
Seminggu berlalu...
Tak ada kabar apapun soal Dimas dan ini semakin membuatnya kepikiran .
Meski Luna sudah tak menanyakannya lagi , karena beberapa hari lalu terakhir ia menanyakannya , lagi-lagi membuatnya harus berbohong .
" Aku sudah memberinya uang dan itu bisa membuatnya bungkam ."
Semoga Luna benar-benar percaya , bukan hanya berpura-pura agar membuatnya tak khawatir .
" Pak , nanti meeting dengan Pak Aska jam 2 ." Maya sudah berdiri di depannya .
Arya mengangguk , lalu Maya berpamitan keluar .
Ponsel di sakunya berdering .
Nomor tak dikenal .
" Halo ."
" Halo Bapak Arya yang terhormat ."
Ia seketika berdiri mendengar suara itu .
Dimas .
" Mau apa kamu ?"
" Tenang ...tidak perlu emosi begitu , kita bisa bicara baik-baik bukan ...?" Ucapnya santai , membuat Arya emosi tapi berusaha meredamnya .
" Bisa kita bertemu hari ini ?" Tanya Dimas lagi .
" Bisa ." Jawabnya pendek .
" Oke ...saya chat waktu dan tempatnya ."
Sambungan pun terputus .
Ia menarik nafas panjang .Harus lebih bersabar menghadapi Dimas , karena semakin dilawan , dia akan semakin nekat juga nantinya .
*****
Panorama cafe .
Saat sampai , Dimas rupanya sudah disana , ia sedang menikmati kopinya .
Arya bergegas masuk , tanpa menyapa langsung menarik kursi di depannya dan duduk .
" Cepat katakan mau kamu apa ?" Tanya Arya langsung .
Dimas menatapnya . " Tenang ...tidak usah terburu-buru ." Lalu ia memanggil waiters , tapi Arya menolak untuk memesan minuman .
" Saya punya penawaran menarik untuk anda ." Ucap Dimas kemudian .
Arya diam , tapi memperhatikannya .
" Pilihan ini akan cukup menarik buat anda ."
" Pilihan apa ?"
" Saya akan membatalkan niat untuk mempublikasikan surat kontrak itu dengan satu syarat ..."
Arya menatapnya lekat .
" Lepaskan Luna ."
__ADS_1
" Jangan kurang ajar kamu ...!!" Arya menggebrak meja , beberapa orang yang duduk di meja sebelah melihatnya .
" Memangnya kenapa ...kalau sampai tersebar karier anda akan hancur , bukankah itu lebih penting dari semuanya ..."
Ia menarik nafas panjang , saat berbicara dengan Dimas selalu membuatnya emosi .
" Kalau hanya melepaskan Luna bukan sesuatu yang sulit kan ...dengan semua yang anda miliki sekarang , tinggal memilih saja siapa yang bisa menjadi istri anda bukan ...?" Ejeknya .
" Cukup ...!!" Sentak Arya ." Saya tidak akan melepaskan Luna sampai kapanpun juga ."
Dimas terbahak .
" Jangan terlalu mudah memutuskan ...saya masih berbaik hati memberi anda waktu satu minggu dimulai dari sekarang ."
Arya membelalakkan matanya .
" Saya kira keputusan anda sekarang bukan sesuatu yang tepat ." Dimas berdiri ." Nanti saya hubungi satu minggu dan keputusan anda harus final saat itu juga , permisi ."
Dimas berjalan keluar .
Sementara Arya masih terdiam disana . Satu minggu ...setelah itu semuanya akan berakhir .
Ia mengusap wajahnya , ketika ponselnya berdering .
Mia .
" Ada apa ?" Tanyanya langsung .
" Pak ...Sasa kecelakaan ."
" Kecelakaan ?"
" Iya Pak ,tadi terserempet motor sepulang sekolah ."
" Sekarang dimana ?"
" Oke kamu chat rumah sakit mana , satu lagi ...jangan sampai Luna tahu masalah ini ."
" Baik Pak ."
Ia berlari keluar .
*****
15 menit kemudian ..
Ia sampai di lobi rumah sakit , berjalan menuju IGD .
Mia dan Pak Sanusi terlihat berdiri disana .
Ia sedikit kaget saat ada Kinan juga disana , tapi berusaha mengacuhkannya .
" Mia , gimana ?" Tanyanya begitu mendekat .
" Masih ditangani dokter , Pak ." Ucapnya panik .
" Gimana bisa sampai terserempet motor , kamu nggak jaga ...!" Sentak Arya .
Mia menatap Kinan sebentar ." Maaf Pak , tadi Sasa menolak saat diajak Bu Kinan ." Arya langsung menatapnya ." Lalu tiba-tiba dia berlari ke jalanan ."
" Kamu lagi selalu bikin ulah ...!" Sentak Arya , Kinan hanya menundukkan kepalanya .
" Aku minta maaf Mas ...aku hanya kangen sama Sasa ."
" Cukup ...!" Pak Sanusi yang melihatnya emosi langsung mendekat dan memegangi tangannya , takut sampai berbuat nekat ." Kamu sudah keterlaluan , perbuatan kamu itu bisa mencelakai Sasa ."
__ADS_1
" Maaf Mas aku ..."
Pintu terbuka , seorang dokter keluar .
" Dokter gimana ?" Tanya Mia cemas .
" Untunglah tidak ada yang serius , kaki kanannya sedikit cedera saya sarankan untuk rontgen ...biar lebih jelas , tapi keseluruhan tidak ada masalah , hanya masih shock saja . "
" Bisa saya lihat kondisinya ...?" Tanya Arya .
" Sebaiknya nanti saja ,putri anda harus dipindahkan dulu ke ruang rawat ."
" Baik Dok ."
Setelah melakukan rontgen , Sasa dipindahkan ke ruang rawat . Kaki kanannya masih terbalut perban .
Menurut hasil rontgen semua baik , hanya cedera ringan .
Begitu sampai di ruang rawat , Sasa masih rewel dan menolak saat Mia mendekat .
" Mau sama Mama ..." Rengeknya .
Kinan berjalan masuk ." Sa , Mama temani ya ." Rayunya .
" Nggak mau ." Sasa menggeleng-gelengkan kepalanya .
" Sa ..." Kinan masih berusaha mendekat .
" Cukup !" Sentak Arya , Kinan langsung menghentikan langkahnya ." Jangan ganggu Sasa lagi ..!"
Dan Kinan menurut , hanya bisa menangis di sudut ruangan .
" Sama Papa ya ..." Rayu Arya lalu mendekat .
" Nggak mau ...sama Mama ." Sasa malah menangis histeris .
" Iya ...iya Sa , udah nggak boleh nangis , Papa telponin Mama ya ."
Ia keluar ruangan dan menghubungi Karina , tak ada pilihan dan Luna memang akan tahu sekarang .
Setengah jam kemudian ...
Karina dan Luna datang ke rumah sakit .
Begitu masuk ruangan , Luna langsung berlari mendekat .
Sasa yang sedari tadi menangis , langsung terdiam .
" Udah nggak boleh nangis ..." Luna mengusap air mata di pipinya .
" Mama disini aja ." Seru Sasa , disela isak tangisnya .
" Iya , kan ini Mama udah disini ,nggak boleh nangis ya ." Kemudian Luna melihat kakinya yang masih diperban .
" Masih sakit kakinya ...?"
Sasa mengangguk .
Tak lama suster mengantarkan makanan dan Sasa langsung mau saat Luna menyuapinya .
Sementara Karina yang baru mendengar cerita dari Arya soal kecelakaan Sasa tadi , menatap tajam ke Kinan dan langsung menghampirinya .
" Sebaiknya kamu pulang sekarang ." Ucapnya pelan .
Kinan menatapnya ." Tapi Ma ...aku mau jaga Sasa ." Ratapnya .
__ADS_1
" Nggak perlu , sudah ada Luna dan sepertinya Sasa juga nggak mau kamu menemaninya ." Ucapnya serius .
Kinan diam , tapi kemudian ia mengalah dan pergi dari sana , tanpa berpamitan ke Sasa juga karena putrinya itu pun tidak memperhatikannya begitu ada Luna .