , Arya keluar kantor dan langsung menuju cafe menemui Rafi .
Sambil menyetir , diambilnya ponsel ...menghubungi Luna .
Hanya nada sambung berkali-kali .
Kemana dia , pikirnya .
Nggak mungkin tidur jam segini .
Dicobanya lagi dan tetap sama .
Ia menekan nomor lain .
" Halo Minah ." Sapanya .
" Iya Pak ."
" Luna kemana ,kok saya telpon nggak diangkat ."
" Bu Luna keluar Pak ,kayaknya ponsel ketinggalan di kamar , barusan saya lewat depan kamar ,ada suara telpon ."
" Keluar kemana ...sama Pak Sanusi ?" Tanyanya mulai cemas .
" Nggak Pak , tadi naik taksi online ."
Nggak biasanya Luna memakai taksi online , hal ini membuat nya sangat cemas .
__ADS_1
Ia menepikan mobil dan terdiam , bagaimana caranya tahu Luna pergi kemana kalau ponsel saja tidak dibawanya dan biasanya selalu bilang kalau mau keluar ketemu siapa dan kemana .
Ini aneh .
Tiba-tiba pikiran itu terlintas di benak nya .
Apa mungkin Luna sudah tahu semua dan sekarang ...sedang menemui Dimas .
Ya Dimas , ia harus cari tahu soal ini .
Diambilnya ponsel dan menghubungi Dimas .
Dua kali nada sambung dan langsung diangkat .
" Ada apa Pak Arya , apa anda sudah membuat keputusan ?"
" Bisa kita bertemu sekarang ?" Pancingnya .
" Oh tentu , tapi bagaimana ya ...istri anda sudah lebih dulu membuat janji dengan saya ."
Tepat . Benar dugaannya Luna akan menemui Dimas .
" Kalian bertemu dimana ?"
" Di Panorama cafe sekarang , apa anda mau bergabung juga ...?"
Arya mematikan ponsel dan memutar balik mobil .
Jangan sampai Luna lebih dulu sampai disana .
" Halo Bro , sorry kita cancel dulu ya , aku ada urusan penting ."
Setelah mematikan ponsel , ditaruhnya di jok samping .
Ia menyetir dengan kecepatan tinggi , masalahnya ke Panorama lebih dekat dari rumah ketimbang posisinya sekarang .
Sementara di mobil ...
Luna mengambil tas dan membukanya , mencari ponsel tapi tak menemukannya .
Apa mungkin tertinggal di rumah .
Biasanya Arya menelponnya jam segini dan pasti panik saat tak diangkat .
Ya sudahlah , yang penting masalah barus selesai sekarang .
Diluar hujan mulai deras sore ini . Tak lama lagi ia sampai tujuan .
Arya sendiri terpaksa mencari jalan pintas , membuatnya lebih cepat kesana .
Hujan mulai mengguyur , tak masalah sebentar lagi ia sampai .
Sesampainya di luar , ternyata cafe full , untuk masuk area parkiran dalam harus melalui antrian panjang . Hujan makin deras .
Lewat 10 menit , mereka masih juga diluar , tak beranjak sedikitpun . Kalau weekend selalu saja seperti ini .
Luna menatap jam di tangannya , kalau untuk parkir saja butuh waktu lama ,waktunya akan terbuang disini .
Padahal ia harus kembali satu jam dari sekarang , jangan sampai Arya lebih dulu sampai ke rumah .
" Pak , saya turun disini aja ."
Sopir taksi membalikkan badan , menatapnya .
" Mbak tapi diluar hujannya deras .
__ADS_1
" Nggak papa ,buru-buru soalnya , makasih ya ."
Ia keluar mobil dan sedikit berlari , baru beberapa langkah saja sudah membuatnya basah kuyup .
Baru saja mau berbelok ke pintu masuk , ia membalikkan badan begitu merasakan ada yang memegangi lengannya .
" Mas ..." Sapanya kaget . Arya sudah berdiri di depannya .
Arya menarik tangannya ke tepi jalan .
" Mau kemana ?" Tanyanya langsung .
" Aku mau ..."
" Ketemu Dimas ." Sambungnya .
Luna terkejut , ternyata Arya tahu semuanya .
Ia mengusap wajahnya yang basah .
Arya memegangi bahunya , mereka berdiri berhadapan .
" Mau apa hah ...kamu pikir Dimas akan mendengar semua omongan kamu ...?"
Luna menundukkan kepalanya .
" Mas ...aku tahu kalian membuat kesepakatan itu , aku cuma nggak mau kamu salah mengambil keputusan ." Ucapnya lantang , tapi suaranya hanya terdengar samar , tertutupi suara air hujan yang kian deras .
" Aku sudah memikirkan semua dan kamu nggak perlu ikut campur , semua akan selesai ."
Luna menggeleng ." Aku nggak mau kalau sampai reputasi kamu didepan orang jadi buruk , itu akan berpengaruh buat pekerjaan kamu sekarang ."
" Yah , aku tahu ...tapi nggak ada pilihan lain ."
" Ada ..."
Arya membelalakkan matanya .
" Kalau kita berpisah , Dimas tidak akan melakukan ini ke kamu ." Ucapnya parau .
" Cukup ,jangan bicara ngawur !"
Arya menatapnya lekat .
" Tapi Mas ...semua demi kebaikan semua ."
" Luna stop ..!" Arya menempelkan jari telunjuk di bibir Luna , agar diam .
" Apapun yang terjadi , tidak ada yang bisa memisahkan kita ." Arya mencakup pipinya , sementara Luna mulai terisak .
" Mas ...aku mohon ." Ratapnya .
Arya mendekatkan wajahnya ." Dengar ...aku nggak masalah kalau harus kehilangan karier dan semuanya ,tapi aku bisa mati kalau kehilangan kamu ..." Ucapnya pelan ,tapi Luna mampu mendengarnya dengan jelas .
" Mas ..."
" Tolong , jangan bicara itu lagi ,aku nggak bisa ..."
Luna menatap wajah suaminya itu , yang biasanya nampak selalu tegas kini terlihat begitu rapuh , meski telah basah karena air hujan ,bisa dilihatnya dari sudut mata , air matanya menetes .
" Aku cinta sama kamu ." Ucap Arya lagi ." Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dari aku ."
Arya menarik nya mendekat ke dalam pelukan .
" Aku cuma nggak mau melihat kamu hancur ." Ucap Luna .
__ADS_1
Arya mempererat pelukannya . " Cukup tetap disini , itu sudah menjadi kekuatan buat aku ,apapun masalahnya . "
Tangisnya pecah saat Arya mengusap punggungnya .