
Sore harinya , mereka pulang ke rumah .
Begitu sampai di depan gerbang , terlihat beberapa wartawan berdiri disana , melihat mobilnya datang , wartawan itu berlari ke arah mereka .
Arya mendekat ke Luna dan menarik tirai kaca mobil , begitu juga dilakukannya sendiri di kaca mobil sampingnya .
Ardi yang duduk di jok depan menoleh ke belakang .
" Tadi pagi mereka juga datang , tapi Papa belum konfirmasi apapun ."
Arya mengangguk ." Sebaiknya sekarang tidak bicara apa-apa dulu sama mereka ." Ucapnya . " Pak Jalan ..."
Pak Sanusi mengangguk dan menjalankan mobil setelah tadi berhenti sebentar .
Pak Halim tergopoh-gopoh membuka gerbang , begitu mobil masuk ...dengan cepat menutupnya lagi , menghindari wartawan yang menyerobot masuk ke dalam .
Mobil berhenti di halaman .
Karina sudah menunggu mereka di teras .
Luna turun terlebih dulu , lalu berdiri menunggu Arya turun .
" Ayo masuk ." Luna menuntun lengannya , tapi Arya menolak .
" Kenapa ?"
" Jangan digandeng gitu , kayak orang sakit ." Sergahnya .
Luna melotot ." Emang kamu sakit , udah deh jangan bandel ...!"
" Galak amat sih sekarang ." Arya memencet hidungnya , Luna dengan cepat menampel tangannya .
" Udah ayo ..." Ajak Arya sambil melingkarkan lengannya di pinggang Luna .
Arya menatapnya ." Jangan marah-marah terus , nanti cepat tua ." Bisiknya .
Luna menatapnya sewot .
Sesampaianya di ruang tamu ,Sasa berlari menghampiri .
" Papaaaa...." Lalu melihat perban yang menempel di keningnya ." Papa kenapa ?" Tanyanya .
" Nggak papa ,udah yuk ." Jawab Arya , lalu menuntun Sasa masuk dan ikut ke kamar .
*****
Malamnya saat Luna sedang menemani Sasa tidur , Arya bergegas ke ruang kerja .
Ardi sudah menunggunya disana .
__ADS_1
" Jadi gimana ?" Tanya Ardi langsung , begitu melihatnya masuk .
" Besok aku ke kantor ."
Ardi menatapnya ." Jangan , kondisi kamu masih belum memungkinkan ."
" Tapi masalahnya akan semakin berlarut kalau tidak cepat diatasi ."
" Ya ...tapi mau bagaimana lagi , sebaiknya jangan memaksakan diri dulu ."
" Iya Pa , aku cuma sedikit takut bagaimana kalau sampai klien yang punya peran penting di perusahaan juga mulai meragukan kerjasamanya gara-gara kasus ini ." Kali ini ia tak mampu menyembunyikan kegusarannya , sementara tadi harus bersikap biasa kalau di depan Luna .
" Papa sudah menghubungi beberapa klien penting dan pemegang saham perusahaan untuk kita bisa bicara ,tapi mungkin besok biar Papa dulu yang bicara sama mereka ,setelah sembuh kamu bisa bicara lagi dengan mereka ."
" Aku belum tahu reaksi mereka , karena ponselnya masih dibawa Luna ."
" Ya sudah nggak papa , kamu istirahat saja dulu..."
" Papa yakin mau menemui mereka sendiri besok ?"
Ardi mengangguk .
" Gimana kalau besok aku bicara sama wartawan ..."
" Jangan ." Larang Ardi ." Sebaiknya selesaikam dulu masalah dengan klien ."
" Tapi aku nggak enak , belum konfirmasi soal telpon dan pesan yang masuk , dikiranya nanti aku lari dari masalah ,Papa tahu kan Luna susah dibilangin ...
Arya mengangguk .
" Kita lihat besok ,kelanjutannya gimana .."
" Iya Pa ."
Setelah selesai Arya kembali ke kamar dan Luna sudah disana .
" Kamu darimana ?"
" Bicara sama Papa ." Jawab Arya lalu duduk di sofa .
Luna memberikan beberapa pil di tangannya dan segelas air putih .
Setelah selesai ia duduk di sebelah Arya .
" Besok Papa ke kantor ...bicara dengan beberapa klien ." Ucap Arya . " Tapi mungkin sebaiknya aku juga ikut untuk menjelaskan semua ..."
" Nggak boleh ." Potong Luna .
Arya menatapnya . " Kenapa ?"
__ADS_1
" Mas , kamu masih sakit , jangan nekat gitu ."
" Aku udah sembuh kok ."
" Pokoknya nggak boleh ..!"
" Ya udah , kalau gitu ponsel aku mana , paling tidak aku bicara dengan mereka di telpon tanpa harus bertemu ..."
" Nggak ...kamu ingat kan kata dokter , harus banyak istirahat jangan banyak berpikir dulu ."
" Iya , tapi kan ..."
Luna berdiri dan menarik tangannya .
" Sekarang tidur ."
Arya berdiri dan berjalan ke tempat tidur .
*****
Sementara di tempat lain ...
Dimas sedang merayakan kemenangannya duduk sendirian di pojok cafe , sambil memandangi beberapa artikel berita di ponselnya .
Ia tertawa sendiri , membayangkan bagaimana keluarga mereka diterpa kepanikan sekarang .
" Jadi itu rahasia yang kamu maksud ?"
Dimas mendongak ,Kinan sudah berdiri di depannya .
" Ya ...apa kamu juga sudah melihatnya ?" Tanya Dimas balik .
Kinan mengangguk , lalu menarik kursi dan duduk di depannya .
Dimas mendekatkan wajahnya . " Bukankah ini kesempatan bagus untuk kamu ..."
Kinan menatapnya ." Maksud kamu ?"
" Dalam keadaan seperti ini ,pasti terjadi konflik antara Arya dan Luna , jadi kamu bisa masuk didalamnya , berperan sebagai pahlawan buat Arya ,dengan begitu kamu bisa menarik simpatinya lagi kan ..."
Kinan melengos ." Maaf aku sudah tidak tertarik dengan itu semua ."
Dimas menatapnya kaget ." Oh ya ..bukannya kamu menginginkan Arya kembali ?"
Kinan mengangguk ." Tapi aku sadar itu tidak mungkin , karena Mas Yuda sangat mencintai Luna ."
" Dan kamu menyerah begitu saja ...?"
" Bukan menyerah ...hanya saja aku tidak mau membuang waktu percuma seperti kamu ." Kinan lalu berdiri dan mendekatkan wajahnya ke Dimas ." Sepertinya usaha kamu pun akan sia-sia kali ini ." Bisiknya , lalu berbalik dan berjalan keluar .
__ADS_1
" Sial ...!!!" Umpatnya .