
Belum sampai selesai Radit bercerita, Widya sudah beranjak dari tempat duduknya dengan raut wajah terlihat sangat murka. Menyambar pergelangan tangannya, Radit menghempaskan Widya kembali ke tempat duduknya semula.
"Lepaskan aku!" berontaknya, meronta-ronta melepaskan diri.
"Kamu belum mendengarkanku hingga selesai!" Radit mencengkram bahu Widya lalu memutar tubuhnya menghadapnya.
"Nggak ada lagi yang harus kudengarkan!"
"Jangan keras kepala, Widya! Bukankah kamu tadi sudah berjanji padaku akan mendengarkanku dengan tenang."
Mendelik marah, Widya mendengus. "Aku nggak pernah berjanji apa pun padamu. Kamu saja yang menyalahartikan perkataanku seperti itu."
Mengguncang tubuh Widya demi menyadarkannya, Radit menatap lekat mata istrinya. "Kali ini dengarkan aku baik-baik, Widya, semua sudah berlalu. Jadi, berhentilah membiarkan emosi mengambil alih dirimu. Melampiaskan amarahmu kepada mereka hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk."
Widya melemparkan tatapan tajam padanya. "Mengatakannya dengan mulutmu memang gampang, tapi aku yang merasakan semua kebencian dari para warga di sini, nggak bisa bersikap berkepala dingin sepertimu."
Memahami perasaan terluka yang dirasakan Widya itu, Radit perlahan menurunkan tangannya kembali dari bahu Widya. Ia bingung harus menanggapi bagaimana saat melihat pancaran terluka di mata istrinya.
"Sekarang aku mulai memahami perilaku aneh beberapa orang yang kutemui siang tadi," lanjut Widya, mengepalkan kedua tangannya di pangkuan. "Aku pikir... Aku pikir itu cara baru mereka menunjukkan ketidaksukaan terhadapku, nyatanya...." Widya mendengus, bibir atasnya melengkung membentuk cibiran. "Siapa sangka mereka berperilaku seperti itu karena merasa bersalah padaku? Kalau mereka memang merasa sangat bersalah padaku, seharusnys mereka langsung meminta maaf saja padaku alih-alih mengabaikanku."
Radit menyentuh lembut punggung tangan Widya, berusaha menenangkannya. "Aku paham perasaanmu."
"Kamu nggak memahaminya sama sekali" seru Widya, menepis kasar sentuhannya. "Andai saja kamu memiliki sedikit saja pemahaman mengenai rasa sakitku, kamu nggak mungkin memintaku melupakan begitu saja semua persoalan brengsek ini!"
"Widya," panggilnya, mengejar Widya yang berlari mengurung diri di dalam kamarnya. "Widya, Widya, buka pintunya! Kita harus membicarakan ini hingga selesai."
Tidak ada jawaban. Selama beberapa saat Radit berdiri mematung memandang pintu kamar yang tertutup. Menghela napas lelah, ia duduk bersandar di pintu kamar yang tertutup itu.
"Maafkan aku. Aku nggak tahu kalau permintaanku akan semakin melukaimu," ujarnya, menoleh pada pintu kamar yang tertutup. "Tapi... andai saja kamu tahu, saat mengetahui hal ini, aku pun sama sepertimu, sangat marah hingga rasanya ingin berteriak murka di hadapan semua orang. Tapi, seperti yang kamu tahu sendiri, aku nggak mungkin melakukan hal itu."
Hanya keheningan yang terdengar dari balik pintu kamar. Tetap tidak ada respons apa pun. Sepertinya saat ini Widya sedang menutup kedua telinganya dengan penyumpal atau sedang menutupi kepalanya dengan bantal.
Entah apa yang dilakukan istrinya sekarang di dalam kamar, Radit tetap melanjutkan perkataannya. Walaupun ia tahu, semua yang dikatakannya tidak akan didengarkan oleh Widya sepatah kata pun.
"Aku nggak bisa melakukannya bukan karena aku peduli hal ini akan terdengar oleh ayahku ataupun hal ini akan mempengaruhi pandangan semua orang terhadapku. Mungkin ini akan terdengar seperti bualan bagimu, tapi aku melakukan ini demi dirimu." Radit mendesah. "Aku nggak ingin memperkeruh masalah semakin besar, Widya. Aku cuma ingin rumah tangga kita berjalan dengan tenang. Meski ini hanyalah harapan muluk, aku ingin melihatmu menjalani hari-harimu dengan bahagia di sini."
Beranjak berdiri, Radit tidak ingin lagi mengganggu Widya lebih dari ini. Ia akan menunggu dengan sabar hingga Widya bersedia keluar kamarnya atas kemauannya sendiri.
"Bagaimana aku bisa bahagia, kalau semua orang di sini saja nggak pernah sekalipun menyukaiku?"
Radit menoleh cepat dari balik bahunya. Ia tidak menduga akan mendengarkan jawaban itu dari mulut Widya. Dugaannya salah, ternyata sejak tadi Widya ada di balik pintu mendengarkan perkataannya dalam diam.
"Biarkan aku melihatmu, Sayang," pinta Radit, memutar gagang pintu, mencoba masuk ke dalam.
"Aku nggak dalam keadaan bisa melihatmu secara langsung," tolak Widya. "Bicara saja dari sana."
Radit menyandarkan keningnya di daun pintu. "Aku memang nggak bisa menjaminnya, tapi perlahan namun pasti, aku yakin semua warga di sini pasti akan menerimamu. Mereka hanya butuh waktu membiasakan diri dengan watakmu yang suka berbicara blak-blakan itu."
"Kamu naif sekali, Suamiku," cemooh Widya, tertawa mengejek. "Baiklah. Untuk sekarang ini aku akan mendengarkan saranmu itu. Walaupun aku sangat meragukan waktu akan mengubah segalanya."
"Dan, jika aku benar, apa yang akan kamu lakukan?" tantangnya, tidak bisa menahan diri mendengar sikap pesimis Widya.
"Sekarang ini bukan saatnya untuk bertaruh, Suamiku," sindir Widya.
"Kamu benar juga. Maafkan aku."
"Omong-omong, apa kamu yakin si Betadin dan orang tuanya akan pergi dari desa ini? Mana tahu 'kan itu hanya bualan mereka belaka demi mendapatkan simpatik orang-orang di sini."
"Sebelum pulang aku sudah mengkonfirmasinya," jawab Radit yakin. "Omong-omong, sampai kapan kita berbicara seperti ini terus? Ini benar-benar nggak nyaman."
__ADS_1
"Biasakan saja," jawab Widya acuh. "Semakin kupikirkan, semakin aku berpikir bahwa keluarga pembuat onar itu alangkah baiknya menyampaikan permintaan maaf padaku dahulu sebelum pergi dari desa ini. Mengakui kesalahan mereka dan meninggalkan desa ini belum cukup mengampuni perbuatan keji mereka."
Radit hanya bergumam menyetujui. Ia tidak mau terlalu menanggapi secara berlebihan, seperti ikut-ikutan mencela sikap keluarga Nadin juga. Bukan karena ia memihak pada mereka melainkan ia tidak ingin semakin menyulut amarah Widya.
Yang dikatakan Widya memang benar. Seharusnya daripada menyampaikan permintaan maaf padanya ataupun kepada warga desa ini, Nadin dan ayahnya lebih berutang permintaan maaf pada Widya. Karena Widyalah yang dirugikan oleh semua gosip palsu ini. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu.
**
Nyatanya sebelum Radit sempat mengambil tindakan apa pun untuk menemui orang tua Nadin, mereka sudah datang langsung ke rumahnya. Ekspresi wajah ayah Nadin terlihat sangat menyesal saat menyampaikan permintaan maaf kepada Widya.
Meskipun selama beberapa saat tidak ada tanggapan dari Widya, tetapi akhirnya dia menerima permintaan maaf itu. Mungkin nada tulus di suara ayah Nadin telah menyentuh hati istrinya yang keras itu. Dan tidak seperti sebelumnya, kali ini Widya menerima permintaan maaf Nadin. Widya mengakui padanya--saat Nadin dan orang tuanya pergi--bahwa kali ini dia merasakan ketulusan dari Nadin, berbeda jauh dari permintaan maafnya yang sebelumnya.
Widya juga mengungkapkan jika dia sebenarnya belum sepenuhnya memaafkan mereka. Namun, dia menyadari, tidak ada gunanya menolak permintaan maaf seseorang hanya karena egonya belaka. Widya percaya, jika dia menolak permintaan maaf mereka, dia akan menyesalinya suatu hari nanti.
Betapa Radit senang oleh pemikiran bijak istrinya. Ia menahan lidahnya mengatakan isi pemikirannya itu pada Widya bahwa perlahan-lahan istrinya itu sudah mulai berubah. Mengatakan hal itu padanya hanya akan membuat Radit mendapatkan tatapan sinis dari Widya. Sebab istrinya itu selalu meyakini bahwa itu hanyalah khayalan Radit belaka. Dan dia akan berkata, tidak ada orang atau apa pun yang bisa merubah sikapnya.
"Kenapa kamu melihatku begitu?" tanya Widya, menyipitkan matanya curiga.
"Ini hanyalah tatapan kekaguman," bisik Radit, merangkulkan tangannya. "Kamu ini curigaan sekali."
"Entah mengapa, aku merasa kamu sedang berbohong padaku. Aku tahu itu bukanlah tatapan kekaguman darimu."
"Nggak perlu memusingkannya. Sebaiknya kita masuk ke dalam, hari sudah mulai gelap," ajaknya, menutup pintu di belakang mereka.
∞ ∞
Sedang bersantai ria bersama Widya menonton televisi, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mereka saling bertukar pandang, kemudian Radit beranjak dari posisi bersantainya di sofa. Ia berjalan menghampiri pintu untuk melihat siapa yang datang semalam ini ke rumahnya.
Di balik pintu, Radit agak terkejut mendapati di sana berdiri Gilang sembari menatapnya dengan raut wajah teramat serius.
"Apa yang kamu lakukan semalam ini di rumahku?"
"Aku dengar tadi siang kamu mencariku."
"Karena itulah aku di sini. Aku ingin berbicara denganmu."
"Semalam ini?"
"Ini belum terlalu larut," sahut Gilang.
"Tapi cukup larut untuk datang berkunjung ke rumah orang," balas Radit datar.
"Siapa yang datang, Dit? Kenapa kamu lama se...." Widya menghentikan ucapannya saat melihat siapa tamu mereka. "Oh!"
"Selamat malam," ujar Gilang memberi salam, lalu kembali mengalihkan perhatiannya kembali pada Radit. "Jadi, kamu mau berbicara denganku atau nggak?"
Radit tidak menjawab pertanyaan itu. Ia malah berjalan menghampiri Widya, dan memintanya kembali ke dalam. Setelah itu barulah ia kembali menghampiri Gilang seraya menutup pintu rumahnya.
"Ikuti aku!" suruhnya, mengajak Gilang berbicara di tempat yang lebih sepi.
Gilang tidak memprotesnya sama sekali. Mungkin dia sadar bahwa obrolan mereka memang tidak seharusnya didengar oleh siapa pun, bahkan oleh Widya sekalipun. Begitu banyak hal yang harus mereka bicarakan berdua saja.
Setelah sampai di tempat, yang menurut Radit cocok untuk pembicaraan mereka, ia segera membalikkan badan menghadap pada teman lamanya itu. Gudang buku memanglah tempat yang pas untuk memberikan privasi pada mereka berdua. Walaupun berada di sini membangkitkan kenangan lama saat Radit terperangkap bersama Widya, yang sekarang ini telah menjadi istrinya.
Memikirkan malam penuh skandal itu saja hampir melembutkan ekspresi wajahnya. Mengingat tingkah heboh Widya saat berusaha membukakan pintu yang tiba-tiba tertutup--itu masih menjadi misteri baginya, kenapa pintunya saat itu bisa terkunci dari luar--dan juga aksi hebohnya meloncat-loncat ke sana kemari ketika mendapati ada serangga masuk ke dalam bajunya.
Mati-matian Radit menahan suara gelak tawa yang hampir tersembur keluar dari mulutnya. Saat ini ia tidak dalam posisi mengenang masa-masa ketika dirinya dan Widya saling membenci.
"Kulihat kamu sedang dalam suasana hati yang baik," ujar Gilang, mengamati dirinya lekat-lekat.
__ADS_1
"Baik atau nggaknya, itu nggak ada hubungannya dengan apa yang akan kita bicarakan sekarang," sahut Radit ketus. "Aku akan langsung saja, apa gosip mengenai kepergianmu itu benar adanya?"
"Itu memang benar," jawab Gilang, tersenyum miring padanya. "Kenapa? Apa kamu senang dengan kepergianku yang begitu mendadak ini? Pastinya kamu sekarang ini sangat bahagia, sebab nggak ada lagi yang akan mengganggu ketentraman rumah tanggamu."
"Kamu bodoh sekali jika berpikir sedangkal itu mengenaiku," balas Radit.
"Apa... Apa kamu bilang, bodoh?" Gilang menatap tak percaya padanya.
"Ya, bodoh. Apa selain bodoh, kamu juga menderita ketulian?"
Tidak terima dikata-katai olehnya terus-menerus, Gilang melangkah maju mencengkram kerah bajunya.
"Berhenti memprovokasiku! Aku menemuimu bukan untuk memulai perkelahian."
"Kalau begitu, untuk apa kamu mendatangiku?" Radit melepaskan cengkraman Gilang dari kerah bajunya. "Mengucapkan salam perpisahan? Meminta maaf? Atau ingin kembali mengakui perasaanmu kepada istriku?"
Gilang mengacak-acak rambutnya frustasi. "Aku nggak tahu sejak kapan hubungan pertemanan kita berubah menjadi sedingin ini."
"Jangan membohongimu dirimu sendiri. Kamu tahu dengan jelas, kapan pastinya hubungan pertemanan kita berubah seperti ini."
"Kamu memang benar," sahut Gilang lemah seraya melangkah mendekat ke arah jendela. "Semua ini memang karena ulahku. Mungkin karena itulah ayahku membuangku dari desa ini. Dia pasti malu memiliki anak sepertiku."
"Apa maksudmu?" tanya Radit, sangat terkejut oleh pengakuan Gilang itu. "Kenapa kamu berpikir seperti itu? Rasanya nggak mungkin ayahmu membuangmu. Aku tahu dia begitu menyayangimu, apalagi kamu ahli warisnya untuk meneruskan usaha ternaknya."
"Nyatanya memang begitu adanya. Memangnya apa lagi yang bisa menjelaskan perilakunya mengusirku dari rumah selain dia sudah nggak menganggapku anak lagi?" Menoleh dari balik bahunya, Gilang menatap sedih padanya sebelum kembali membelakanginya. "Kamu nggak tahu apa-apa, Dit. Ayahku benar-benar telah membuangku. Dia berpikir, lebih baik aku meninggalkan desa ini secepat mungkin daripada terus mempermalukannya karena kelakuanku."
"Aku nggak tahu kalau masalahnya akan serunyam ini. Mungkin sebaiknya aku berbicara dengan ayahmu. Walau bagaimanapun ini masalah kita berdua, dia nggak perlu mengambil tindakan keras seperti ini."
Dalam sekejap mata, Gilang berderap cepat mendekatinya. Kedua tangannya mencengkram bahu Radit kuat seraya mengguncangnya.
"Kamu jangan berani-beraninya melakukan hal itu! Aku mengatakan ini bukan untuk mendapatkan simpatik ataupun meminta pertolongan darimu."
Radit balas mengguncang tubuh temannya itu. "Tapi ini salah! Ini masalah kita berdua, orang tua kita nggak berhak mencampurinya."
"Kamu yang salah! Orang tua kita berhak mencampurinya jika ini mempengaruhi kedamaian hidup mereka," tampik Gilang, mendorong tubuh Radit menjauh. "Mungkin saja kamu lupa, wahai Kawanku Yang Naif, ayah kita berdua sudah lama menjalin pertemanan. Bahkan lebih lama dari pertemanan kita berdua. Tentunya, renggangnya hubungan pertemanan kita berdua akan sangat mempengaruhi pertemanan mereka berdua juga."
Oh tidak, Radit memang melupakan hal itu.
"Lagi pula," lanjut Gilang, "aku juga merasa ada baiknya aku meninggalkan desa ini. Mungkin dengan begitu aku akan melupakan perasaanku yang kian lama semakin tumbuh pada...." Gilang melirik hati-hati padanya. "Pokoknya ini memang diperlukan. Kamu tenang saja, ayahku nggaklah sekejam yang kamu pikirkan. Dia bukannya mengusirku ke antah berantah. Selama waktu yang tak ditentukan, aku akan tinggal dengan pamanku yang berada di Surabaya untuk membantunya di sana."
"Tetap saja... Ini nggak benar, Lang."
"Kalau kamu renungkan, ini memang keputusan tepat, Dit. Setidaknya dengan begini, gosip buruk tentang istrimu yang menggodaku akan memudar kalau aku segera menghilang dari desa ini," ujar Gilang, memaksakan senyuman di wajahnya. "Lagian aku sudah mengakui pada semua orang bahwa sebenarnya akulah yang menggoda istrimu."
Radit menggeleng. "Kamu nggak mungkin melakukan itu."
Gilang mengangkat bahunya. "Ya, aku melakukannya. Nggak ada gunanya mengelak, karena nyatanya itulah yang terjadi. Aku memang memiliki perasaan terhadap istrimu."
"Nggak heran ayahmu mengusirmu dari rumah."
Mendengarkan sindiran itu, Gilang malah tertawa terbahak-bahak, seakan-akan Radit bukan sedang menyinggungnya, melainkan menyanjungnya. Dan, seperti itulah, pembicaraan mereka berakhir sampai di sana. Mereka berdua akhirnya bersiap pulang ke rumah masing-masing.
Namun, Gilang sempat berhenti sejenak di jalan saat mereka telah keluar dari gudang buku. Dia menyampaikan sesuatu pada Radit untuk terakhir kalinya.
"Aku harap ketika kita bertemu lagi, aku sudah menghilangkan perasaanku sepenuhnya pada istrimu. Sampai aku mewujudkan hal itu, aku nggak akan pernah menampakkan diriku di hadapanmu," ucap Gilang, terdengar begitu bertekad. "Dan tentunya, kita bisa memulai pertemanan kita lagi. Yah, jika kamu menginginkannya."
"Aku akan memikirkannya," jawab Radit.
"Ah, aku hampir saja lupa. Maafkan aku sudah membuatmu babak belur waktu itu," ujarnya terkekeh.
__ADS_1
"Nggak sebabak belur yang aku lakukan padamu," cetus Radit, mengingatkan Gilang pada lebam yang didapatkannya. "Sampai jumpa."
Mereka berdua pun saling membelakangi untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dalam benaknya, Radit begitu menantikan pertemuannya yang akan datang dengan Gilang. Ia yakin suatu hari pasti hubungan pertemanan mereka akan kembali seperti dahulu. Hanya saja ia tidak tahu berapa lama waktu yang diperlukan ketika saat itu tiba.