KAWIN KONTRAK

KAWIN KONTRAK
BAB 106


__ADS_3

" Oma ,Mama kemana ?" Setelah menerima telpon dari Arya , Sasa menghampirinya .


" Mama masih mau ada acara sama Papa , Sasa sama Oma aja disini ."


Sasa manyun .


" Oh iya Sa , nanti Oma Widya juga kesini loh ..."


Sasa nampak antusias kali ini .


" Pak Sanusi udah berangkat kok Ma ..." Ardi yang muncul dari belakang menyahuti .


" Tuh ...udah dijemput Oma Widya nya ."


" Asiiiikkk...."


" Sasa ganti baju dulu yuk ..." Ajak Mia yang langsung diberi anggukan oleh Sasa .


" Pa , Mama ngecek Luna dulu ...tapi yang antar nanti siapa kalau Pak Sanusi udah berangkat jemput Bu Widya ."


" Biar Papa yang antar , lagian kondisi Luna belum sehat benar , jadi biar Papa yang antar sampai ke dalam restoran ."


" Semoga kejutan Arya berhasil ya , Pa ."


Ardi tersenyum menanggapinya .


Setelah itu ,Karina bergegas ke kamar Luna .


Mengetuk pintu tapi tak ada sahutan , ia memutuskan langsung membukanya karena memang tak dikunci .


Matanya terbelalak menyaksikan Luna sudah terjatuh di samping sofa .


Ia berlari masuk .


" Luna ..." Ditepuk-tepuk pipinya tapi tak ada reaksi .


" Papaaaaaa ....!" Jeritnya .


Tak lama Ardi tergopoh menghampiri , tanpa bertanya dia tahu apa yang terjadi dan langsung mendekat .


Dengan cepat Ardi membopongnya dan membaringkan ke tempat tidur .


" Papa telpon dokter .."


Karina duduk di pinggiran kasur , mengambil minyak kayu putih , menciumkannya di hidung Luna , namun belum bereaksi .


" Mama telpon Arya ." Perintah Ardi .


Karina mengangguk , lalu mengambil ponsel di sakunya .


*****


Di restoran ...


Arya berkali-kali menatap jam di tangannya , rasanya waktu begitu lama .


Ia meminum orange juice yang baru saja di pesannya . Sambil menatap layar ponsel , tak ada telpon masuk .


Malam ini ,ia ingin memastikan perasaannya dulu ke Luna , sebelum nantinya mereka mengakui semua di depan orang tuanya .


Saat itu terjadi nanti , mungkin ada kekecewaan dalam diri mereka , memang ini kesalahannya , yang terkesan memainkan sebuah pernikahan . Itu sebabnya ia mau memperbaiki semua . Dengan berkata jujur dan memulai semua dari awal , mereka akan menjalani pernikahan yang sebenarnya .


Ia sedikit terkejut saat ponsel yang dipegangnya bergetar .


Mama .


" Luna udah berangkat , Ma ." Tanyanya langsung begitu sambungan terhubung .


" Arya cepat pulang , Luna pingsan ."


Arya seketika berdiri ." Pingsan ..."


Ia memasukkan ponsel di saku jas lalu berlari keluar .

__ADS_1


*****


" Gimana Dok ?" Tanya Karina setelah selesai dokter memeriksanya dan Luna sudah sadar sekarang .


" Tensinya sedikit tinggi Bu , itu yang menyebabkan pingsan , kalau untuk kandungannya sendiri sebaiknya besok diperiksa lebih lanjut , untuk memastikan saja ."


" Baik Dok , terima kasih ."


Karina mengantarkan dokter keluar , bersamaan dengan mobil Arya yang memasuki halaman rumah .


" Gimana Ma ?" Begitu keluar mobil , Arya langsung menghampiri Karina .


" Itu tadi sudah diperiksa dokter dan tensinya sedikit tinggi ."


" Ya sudah aku lihat dulu ." Arya berlari masuk kamar .


Sasa nampak menemani disana .


" Mama kenapa ?" Sasa duduk disebelahnya , sambil menangis .


" Nggak papa Sa ..." Luna menghapus air mata di pipinya .


Arya duduk di sebelah Sasa .


" Ada apa ?" Tanya Arya pelan , sambil mengusap keningnya .


" Sasa sama Oma dulu ya ...Mama mau bicara dulu sama Papa sebentar ." Ucap Luna .


Sasa mengangguk , lalu berdiri dan berjalan keluar .


" Mas , ambilin ponsel aku ." Luna menunjuk ponselnya di atas sofa .


Arya mengambil lalu memberikan padanya .


Segera Luna membuka gambar yang dikirim Dimas padanya tadi dan menunjukkan ke Arya .


Matanya melotot melihatnya .


" Mas , kenapa kontrak itu bisa ada sama Dimas ?"


Menuju ruang kerjanya .


Sesampainya disana ia menutup pintu ,jangan sampai Papa dan Mamanya melihat ini , lalu bergegas ke laci meja , mengeluarkan semua isinya .


Laci pertama tak menemukannya , begitu juga di laci kedua .


Dan terakhir di laci ketiga , hanya berisi berkas-berkas lamanya .


Seingatnya ia tak pernah memindahkan surat kontrak itu kemanapun .


Ia mengingat lagi ...Dimas .


Mereka pernah bertemu di depan lobi kantor waktu itu dan hanya sekali mereka bertemu .


Ia coba ingat-ingat lagi , sebelum ke kantor waktu itu , ia juga mengambil berkas di laci ini dan menaruh nya di map .


Arya mengusap keningnya , iya saat itu ...Dimas berhasil mengambil surat kontrak yang tanpa sengaja terbawa olehnya sendiri .


Diambilnya ponsel dan menghubungi seseorang .


Nada sambung berkali-kali , akhirnya diangkat juga .


" Irfan ,kamu masih di kantor ?" Tanyanya panik .


" Iya Pak ."


" Syukurlah ...kamu bisa bantu saya ."


Arya menyuruhnya untuk cek cctv di depan lobi , ia menyebutkan hari dan perkiraan jamnya .


" Tolong secepatnya kirim ke saya ."


" Baik Pak ...ditunggu ."

__ADS_1


Sambungan terputus .


Arya berdiri sambil mengetuk-ngetukkan tangannya di meja .


~ SAAT SEMUA ORANG TAHU TENTANG INI , MAKA KARIER ARYA PUN HANCUR ~


Kata-kata itu diingatnya dengan jelas , apa yang akan dilakukan Dimas dengan surat kontrak itu .


Kalau benar Dimas akan membocorkan semua ke publik . Akan menjadi bom waktu buatnya , benar saja ..karier dan reputasinya yang selalu positif di hadapan publik akan lenyap seketika . Image buruk akan didapatnya .


Ia mengusap wajahnya . Menyesali diri sendiri , kenapa bisa berbuat seceroboh ini .


Ponsel berbunyi , dengan cepat dibukanya .


Sebuah rekaman dikirimkan Irfan .


Ia melihatnya dari awal Dimas menyapanya , kemudian mereka bicara , sampai saat ia mengambil map di mobil , kemudian ia berjalan masuk .


Ia menatap lekat saat tanpa menyadari ia melihat beberapa kertas di dalam map berhamburan jatuh .


Setelah ia berjalan menjauh , nampak Dimas memunguti kertas-kertas itu dan wajahnya terlihat menunjukkan keterkejutan , lalu memasukkannya ke dalam tas .


Arya nampak lemas dan terduduk di kursi . Benar dugaannya ...dan sekarang hidupnya berada di tangan Dimas .


Ia mengambil ponsel Luna yang dibawanya tadi .


Mencoba menghubungi nomor Dimas yang tadi .


Hanya nada sambung berkali-kali , dicobanya sekali lagi , tetap sama .


Huft...Dimas sengaja rupanya .


Ia menarik nafas panjang ...mencoba menenangkan diri sendiri , berharap semua akan baik-baik saja . Seperti itulah yang sekarang harus ditunjukkannya .


Luna tak boleh merasa cemas karena masalah ini .


Ia mematikan ponsel Luna dan menyimpannya di bufet yang ada di belakangnya . Sebaiknya mungkin Luna tak memegang ponsel sampai masalah dengan Dimas selesai .


Dimas pasti akan menghubunginya kalau tak bisa menghubungi Luna .


Ia berjalan keluar dan berusaha bersikap biasa . Setidaknya tidak akan membuat Luna semakin cemas .


Sesampainya di kamar , dilihatnya Luna berusaha bangun .


Arya bergegas menghampiri .


" Pelan-pelan , masih pusing kan ." Ucapnya , membantunya duduk .


" Mas gimana ?" Tanya nya sedikit meringis kesakitan , kepalanya masih berdenyut saat dibuat duduk .


Arya memijat keningnya . " Udah nggak usah dipikirin , biar aku selesaikan nanti ." Ucapnya menenangkan .


" Tapi bagaimana bisa surat kontrak itu bisa ditangan Dimas ?" Tanyanya lagi .


Arya menundukkan kepalanya sebentar .


" Iya ...ini kesalahan aku ."


Luna menatapnya .


" Sewaktu mengambil berkas , surat itu ikut terbawa dan waktu itu Dimas menemui ke kantor ...kita sempat bicara , lalu karena buru-buru beberapa berkas jatuh ...termasuk surat kontrak itu dan Dimas mengambilnya ."


Luna menarik nafas panjang . "Terus gimana , Dimas pasti akan menyebarkan surat kontrak itu .." Ucapnya cemas .


" Semua akan baik-baik saja , kamu nggak perlu mikirin ini ."


" Tapi Mas ..."


" Aku sudah bicara dengan Dimas ,kita akan menyelesaikan masalah ini ." Ucapnya berbohong .


" Beneran ?"


Arya mengangguk ,lalu tersenyum .

__ADS_1


Menarik Luna ke dalam pelukannya .


__ADS_2