Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Menjenguk Nenek


__ADS_3

Menurunkan kaca jendela mobilnya, Widya memberengut pada pemandangan desa di hadapannya.


Pagi ini, Widya melangkah keluar kamarnya dengan suasana hati yang bahagia. Tetapi, saat ia menyapa ayah dan ibunya di meja makan, ayahnya langsung merusak suasana hatinya. Widya diberitahu kalau hari ini ia akan pergi ke desa menjenguk neneknya yang sedang sakit.


Bukannya Widya tidak khawatir atau tidak ingin bertemu dengan neneknya, hanya saja ini semua begitu mendadak. Apalagi, ia dikirim ke desa terpencil ini seorang diri seperti sebuah barang tak berguna lagi yang ingin segera disingkirkan ayahnya secepat mungkin. Terutama mengingat perdebatannya dengan ayahnya tadi malam.


“Aku nggak mau menikah muda, Pa. Aku ingin berkarier. Semua permasalahan hidup ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pernikahan.”


“Ini bukan masalah soal hidup, Widya. Papa ingin segera menimang cucu. Kamu tahu sendiri 'kan, kamu itu satu-satunya anak papa,” jelas ayahnya frustasi.


“Aku masih 21 tahun, Pa. Ma, bantu aku dong supaya Papa mengerti." Menyentuh pergelangan tangan ibunya, Widya memberikan tatapan memelas.


“Papamu benar, Wid. Kamu nggak kasihan lihat Papamu? Setiap hari dia ditanya melulu sama bawahannya di kantor mengenai kapan kamu menikah,” bela Ibunya, yang tidak membuat Widya heran karena ibunya memang selalu berpihak pada ayahnya jika mereka berdua berdebat.


"Apa bawahan Papa nggak punya kerjaan yang lebih penting, selain mengurusi hidup orang lain?" Tersenyum sinis, Widya melanjutkan, "Pokoknya, aku sudah menyampaikan pendapatku soal ini. Aku juga berhak menentukan masa depanku, Pa, Ma.” Widya mengangkat sebelah tangannnya, menolak mendengar argumen Ayahnya lagi. "Selamat malam, aku mengantuk."


“Anak itu sungguh keras kepala. Ini salah kita membesarkan dia dengan manja, Ma.”

__ADS_1


Ayahnya terduduk di sofa, menangkupkan kedua tangan di wajahnya merasa frustasi. Mencoba menenangkan, ibunya menepuk pelan punggung ayahnya. Widya yang melihat dari atas tangga tersenyum senang karena sudah memenangkan perdebatan itu.


Dan, sekarang lihatlah? Widya salah besar!


Ia terlalu meremehkan ayahnya. Sekarang Widya sudah berhasil disingkirkan kedua orang tuanya dengan alasan yang tidak bisa ia tolak. Mungkin saja di desa itu mereka sudah menyediakan calon suami untuknya. Jika dugaannya benar, maka mereka akan mendapatkan Widya meninggalkan tempat ini secepat yang ia bisa.


***


Meski neneknya sedang sakit, ia sudah menunggu Widya di depan pintu rumahnya setelah mendengar kabar kedatangan Widya dari kedua orang tuanya.


“Akhirnya, nenek bisa melihat cucuku tersayang lagi,” peluk neneknya hangat pada Widya yang baru saja turun dari mobil.


“Memangnya kalau sakit harus selalu berbaring di tempat tidur? Nenek tidak tahu pikiranmu sesempit ini, Widya.”


“Oh, Nenek.” Memeluk neneknya erat, tawa riang meluncur keluar dari mulut Widya. “Aku hanya bercanda.”


“Anak nakal,” pukul neneknya penuh kasih sayang.

__ADS_1


Memasuki rumah neneknya yang sangat sederhana tanpa ada perabotan mewah seperti di rumah Widya yang ada di kota, mereka berdua mengobrol panjang lebar untuk melepas rindu karena sudah lama tak bertemu.


Terakhir kali Widya datang ke desa ini saat ia masih kecil. Entah mengapa, Widya merasa ia tak cocok berada di tempat terpencil seperti ini. Suasana kota lebih membuatnya nyaman. Oleh sebab itulah, ketika ia bertemu dengan neneknya lagi, neneknya yang selalu datang mengunjunginya di kota.


"Sepertinya nenek sudah lelah. Tidurlah, aku bisa mengurus diriku sendiri, Nek."


"Kamu juga baru datang dari perjalananmu, lebih baik kamu juga istirahat di kamarmu."


"Aku masih belum mengantuk, Nek. Istirahatlah!" Widya mendorong paksa neneknya memasuki kamarnya.


"Kalau begitu, nenek tidur dulu. Kalau kamu bosan, jalan-jalan saja keluar rumah."


"Aku disini saja, Nek. Di luar terlalu panas."


"Baiklah. Terserah kamu saja."


Membaringkan badannya di sofa ruang tamu, Widya mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya. Widya terlalu malas untuk membongkar dan menyusun pakaiannya ke dalam lemari pakaian. Untuk saat ini, ia hanya ingin berbaring sambil mendengarkan musik dari ponselnya.

__ADS_1


Mungkin karena berbaring tiba-tiba, Widya merasa mengantuk. Memejamkan matanya sejenak, Widya langsung tertidur.


__ADS_2