Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Lelaki Asing


__ADS_3

Langkah kakinya tiba-tiba terhenti ketika mendengar teguran tajam dari mulut Bu Leni, suaranya yang melengking itu sengaja dia kencangkan agar semua orang mendengarnya.


"Emang dasar ya, Gadis Kota itu tidak tahu sopan santun. Ketemu orang yang lebih tua di jalan, bukannya menyapa malah main nyelonong aja," sindirnya ketus.


Mendengar sindiran itu, ibu-ibu yang berjalan bersamanya ikut menyindir Widya juga dengan sama tajamnya. Merasa dipojokkan tanpa ada yang bisa menolongnya, Widya membalikkan badan seraya mengangkat payungnya agar para ibu-ibu itu bisa langsung melihat wajahnya begitu jelas. Dagunya terangkat angkuh sembari melemparkan tatapan merendahkan pada mereka semua.


"Bukannya tidak punya sopan santun, hanya saja sopan santunku itu cuma kuberikan pada orang yang pantas menerimanya, tapi kalau kalian sih...." Widya dengan sengaja menggantungkan ucapannya, bibirnya tersenyum mengejek pada mereka. "Kalau begitu, aku permisi dulu ibu-ibu sekalian. Ada hal mendesak yang harus kulakukan daripada meladeni hinaan kalian padaku." Menunduk hormat, Widya kembali melanjutkan perjalanannya.


Senyuman kemenangan tersungging di bibirnya, ia sangat senang melihat Bu Leni dan teman-temannya terperangah mendengar ucapannya tadi. Di belakangnya ia bisa mendengar cacian yang dilontarkan kaum penggosip itu padanya, tetapi ia mengabaikannya sambil terus berjalan secepat mungkin menuju Rumah Buku.


Sesampainya di Rumah Buku, Widya segera membuka pintunya lalu masuk ke dalam sambil membawa palang kayu di tangannya, diletakkannya palang kayu itu di samping pintu. Ia takut pintu itu akan terkunci lagi, seperti saat ia dan Radit terkurung di dalam Rumah Buku ini dulu.


Hari itu masih menjadi misteri bagi Widya. Bagaimana mungkin pintu yang sudah dibukanya sekuat tenaga ternyata dalam keadaan terlepas dari palang kayu saat ayah Radit beserta para warga mememergoki mereka melakukan sesuatu yang memancing skandal besar di Desa Manju.


Mengedarkan pandangan pada sekelilingnya, Widya curiga jika Rumah Buku ini memiliki hantu mak comblang. Soalnya apa lagi yang bisa menjelaskan keanehan yang terjadi padanya dan Radit? Andai saja hal misterius itu tidak terjadi padanya, mungkin sekarang ia sudah menjadi wanita karier seperti yang diinginkannya selama ini, renung Widya muram.


Menyesali apa yang terjadi malam itu tidak akan mengembalikan status lajang Widya kembali. Jadi, daripada bermuram durja, ia berjalan ke arah pintu untuk membuka kedua pintunya selebar mungkin agar bisa melihat lebih jelas semua buku yang ada di dalam.


Setelah menemukan buku yang menarik, Widya berjalan ke kursi yang ada di dekat jendela untuk memulai membaca. Duduk menyamping, ia membaca buku itu dengan sangat serius.


Ia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu saat sebuah sosok terlihat dari sudut matanya. Menolehkan kepalanya, ia melihat seorang lelaki bertubuh lumayan tinggi mengenakan kaus berwarna hijau serta celana panjang selutut berdiri menyandar di pinggir pintu. Sepatu bot bernodakan sedikit lumpur terpasang di kedua kakinya, rambut pendeknya yang tebal disisir ke belakang serapi mungkin, dan mata coklatnya menatap Widya penuh rasa ingin tahu.


Ini pertama kalinya Widya berjumpa dengan lelaki itu, dan ia agak terpesona dengan penampilannya yang lumayan tampan. Namun, dia tidak terlihat maskulin seperti suaminya, Radit. Bahunya tidaklah selebar suaminya, bahkan bisa dibilang lelaki itu tidak terlalu berotot seperti suaminya. Walaupun begitu, dia termasuk lelaki yang sedap dipandang.

__ADS_1


Entah mengapa, setiap melihat lelaki lain, Widya selalu saja membandingkannya dengan Radit. Mungkin ini karena Radit memiliki perawakan lebih besar dari lelaki kebanyakkan, pikir Widya. Tanpa disadarinya, wajahnya merengut masam mengingat suaminya itu, yang tentu saja disalahpahami oleh lelaki asing itu.


"Maafkan aku, jika sudah mengganggu acara membacamu. Tadinya aku berniat mampir saja saat melihat gudang buku ini terbuka, tapi melihat ada seorang gadis cantik tak dikenal sedang serius membaca, aku nggak bisa menahan diri untuk memandangmu," katanya lembut.


"Aku bukan marah padamu, jadi, kamu nggak perlu minta maaf." Menyilangkan kakinya menghadap lelaki asing itu, Widya melengkungkan senyum manis padanya. "Aku nggak bisa mengelak kalau aku ini memang cantik. Jadi, wajar saja jika kamu terpesona melihatku."


Seketika lelaki asing itu tertawa mendengar kepedean Widya. Matanya berbinar jenaka ketika berjalan memasuki ruangan.


"Nah, Gadis Cantik, jika kamu tak keberatan, bolehkah aku berkenalan denganmu?" tanyanya penuh rasa ketertarikan.


Beranjak berdiri, Widya menutup buku yang sedang dibacanya tadi, kemudian meletakkannya ke atas meja. "Sayang sekali, aku nggak ingin berkenalan denganmu."


Kali ini tawanya lebih kencang lagi mendengar jawaban tak terduga itu terlontar dari mulut Widya.


"Aku ini sudah jadi milik pria lain, jadi, tak ada gunanya mendekatiku, asal kamu tahu saja," jawab Widya, berbisik kecil seolah itu rahasia besar.


"Selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan," sahutnya, tersenyum menawan.


Tersenyum penuh makna, Widya berjalan melewatinya. Berhenti tepat di ambang pintu, ia menolehkan kepalanya dari balik bahu menatap lelaki asing itu untuk terakhir kalinya.


"Sayang sekali, itulah yang terjadi, Sobatku," ujar Widya, tertawa kecil saat berbalik meninggalkannya.


Kali ini tawa lelaki asing itu terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Nampaknya, lelaki asing itu menganggap jawabannya tadi sebagai candaan saja.

__ADS_1


Di luar Rumah Buku, Widya melihat Mila berjalan tak jauh darinya, temannya itu terlihat sehabis pulang dari suatu tempat, sebab dia berjalan menuju ke arah rumahnya. Berteriak memanggilnya, Widya berlari kecil mendekatinya. Membalikkan badan, Mila melambaikan tangan padanya.


"Dari mana saja kamu?" tanya Widya, mengaitkan tangannya di lengan Mila.


"Aku tadi sehabis dari kebun ayahku. Kamu sendiri?" tanyanya balik.


Menunjuk ke arah Rumah Buku, Widya menjelaskan tentang dirinya yang menghabiskan waktu membaca buku di sana. Alih-alih merespons ceritanya, Mila malah berseru kaget, kemudian dia melambaikan tangan pada lelaki asing yang ditemui Widya tadi. Lelaki itu sekarang berdiri di depan pintu Rumah Buku yang sudah ditutupnya dengan palang kayu.


"Sejak kapan kamu datang?" tanya Mila berteriak.


"Kemarin malam, Mil. Sudah dulu ya, nanti lagi kita ngobrolnya." Melambaikan tangannya, lelaki itu memberikan kedipan nakal pada Widya sebelum berbalik pergi.


Salah paham kedipan itu ditujukan pada dirinya, Mila menggelengkan kepala sambil melambaikan tangan dengan ceria.


"Siapa lelaki itu, apa kamu mengenalnya?" tanya Widya penasaran.


"Tentu saja aku mengenalnya, bahkan seluruh desa ini mengenalnya dengan baik. Kamu tahu 'kan Pak Sugeng?" Widya menjawab dengan mengangguk cepat. "Nah, dia itu anaknya, dan dia itu juga salah satu teman baik Radit."


Informasi terakhir itu mengagetkan Widya setengah mati. Siapa sangka lelaki yang tadi bermain mata dengannya adalah teman baik suaminya sendiri. Dalam hatinya Widya berharap Radit tidak akan tahu mengenai pertemuannya dengan temannya itu.


Kalau sampai dia tahu, nanti dia kira aku suka main mata dengan pria lain.


#TBC

__ADS_1


__ADS_2