Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Kecurigaan


__ADS_3

Setelah selesai mendinginkan seluruh tubuhnya di kamar mandi, Radit segera mengeringkan tubuhnya. Saat memasang handuknya terdengar suara gaduh dari luar pintu kamar mandi. Bergegas keluar ia mendapati Widya sedang memasak sesuatu yang ia tak tahu apa itu sebab Widya begitu sibuk berkutat dengan masakannya sehingga tak menyadari jika Radit berjalan mendekatinya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Radit, meliukkan kepalanya untuk melihat apa yang dimasak Widya.


Tanpa menengok ke arahnya, Widya menjawab dengan nada tidak sabar. "Orang bodoh sekalipun tahu kalau sekarang ini aku sedang memasak."


"Aku tahu kamu sedang memasak, tapi siapa pun yang melihatmu akan mengira kamu sedang bertempur melawan seekor binatang buas melainkan hanya telor goreng," sahut Radit balas mengejek.


Mengibaskan rambutnya, Widya menolehkan kepalanya menghadap Radit jengkel. "Aku ini sedang tak ada waktu meladenimu berdebat. Kusarankan padamu, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini sebelum minyak goreng ini kulemparkan padamu."


"Lakukan saja, maka dengan begitu akan menjadi KDRT. Aku jadi tak sabar menantinya."


"Radit!" seru Widya semakin emosi.


"Baiklah, baiklah. Jangan marah begitu dong, hanya karena telor goreng doang."


Membantingkan spatulanya di samping kompor, Widya membalikkan badan sembari mengacakkan pinggang menghadapnya.


"Ini bukan hanya Telor Goreng Biasa, wahai Suamiku Yang Sok Tahu! Ini adalah telor pertama yang kumasak demi dirimu yang sangat menyebalkan." Mata Widya mendelik marah pada Radit.


"Oh!"


Radit tidak tahu harus berkata apa lagi, ia hanya bisa menyerukan pelan satu kata itu saja dari mulutnya atas pengakuan Widya yang mengejutkan.

__ADS_1


"Sekarang tinggalkan aku sendiri!" usir Widya, membalikkan badannya lagi untuk kembali melanjutkan pertempurannya dengan telor goreng buatannya. "Ah, sial! Telornya gosong. Kalau begini, aku harus mengulanginya lagi." Kilatan matanya yang menusuk kembali terarah pada Radit.


Radit hanya membalas dengan tersenyum canggung sambil meminta maaf. Lalu berjalan cepat ke arah kamarnya sebelum Widya menyemburkan luapan amarahnya lebih banyak lagi padanya. Menutup pintu kamarnya pelan, ia bersandar di pintu kamarnya sambil menghembuskan napas lega. Lebih lama lagi di sana bersama istrinya yang pemarah, maka ia juga akan menjadi gosong--seperti telor goreng tadi--akibat kobaran api yang menyala di mata Widya.


Di benaknya, sebenarnya ia bertanya-tanya apa yang merasuki Widya hingga memasakkannya telor goreng. Padahal dulu dia pernah berkata bahwa tak suka terkena cipratan minyak goreng. Jadi, tentu saja ini sangat aneh bagi Radit jika Widya bersedia memasakkan telor tanpa ia pinta.


Apa dia melakukan ini demi menebus kesalahannya siang ini?


Apa lelaki muda yang berkunjung siang ini ke rumahnya memiliki hubungan khusus dengan Widya di masa lalu? Itukah sebabnya dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya selama ini?


Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala Radit, dan semua pertanyaan itu tidak ada yang membuat dirinya senang sama sekali. Ia benar-benar tak menyukai isi pikirannya tentang maksud terselubung Widya memasakkan telor goreng untuknya. Hal itu sungguh membuat Radit jengkel pada dirinya sendiri karena menaruh curiga pada Widya hanya karena sebuah telor goreng.


Membuka lemarinya dengan tarikan yang sangat kasar, Radit terkejut saat lemarinya bergoyang oleh tarikannya. Ia tak sadar kalau tarikannya begitu kuat hingga hampir membuat dirinya tertimpa lemarinya sendiri. Kalau sampai hal itu terjadi, maka ia akan terlihat seperti orang bodoh di mata Widya karena melampiaskan amarahnya pada sebuah lemari pakaian.


Ketika selesai berpakaian dan merapikan dirinya, Radit segera keluar dari kamar. Ia sudah tak sabar menunggu jawaban Widya mengenai lelaki asing yang mengunjunginya hari ini. Dan, di sana di dekat meja makan berdiri Widya dengan lengkungan senyum cerah terukir di wajahnya yang cantik sembari menarikkan kursi untuknya di meja makan. Sepertinya suasana hati istrinya sudah membaik kembali, pikir Radit.


Senyuman cerah di wajah Widya memaksa Radit menuruti kemauannya, meskipun ia sangat canggung dengan situasi itu. Lagi pula ia tidak mau Widya marah lagi padanya.


Memaksakan sebuah senyuman di bibirnya, Radit duduk di kursi yang ditarikkan oleh Widya untuknya.


Setelah Radit duduk di kursi yang diinginkannya, Widya berlari kecil untuk duduk di kursi di seberangnya sambil memangku wajahnya dengan tangan. Lalu Widya menatapnya begitu intens di sana, matanya berbinar-binar menatap padanya, senyumannya juga tak pernah meninggalkan bibirnya. Dalam diam dia menanti Radit untuk memakan telor yang sudah disiapkannya di meja makan.


"Apa kamu nggak makan?" tanya Radit.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang. Makanlah! Nggak usah memikirkan diriku, aku bisa mengurus diriku sendiri," sahutnya ceria.


Melihat ke piringnya kembali, Radit mendorong piring itu menjauh darinya. Sontak saja Widya langsung menatapnya keheranan oleh penolakannya memakan telor yang sudah susah payah dimasakkannya demi Radit. Sekilas kilatan matanya terlihat terluka, tapi dengan cepat kilatan itu hilang seolah itu hanyalah khayalan Radit saja.


Menegapkan posisi duduknya di kursi, Widya menarik piring yang dijauhkan Radit tadi ke arahnya, dan bersiap menyantap makanan itu seorang diri.


"Jangan salah paham dulu." Menarik piring itu menjauh dari Widya, ia meletakkannya kembali ke tengah meja. "Aku akan memakannya setelah kamu menjawab pertanyaanku tadi."


Untuk sesaat Widya terlihat kebingungan oleh perkataan Radit, matanya mengerjap beberapa kali memikirkan pertanyaan apa yang dimaksud oleh Radit. Tak berapa lama kemudian, pemahaman terpancar dari matanya saat mengetahui apa maksud perkataannya barusan.


"Aku pikir kamu nggak sudi makan buatanku karena takut kuracuni. Ya ampun, bodohnya aku," tawanya kecil, memandang Radit malu. "Lelaki itu sepupuku. Aku nggak tahu apa yang kamu dengar dari orang lain sampai membuatmu begitu penasarannya dengan kedatangan sepupuku itu. Dia tadi siang datang kemari untuk memberikan hadiah pernikahan untukku sekalian mengunjungi nenekku juga."


"Sepupu?"


"Iya. 'Sepupu'. Memangnya dia siapa lagi? Mantanku? Kekasih gelapku? Ya nggak mungkinlah!" sahut Widya tergelak.


Menyipitkan matanya, Radit menatap Widya serius hingga tawanya berhenti. Tidak suka dengan tatapannya, Widya menaikkan sebelah alisnya, menunggu perkataan yang akan dilontarkan oleh Radit padanya.


"Kalau dia memang benar 'Sepupumu', lalu kenapa kalian harus berpelukan begitu mesranya?"


"Kami sudah lama sekali tak bertemu, jadi, saat aku menyambutnya, tiba-tiba saja Andre memelukku begitu eratnya. Sejak kecil kami memang sudah akrab, jadi, itu bukanlah hal yang aneh. Lagi pula aku langsung melepaskan pelukannya karena tatapan tak menyenangkan yang diarahkan orang-orang pada kami berdua," jawab Widya panjang lebar.


"Begitukah? Aku juga mendengar dia menciummu. Di pipi," ujar Radit, sengaja menekankan kata terakhir dengan nada curiga.

__ADS_1


Pukulan kuat tangan Widya di meja makan mengejutkan Radit, jantungnya serasa mencelos keluar dari dadanya oleh kekuatan pukulannya itu.


"Omong kosong macam apa itu!" seru Widya, napasnya memburu, matanya berkilat marah oleh tuduhan itu. "Orang sialan mana yang sudah menyebarkan gosip hina seperti itu? Katakan padaku namanya, biar aku sumpal mulutnya dengan bongkahan es," sembur Widya penuh tekad.


__ADS_2