
" Apa ?"
Sentak Arya , membuat beberapa orang didekatnya langsung mengarah padanya .
Ia berdiri dan berjalan menjauh , sembari masih berbicara di telpon .
" Kamu bilang ke mereka ,kita bertemu di restoran jam 2 ."
" Iya ..baik ."
Ia menutup ponsel dan bergegas menghampiri Karina yang tengah berbicara dengan Minah di depan .
" Ma ..."
Karina menoleh ." Kenapa ?"
" Di depan ada wartawan ."
" Kok bisa ?" Tanya Karina kaget .
" Aku juga nggak tahu ."
Karina mendesah pelan ." Terus gimana ?"
" Aku akan menemui mereka di restoran jam 2 ."
" Ya oke ...ide yang bagus ." Karina mengambil ponselnya di tas ." Mama hubungi Pak Surya dulu biar disiapkan semua ."
Arya mengangguk , lalu berjalan menjauh .
Karina segera menghubungi Pak Surya , orang kepercayaannya yang selama ini membantu mengelola restorannya .
Luna ada di depan ,berbicara dengan satu kerabat Arya yang juga baru dikenalnya . Mereka terlihat akrab karena memang nampak seumuran .
Sampai Arya mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya .
" Sebentar ya ." Pamit Luna , lalu mengikuti Arya masuk kamar .
Sementara Sasa sepertinya sedang mengobrol bersama Laura dan Mamanya .
" Kenapa ?" Tanya Luna begitu mereka cuma berdua di kamar .
" Habis ini kamu ganti baju ..."
" Memangnya mau kemana ?" Tanya Luna heran .
" Di depan banyak wartawan dan aku sudah buat janji sama mereka , kita bertemu jam 2 di restoran Mama ."
Luna menatapnya kaget ." Tapi bagaimana bisa mereka tahu ?"
" Entahlah ..."
Waktu berjalan cukup cepat . Meski beberapa kerabat masih berkumpul di rumah . Mereka tetap harus pergi juga ...
Luna membuka lemari baju di kamar Arya ,yang sekarang juga akan menjadi kamarnya .
__ADS_1
" Baju kamu sebelah kiri ." Ucap Arya , sambil menunjuk dengan tangannya .
Kamar ini memang lebih luas dibanding kamar lain di sini , dengan satu ruangan lain tanpa sekat , yang berisi lemari baju , sepatu dll .
Ada dua lemari baju besar dengan 6 pintu di pojok ruangan .
Luna membuka pintu paling ujung lemari .
Berisi baju-baju tidur sudah berderet rapi disana , ini baju yang dibelinya saat itu waktu mereka ke Mall bersama Sasa .
Pintu kedua , ia membukanya dan cukup terkejut . Begitu banyak baju tertata rapi dengan berbagai model , layaknya seperti yang dipajang di butik .
" Pakai baju biasa aja ,bukan acara resmi juga ."
Arya muncul di belakangnya .
Sudah siap rupanya ...dan memang penampilannya terlihat santai .
Hanya memakai celana panjang hitam dengan kaos polo putih .
Luna mengangguk ..dan akhirnya mengambil kemeja putih yang tergantung disana , dengan celana hitam .
15 menit kemudian ..
Luna siap dan hanya menguncir rambutnya .
Tetapi ia sudah menghapus riasan yang tadi dan hanya memakai make up senatural mungkin .
Setelah berpamitan dengan beberapa saudaranya yang masih di rumah . Mereka segera berangkat .
" Nggak usah bicara apa -apa ."
Lokasi restoran tak begitu jauh dari rumah , hanya membutuhkan waktu 15 menitan .
Begitu sampai di depan restoran , terlihat parkiran depan sudah penuh , beberapa wartawan sudah nampak menunggu .
Melihat mobil Arya masuk , mereka bermaksud menghampiri tapi dicegah 2 satpam yang berjaga disana .
Arya membelokkan mobil ke parkiran samping , yang memang bukan dikhususkan untuk pengunjung .
Begitu turun , satpam restoran menghampirinya .
" Siang Pak Arya ." Sapanya .
" Siang ."
" Siang Bu ." Sapanya pada Luna .
" Siang Pak ."
" Mari saya antar ." Ucapnya ramah , lalu mempersilahkan mereka masuk .
Arya mendekati Luna , menggandeng tangannya ...lalu mereka masuk ke dalam melewati pintu samping .
Mereka masuk lift , menuju ke lantai 2 .
__ADS_1
Disana ruangan sudah tertata serapi mungkin .
Para wartawan sudah duduk menunggu .
Begitu mereka masuk , semua mata langsung menatapnya .
Semuanya berdiri dan sudah bersiap dengan pertanyaan-pertanyaan mereka .
Arya dan Luna duduk di kursi yang sudah di sediakan . Sementara 2 satpam berdiri di samping mereka .
Jepretan lampu kamera dan berbagai pertanyaan cukup membuat suasana langsung berisik .
Satu hal yang belum pernah dialami Luna sebelumnya , hal ini membuatnya gemetaran . Keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya .
Tangannya pun sudah basah .
Disebelahnya ...Arya sudah sibuk menjawab beberapa pertanyaan mereka .
Termasuk saat di hotel waktu itu . Ia cukup terkejut , mereka bisa tahu masalah ini dan ia juga jadi tahu ...waktu itu Arya menggendongnya sendiri dari kamar hotel sampai ke mobil .
Ada yang melihatnya waktu itu dan membuatnya cukup tak nyaman .
Beberapa pertanyaan coba dialihkan padanya , tapi dengan cepat Arya mengambil alih untuk menjawabnya .
Ia tak tahu harus menjawab apa , kalau sampai pertanyaan itu benar-benar ditujukan padanya .
Sampai pada saat Arya memperkenalkan dirinya di depan wartawan .
Mereka berdiri dan tangan Arya masih tetap menggenggamnya ...
Di salah satu rumah , di kota lain .
Ia cukup terkejut dengan salah satu televisi yang sedang menyiarkan secara live acara itu .
Ia membesarkan volume nya , melihat sambil menikmati teh hangat ditangannya .
Diperhatikan dengan seksama wajah perempuan yang ada di layar televisi .
Sedari tadi hanya diam dan terus memperlihatkan senyuman ramahnya .
" Pak Arya silahkan ."
Satpam disampingnya , mempersilahkan berdiri .
Arya berdiri diikuti perempuan di sebelahnya , tangannya tak lepas dari genggamannya .
Sampai sebuah ucapan keluar dari mulutnya .
" Saya akan memperkenalkan secara resmi kepada kalian ." Kali ini ia melepaskan genggaman tangannya dan beralih melingkarkan tangan kiri di bahunya .
" Ini yang disebelah saya ...Luna Alinka ...istri saya ." Ucapnya lantang , lalu mereka mengangkat tangan ,menunjukkan cincin yang tersemat di jari keduanya .
Pyarrrrr !!!!
Cangkir yang dipegangnya terlepas dan berserakan di lantai .
__ADS_1
Air matanya meleleh .