Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Pembalasan


__ADS_3

Bersandar di balik pintu yang tertutup, seringai puas terbentuk di bibir Widya. Mengintip dari balik tirai jendela samping pintu, ia bisa melihat Radit berjalan terburu-buru mengabaikan siulan orang-orang di jalanan yang menggodanya. Tidak diragukan lagi, ia berhasil membuat suaminya itu jadi bahan godaan.


Salah suaminya sendiri lebih mementingkan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan istrinya sendiri. Sekarang biar dia rasakan akibat telah membuat Widya marah besar. Itulah balasan yang didapatkannya karena menolak permintaannya untuk pergi beberapa hari saja dari desa terpencil ini.


Memang apa salahnya pergi berbulan madu untuk menyenangkan dirinya, ia 'kan cuma meminta waktu beberapa hari saja dari waktunya yang selalu dihabiskan membantu penduduk di desa ini. Sikap sok baiknya itu hanya membuat Radit terlihat seperti seorang budak. Nanti jika ada kesempatan ia akan mengatakan hal itu langsung pada suaminya.


Sesuatu tiba-tiba terbesit dalam benaknya—seperti meteor yang tiba-tiba jatuh dari langit—Widya baru ingat ia lupa bertanya soal obrolan suaminya dengan Pak Sugeng malam kemarin. Inilah akibat terlalu banyak hal menyebalkan yang terjadi padanya saat tiba di rumah barunya ini. Hal penting terlupakan begitu saja dari pikirannya. Kalau begini, nanti setelah suaminya pulang, ia akan menanyakan hal itu langsung. Semoga saja kali ini ia tidak lupa lagi.


Berjalan ke arah kamarnya, Widya berniat merapikan semua barangnya yang sudah dipindahkan dari kamar Radit untuk mengisi waktu luangnya sebelum suaminya pulang nanti sore. Akan tetapi, suara kerocongan dari perut Widya memberitahukan padanya, kalau saat ini ia sangat kelaparan. Sarapan paginya yang hanya diisi dengan beberapa potong roti tidak mengenyangkannya sama sekali.


Memutar badan di depan pintu kamarnya, Widya berbalik arah pergi ke dapur. Dicarinya sesuatu yang bisa dimakan untuk memuaskan rasa laparnya, tapi nihil, tidak ada yang bisa dimakan ataupun sesuatu yang bisa dimasak. Pantas saja tadi pagi Radit hanya menyiapkan roti di meja makan.


Widya pikir suami menjengkelkannya itu berharap ia akan memasakkan sesuatu untuknya. Ternyata di rumah ini tidak ada satu pun bahan makanan yang bisa diolah menjadi makanan, bahkan telor pun tidak ada. Kulkasnya hanya berisi botol minuman, dan lemari dapurnya hanya berisi berbagai camilan kesukaannnya, yang pasti telah dibeli oleh ibunya.


Sebuah ide terbesit dalam benaknya, berjalan kembali ke kamarnya, Widya mengambil jaketnya dari atas kasur, bersiap pergi ke rumah neneknya untuk menumpang makan di sana. Pastinya jam segini neneknya sedang menyiapkan makan siang, jadi, tak ada salahnya jika ia ikut bergabung.


°°


Baru saja bersiap menyantap makanan yang sudah disajikannya di meja makan, suara ketukan di pintu menghentikan sendok Nenek Aya yang sudah siap masuk ke dalam mulutnya. Siapa gerangan yang datang mengganggu jam makan siangnya ini.


Meletakkan sendoknya kembali di atas piring, Nenek Aya mendorong kursinya ke belakang lalu pergi membukakan pintu bagi tamu yang tak diundang itu.


Wajah yang sangat dikenalinya tersenyum riang padanya sambil berjalan masuk sebelum Nenek Aya mempersilakannya masuk. Cucunya yang sekarang sudah berkeluarga itu langsung berjalan ke arah dapur, mengambil piring dan sendok dari rak piring lalu duduk di kursi makan. Usai berdoa, ia segera menyantap makanannya.


“Ya ampun, Widya, pelan-pelan makannya. Apa kamu belum makan selama seharian ini?” tanya Nenek Aya, bingung dengan sikap cucunya yang terlihat kelaparan.

__ADS_1


“Maafkan aku, Nek. Aku sangat kelaparan. Nenek juga makanlah, nggak perlu menghiraukanku,” ucap Widya selesai menelan makanannya. “Di rumahku tak ada makanan apa pun yang bisa dimakan, selain camilan yang tak bisa mengenyangkan sama sekali.”


“Kamu 'kan bisa pergi berbelanja bersama Radit ke pasar untuk membeli bahan makanan,” saran Nenek Aya.


“Kami tak punya waktu. Hari ini saja kami sibuk berbenah, mungkin besok. Untuk saat ini izinkan aku makan di sini dulu, Nek.”


"Baiklah. Makanlah sebanyak yang kamu mau, kebetulan nenek banyak memasak hari ini.”


Dengan lahap Widya menyantap semua makanan di meja makan itu. Widya sengaja makan banyak agar nanti saat pulang ia tidak perlu makan lagi. Selesai makan ia diam sejenak di kursinya, perutnya terasa begitu penuh, kalau ia berdiri sekarang, mungkin ia akan muntah.


Menyentuh tangan neneknya yang mau beres-beres di meja makan, Widya menggelengkan kepalanya. “Biar aku saja yang membereskan dan mencuci piring, Nek.”


“Nggak perlu. Nenek bisa membereskannya seorang diri,” tolak Nenek Aya, mengangkut semua peralatan makan yang kotor ke tempat cuci piring.


“Iya, iya, nenek mengerti. Kalau begitu, nenek nonton TV saja.”


Di lain tempat, Radit tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya membantu membangun kandang ayam Pak Lukman. Setiap orang yang melihatnya selalu menggodanya mengenai kejadian siang tadi. Istri pembangkangnya sudah berhasil membuat ia jadi bahan lelucon tentang suami yang tega meninggalkan istrinya yang cantik seorang diri di rumah hanya demi membantu Pak Lukman membangun kandang ayamnya.


“Kamu nggak perlu membantu Bapak, Dit. Kamu ini masih pengantin baru, masa tega meninggalkan istrimu sendirian di rumah. Dia pasti sedang kesepian sekarang,” ujar Pak Lukman, keringat membasahi bajunya karena sibuk memotong kayu.


“Aku sudah berjanji akan membantu Bapak. Kalau aku nggak datang siapa yang akan membantu Bapak menyelesaikan semua pekerjaan ini?" tanya Radit, mengambil gergaji dari tangan Pak Lukman dan menggantikan posisinya memotong kayu.


“Bapak jadi nggak enak sama istrimu karena sudah mengambilmu darinya.”


“Bapak ini ada-ada saja, istriku nggak akan kesepian karena kutinggalkan sebentar. Lagi pula, mungkin sekarang dia sedang mengobrol bersama teman atau keluarganya.”

__ADS_1


“Syukurlah kalau memang begitu,” lega Pak Lukman.


***


Matahari hampir tenggelam di langit saat Radit pulang ke rumah. Ia jadi lupa waktu saat mengobrol panjang lebar dengan Pak Lukman di rumahnya, setelah beristirahat sejenak membangun kandang ayam Pak Lukman yang hampir selesai.


Mengetuk pintu, Radit menunggu istrinya membukakan pintu untuknya. Semenit menunggu, Radit mengetuk kembali sambil memanggil-manggil nama istrinya berulang kali, tapi tetap tidak ada jawaban. Apa yang sedang dilakukan istrinya itu? Apa dia sedang tidur, ataukah sedang mandi? Merogoh ke dalam kantong celananya, Radit mengeluarkan kunci cadangan rumah yang dibawanya. Untung saja ia kepikiran mengambil kunci ini saat mencari kunci cadangan kamar istrinya.


Setelah membuka pintu, Radit menyalakan lampu rumahnya yang gelap gulita. Radit memanggil istrinya lagi sambil berjalan ke kamarnya. Pintu kamarnya dalam keadaan terbuka dan di sana tidak ada siapa pun. Mencari ke sana kemari ia tetap tidak menemukan keberadaan istrinya. Ini sudah hampir malam, ke mana sebenarnya Widya pergi sampai lupa waktu begini.


Tidak mungkin istrinya itu kabur. Karena semua pakaiannya masih tergeletak tak tersusun di atas kasurnya. Jadi, apa yang sedang dilakukannya di luar sana?


°°


Terlalu asyik mengobrol dengan neneknya tentang berbagai macam hal, Widya tidak memperhatikan hari sudah mulai gelap. Pasti sekarang suaminya itu sudah ada di rumah, menunggu dirinya dengan kesal di depan pintu rumah yang terkunci.


Mengeluarkan kunci dari kantong jaketnya, ia kaget karena pintunya tak terkunci.


Ada apa ini? Aku ingat dengan jelas sudah mengunci pintunya sebelum pergi tadi. Apa di dalam rumahnya ada maling?


Mengintip dari jendela yang tertutup tirai, ia bisa melihat dari celah tirai jendela jika di dalam rumahnya lampu dalam keadaan menyala. Bahkan setelah ia perhatikan lampu terasnya pun hidup, padahal ia tidak pernah menyalakan lampunya sama sekali.


Pintu rumah tiba-tiba terbuka, dan suara berat bertanya di sampingnya, "Apa yang sedang kamu lakukan di situ?"


Menoleh ke samping, ia terduduk lemas, kaget melihat suaminya berdiri di sana menatapnya dengan raut kesal.

__ADS_1


__ADS_2