
" Oma ,Mama kemana ?" Setelah menerima telpon dari Arya , Sasa menghampirinya .
" Mama masih mau ada acara sama Papa , Sasa sama Oma aja disini ."
Sasa manyun .
" Oh iya Sa , nanti Oma Widya juga kesini loh ..."
Sasa nampak antusias kali ini .
" Pak Sanusi udah berangkat kok Ma ..." Ardi yang muncul dari belakang menyahuti .
" Tuh ...udah dijemput Oma Widya nya ."
" Asiiiikkk...."
" Sasa ganti baju dulu yuk ..." Ajak Mia yang langsung diberi anggukan oleh Sasa .
" Pa , Mama ngecek Luna dulu ...tapi yang antar nanti siapa kalau Pak Sanusi udah berangkat jemput Bu Widya ."
" Biar Papa yang antar , lagian kondisi Luna belum sehat benar , jadi biar Papa yang antar sampai ke dalam restoran ."
" Semoga kejutan Arya berhasil ya , Pa ."
Ardi tersenyum menanggapinya .
Setelah itu ,Karina bergegas ke kamar Luna .
Mengetuk pintu tapi tak ada sahutan , ia memutuskan langsung membukanya karena memang tak dikunci .
Matanya terbelalak menyaksikan Luna sudah terjatuh di samping sofa .
Ia berlari masuk .
" Luna ..." Ditepuk-tepuk pipinya tapi tak ada reaksi .
" Papaaaaaa ....!" Jeritnya .
Tak lama Ardi tergopoh menghampiri , tanpa bertanya dia tahu apa yang terjadi dan langsung mendekat .
Dengan cepat Ardi membopongnya dan membaringkan ke tempat tidur .
" Papa telpon dokter .."
Karina duduk di pinggiran kasur , mengambil minyak kayu putih , menciumkannya di hidung Luna , namun belum bereaksi .
" Mama telpon Arya ." Perintah Ardi .
Karina mengangguk , lalu mengambil ponsel di sakunya .
*****
Di restoran ...
Arya berkali-kali menatap jam di tangannya , rasanya waktu begitu lama .
Ia meminum orange juice yang baru saja di pesannya . Sambil menatap layar ponsel , tak ada telpon masuk .
Malam ini ,ia ingin memastikan perasaannya dulu ke Luna , sebelum nantinya mereka mengakui semua di depan orang tuanya .
Saat itu terjadi nanti , mungkin ada kekecewaan dalam diri mereka , memang ini kesalahannya , yang terkesan memainkan sebuah pernikahan . Itu sebabnya ia mau memperbaiki semua . Dengan berkata jujur dan memulai semua dari awal , mereka akan menjalani pernikahan yang sebenarnya .
Ia sedikit terkejut saat ponsel yang dipegangnya bergetar .
Mama .
" Luna udah berangkat , Ma ." Tanyanya langsung begitu sambungan terhubung .
" Arya cepat pulang , Luna pingsan ."
Arya seketika berdiri ." Pingsan ..."
Ia memasukkan ponsel di saku jas lalu berlari keluar .
__ADS_1
*****
" Gimana Dok ?" Tanya Karina setelah selesai dokter memeriksanya dan Luna sudah sadar sekarang .
" Tensinya sedikit tinggi Bu , itu yang menyebabkan pingsan , kalau untuk kandungannya sendiri sebaiknya besok diperiksa lebih lanjut , untuk memastikan saja ."
" Baik Dok , terima kasih ."
Karina mengantarkan dokter keluar , bersamaan dengan mobil Arya yang memasuki halaman rumah .
" Gimana Ma ?" Begitu keluar mobil , Arya langsung menghampiri Karina .
" Itu tadi sudah diperiksa dokter dan tensinya sedikit tinggi ."
" Ya sudah aku lihat dulu ." Arya berlari masuk kamar .
Sasa nampak menemani disana .
" Mama kenapa ?" Sasa duduk disebelahnya , sambil menangis .
" Nggak papa Sa ..." Luna menghapus air mata di pipinya .
Arya duduk di sebelah Sasa .
" Ada apa ?" Tanya Arya pelan , sambil mengusap keningnya .
" Sasa sama Oma dulu ya ...Mama mau bicara dulu sama Papa sebentar ." Ucap Luna .
Sasa mengangguk , lalu berdiri dan berjalan keluar .
" Mas , ambilin ponsel aku ." Luna menunjuk ponselnya di atas sofa .
Arya mengambil lalu memberikan padanya .
Segera Luna membuka gambar yang dikirim Dimas padanya tadi dan menunjukkan ke Arya .
Matanya melotot melihatnya .
" Mas , kenapa kontrak itu bisa ada sama Dimas ?"
Menuju ruang kerjanya .
Sesampainya disana ia menutup pintu ,jangan sampai Papa dan Mamanya melihat ini , lalu bergegas ke laci meja , mengeluarkan semua isinya .
Laci pertama tak menemukannya , begitu juga di laci kedua .
Dan terakhir di laci ketiga , hanya berisi berkas-berkas lamanya .
Seingatnya ia tak pernah memindahkan surat kontrak itu kemanapun .
Ia mengingat lagi ...Dimas .
Mereka pernah bertemu di depan lobi kantor waktu itu dan hanya sekali mereka bertemu .
Ia coba ingat-ingat lagi , sebelum ke kantor waktu itu , ia juga mengambil berkas di laci ini dan menaruh nya di map .
Arya mengusap keningnya , iya saat itu ...Dimas berhasil mengambil surat kontrak yang tanpa sengaja terbawa olehnya sendiri .
Diambilnya ponsel dan menghubungi seseorang .
Nada sambung berkali-kali , akhirnya diangkat juga .
" Irfan ,kamu masih di kantor ?" Tanyanya panik .
" Iya Pak ."
" Syukurlah ...kamu bisa bantu saya ."
Arya menyuruhnya untuk cek cctv di depan lobi , ia menyebutkan hari dan perkiraan jamnya .
" Tolong secepatnya kirim ke saya ."
" Baik Pak ...ditunggu ."
__ADS_1
Sambungan terputus .
Arya berdiri sambil mengetuk-ngetukkan tangannya di meja .
~ SAAT SEMUA ORANG TAHU TENTANG INI , MAKA KARIER ARYA PUN HANCUR ~
Kata-kata itu diingatnya dengan jelas , apa yang akan dilakukan Dimas dengan surat kontrak itu .
Kalau benar Dimas akan membocorkan semua ke publik . Akan menjadi bom waktu buatnya , benar saja ..karier dan reputasinya yang selalu positif di hadapan publik akan lenyap seketika . Image buruk akan didapatnya .
Ia mengusap wajahnya . Menyesali diri sendiri , kenapa bisa berbuat seceroboh ini .
Ponsel berbunyi , dengan cepat dibukanya .
Sebuah rekaman dikirimkan Irfan .
Ia melihatnya dari awal Dimas menyapanya , kemudian mereka bicara , sampai saat ia mengambil map di mobil , kemudian ia berjalan masuk .
Ia menatap lekat saat tanpa menyadari ia melihat beberapa kertas di dalam map berhamburan jatuh .
Setelah ia berjalan menjauh , nampak Dimas memunguti kertas-kertas itu dan wajahnya terlihat menunjukkan keterkejutan , lalu memasukkannya ke dalam tas .
Arya nampak lemas dan terduduk di kursi . Benar dugaannya ...dan sekarang hidupnya berada di tangan Dimas .
Ia mengambil ponsel Luna yang dibawanya tadi .
Mencoba menghubungi nomor Dimas yang tadi .
Hanya nada sambung berkali-kali , dicobanya sekali lagi , tetap sama .
Huft...Dimas sengaja rupanya .
Ia menarik nafas panjang ...mencoba menenangkan diri sendiri , berharap semua akan baik-baik saja . Seperti itulah yang sekarang harus ditunjukkannya .
Luna tak boleh merasa cemas karena masalah ini .
Ia mematikan ponsel Luna dan menyimpannya di bufet yang ada di belakangnya . Sebaiknya mungkin Luna tak memegang ponsel sampai masalah dengan Dimas selesai .
Dimas pasti akan menghubunginya kalau tak bisa menghubungi Luna .
Ia berjalan keluar dan berusaha bersikap biasa . Setidaknya tidak akan membuat Luna semakin cemas .
Sesampainya di kamar , dilihatnya Luna berusaha bangun .
Arya bergegas menghampiri .
" Pelan-pelan , masih pusing kan ." Ucapnya , membantunya duduk .
" Mas gimana ?" Tanya nya sedikit meringis kesakitan , kepalanya masih berdenyut saat dibuat duduk .
Arya memijat keningnya . " Udah nggak usah dipikirin , biar aku selesaikan nanti ." Ucapnya menenangkan .
" Tapi bagaimana bisa surat kontrak itu bisa ditangan Dimas ?" Tanyanya lagi .
Arya menundukkan kepalanya sebentar .
" Iya ...ini kesalahan aku ."
Luna menatapnya .
" Sewaktu mengambil berkas , surat itu ikut terbawa dan waktu itu Dimas menemui ke kantor ...kita sempat bicara , lalu karena buru-buru beberapa berkas jatuh ...termasuk surat kontrak itu dan Dimas mengambilnya ."
Luna menarik nafas panjang . "Terus gimana , Dimas pasti akan menyebarkan surat kontrak itu .." Ucapnya cemas .
" Semua akan baik-baik saja , kamu nggak perlu mikirin ini ."
" Tapi Mas ..."
" Aku sudah bicara dengan Dimas ,kita akan menyelesaikan masalah ini ." Ucapnya berbohong .
" Beneran ?"
Arya mengangguk ,lalu tersenyum .
__ADS_1
Menarik Luna ke dalam pelukannya .