
Selesai mengeringkan rambut , Luna naik ke tempat tidur .
Hatchiiiii.......!!!!
Mengambil tissue di nakas dan mengusap ke hidungnya yang mulai gatal dan memerah sekarang .
Mendengar ada yang datang mendekat ke kamarnya , dibuangnya tissue ke tempat sampah , lalu duduk di kasur .
Arya datang membawa secangkir teh jahe ditangannya .
" Minum dulu ..."
Luna mengambil cangkir di tangannya dan meminumnya sedikit , lalu menaruh di atas nakas .
" Nggak usah minum obat dulu , kan sekarang kamu nggak bisa minum sembarang obat juga ."
Ucap Arya sambil mengusap rambut Luna dan melihat hidungnya yang mulai memerah .
Sudah menjadi hal yang biasa kalau setelah kehujanan akan membuatnya seperti ini .
" Aku nggak papa kok ." Ucap Luna , lalu mau beranjak dari kasur .
" Mau kemana ?" Tanya Arya .
" Ini waktunya Sasa tidur ."
" Udah ...Sasa ditemani Mama , kamu istirahat sekarang ."
Luna mengurungkan niatnya turun dari tempat tidur .
Hatchiiii.....!!!!!
Sekali lagi Luna menggosok hidungnya .
Arya mengambil minyak kayu putih di laci .
" Sini ..." Lalu meminta Luna mendekat .
Luna tetap diam di tempatnya .
" Mas , besok gimana ?"
Arya menatapnya ." Iya , aku akan bicara sama Dimas besok ."
Luna menarik nafas panjang .
" Ingat ,jangan pernah mengulangi lagi seperti tadi , kamu tahu kan Dimas itu nekat ...bisa berbuat apa aja , kamu ingat yang waktu itu di hotel ..." Pesan Arya .
Luna mengangguk .
" Kenapa kamu nggak coba bertindak tegas ke Dimas seperti dulu ..."
" Ya , dengan memasukkannya ke penjara seperti dulu ,tapi itu malah membuat dendamnya semakin bertambah dan pasti kamu yang akan menjadi incarannya ...bukan aku ."
Luna balas menatapnya , merasa bersalah dengan semua ini .
" Aku minta maaf , Mas ..."
" Maaf kenapa ?"
" Karena aku , Dimas jadi berbuat seperti ini ke kamu ..." Ucapnya pelan .
" Kenapa harus kamu minta maaf ...?"
__ADS_1
Luna diam , sekali lagi mengusap hidungnya yang mulai berair .
" Udah sini ..." Arya menarik tangannya mendekat .
Arya mendekapnya dan badannya memang mulai hangat .
Tangan kirinya membuka tutup botol minyak kayu putih dan menuangkan ke tangan , lalu mengoleskan ke leher dan kening Luna .
" Tapi gimana kalau Dimas benar-benar membuktikan ancamannya ,menyebarkan surat kontrak itu ." Ucap Luna sambil mendongakkan kepalanya dan menatap Arya yang tengah memeluknya erat .
" Nggak usah dipikirin ,biarin aja ...aku nggak masalah asal dia nggak sampai menyentuh kamu ."
" Tapi kalau ..."
" Udah ." Potong Arya ." Nggak usah berpikir macam-macam , ingat kata dokter kamu nggak boleh terlalu stres ."
Luna diam ,tapi tetap saja tak bisa menghilangkan semua ini dari pikirannya , ia tahu Arya sendiri juga cemas , tapi berusaha bersikap tenang di depannya .
Arya mematikan lampu tidur .
" Semua akan baik-baik aja ." Bisiknya .
Luna menatapnya , sambil melingkarkan tangan di perut Arya .
Ia memejamkan mata saat jari-jari tangan Arya mengusap keningnya .
Semoga ada keajaiban dan Dimas mengurungkan niatnya untuk melakukan semua ini .
Ia tak akan sanggup melihat Arya terpuruk .
*****
Keesokan harinya ...
Siang harinya , Arya sudah bersiap , ia akan menemui Dimas sekarang .
Mereka sudah menentukan tempat dan waktunya tadi pagi via telpon .
" Mas aku ikut ya ..."
Luna berdiri di belakangnya .
Arya berbalik ." Nggak usah ...udah kamu bisa ajak Sasa jalan-jalan aja , ke Mall atau kemana gitu ..."
Luna menggeleng .
" Mamaaaa ...." Sasa muncul di belakang mereka .
" Kenapa , Sa ?" Tanya Luna .
" Mau beli pizza .."
" Ya udah keluarnya sama Mama dan Suster Mia ya , Papa masih ada kerjaan ." Seru Arya .
Sasa mengangguk .
" Ganti baju sana sama suster Mia ."
Sasa berlari keluar kamar .
Luna masih mematung .
Arya mendekat .
__ADS_1
" Hei , kenapa sedih gitu , nggak akan terjadi apa-apa ,nggak usah dipikirin ." Arya mengusap pipinya .
Luna sedikit tersenyum , meski hatinya masih gamang .
" Sekarang ganti baju , nanti kalau lama Sasa bisa ngomel ." Goda Arya .
Luna mengangguk .
" Tunggu ." Panggil Arya sebelum ia beranjak .
" Kenapa ?"
Arya mendekat dan mencium bibirnya .
" Udah sana ."
Setelah itu mereka keluar bersama ke ruang tengah . Sasa ternyata memang sudah rapi dari tadi .
Ardi dan Karina juga menemani .
" Sasa mau kemana ?" Tanya Karina .
" Beli pizza , Oma ."
" Papa sama Mama ikut aja , Sasa cuma sama Luna dan Mia ."
Karina menggeleng ." Temannya Papa mau kesini ."
" Oh ya udah ."
" Mama ayoo ..." Sasa berdiri .
" Iya salim dulu sama Opa , Oma dan Papa ."
Mereka bertiga keluar , Pak Sanusi sudah menunggu di halaman .
" Kamu mau menemui Dimas ?" Tanya Ardi kemudian .
Arya mengangguk .
" Apa tetap tidak ada solusi lain ?" Tanyanya lagi .
" Sepertinya begitu ."
" Apa perlu Papa temani ?"
" Nggak usah Pa , aku bisa sendiri ."
" Kamu hati-hati ya sama Dimas ." Sambung Karina .
" Iya Ma .
" Arya ingat , apa yang kamu putuskan sekarang , akan ada dampak buruknya , kamu yakin siap ?"
Arya tersenyum ." Iya Pa ,aku sudah memikirkan semua yang akan terjadi setelah ini , aku berangkat ya ."
Setelah mencium tangan Papa dan Mamanya , ia keluar .
" Ternyata Arya benar-benar mencintai Luna , sampai rela mengorbankan semua ." Ucap Ardi setelah hanya tinggal berdua dengan istrinya .
" Karena Luna sangat menyayangi Sasa ,itu yang membuat Arya bisa membuka hatinya kembali , setelah sekian lama ."
Ardi mengangguk ." Semua akan baik-baik saja apapun yang terjadi , selama mereka selalu bersama ."
__ADS_1
Karina tersenyum menatapnya .