
Dengan perasaan tidak sabar Widya melangkah terburu-buru meninggalkan lantai 2 di Mall itu. Ia benar-benar tidak sanggup menghirup napas di tempat yang sama dengan lelaki brengsek di masa lalunya itu. Karena terlalu sibuk dengan perasaan amarah yang menggerogoti sekujur tubuhnya, Widya tidak sadar kalau sejak tadi, ia bisa dibilang seperti orang yang memaksa Radit mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa.
Menenangkan saraf-sarafnya yang terasa tertarik, Widya mencoba memperlambat langkah kakinya agar tidak terlihat seperti orang dikejar setan oleh orang lain. Ia juga mengendurkan gandengan tangannya di lengan Radit, ia berusaha sebaik mungkin tidak memperlihatkan emosinya tertumpah ruah secara jelas oleh suaminya itu. Semoga saja suaminya yang pengertian itu tidak mengungkit soal pertemuannya dengan Erlangga tadi.
"Sepertinya kalian memiliki sejarah yang sangat buruk di sekolah dulu," ujar Radit datar, pura-pura tidak terlalu antusias membahas pertemuan Widya dengan teman lamanya tadi.
Sungguh harapan yang sia-sia menginginkan hal itu dari suaminya, yang ingin tahu segalanya ini.
"Aku nggak ingin membicarakannya," jawab Widya ketus.
"Aku bisa melihatnya."
"Kalau kamu bisa melihatnya, kenapa kamu malah memulai pembicaraan menjengkelkan ini?"
"Cuma ingin saja. Mungkin saja 'kan kamu tiba-tiba berubah pikiran, dan ingin menceritakan soal hubungan buruk kalian padaku," sahut Radit, mengangkat bahunya.
"Kami nggak memiliki hubungan apa pun, hanya sebatas kenalan di sekolah saja," ucap Widya kaku.
"Kenalan? Rasanya kalian lebih dari kenalan," ujar Radit tak percaya.
Kali ini ucapannya itu mendapatkan hunjaman mematikan dari kilatan mata Widya.
"Baiklah, baiklah, aku nggak akan membicarakan si brengsek itu lagi," tepuk Radit di punggung tangan Widya yang ada dalam gandengan tangannya. "Omong-omong, ternyata selama ini dugaanku benar, kamu memang nggak memiliki teman."
"Bukannya aku nggak memiliki teman, tapi aku yang nggak ingin berteman dengan para munafik itu," sela Widya kesal.
"Sama saja."
"Beda!" seru Widya, tidak mau mengalah.
Selama beberapa saat mereka saling beradu mulut, hingga akhirnya sudut mata Widya menangkap sesosok lelaki yang tidak jauh darinya.
"Ya ampun, lihat!" seru Widya, menyenggol Radit agar melihat ke arah yang dia tuju. "Aku nggak menyangka akan bertemu mantanku itu di sini. Bagaimana kalau kita menghampirinya? Sudah lama sekali aku nggak bertemu dengannya."
Sembari mendesah kagum, Widya menceritakan kisah cintanya dengan lelaki itu di masa lalu pada Radit.
"Apa kamu yakin dia mantanmu? Rasanya itu mustahil, dia terlalu sempurna untukmu." Radit menatap tak percaya pada Widya.
__ADS_1
"Tentu saja itu benar! Kalau kamu nggak percaya, kita bisa mendatanginya," tantang Widya, menarik Radit bersamanya untuk menghampiri lelaki yang terlihat seperti model itu.
Melirik sekilas pada jam tangannya, Radit malah menarik balik Widya. Dia membawanya ke arah pintu keluar Mall.
"Waktunya pulang! Aku nggak mau kita menghabiskan waktu di sini hanya untuk mengobrol dengan para kenalan sialanmu atau mantan sempurnamu itu," gerutu Radit, melangkah dengan langkah lebar.
"Pelan-pelan dong, Dit! Aku bisa kehabisan napas kalau mengikuti langkah lebarmu itu," protes Widya, memukul-mukul tangan Radit yang menggenggamnya. "Kalau kamu nggak mau mengobrol, ya sudah kita kembali berbelanja saja. Lagipula aku masih belum selesai belanjanya."
Menghentikan langkahnya secara mendadak, Radit bergeming di tempatnya sehingga membuat Widya menubruknya dari belakang. Menengok dari balik bahunya, dia menatap Widya dengan wajah kaku.
"Lakukan apa yang kamu inginkan! Tapi, jangan suruh aku menenteng tas belanjaanmu ini lagi."
Melepaskan semua tas belanjaan yang menggelantung di kedua lengannya, Widya menyadari maksud Radit yang berniat memberikan semua tas belanja itu padanya, kemudian meninggalkannya seorang diri berbelanja di Mall. Secepat mungkin dihentikannya niat Radit tersebut sembari membujuknya agar tidak merajuk. Lalu ia dengan hati-hati meletakkan kembali tas belanjaan itu ke lengan suaminya.
Meski enggan, akhirnya Widya menyerah juga untuk kembali melanjutkan aktivitas berbelanjanya, dan mengikuti Radit untuk pulang ke rumah mereka. Kalau tahu begini, lebih baik aku tadi nggak berbohong padanya mengenai mantanku itu. Mantan? Yang benar saja! Widya saja baru pertama kali melihat lelaki itu. Kebohongan itu ia lakukan untuk menghentikan ocehan menyebalkan dari suaminya ini. Widya tidak menduga kalau kebohongannya itu akan membuat Radit cemburu berat seperti ini.
Walaupun ia agak kesal karena tidak bisa berbelanja lagi, tapi setidaknya ia agak terhibur dengan aksi merajuk suami pencemburunya ini. Tampangnya yang kaku sekarang ini sungguh pemandangan yang sangat menghibur.
**
Sesampainya di rumah baru mereka, yang dibelikan oleh Ayahnya sebagai hadiah pernikahan untuk Widya, ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya melihat betapa besarnya rumah yang belikan oleh Ayahnya yang sangat baik hati itu. Rumahnya memang tidak sebesar dan semewah rumah orang tuanya, namun ini jauh lebih luas daripada rumah mereka di desa.
Berlari-lari penuh semangat ke seluruh penjuru rumah, Widya mendapati kalau rumahnya ini sangatlah bersih dan rapi. Sepertinya orang tuanya menyuruh seseorang supaya selalu membersihkannya ketika Widya tidak ada di sini.
Radit yang sedari tadi memperhatikannya yang meloncat-loncat kegirangan ke sana kemari, akhirnya buka suara saat dia kembali melirik jam tangannya. Dia memperingatkan Widya kalau sudah waktunya bagi mereka untuk tidur. Membuka salah satu pintu kamar, dia berniat masuk untuk beristirahat.
"Tunggu dulu!" tarik Widya, menghentikan Radit masuk ke dalam kamar.
"Ada apa lagi?" keluhnya, menghela napas gusar. "Aku sudah terlalu lelah untuk menemanimu berkeliling rumah ini. Kamu bisa berkeliling besok, sekarang adalah waktunya untuk tidur."
"Aku bukannya ingin berkeliling lagi, aku cuma ingin mengatakan padamu kalau ini kamarku. Kamarmu ada di sana!" tunjuk Widya ke arah kamar yang berada di ujung dekat dapur.
"Omong kosong apa lagi yang kamu bicarakan ini?" tanya Radit, tidak mempercayai apa yang didengarnya. "Bukankah tadi malam di rumah orang tuamu kita sudah menyepakati kalau mulai sekarang kita akan tidur di kamar yang sama?"
"Yang berbicara omong kosong di sini justru kamu!" hardik Widya, menusukkan jarinya di dada Radit. "Sejak kapan kita menyepakati hal itu? Rasanya aku nggak pernah mendengarkan kesepakatan itu sama sekali tadi malam."
"Kita sudah menyepakatinya secara nggak langsung. Suka atau nggak sekarang kita satu kamar, di sini atau pun di mana kita berada," tukas Radit dengan nada tidak sabar. "Nah, kalau kamu sudah mengerti, sekarang ayo tidur!"
__ADS_1
"Cuma tidur?"
"Memangnya kamu mau melakukan hal lain lagi selain tidur?"
Menyipitkan matanya, Widya menatap Radit curiga. "Kamu yakin? Rasanya mustahil kamu hanya akan tidur saja, tanpa ada maksud terselubung. Kamu pasti nanti akan mencari-cari kesempatan untuk menyerangku lagi, 'kan?"
"Dari nada suaramu sepertinya kamu berharap aku melakukan hal itu."
"Jangan konyol!"
Menghembuskan napas frustasi, Radit bersandar malas di kusen pintu kamar.
"Dengarkan baik-baik, sebelum aku kehilangan kesabaranku padamu, Istriku sayang," ucap Radit, menatap tajam pada Widya. "Apa kamu sudah lupa kalau aku sudah berjanji akan menunggumu, entah itu kapan, sampai kamu siap menerimaku sebagai suamimu sepenuhnya? Jadi buang jauh-jauh imajinasi liarmu itu, sebelum aku melemparmu ke kasur dan melakukan sesuatu seperti yang kamu katakan tadi."
"Baiklah aku mengerti," angguk Widya, memahami sepenuhnya apa yang disampaikan oleh Radit. "Tapi, untuk malam ini saja biarkan aku tidur sendiri."
"Katanya tadi kamu sudah mengerti. Lalu kenapa sekarang kamu malah ingin tidur sendiri? Aku benar-benar nggak mengerti dengan arah jalan pikiranmu itu."
"Aku memang sudah memahami maksudmu, hanya saja untuk malam ini aku ingin tidur di kasur yang luas seorang diri," pinta Widya, memohon manja pada Radit. "Setidaknya aku ingin merasakan bagaimana rasanya tidur di kamar paling besar. Kamu 'kan sudah sering merasakannya di rumah kita yang ada di desa. Jadi sekarang giliranku untuk merasakannya."
"Kamu kekanakan sekali. Lagian aku punya kamar paling besar di desa bukan karena kemauanku, tapi itu semua karena tingkahmu yang memancing amarahku dengan melempar barang-barangku seperti sampah," protes Radit, tidak ingin disalahkan atas pengaturan kamar, yang sama sekali bukan salahnya.
"Ya sudahlah, nggak penting yang salah di sini kamu atau aku," ujar Widya, menepiskan tangannya di udara. "Intinya malam ini aku ingin tidur di kamar yang lebih besar seorang diri. Kalau kamu berkenan mengabulkan permohonan istri cantikmu ini, bisakah kamu sekarang menyingkir dari situ?"
Menuruti kemauan Widya tanpa memprotes lagi, Radit membiarkannya masuk ke dalam kamar itu seorang diri tanpa dirinya. Akan tetapi, sebelum Widya sempat menutup pintu kamarnya, salah satu tangan Radit tiba-tiba menahan pinggir pintu.
Melengkungkan senyum lebar, Radit meminta pada Widya agar memberikan kecupan selamat malam padanya. Tidak terlalu keberatan dengan permohonan itu, Widya membuka kembali pintu kamarnya dan berniat mengecup pipi suaminya itu. Seolah bisa menduganya, Radit memalingkan wajahnya tepat ketika Widya ingin mengecup pipinya.
Terlalu terkejut, Widya memundurkan tubuhnya dengan cepat saat bibir mereka saling bersentuhan. Meskipun itu terjadi sangat singkat, kehangatan bibir Radit masih tertinggal di bibirnya.
"Bukan kecupan di pipi yang aku inginkan," ujarnya, menyeringai tak tahu malu. "Tapi setelah aku pikirkan baik-baik, rasanya kecupan seperti itu masih kurang. Bagaimana kalau kita melakukan yang lebih mesra lagi?"
"Dasar nggak tahu malu! Kalau kita melakukan lebih dari itu, aku nggak yakin apa aku bisa menghentikan diriku juga," gumam Widya.
Usai mengutarakan pemikirannya itu, Widya dengan cepat menutup pintu kamarnya. Akhirnya ia menyampaikannya juga! Sekarang Radit mengetahuinya. Tidak ada lagi yang disembunyikannya. Sejak malam kemarin, ia sudah lebih dari siap untuk menjadi istri sesungguhnya bagi suaminya itu, namun bukan sekarang. Malam ini ia memang berkata jujur saat bilang ingin tidur sendiri. Hanya malam ini saja, Widya ingin merasakan bagaimana rasanya tidur di kasur yang luas seorang diri.
Ia tertawa cekikikan saat Radit mengetuk pintu kamarnya berulang kali, dan memintanya menjelaskan apa maksudnya tadi. Mengabaikan permintaan itu, Widya menyuruh suaminya itu tidak berisik agar tidak membangunkan tetangga di sekitar rumah mereka.
__ADS_1
Seakan baru sadar oleh kegaduhan yang dibuatnya, akhirnya Radit berhenti menggedor pintu kamarnya sembari menggerutu tak jelas di balik pintu kamarnya. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki Radit meninggalkan depan pintu kamarnya.