Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Kepergok


__ADS_3

Merenggangkan tubuhnya di atas kasur, Radit merasa kalau tidurnya yang sebentar, entah mengapa terasa begitu panjang dan juga sudah menghilangkan rasa lelahnya akibat perjalanan kemarin. Masih dengan mata terpejam, Radit meraba samping tempat tidurnya. Seketika matanya terbuka begitu lebar saat mendapati Widya tidak ada di sana.


Bagaimana mungkin? Biasanya selalu Radit yang terlebih dahulu bangun pagi daripada istri pemalasnya itu. Apa mungkin ini karena mereka ada di rumah orang tuanya, makanya Widya bangun lebih cepat dari biasanya untuk menghabiskan waktunya bersama kedua orang tuanya. Ya, itu pasti penyebabnya.


Lalu perasaan tidak enak merayapi tulang belakangnya saat Radit menyadari cahaya sinar matahari menembus tirai jendela di kamar tidurnya. Dilihat berapa kali pun, itu bukanlah sinar matahari pagi, melainkan cahaya matahari yang mulai menandakan hari sudah mulai siang.


Tidak mungkin! Seumur hidupnya ia tidak pernah sekali pun bangun kesiangan, bahkan ketika ia masih sekolah pun ia tidak pernah bangun kesiangan. Jadi bagaimana mungkin di usianya yang sekarang ia malah bangun kesiangan. Di rumah mertuanya pula! Wah, sungguh tindakan yang memalukan.


Menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, Radit menggosok-gosok wajahnya dengan gusar. Sial, sial, sungguh sial. Seharusnya Widya membangunkannya, alih-alih membiarkannya molor di tempat tidurnya seperti menantu tidak tahu diri begini.


Kalau dipikirkan baik-baik, ini semua memang kesalahan istri piciknya itu. Karena siapa Radit tidur ketika hari sudah mau menjelang pagi? Itu semua karena istri mungilnya itu mempermainkannya sepanjang malam, seperti seorang penyihir mengendalikan bawahannya.


Segera beranjak dari tempat tidurnya, Radit langsung melintasi ruangan dengan langkah lebar ke arah kamar mandi. Waktunya menemui istri piciknya itu. Ia akan menyampaikan rasa kesalnya karena sudah dibiarkan menjadi seorang menantu yang pemalas di depan mertuanya.


**


Menuruni tangga menuju arah suara yang ramai di bawah, Radit sudah tidak sabar mendengar penjelasan Widya tentang sikapnya yang sudah meninggalkan ia seorang diri di dalam kamar hingga siang hari. Baru saja ia ingin berbelok ke arah sumber suara yang berada di dapur, Radit dikejutkan dengan penampakan Widya yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan hampir saja menabraknya.


Melihat kemunculannya, Widya yang awalnya terkejut, langsung tersenyum cerah kepadanya.


"Akhirnya kamu bangun juga. Aku pikir kamu akan tidur sampai nanti sore," ucapnya tertawa kecil. "Kenapa wajahmu kusut begitu? Apa kamu baru saja bermimpi buruk?"


"Mungkin saja itu akan terjadi," sahut Radit dengan jengkel. "Ya, aku bermimpi buruk. Berkat dirimu. Kenapa kamu nggak membangunkanku? Apa kata orang tuamu melihatku baru pertama menginap di sini sudah bangun kesiangan. Apa kamu senang kalau aku dicap sebagai menantu pemalas?"


"Kamu terlalu berlebihan. Aku hanya nggak ingin membangunkanmu dari tidur lelapmu saja," balas Widya membela diri. "Lagipula orang tuaku nggak mungkin mencapmu sebagai menantu pemalas hanya karena kamu bangun kesiangan. Mereka tahu betapa lelahnya kamu karena perjalanan kita semalam."


"Tetap saja itu nggak membenarkan perbuatanmu membiarkanku bangun sesiang ini. Lihat!" tunjuk Radit ke arah jendela yang memperlihatkan sinar matahari terik di luar, "Betapa silaunya cahaya matahari di sana. Ini mengerikan! Aku nggak pernah melakukan kesalahan seperti ini."


"Aku mengerti," angguk Widya sembari menepuk lengan Radit dengan prihatin. "Lain kali aku pasti akan membangunkanmu kalau kamu kesiangan lagi. Aku nggak tahu kalau masalah sepele seperti ini bisa melukai harga dirimu."


"Harga diriku nggak ada hubungannya dengan ini, Widya! Aku cu--"


"Syukurlah kamu sudah bangun, Dit. Papa ingin mengajakmu dan Widya ke suatu tempat," ujar Pak Darman tiba-tiba muncul menghampiri Radit dan Widya yang sedang mengobrol di lorong.


"Pembicaraan kita belum selesai, nanti kita akan melanjutkannya lagi," desis Radit, tidak ingin Pak Darman mendengarkan perdebatannya dengan Widya.


"Apa katamu sajalah, Suamiku," sahut Widya tak acuh.


Bolak-balik menatap Radit dan Widya secara bergantian, Pak Darman merasakan ada sesuatu yang aneh di antara mereka berdua. Mengutarakan isi pikirannya, Pak Darman membuat Radit terkejut saat menyuruh mereka agar jangan bertengkar di siang hari bolong. Sementara Widya tergelak di sebelahnya sambil berusaha keras menahan tawanya melihat ekspresi kekagetan sekaligus perasaan bersalah di wajah Radit.

__ADS_1


Dengan upaya keras, Radit mengendalikan ekspresi wajahnya dan menyampaikan kepada Pak Darman bahwa mereka hanya bertengkar kecil saja. Lalu meminta maaf karena sudah membuat keributan di siang hari dalam rumah mereka.


"Tidak perlu merasa bersalah begitu, Dit. Papa sangat maklum sekali kalau Widya sering membuatmu kesal," ucap Pak Darman, menolak permintaan maaf dari Radit. "Lagipula Papa menegurmu bukan karena ingin mendengarkan permintaan maaf darimu. Jangan kaku begitu!"


"Papa! Apa maksud Papa, aku selalu membuat Radit kesal?" protes Widya dengan raut cemberut. "Papa ini pilih kasih sekali, kenapa selalu saja Radit yang kelihatan baik? Dia ini juga terkadang bisa selalu membuatku naik pitam!"


Memberikan tatapan tak percaya, Pak Darman kembali menatap menantu kesayangannya dengan senyum lebar.


"Sekarang kalian berdua bersiap-siaplah! Papa ingin mengajakmu bersama Widya ke pernikahan anak teman Papa. Sekalian Papa ingin membanggakan menantu kesayangan Papa di depan mereka," tepuknya penuh kasih sayang di lengan Radit. "Apalagi sebagian dari teman-teman Papa ada yang belum pernah menemuimu."


"Kalian berdua saja yang pergi. Aku di rumah saja bersama Mama," celetuk Widya, menolak ajakan itu tanpa pikir panjang. "Lagian ada banyak hal yang ingin aku lakukan bersama Mama di dapur. Nah, suamiku, selamat bersenang-senang."


Melambaikan tangannya, Widya berbalik pergi meninggalkan Radit bersama Pak Darman seorang diri.


Mengumpulkan keberaniannya, Radit berniat menolak ajakan ayah mertuanya itu. Rasanya akan canggung sekali pergi berdua saja dengan ayah mertuanya ke tempat teman-temannya berkumpul dan memamerkannya seperti barang yang dijajakan.


Tega sekali Widya membiarkannya pergi berdua saja dengan Pak Darman. Belum cukupkah dia mempermalukan Radit dengan membiarkannya bangun kesiangan di rumah mertuanya? Dasar, istri tidak peka!


"Sepertinya aku ter--"


Sekali lagi, Pak Darman memotong ucapan Radit, sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannnya.


Dengan langkah berat, Radit menunduk lesu seraya berjalan kembali menaiki anak tangga untuk berganti pakaian di kamarnya yang berada di atas.


Di lain tempat, Gilang yang berjalan tak tentu arah, tidak menyadari kalau langkah kakinya sedang berjalan menuju ke arah gang rumah Radit. Bahkan hampir saja ia menjejakkan kakinya di halaman rumah Radit, seperti orang bodoh datang ke rumah temannya, yang saat ini jelas-jelas tidak berada di sana.


Menghentikan langkah kakinya ia melihat sekelilingnya dengan was-was, takut ada seseorang yang memergokinya memasuki halaman rumah Radit. Memutar balik arah jalannya, Gilang berjalan dengan langkah tergesa-gesa, seperti orang yang sedang dikejar penjahat. Kepalanya bolak-balik menengok ke belakang, takut ada seseorang yang melihat kelakuan konyolnya.


"Hayoo!" seru Ririn, tiba-tiba muncul dengan menghadang jalannya.


Menelan rentetan sumpah serapah yang hampir saja keluar dari mulutnya, Gilang menyentuh degup jantungnya yang berdetak begitu cepat di dadanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu muncul di hadapanku begitu tiba-tiba? Apa kamu ingin membuatku kena serangan jantung!" hardik Gilang, memperlihatkan raut masam pada Ririn.


"Ow, ow, ow. Kenapa Bang Gilang jadi emosian begini, hanya karena aku kegetkan begitu saja? Lagian yang seharusnya bertanya itu aku!" pukul Ririn keras di atas dadanya. "Kenapa Bang Gilang mengendap-endap ke rumah Bang Radit di siang hari bolong begini?"


"Aku nggak mengendap-endap!" elak Gilang dengan gugup.


Menyipitkan matanya, Ririn menatapnya curiga. Dia mengamati Gilang dengan mengitarinya sambil mengendus-ngenduskan hidungnya di tubuh Gilang, layaknya anjing yang mengendus bau mencurigakan dari seseorang yang diurigainya.

__ADS_1


"Sepertinya aku mencium sesuatu yang mencurigakan dari Bang Gilang, hmmm...." Ririn menepuk-nepuk dagunya dengan jari sambil berpikir keras. "Jangan-jangan...."


"Jangan-jangan apa, hah?" potong Gilang dengan panik, kalut Ririn mengetahui rahasianya. "Jangan berpikir aneh-aneh! Aku tadi cuma sedang melamun, lalu tanpa kusadari aku sudah berada di sini saja. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan!"


"Memangnya apa yang aku pikirkan?" goda Ririn, melengkungkan senyum licik di bibirnya. "Melihat kepanikan Bang Gilang, rasanya dugaanku benar. Pasti Bang Gilang merindu...."


Dengan cepat Gilang membungkam mulut Ririn dengan tangannya, kemudian menyeretnya ke bawah pohon yang tidak jauh dari sana. Gilang merasa lega saat mengetahui tidak ada seorang pun yang sedang memperhatikan mereka berdua.


Membersihkan mulutnya yang tadi ditutupi oleh Gilang, Ririn melemparkan sinar laser dari matanya. Kelihatannya dia begitu kesal atas sikap Gilang, yang tadi menutupi mulutnya begitu mendadak.


"Bang Gilang keterlaluan! Nggak perlu menutup mulutku begitu dong," desisnya, melotot marah pada Gilang.


"Makanya jangan mengatakan hal yang aneh-aneh! Kalau saja kamu nggak mengatakan hal konyol seperti tadi, aku nggak mungkin membungkam mulut nakalmu itu," balas Gilang, sama kesalnya dengan Ririn. "Lagipula apa yang dilakukan anak SMP sepertimu di sini? Apa kamu membolos?"


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan dengan membahas tentang sekolahku!" seru Ririn, dengan tangan bergerak-gerak ke sana kemari, mengungkapkan rasa jengkelnya diingatkan dengan sekolahnya. "Lagipula itu pertanyaan bodoh, ini hari minggu, wahai Bang Gilang yang linglung."


Mengerjapkan matanya, Gilang mendesah dalam hati atas kebodohannya itu. Sadar akan sikap Gilang yang merasa malu, Ririn menyeringai begitu menjengkelkan padanya. Menutupi rasa malunya, Gilang kembali memasang raut sinis pada Ririn.


"Anak kecil kurang ajar seperti kamu ini, seharusnya diberi pelajaran dengan menyumpal mulut nakalmu itu, supaya kamu berhenti mengatakan hal-hal yang menjengkelkan dari lidah tajammu itu."


"Ayo sini sumpal kalau berani!" tantang Ririn, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Sudahlah, Bang, akuin aja napa kalau Bang Gilang itu kangen berat sama Bang Radit. Emangnya segitu memalukannya ya, kangen sama sahabat sendiri?"


"Hah? Radit?"


"Kenapa tampang Bang Gilang jadi kayak orang tol*l begitu? Memangnya siapa lagi yang Abang kangenin, selain Bang Radit? Kak Widya? Ya nggak mungkinlah," dengus Ririn, menggelengkan kepalanya melihat ekspresi terperangah di wajah Gilang.


Lalu tiba-tiba Ririn dibuat terkejut saat Gilang menyemburkan tawa terbahak-bahak di hadapannya. Mengacak-acak rambut Ririn, ia membuat anak nakal itu semakin kesal padanya dan menepis tangannya dengan kasar. Namun, kali ini ia tidak bisa berbalik marah pada Ririn, sebab ia lega Ririn salah paham atas tindakannya tadi. Siapa yang menduga kalau Ririn akan menyimpulkan kelinglungannya tadi, karena merindukan sahabatnya Radit? Sungguh melegakan.


"Dasar anak nakal! Berani-beraninya kamu mengataiku 'Tol*l' tadi, ini untukmu yang nakal," sentil Gilang di dahi Ririn selembut yang yang ia bisa, lalu beranjak pergi meninggalkannya sambil tetap tertawa girang.


"Aw, sakit tahu!" teriak Ririn di belakangnya.


"Kamu memang pantas mendapatkannya. Bersyukurlah aku nggak melakukannya dengan sekuat tenaga tadi," balas Gilang, menolehkan kepalanya seraya menjulurkan lidahnya meledek pada Ririn.


Takut akan dibalas oleh Ririn yang murka, Gilang berlari secepat mungkin dari sana.


"Kenapa pula dia? Padahal tadi ngamuk-ngamuk nggak jelas, sekarang malah ketawa-ketiwi kayak orang gila," gumam Ririn menatap kebingungan pada Gilang, yang berlari kencang meninggalkannya seorang diri di bawah pohon. "Sepertinya akibat rasa kangennya yang begitu besar pada Bang Radit, dia jadi kehilangan kewarasannya."


Menggosok dahinya yang disentil tadi, Ririn mengambil cermin kecil di kantong rok panjangnya sembari meringis ngeri melihat bekas kemerahan yang ada di dahinya. Menjerit keras, Ririn bersumpah pada dirinya sendiri akan membalas Gilang yang sudah melukai dahinya.

__ADS_1


__ADS_2