
Di sebuah coffee shop , jam sudah menunjukkan pukul 21.00
Setelah meeting tadi , ia memutuskan untuk disini dulu , sendirian .
Seorang waiters menyajikan lagi secangkir kopi , cangkir yang kedua ...
Beberapa hari ini setumpuk pekerjaan cukup menyita waktunya , belum selesai permasalahannya tentang Kinan kemarin , sekarang ia mulai berpikir soal kemunculan Dimas tadi pagi .
" Saya nggak akan berhenti sebelum anda mengembalikan Luna ."
Kata-kata itu seperti menancap di otaknya kini .
Tak masalah kalau Dimas hanya mengusiknya , tapi yang sangat ditakutkan kalau sampai Luna yang mengalaminya .
Ia tak sanggup kalau harus mengalami itu semua dan sekarang itu menjadi titik terlemah dalam hidupnya .
" Heii Bro ..."
Ia menoleh .
Rafi sudah berdiri di sebelah dan langsung menarik kursi di depannya .
" Tumben sendirian ...?" Tanyanya lagi .
" Tadi habis meeting ."
Rafi masih mengamatinya . " Lagi berantem sama Luna ?" Tebaknya .
" Nggak ." Jawabnya cepat .
Rafi terbahak ." Muka kamu itu nggak bisa bohong , meski belum menikah , aku tahu kok ciri-ciri suami yang lagi galau ." Godanya .
Arya memelototinya , lalu meminum sedikit kopi di cangkir .
" Jangan bilang ini karena ...siapa itu namanya ?" Rafi mengetuk-ngetuk kan jarinya di meja . " Kinan ."
Arya menatapnya kaget ." Kamu kenal ?"
" Nggak sih , cuma pas lagi sama Laura waktu itu ,kita pernah bertemu ...Laura sedikit cerita soal dia ."
Arya mengusap keningnya .
" Ingat jangan macem-macem sama Luna ." Ucap Rafi tiba-tiba .
" Macem-macem gimana ?"
" Jangan sampai kemunculan Kinan membuat hubungan kalian bermasalah nantinya ."
" Ya nggaklah ...aku juga nggak mau kehadiran Kinan nanti mengusiknya , apalagi dalam kondisi Luna sedang hamil sekarang ."
" Luna hamil ?" Tanya Rafi kaget .
Arya mengangguk .
" Kalau begitu kamu harus jaga baik-baik , jangan sampai dia kenapa-napa , kalau sampai ada apa-apa kamu harus berhadapan sama aku ..."
Arya tertawa mendengarnya .
" Serius ini Bro ...Luna udah kayak adik aku sendiri ."
" Iya ...iya , tanpa kamu minta juga aku jaga pastinya ."
Ponsel di meja berdering , ia melihat ke layar .
Luna .
Tapi hanya sebentar dan dimatikan .
Ada apa ...dari kemarin bahkan mereka tidak saling chat juga , apalagi telpon .
Diambilnya ponsel dan langsung menghubungi ulang .
__ADS_1
3 kali nada sambung , akhirnya terhubung .
" Papaaaa..."
Suara Sasa disana .
" Loh kenapa Sasa pakai ponselnya Mama ?"
" Mama sakit , masih tidur di kamar ."
" Mama sakit ?" Arya terkejut mendengarnya ." Sakit kenapa ?"
" Nggak tahu ...kata Oma tadi Mama sakit perut ."
" Panggilin Oma ...Papa mau bicara ."
" Iya ..."
Tak berapa lama terdengar suara Karina .
" Iya ..."
" Ma , Luna kenapa ?"
" Tadi pulang antar Sasa sekolah , perutnya kram , tapi udah Mama bawa ke dokter juga ..."
" Terus gimana ...?"
" Katanya hanya kecapekan dan sedikit stres ..."
" Ya udah , aku pulang sekarang ."
Ia menaruh ponsel di saku .
" Bro , aku duluan ya ..."
Rafi mengangguk ." Semoga Luna nggak kenapa-napa ." Ucapnya .
Tak sampai setengah jam , ia sampai di rumah . Setelah memarkir mobil di halaman .Ia berlari masuk .
Karina terlihat baru keluar dari dapur .
" Ma...Luna di kamar ?"
" Iya ...tadi belum makan juga ."
Arya menoleh .
" Baru sesuap pas makan malam , membuatnya mual jadi nggak melanjutkan makannya ."
" Ya udah , aku ke kamar dulu ."
Karina mengikuti di belakangnya .
Begitu masuk kamar , terlihat Luna duduk di sofa sedang berbicara dengan Sasa .
" Papaaaa ..."
Melihatnya datang , Sasa turun dari sofa dan menghampirinya .
" Kenapa belum tidur ?"
Sasa menggeleng .
" Sa ..." Panggil Karina yang berdiri di belakangnya ." Bobo sama Oma yuk ." Ajaknya .
Sasa beralih menghampiri Karina yang langsung menuntunnya keluar .
Luna hendak berdiri , ketika terasa nyeri di perut , ia mengurungkannya sambil meringis kesakitan .
Arya mendekat dan duduk disampingnya , lalu mengusap perutnya .
__ADS_1
Luna hanya menatap , tanpa berbicara .
" Masih marah ?" Tanya Arya pelan .
Luna diam sebentar , lalu menggeleng .
" Aku minta maaf ..." Ucap Arya lagi sambil mengusap keningnya .
Luna cuma tersenyum kecil .
" Tiduran di kasur aja ..."
Luna berniat berdiri , dengan cepat Arya membopongnya .
" Mas , aku bisa jalan sendiri ."
Arya mendudukkannya di kasur , lalu menarik selimut .
" Aku mandi dulu ."
Luna mengangguk .
Sepuluh menit kemudian , Arya sudah duduk di sampingnya .
" Makan ya ...atau pingin apa biar aku beliin .."
Luna menggeleng .
" Aku akan pastikan ,Kinan nggak akan pernah lagi ke rumah ini ." Ucap Arya tiba-tiba .
Luna menatapnya ." Tapi Sasa..."
" Tidak akan berpengaruh dalam hidup Sasa ...ada atau tidak ada Kinan disini ."
Luna menyilangkan tangan di perut dengan sedikit menekannya .
" Sakit ..." Tangan Arya menyeruak masuk dan mengusap perutnya .
Luna hanya diam menatapnya .
Sementara tangan kanannya melingkar di bahu Luna dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan .
Sedikit lega , Luna bisa memaafkan , meski belum sepenuhnya .
Sekarang ...ia hanya berharap Dimas tak lagi mengusik hidupnya , terutama Luna .
*****
Di tempat lain ...
Dimas mengeluarkan kertas itu dari tasnya .
Sebuah kontrak pernikahan .
Sama sekali tak disangka , Luna bisa melakukan perjanjian seperti ini .
Yang cukup membuatnya tercengang , jangka waktu yang tertulis hanya 1 tahun .
Hanya tinggal menghitung hari ...
Ia tersenyum lebar .
Saat itu nanti akan menjadi saat kehancuran bagi seorang Arya ...seandainya ia tetap pada keputusannya untuk mempertahankan Luna .
Meski hal itu sangat diragukannya .
Tak mungkin seorang Arya Perwira rela mempertaruhkan reputasi dan kedudukannya , hanya demi Luna .
Karena kalau mau , ia bisa mendapatkan perempuan manapun yang diinginkan , mengingat siapa dirinya sekarang .
Ia mengambil ponsel dan memotret surat kontrak itu , sebelum menyimpannya di lemari kecil samping tempat tidur .
__ADS_1
Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya .