
" Lun , makan dulu ...kamu dari kemarin nggak mau makan juga ."
Widya membawa sepiring bubur ayam ke kamar , tapi Luna masih meringkuk di kasurnya .
Kemarin ia sempat demam tinggi , tapi setelah minum obat ..kondisinya sudah mulai mendingan .
Hanya kepalanya masih sedikit pusing .
Ini akibat ia terlalu memikirkan pertemuannya dengan Dimas di cafe waktu itu .
Keesokan harinya setelah malam itu , Dimas mendatangi rumah nya .
" Aku tahu kamu bohong , katanya sudah menikah...tapi ternyata masih tinggal disini ." Dimas mencibirnya .
Luna dan Mamanya cuma saling berpandangan .
" Luna ...ayolah , aku tahu kamu masih cinta sama aku .."
" Sebaiknya kamu pergi dari sini !!" Sentak Widya .
Dimas hanya tertawa mendengarnya .
Luna menarik nafas panjang , mengingat itu semua membuat rasa sakitnya kembali muncul .
Kenapa Dimas harus datang lagi di hidupnya , setelah dulu ia begitu menyakitinya .
Dan hari itu , kehadiran Dimas sudah sangat mengganggunya . Sampai Mama harus memanggil beberapa tetangga untuk mengusirnya , baru ia mau pergi .
Tapi ternyata tak cukup lama , beberapa jam setelah ke rumahnya , Dimas mulai meneror dengan menelpon nya berkali-kali ,meski tak pernah digubrisnya ..bahkan ia sudah memblokir nomornya .
Bukan Dimas namanya kalau tidak memaksakan keinginannya ke orang lain . Ia memakai nomor lain dan terus mengganggunya .
Luna memilih mematikan ponselnya dari kemarin . Rasanya ini cukup untuk membuat Dimas tak mengganggunya lagi .
" Lun , ponsel kamu masih mati ?"
Luna mengangguk .
" Gimana kalau Arya atau Mamanya nelpon ?"
Luna diam sebentar .
Iya , kenapa ia tidak memikirkan itu ...tapi kayaknya nggak papa . Biasanya Arya hanya menelpon untuk keperluan Sasa , ada kegiatan di sekolah atau saat Sasa minta ditemani bermain .
Rasanya minggu ini di sekolah tak ada kegiatan yang bisa melibatkannya .
Mungkin untuk sekarang lebih baik begini , semoga Dimas tak mengusiknya lagi .
" Nggak papa Ma ." Jawabnya lemah .
" Ya sudah kamu makan dulu sekarang ."
" Nanti ajalah ."
Di rumah Arya ...
Ia sudah menikmati roti di meja makan , ketika Mamanya datang .
" Sasa mana ?"
" Masih dikamar ."
Karina menarik satu kursi dan duduk di sampingnya .
" Kok ponselnya Luna nggak aktif ya ?" Tanyanya , sambil mengambil ponsel dari tas .
" Iya dari kemarin ." Jawab Arya , lalu meminum jus mangga yang baru dihidangkan Minah .
Karina menatapnya heran . " Apa kalian bertengkar ?"
Arya menggeleng .
__ADS_1
Memang setelah pertemuan nya dengan Dimas waktu itu , ia sama sekali belum bicara dengan Luna , meskipun hanya untuk membahas soal Sasa .
" Memang ada masalah apa ya ...kenapa kamu nggak cari tahu soal ini ?"
Arya diam sebentar . Apa ini semua ada hubungannya dengan Dimas ?
" Mungkin ini karena Dimas ." Ucapnya lagi , yang cukup membuat Karina terkejut .
" Dimas ..mantan pacarnya itu ?" Tanyanya ulang .
" Iya ."
" Memangnya ada apa sama mereka ?"
" Beberapa hari lalu , waktu di cafe ... kita bertemu Dimas disana ."
" Oh ya ?"
" Kita sempat berantem juga ."
Karina melotot ." Kamu berantem sama Dimas ?"
Arya mengangguk ." Mama tahu siapa dia ?"
" Maksud kamu ?"
Arya menengok sebentar , melihat apa ada Sasa disana , ternyata sepi .
Minah dan Suster Mia pun tak terlihat .
" Dimas itu selingkuhannya Kinan ." Ucapnya pelan .
Karina terperanjat .
" Apa mungkin yang diceritakan Luna yang di hotel waktu itu ..."
" Mungkin ." Potong Arya ." Itu sebabnya kemarin aku mau menanyakan ke Luna , tapi gagal setelah Dimas muncul ."
" Sebaiknya kamu cek keadaan Luna , Mama jadi sedikit khawatir ."
Ucapnya gamang .
Arya menatapnya .
" Sasa biar Mama yang antar ." Imbuhnya .
" Iya ."
Satu jam kemudian...
Mobilnya memasuki teras rumah Luna .
Ada Mamanya didepan sedang membersihkan warung .
" Arya ." Sapa Widya , sambil mengelap tangannya kemudian menghampiri ke depan .
Arya mendekat dan mencium tangannya .
" Tante ..Luna nya kemana ?"
" Ada di dalam ."
" Ponselnya kenapa nggak aktif ya ?"
Widya diam sebentar .
" Iya ...sebaiknya kamu tanyakan sendiri saja , tapi kemarin memang dia lagi nggak enak badan ."
" Sakit ?"
" Iya , demamnya tinggi kemarin ,apalagi kalau sakit susah disuruh makannya ."
__ADS_1
" Tante , saya mau ketemu boleh ?"
" Iya , kamu masuk aja nggak papa , dia ada dikamar . "
" Tapi Tante ...saya masuk nggak papa ..?" Tanyanya lagi .
Widya mengangguk ." Iya nggak papa , Tante disini juga ."
" Saya permisi masuk ya ."
Widya mengangguk .
Arya langsung menuju kamar Luna . Diketuknya pintu pelan .
" Iya Ma , masuk aja ." Suara Luna dari dalam .
Arya membuka pintu .
Luna menoleh dan kaget melihat siapa yang muncul .
Ia langsung duduk dan itu membuat kepalanya berdenyut .
Ia meringis .
" Kenapa ?" Tanya Arya cemas , lalu berjalan mendekat .
Luna menggeleng .
Arya duduk di pinggiran kasur .
" Kok bisa disini ?" Tanya Luna heran .
" Iya , Mama yang suruh ...ponsel kamu nggak aktif dari kemarin ."
" Oh iya ...memang aku matiin ."
Arya menatapnya . " Karena Dimas ?" Tanyanya .
" Iya , kemarin lusa dia kerumah ..."
" Terus ...?"
" Besoknya dia nelpon-nelpon terus .. makanya aku matiin ."
" Kenapa bisa punya nomor kamu ?"
" Nggak tahu ."
" Ya sudah ganti nomor baru aja ."
" Iya ." Jawabnya pendek .
Arya masih menatapnya dan itu membuatnya tak nyaman , mereka duduk berdekatan juga .
Ia tersentak ketika tiba-tiba Arya memegang keningnya .
" Nggak ke dokter ?" Tanyanya .
Ia menggeleng ." Cuma demam biasa kok ."
Arya melihat ke meja di depannya dan ada sepiring bubur ayam yang nampak masih utuh disana .
" Kenapa nggak dimakan itu ?" Tanyanya lagi .
" Nanti aja belum lapar ."
Arya mengambil piring bubur itu dan menyendoknya , lalu berniat menyuapi , tapi Luna menggeleng pelan .
" Nggak usah nanti aja , aku bisa makan sendiri ."
Tanpa menjawab . Arya mendekatkan sendok ke mulutnya .
__ADS_1
Mau tak mau ia membuka mulut juga .