Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Terkuak


__ADS_3

Menyusuri jalan setapak tanpa arah, Radit kembali merenungkan kembali nasehat Mila tadi kepadanya. Kalau dipikirkan baik-baik, apa yang dikatakan temannya itu ada benarnya juga. Sebenarnya yang mengakibatkan kekacauan hari ini adalah dirinya, bukan Widya. Mungkin ia memang Tuan Maha Benar, seperti yang selama ini dikatakan Widya padanya.


Sekarang setelah menyadari kesalahannya, Radit berjanji kepada dirinya sendiri akan meminta maaf pada Widya jika nanti mereka bertemu. Yang harus dilakukannya sekarang hanyalah segera menemukan keberadaan Widya. Terlintas dipikirannya kalau Widya berada di rumah kedua orang tuanya. Dan jika itu memang benar, membayangkan Widya seorang diri berjalan saat pagi buta untuk mencari jalan pergi ke kota, sungguh gambaran yang sangat menakutkan. Karena bisa saja di tengah perjalanannya dia bertemu dengan orang jahat, seperti saat dulu dia diganggu oleh kedua pria ketika pulang sendiri dari peternakannya.


Menepis bayangan mengerikan itu, Radit dengan tergesa-gesa mengambil ponsel dari saku celananya untuk menghubungi orang tua Widya, berharap Widya memang benar ada di sana seperti dugaannya. Walaupun sejujurnya jika Radit pikirkan baik-baik, sangatlah aneh jika mertuanya tidak menghubunginya sama sekali kalau Widya memang benar mengunjungi mereka di kota. Sayangnya, sekarang ini pikiran Radit dipenuhi bayangan-bayangan tak menyenangkan sehingga dirinya tidak bisa berpikir dengan jernih. Jarinya terasa kebas saat mencari kontak Ayah Mertuanya dari ponsel.


Sebelum Radit sempat menekan tombol "Memanggil" dari ponselnya, seorang pria yang sudah cukup berumur menyapanya. Membalas sapaan itu balik, ia berusaha bersikap penuh kesabaran saat pria tua yang dikenalnya sebagai Pak Budi mengajaknya mengobrol. Ketika kesabarannya mulai habis dan ingin mengakhiri pembicaraan basa-basi tak penting itu saat itu juga, Pak Budi menyampaikan sesuatu yang mengagetkannya.


"Kamu mau menjemput istrimu ya?"


"Oh?" seru Radit, wajahnya menampilkan ekspresi kebingungan.


"Kelihatannya istrimu tidak sadar kalau tidurnya kelamaan sampai harus membuatmu menjemputnya begini," lanjutnya terkekeh, tidak menyadari kebingungan Radit atas informasi yang diberitahukannya.


"Tidur?" tanya Radit, makin dibuat kebingungan.


"Iya, tidur. Kelihatannya membaca buku membuatnya mengantuk, mungkin karena itulah sekarang dia tertidur pulas di gudang buku seorang diri."


"Gudang buku," gumam Radit. "Terima kasih, Pak Budi, aku memang berniat menjemputnya."


Setelah menyampaikan ucapan terima kasihnya, Radit langsung pergi meninggalkan Pak Budi dengan langkah setengah berlari. Jadi selama ini dia berada di sana, ia sungguh tidak menyangkanya. Akhirnya dia sekarang sudah tahu di mana keberadaan Widya selama ini, leganya dalam hati. Tetapi, kenapa dari semua tempat dia harus bersembunyi di gudang buku. Terlebih dia berada di sana semenjak subuh, apa dia ada makan? Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya dan Radit memutuskan akan menanyakan semua hal itu saat ia bertemu dengan Widya nanti.


Dalam perjalanannya, Radit tidak sengaja bertemu dengan Gilang, yang sedang berseri-seri memandangi layar ponselnya. Mungkinkah dia sedang melihat foto gadis yang ditemuinya di gudang buku dulu, pikir Radit. Melihat senyumnya yang begitu lebar, ia bisa menebak jika dugaannya pasti benar.


Menyapa temannya yang masih fokus memandangi layar ponselnya, Radit bingung saat Gilang mendongak menatapnya dengan ekspresi kaget bercampur ketakutan, seolah-olah dia ketahuan melakukan sesuatu yang tidak benar. Ponselnya terlepas dari genggamannya saat kakinya melangkah mundur selangkah dari Radit. Beruntunglah temannya itu, sebab Radit memiliki refleks cepat sehingga ponselnya bisa tertangkap olehnya dan tidak terjatuh menghantam ke tanah yang berbatu.


"Hampir saja layar ponselmu ini retak, berterima kasihlah pada temanmu yang punya refleks cepat ini." Radit membalikkan ponsel Gilang untuk melihat apa yang ada di layar ponselnya. "Sebenarnya apa sih yang kamu lihat sampai segitu kagetnya ku...."

__ADS_1


Radit tidak mampu menyelesaikan kata-katanya saat melihat ke layar ponsel Gilang. Lidahnya terasa kelu saat memandangi potret seorang perempuan yang sangat dia kenali di layar ponsel milik temannya itu. Dikuceknya kedua matanya untuk memastikan kalau sekarang ini dia tidak salah lihat apa yang ada di ponsel temannya itu.


Tangan Gilang terjulur, mencoba mengambil ponselnya dari tangan Radit. "Kembalikan handphoneku!"


Menghindar cepat, Radit mengangkat ponsel itu menjauh dari jangkauan Gilang. Menyipitkan matanya memandangi Gilang, rahang Radit begitu kaku.


"Jelaskan padaku, apa maksudmu memotret istriku seperti ini?" Melirik kembali pada foto Widya yang sedang tertidur di layar ponsel temannya, Radit menggertakkan giginya. "Apa selama ini perempuan yang kamu ceritakan pernah kamu temui di gudang buku itu adalah Widya, istriku?"


Bergerak gelisah, Gilang terdiam membeku di tempatnya dengan ekpresi merasa bersalah menatap Radit.


"Jawab aku!" bentak Radit.


Beberapa orang yang baru pulang dari pekerjaannya tersentak mendengar teriakan Radit saat mereka berjalan melewatinya. Menarik napas dalam-dalam, Radit memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.


"Nggak perlu menghiraukan kami, kami hanya sedang bergurau saja," ujar Radit, mengibaskan tangannya santai.


Kesal oleh sikap Gilang yang merampas ponsel itu dari tangannya, Radit dengan sengaja meremas lengan temannya dengan sekuat tenaga sembari tersenyum ramah pada orang-orang yang memperhatikan mereka dengan saksama.


Tidak ingin menarik perhatian lebih banyak lagi, Radit memutuskan untuk mengakhiri perselisihannya dengan Gilang untuk sementara waktu.


"Pembicaraan kita berdua belum berakhir, besok aku akan membicarakan hal ini lagi denganmu," bisik Radit, sengaja berhenti di sampingnya saat berjalan melewatinya seraya menepuk bahunya.


Mengangguk kaku, Gilang balas menepuk bahu Radit kemudian langsung berjalan pergi meninggalkannya.


Melemaskan otot-otot wajahnya yang terasa kaku, Radit kembali berjalan menuju gudang buku sambil menyapa para warga di sekitarnya dengan senyuman ramah di wajahnya.


Tidak berapa lama kemudian, Radit sudah sampai di gudang buku, tempat Widya bersembunyi selama ini. Berdiri dalam diam di ambang pintu, ia memandangi sosok Widya yang masih tertidur lelap. Beberapa buku yang tergelatak di atas meja terbenam oleh rambutnya, yang terlihat begitu berkilauan oleh sinar matahari terbenam yang menyeruak masuk dari jendela. Kedua tangannya yang ditumpukan menjadi alas tempat kepalanya berbaring. Sungguh pemandangan yang indah. Pantas saja Gilang mengabdikan penampakan menakjubkan istrinya ini dalam kamera ponselnya.

__ADS_1


Memberengut kesal, suasana hati Radit kembali muram mengingat temannya itu masih menyimpan foto Widya di ponselnya. Mungkin karena itulah, saat ia membangunkan Widya, dia mengguncang tubuhnya agak terlalu kuat sehingga Widya terlonjak kaget saat bangun dari tidurnya.


Menyentuh pelipisnya, Widya mengerang kesakitan saat menengandah memandang Radit. "Apa kamu nggak bisa membangunkanku lebih lembut lagi? Kepalaku terasa berputar-putar."


"Maafkan aku, aku nggak bermaksud mengguncangmu sekuat itu. Aku tadi lupa mengontrol tenagaku." Radit menolehkan kepalanya memandangi matahari yang sudah mulai tenggelam di langit. "Ayo kita pulang, hari sudah mau malam."


Menoleh ke arah jendela, Widya berseru kaget, "Ya ampun! Cepat sekali hari berlalu, aku nggak tahu kalau aku akan tidur selama ini." Menengok pada Radit, Widya mengeryitkan alisnya. "Omong-omong kenapa kamu ada di sini?"


"Kenapa kamu bertanya? Tentu saja aku ke sini untuk menjemputmu."


"Menjemputku? Tanpa kamu jemput pun, aku bisa pulang sendiri."


"Omong kosong! Kamu ke sini kan karena berharap aku akan menjemputmu," sahut Radit, berjalan mondar-mandir mencari sesuatu.


"Kamu lagi cari apa? Apa kamu lagi cari buku bacaan untukmu?" tanya Widya, menatap Radit heran.


"Aku ini bukan kutu buku sepertimu," jawab Radit, masih sibuk berjalan ke sana kemari. "Di mana kamu meletakkan kopermu, kenapa aku nggak melihatnya?"


"Koper?"


"Iya, koper."


"Memangnya ada apa dengan koperku?"


"Lho bukannya kamu membawa kopermu?" tanya Radit, makin dibuat kebingungan oleh sikap bingung Widya.


"Untuk apa aku membawa koperku?" Beranjak berdiri, Widya mengamati wajah Radit dengan ekspresi wajah yang begitu serius. "Aku kan cuma mau membaca, bukannya mau kabur."

__ADS_1


__ADS_2