
Mengalihkan perhatiannya kembali pada Widya, yang tetap tidak mau melihat ke arah meja makan, Radit bertanya dengan nada agak kebingungan, "Aku nggak melihat hal aneh apa pun di meja makan."
Mendengar ucapannya itu, Widya mendongak menatapnya syok. "Apa kamu nggak ngeri melihat ikan di sana?" Telunjuknya bergerak naik turun, menunjuk ke arah ikan yang tergeletak di atas piring tanpa sedikit pun menolehkan kepalanya. "Rasanya begitu mengerikan melihat ikan itu menatap balik kepadaku."
"Astaga, Widya, itu hanya mata ikan bukan mata manusia."
Widya seketika tersinggung saat mendengar nada geli dalam suaranya.
"Aku nggak menyukainya. Singkirkan kepala ikan itu dari tubuhnya sekarang juga!"
Tawanya meledak mendengar perintah konyol Widya itu. "Aku baru tahu kalau kamu bisa sekejam itu pada seekor ikan. Tega-teganya kamu memenggal kepalanya dari bagian tubuhnya," candanya, mengabaikan kilatan menusuk yang dilemparkan padanya.
Memisahkan kepala ikan seperti yang diinginkan Widya, ia mengambil piring kecil untuk meletakkan kepala ikan itu di sana, kemudian memasukkannya ke dalam lemari dapur untuk menjauhkannya dari pandangan istrinya yang histeris.
"Lain kali jangan menghidangkan kepala ikan lagi untukku."
"Ya, ya, aku mengerti," kekehan gelinya mengiringi langkahnya ke kamar mandi.
**
Selesai mandi dan berganti pakaian, Radit menghampiri Widya yang sedang bersantai menonton televisi. Posisinya yang berbaring menyamping di tempatnya duduk terlihat begitu nyaman.
Sengaja menghalangi pandangan Widya dari tontonannya di depan televisi, wajah istrinya berubah merengut kesal oleh tindakannya itu. "Apa yang kamu lakukan? Badan besarmu itu menghalangi pandanganku." Kepalanya melongok melihat televisi dari samping kakinya.
"Ada satu hal yang lupa kukatakan tadi padamu," ucapnya, menarik perhatian Widya kembali padanya.
"Kalau begitu, katakan! Aku nggak punya banyak waktu meladeni omonganmu." Beranjak malas dari posisi berbaringnya, Widya duduk sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.
Radit mundur sedikit untuk memberi ruang di antara mereka berdua. Ia sengaja melakukan hal itu agar Widya tidak lagi mengomel tentang lehernya yang sakit karena mendongak menatapnya. "Kamu harus berjanji padaku agar nggak mengulangi acara kaburmu dikemudian hari. Kamu sudah dewasa, jadi, berhentilah bersikap kekanakan. Melarikan diri nggak akan menyelesaikan masalah."
"Aku nggak bisa menjanjikan hal yang gak bisa kutepati."
Menautkan kedua alisnya, Radit berseru, "Berarti kamu berniat kabur lagi?"
"Entahlah. Itu tergantung dari sikapmu." Mengangkat sebelah tangannya, Widya menolak mendengarkan protesnya. Lalu dia kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi, aku akan berusaha agar kejadian seperti hari ini nggak terulang lagi."
Menatap skeptis, Radit menyilang kedua tangannya seperti istrinya. "Aku nggak bisa menggantungkan nasib rumah tangga kita dari usahamu saja. Sifat keras kepala dan manjamu itu selalu membawa masalah bagiku."
__ADS_1
"Kamu harus menerimanya. Aku nggak bisa berbohong kepadamu dengan mengucapkan janji yang aku tahu nggak akan pernah aku tepati. Lagi pula, sebenarnya aku nggak menginginkan sama sekali kita jadi bahan tontonan orang-orang di luar sana. Hanya saja, mengingat sikap tiranimu itu membuat darahku mendidih."
"Aku hanya ingin kamu bersikap mandiri tanpa mengandalkan kepraktisan dari sebuah mesin, bukannya karena aku tirani seperti yang kamu pikirkan," elak Radit, tidak senang mendapatkan julukan mengerikan itu.
"Kamu juga nggak bisa begitu saja memaksakan kehendakmu agar aku bersikap mandiri seperti kalian di desa ini. Aku ini sudah terbiasa dengan yang namanya kepraktisan, terserah kamu menyukainya atau nggak. Memang apa salahnya menggunakan sebuah mesin demi kenyamananku? Itu nggak akan menyakiti siapa pun, asal kamu tahu," cela Widya atas sikapnya.
Selama sesaat ia terdiam memikirkan perkataan Widya. Mungkin istrinya itu benar, tak ada salahnya memberikannya sebuah mesin cuci demi kenyamanannya. Apalagi istrinya itu sudah terbiasa hidup nyaman selama hidupnya. Tentu sangatlah salah melarangnya mencuci pakaian dengan mesin cuci demi egonya yang ingin melihat istrinya itu bersikap mandiri.
Setidaknya itu lebih baik daripada mendapati istrinya nggak ingin melakukan pekerjaan rumah tangga sama sekali. Untuk golongan orang kaya, Widya tidaklah terlalu pemilih saat Radit memberikan beberapa tugas rumah tangga padanya.
Biasanya, anak orang kaya manja seperti istrinya ini akan menolak keras mengotori tangannya dengan melakukan pekerjaan kasar seperti membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan piring. Ya, ini lebih baik.
Mengangguk, Radit tidak punya pilihan selain menyetujui permintaan istrinya. "Aku paham maksudmu. Maafkan aku sudah memaksakan kemauanku padamu."
Senyuman puas terukir di bibir istrinya. "Kalau begitu, masalah ini terselesaikan. Sekarang minggir, aku mau nonton."
Melangkah mendekat, ia mengangkat dagu Widya agar kembali menatap matanya. "Tapi, Istriku Sayang, aku nggak akan mentoleransi sikapmu yang membantah perintahku lagi, seperti yang kamu lakukan pagi ini. Jadi, berusahalah sekeras mungkin agar kamu nggak membuatku mengambil tindakan yang akan kamu sesali."
"Kalau boleh aku tahu, tindakan seperti apakah yang akan kamu ambil, Suamiku?" tanyanya dengan mata berkilat menantang.
"Ra... Ha... Si... A," bisik Radit di telinganya. "Tentu nggaklah menarik jika aku mengatakannya sekarang" Melepaskan dagu Widya, ia berjalan ke arah dapur untuk mengisi perutnya yang kelaparan.
Pagi harinya, Widya terbangun oleh suara ketukan pintu kamarnya. Dengan perlahan ia turun dari ranjangnya dan menghampiri pintu untuk membukakan pintu.
Menggosok kedua matanya, dilihatnya Radit sedang berdiri di hadapannya dengan penampilan yang sangat rapi.
"Ada apa?" tanyanya, menyandarkan kepalanya di dinding samping pintu tak acuh. Matanya setengah terpejam.
"Hari ini aku akan ke kota." Jawaban itu membuat mata Widya terbuka lebar. "Sendiri," lanjut Radit, membuat bahu Widya merosot turun.
"Kenapa sendiri? Aku juga ingin ikut. Sudah terlalu lama aku terkurung di desa terpencil ini."
"Aku hanya sebentar, mungkin setelah senja aku akan kembali. Ada beberapa urusan yang harus kulakukan di kota."
"Masuklah! Aku capek berdiri dengan satu kaki."
Menggandeng lengannya, Radit membantunya berjalan menuju ranjangnya untuk duduk di sana.
__ADS_1
"Makanya, untuk sementara ini kamu pakai tongkat saja dulu," saran Radit.
"Itu hanya akan membuatku terlihat seperti nenek-nenek renta. Jadi, aku nggak membutuhkannya," tolaknya, meringis ngeri membayangkan dirinya berjalan ke sana kemari menggunakan tongkat.
"Apa katamu sajalah," ujar Radit menyerah.
Perlahan dia mulai melangkah mundur, seperti yang tadi malam dia lakukan saat berbicara dengannya, sungguh suami yang sangat pengertian.
"Omong-omong, soal urusanmu di kota, memangnya urusan apa itu kalau boleh aku tahu?"
"Selain membeli mesin cuci untukmu, aku juga ada keperluan untuk menemui beberapa calon pembeli yang ingin membeli beberapa sapi dari peternakanku. Belum lagi aku ingin membeli berbagai macam barang titipan orang lain. Pokoknya banyak sekali yang harus kulakukan di kota."
Menaikkan kedua alisnya, Widya menatap terkejut pada suaminya. "Peternakanmu? Bukannya itu peternakan ayahmu? Setahuku kamu ini hanyalah pengangguran yang sok sibuk," ucapnya, meremehkan rutinitas harian suaminya.
Mengertakkan gigi mendengar ejekan itu, Radit berujar, "Aku bukan pengangguran. Peternakan itu memang milik ayahku, tapi setelah aku menikah peternakan itu diwariskan padaku."
"Ya ampun! Ayahmu murah hati sekali. Beruntung sekali dirimu memiliki ayah sebaik itu. Sekarang aku bisa tenang karena suamiku bukanlah seorang pengangguran." Menumpukan kedua tangan di samping tubuhnya, Widya menatap serius pada suaminya. "Tapi, apa pun alasanmu ke kota, aku tetap bersikukuh ingin ikut denganmu. Aku rindu orang tuaku."
"Kondisimu belum terlalu baik, jadi, sebaiknya kamu jangan terlalu banyak berjalan dulu."
"Aku nggak akan banyak berjalan. Lagi pula ada kamu yang bisa membopongku agar nanti aku nggak terlalu banyak bergerak," tatapnya memelas.
"Nggak bisa! Aku terlalu sibuk dengan urusanku, jadi nggak ada waktu untuk mengurus dirimu. Lagian aku cuma sebentar, tak ada gunanya kamu ikut," ucap Radit tegas.
"Sebentar apanya, bukankah kamu akan pulang agak sorean? Jadi, nggak ada salahnya 'kan meninggalkanku sementara di rumah orang tuaku sambil menunggumu selesai dari urusanmu itu," protesnya.
"Jangan membantah, Widya. Masih ada hari lain. Lagian aku juga sudah meminta Ririn untuk menjagamu selama aku pergi." Melangkahkan kaki mendekatinya, Radit meremas bahunya pelan. "Nanti setelah kakimu agak membaik, aku janji akan membawamu ikut bersamaku ke kota. Lalu kamu bisa sepuasnya menghibur dirimu selama ada di sana."
"Nantinya itu kapan? Aku perlu kepastian." Widya mendongak menatap lekat wajah suaminya.
"Mungkin akhir pekan ini. Sepertinya aku akan bisa meluangkan waktu untuk menemanimu berjalan-jalan dan mengunjungi orang tuamu di kota. Pastinya kakimu sudah agak membaik saat itu."
"Benarkah? Kamu janji?" Matanya berbinar membayangkan gambaran dirinya bersenang-senang menghibur diri di kota dengan berbelanja berbagai macam hal di Mall.
"Ya, aku janji." Radit membalas senyumannya. Melangkah mundur kembali, dia berpamitan untuk kedua kalinya. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Nggak perlu mengantarkan kepergianku, kamu beristirahatlah yang cukup."
Sebelum keluar kamar, Radit menoleh dari balik bahunya menatap Widya yang masih tersenyum memandangnya. "Kalau kamu lapar, aku sudah menyiapkan makanan untukmu dalam tudung meja makan di dapur."
__ADS_1
Widya hanya menganggukkan kepala mengiyakan, kemudian membaringkan tubuhnya di kasur saat Radit menutup pintu kamarnya. Kegirangan oleh janji suaminya itu, ia memukul-mukul kasur dengan kedua tangannya. Ia sangat bahagia karena sebentar lagi ia bisa menghirup udara kota yang sangat dirindukannya. Hampir saja ia membenturkan kakinya yang terkilir saat ingin menggoyangkannya di pinggir ranjang.
Syukurlah, ingatan tentang kakinya yang terluka, menghentikan kelakuannya yang bisa saja membuat suaminya membatalkan janjinya karena ia membuat kakinya bertambah sakit lagi.