
Selama beberapa hari terakhir, Widya hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah atau pergi ke rumah buku, demi mengisi waktu luangnya. Meskipun mendapatkan tatapan kecaman dari beberapa orang, ia tidak mempedulikannya sama sekali.
Widya sudah memutuskan akan melakukan apa yang ia inginkan, bukan apa yang orang inginkan darinya. Widya tahu beberapa orang pasti menginginkan ia diam bersembunyi dalam rumahnya, seperti seorang kriminal yang bersembunyi dari banyak orang.
Ha! Biar mereka lihat, ia tidak peduli sama sekali bagaimana sikap serta cara mereka memandang dirinya. Tak peduli seberapa sakitnya ia diperlakukan seburuk ini, Widya tetap kukuh pada pendiriannya. Ia tidak akan pernah mau gentar oleh perlakuan buruk para warga di desa ini.
Namun, ada hal yang membuatnya agak tidak merasa nyaman, yaitu Radit. Beberapa hari ini Widya melihat kelelahan di mata suaminya itu. Walaupun Radit menutupi keletihannya itu darinya dengan bersikap seperti biasa--seolah tak ada yang berubah dalam lingkungan mereka--dia tak bisa menutupi aura murungnya dari Widya.
Widya tahu penyebab kelelahan Radit itu disebabkan dia begitu sibuk mencari dalang di balik gosip buruk yang menerpanya. Sungguh pencarian yang sia-sia. Betapa pun Radit menginginkan dan berusaha menemukan penyebar fitnah itu, dia tidak akan pernah menemukannya.
Lagi pula tak ada yang akan berubah jika dia menemukannya. Semua orang di desa ini sudah sejak lama memutuskan membencinya. Gosip kali ini hanyalah alasan mereka saja demi membetulkan perasaan dengki dan benci mereka pada Widya. Kapankah suaminya itu menyadari hal itu? Dia terlalu berharap tinggi pada penduduk desa ini.
"Sudah kuduga kamu akan berada di sini," ujar sebuah suara lembut menyadarkan Widya dari lamunannya.
Menoleh ke arah sumber suara itu, Widya sontak saja berlari menghampiri seseorang yang sedang berdiri sambil tersenyum cerah padanya di ambang pintu. Ia langsung memeluknya sembari memekik kegirangan pada teman yang begitu dirindukannya ini.
"Kenapa kamu lama sekali perginya? Apa kamu nggak tahu, betapa kesepiannya aku di sini tanpa dirimu," keluh Widya, memberengut kesal pada Mila.
"Aku tak tahu jika keberadaanku lebih penting dari Radit," godanya, tersenyum nakal. "Lagj pula masih ada Ririn sebagai teman berbagi ceritamu."
"Tentu saja kamu nggak sebanding dengannya. Kalian memiliki level yang berbeda," balas Widya menggoda temannya. "Soal anak ingusan itu, jangan ingatkan aku padanya. Mengingatnya saja membuatku kesal."
"Kenapa bisa begitu? Apa dia membuatmu marah lagi?"
"Masih mending dia membuatku marah lagi daripada bersikap menyebalkan seperti sekarang," jawab Widya, mengingat kembali perilaku Ririn belakangan ini.padanya. "Bayangkan saja, setiap kali dia tak sengaja berpapasan denganku, dia selalu lari terbirit-birit, seakan-akan aku ingin menelannya hidup-hidup."
Mila tertawa. "Bisa aku bayangkan."
"Ini bukanlah hal yang patut kamu tertawakan!"
"Tentu saja ini patut aku tertawakan. Kamu nggak tahu seberapa takutnya bocah cerewet itu padamu, semenjak kamu bersikap dingin padanya beberapa waktu lalu."
__ADS_1
"Ya ampun, Mil, itu cerita lama. Lagian aku waktu itu cuma bersikap merajuk saja padanya. Dia juga sih pake acara membela si rubah licik itu," cela Widya, mengerecutkan bibirnya. "Yah, sejujurnya, aku juga menyesali sikap dinginku waktu itu padanya sih. Tapi apalah daya, aku sudah terlanjur melakukannya."
"Tenang saja, ada aku. Nanti aku akan memaksanya menemuimu bersamaku."
Mereka berdua tertawa bersama saat membayangkan reaksi Ririn ketika nanti diajak Mila menemuinya. Pasti akan sangat lucu, jika bocah penakut itu tiba-tiba pucat pasi dan pingsan saat melihatnya.
"Berhenti membicarakan mengenai masalahku. Sekarang ceritakan padaku, bagaimana cerita perjalananmu selama di kota bersama kakakmu," pinta Widya, begitu antusias mendengarkan cerita temannya. "Pastilah di sana sangat menyenangkan sehingga membuatmu tertahan lama di sana."
"Lebih baik kita membahasnya di rumahmu saja. Rasanya, hari ini saja nggak akan pernah cukup menceritakan semua yang terjadi padaku selama di sana." Mila mendesah sambil memandang jauh ke belakang Widya. "Selama di sana aku banyak memikirkan banyak hal. Itulah yang membuatku lama di sana."
Tidak sabar mendengarkan cerita lengkapnya, Widya cepat-cepat mengajak Mila ke rumahnya. Setelah menutup rapat rumah buku, mereka berdua berjalan bersama menuju rumahnya. Selama perjalanan ke rumahnya, ada beberapa hal menggajal yang terjadi padanya.
Hal mengganjal itu adalah tatapan serta perilaku yang ditunjukkan beberapa orang terhadapnya. Itu bukanlah tatapan yang didapatkannya beberapa waktu lalu saat meninggalkan rumahnya. Widya masih ingat begitu jelas, padahal baru beberapa jam lalu saat ia pergi menuju rumah buku, semua orang yang ditemuinya masih menatapnya begitu sinis.
Namun, kali ini berbeda. Berbedanya bukan dalam hal baik. Mereka bukannya menatapnya dari kebalikan sebelumnya, melainkan tatapan mereka kali ini begitu aneh, sulit ditebak.
Setiap kali Widya tak sengaja bersitatap dengan seseorang, mereka akan dengan cepat mengalihkan pandangan darinya. Mereka akan membuang muka darinya dan pergi terburu-buru. Ada apa dengan mereka? Apa sekarang para warga di sini mengubah taktik mereka? Alih-alih menunjukkan secara terus terang rasa kebencian mereka padanya, mereka kali ini memilih mengabaikannya.
Rasanya lebih baik mendapatkan kesinisan daripada diperlakukan seperti ini. Jika tujuan mereka membuat Widya merasa semakin terluka, maka mereka telah berhasil. Tiba-tiba kepalanya terasa begitu pening.
Widya tidak menyahut pertanyaan Mila, ia hanya menyeret Mila berjalan semakin cepat bersamanya menuju rumahnya, tempat berlindungnya dari semua orang di sini.
∞ ∞
Seperti beberapa hari terakhir ini, Radit sedang bersiap pulang ke rumahnya. Belakangan ini ia selalu cepat pulang ke rumahnya. Hal ini disebabkan ia begitu khawatir meninggalkan Widya terlalu lama seorang diri di rumah.
Sampai keadaan sudah membaik, Radit akan tetap melakukan hal ini. Kejadian beberapa hari lalu akan menjadi hal terakhir ia membiarkan para warga desa ini memperlakukan istrinya sekejam itu. Bahkan, terasa sulit baginya mempertahankan sikap ramahnya pada semua orang kejam itu.
Rasanya lucu sekali melihat sikap kebalikan mereka padanya. Sikap tak tahu malu mereka itu sungguh membuatnya geram. Apa mereka berharap Radit akan senang dengan sikap bersahabat mereka itu, setelah mereka memperlakukan Widya begitu kasar.
Radit tak tahu apa yang dipikirkan orang-orang di sini mengenai dirinya. Kenapa begitu susah bagi mereka menerima Widya sebagai salah satu warga di desa ini. Hanya karena satu kesalahan dahulu mereka mengumbar kebencian di mana-mana.
__ADS_1
Betapa bodohnya Radit menganggap jika semua penduduk di sini adalah orang-orang yang menyenangkan dan ramah.
Hatinya begitu pilu melihat Widya sangat terluka oleh perlakuan semua orang di sini padanya. Meskipun dia berusaha keras menutupi sakit hatinya dari Radit, dia tetap tidak bisa menipu Radit dari kesedihan yang tampak di matanya.
Andai saja Widya mau membagi bebannya itu pada Radit, ia pasti akan melakukan apa saja demi meringankan beban istrinya itu. Sayangnya, istrinya itu lebih memilih menyimpan sendiri kesedihannya daripada membagikannya pada Radit.
Mengungkit kesedihannya pun tak ada gunanya, Widya akan mengelak keras mengakui jika dirinya sangat sakit hati. Sungguh tipikal perempuan sok kuat. Ingin rasanya Radit mengguncang-guncangkan tubuh mungilnya itu demi menyadarkannya.
"Dit, Dit, Radit!" panggil Deni, berlari menghampirinya dengan napas tersengal.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu ngos-ngosan begini?" tanyanya heran. "Apa seseorang sedang mengejarmu?"
"Kamu harus dengarkan baik-baik apa...." Deni menarik napas sejenak, kemudian kembali melanjutkan, "apa yang ingin aku sampaikan ini. Ini berita besar!"
"Berita besar?"
"Aku yakin, kamu pasti akan sangat terkejut saat mendengarnya."
"Kalau hal ini tak berhubungan dengan masalah istriku, aku rasa aku nggak akan merasa terkejut sama sekali," ucap Radit datar. "Nggak ada hal yang lebih aku inginkan selain menyelesaikan semua gosip yang menerpa istriku."
"Jangan terlalu yakin dulu."
"Kalau begitu, katakan padaku. Biar aku lihat seberapa mengejutkannya berita ini bagiku."
Radit menunggu dengan sabar saat Deni mengatur napasnya sejenak, sebeium menyahut omongannya.
"Aku dengar... astaga, rasanya hal ini masih mengejutkanku. Siapkan dirimu!" pinta Deni, bersikap terlalu dramatis menurut Radit. "Gilang akhirnya menampakkan dirinya!"
Apanya yang mengejutkan. "Itu saja? Itu bukanlah berita mengejutkan bagiku," cetus Radit, berjalan meninggalkan temannya. "Sampai jumpa besok, Kawan."
"Aku belum selesai," protes Deni, menghentikan langkahnya. "Setelah beberapa hari menghilang, dia memutuskan untuk meninggalkan desa ini. Lihatlah, betapa mengejutkannya kabar ini! Gilang muncul hanya untuk mengumumkan, dia akan pergi meninggalkan desa ini!"
__ADS_1
Radit akui, kabar ini memang mengejutkannya. Apa gerangan yang dipikirkan mantan temannya itu sehingga mengambil tindakan sedramatis ini? Apa dia pikir dengan kabur dari sini akan menyelesaikan masalah di antara mereka berdua.
Ini tak bisa dibiarkan, ia harus menemui Gilang sekarang juga. Radit membutuhkan penjelasan atas keputusan mendadaknya ini.