Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Baku Hantam


__ADS_3

Sedang asyiknya dengan pikirannya memikirkan bersenang-senang bersama Mila di kebun buahnya, Widya tidak menyadari jika ada kedua orang perempuan berjalan mendekat untuk menghadang di hadapannya. Menelengkan kepalanya, ia mengamati kedua perempuan asing itu, sekali melihat ia langsung tahu jika keduanya pastilah warga Desa Manju juga, hanya saja ia tidak bisa memikirkan apa yang membuat kedua perempuan itu menghalangi jalannya.


Kedua perempuan itu menatap Widya begitu sinisnya, tatapan matanya mengamati Widya lambat-lambat, setelahnya keduanya melemparkan tatapan merendahkan padanya. Terutama perempuan jangkung bertubuh kurus dengan dandanan menor di wajahnya, kedua matanya yang sudah besar semakin besar oleh maskara yang dikenakannya, persis seperti kuntilanak. Berbeda jauh dari perempuan di sebelahnya, dia memang tidak berdandan berlebihan seperti temannya, tapi dia mengenakan perhiasan begitu mencolok di tubuhnya, seolah dia ingin menunjukkan jika dirinya sangatlah kaya dengan anting-anting serta gelang besar yang dikenakannya.


Yang lebih membuat Widya tidak habis pikir adalah pakaian ketat sekaligus agak minim yang dikenakan kedua perempuan itu. Dengan memperlihatkan bentuk tubuh mereka seperti itu, apa mereka berharap semua lelaki akan menyukai penampilan konyol mereka berdua itu? Tak tahu mengapa ia juga merasa kedua perempuan itu sengaja berpakaian agak minim seperti itu untuk memamerkannya pada dirinya.


"Bisakah kalian berdua menyingkir dari hadapanku?" pinta Widya, memberengut kesal pada mereka berdua yang selalu bergeser setiap kali ia juga bergeser.


Dengan sikap tubuh bersedekap, perempuan menor itu mencebik jijik pada Widya. "Semua hal yang dikatakan orang-orang mengenaimu itu ternyata benar ya, kamu ini memang selalu merasa dirimu lebih sempurna dari orang lain. Apa kamu pikir karena kamu mendapatkan Radit, kamu merasa dirimu sudah di atas langit?"


Mengangguk setuju, perempuan berpenampikan heboh itu ikut mencibir Widya juga. "Hanya karena kamu dari kota dan berparas cantik, kamu sudah merasa dirimu hebat gitu? Apa bagusnya sih dari cewek pendek ini sampai membuat Radit mau menikahinya, jangan-jangan kamu pakai guna-guna ya?"


Keduanya tertawa senang oleh ejekan itu.


"Kamu benar juga, dilihat dari mana pun cewek pendek ini sangat nggak pantas bersanding dengan Radit. Sungguh Radit yang malang harus terperangkap bersama monster mengerikan ini."


"Kasihan Radit kena cacian juga karena kelakuan tak beradap cewek hina ini."


Menarik napas dalam-dalam, Widya menahan rasa amarahnya yang hampir meledak saat itu juga. Padahal ia sudah bertekad tidak akan menimbulkan permasalahan lagi, tetapi mendengar celotehan kurang ajar dari kedua perempuan itu membuat darahnya mendidih. Mengepalkan kedua tangannya, ia berupaya keras menahan dirinya agar tidak melayangkan tamparan keras di kedua wajah perempuan itu.

__ADS_1


"Apa kalian berdua sudah selesai mencelaku?" Widya menaikkan sebelah alisnya. "Aku nggak tahu dari mana asal mulanya para ondel-ondel seperti kalian berasal, tapi kuberitahukan pada kalian berdua, aku nggak ada punya banyak waktu untuk meladeni celotehan tak bermutu kalian."


Berjalan mendekat, Widya berhenti di samping kedua perempuan itu. "Satu hal lagi, yang bersikap sok sempurna di sini bukan aku, melainkan kalian berdua. Apa kalian punya cermin besar di rumah? Kalau punya, berkacalah dulu sebelum menghakimiku."


Tidak terima oleh sindiran itu, perempuan menor itu menyentak lengan Widya keras agar kembali menghadapnya.


"Berani-beraninya monster sepertimu mengataiku, dasar kamu perempuan hina," jeritnya keras, tangannya menarik lepas masker di dagu Widya. "Sok ngartis sekali kamu segala pakai masker, dasar perempuan sombong."


Mencampakkan kasar masker Widya ke tanah, kedua perempuan itu menginjak-injak maskernya berulang kali. Keduanya melempakan tatapan keji dan puas pada Widya yang berjongkok mengambil maskernya dari tanah. Menggenggam erat maskernya yang sudah kotor di telapak tangannya, Widya mendelik marah pada kedua perempuan itu.


Ia sudah tidak peduli lagi dengan Radit dan Ayah Mertuanya, dia tidak bisa lagi menahan dirinya dari rasa murka yang menggerogoti sekujur tubuhnya. Kedua perempuan kurang ajar itu harus mendapatkan ganjaran karena telah membangkitkan sisi brutal dari dalam dirinya. Kedua tangannya sudah gatal untuk mencabik-cabik mereka berdua.


Kaget oleh teriakan itu, keduanya mundur selangkah melihat Widya berubah menjadi ganas. Kilatan ketakutan terpancar dari kedua mata mereka, menengok ke kiri dan ke kanan, keduanya seolah berharap ada seseorang yang lewat membantu mereka dari rasa murka Widya yang tidak bisa dibendungnya lagi. Nyatanya tidak ada yang datang membantu, sebagian orang yang datang karena mendengar teriakan Widya tadi hanya menonton mereka dari kejauhan, seolah menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Bergerak maju, Widya menyentak keras rambut kedua perempuan itu. Menjerit kesakitan, keduanya juga balas menjambak rambut Widya sama kerasnya. Meskipun 2 lawan 1, ia tidak sedikit pun merasa takut, dirinya sudah terlanjur dirasuki rasa amarah yang begitu besar daripada ketakutan akan kalah melawan kedua perempuan itu.


Seruan seseorang terdengar di dekat Widya, yang tetap sibuk bergumul dengan kedua musuhnya. Mereka bertiga tidak ingin mengalah satu sama lain, aksi jambak-menjambak pun terus terjadi, rentetan sumpah serapah keluar dari mulut mereka bertiga.


"Kalian bertiga kumohon hentikan," ucap seseorang memohon sembari melerai mereka bertiga.

__ADS_1


Dari nada suaranya, Widya mengenali suara itu berasal dari temannya Mila.


"Aku nggak akan melepaskan mereka sebelum mereka meminta maaf padaku sambil berlutut," seru Widya lantang.


"Yang harusnya meminta maaf itu kamu, bukan kami, dasar kamu cewek gila!" sahut perempuan berpenampilan heboh itu.


"Berhentilah bertengkar, semua orang memperhatikan kalian," ujar Mila kembali memohon.


"Biarkan saja orang melihat!" seru mereka bertiga secara bersamaan.


Mengerahkan seluruh tenaganya, Mila mencoba memisahkan mereka bertiga dari pergumulan itu. Sayangnya, tindakan Mila itu hanya membuatnya didorong oleh salah satu dari perempuan itu sehingga dirinya terjungkal jatuh ke belakang. Mendeais marah melihat temannya terluka, Widya menancapkan kukunya kuat di lengan mereka. Pertengkaran itu pun menjadi lebih ganas lagi hingga tidak ada yang berani mendekat setelah melihat apa yang terjadi pada Mila.


Seseorang datang membantu Mila berdiri. "Makanya, dek, jangan ikut campur. Perkelahian antara perempuan seperti ini tidak bisa kamu selesaikan segampang itu." Matanya menatap ngeri melihat pergumulan di depannya. "Astaga, lihat saja mereka, kelakuan mereka persis seperti banteng beradu."


Membersihkan pasir dari tubuhnya, Mila menatap khawatir pada Widya yang telah diserang dua orang lebih besar darinya. Sejenak ia berpikir keras memikirkan seseorang yang bisa melerai pertengkaran itu.


"Ini nggak bisa dibiarkan, aku harus mencari bantuan."


Setelah mengucapkan itu, Mila berlari kencang menuju ke tempat peternakan Radit. Ini satu-satunya jalan keluar dari permasalahan itu, cuma Radit yang bisa membantu Widya dari kedua perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2