
Mengambil sendoknya kembali dari atas piring, Bu Gina tersenyum memandang makanan di atas piringnya.
"Kenapa Mama tiba-tiba tersenyum?" tanya Pak Darman, merasa bingung dengan suasana hati istrinya yang cepat berubah-ubah.
"Mama tiba-tiba jadi teringat pertemuan mama dengan Radit siang tadi, Pa. Anak itu benar-benar sopan, sikapnya sangat menyenangkan. Meskipun dia masih agak canggung pada mama, tapi dia benar-benar anak yang baik. Mama bersyukur dia menjadi menantu kita," senyum Bu Gina senang.
Senyuman itu menular pada Pak Darman karena ia sangat menyetujui ucapan istrinya. "Sudah papa bilang 'kan, Ma, Widya sangat beruntung mendapatkan Radit sebagai suaminya. Anak kita itu saja yang belum menyadarinya," ujar Pak Darman membanggakan menantunya.
"Mungkin saja anak kita menyadarinya, Pa, tetapi dia tidak ingin mengakuinya."
Mererka berdua pun tertawa bersama oleh pemikiran itu.
Di tempat lain, Widya hampir tersedak makanannya. Memukul-mukul dadanya, ia menggapai teko air untuk menuangkan segelas air di gelas. Meminum airnya sampai habis, Widya bersandar kembali di tempatnya duduk.
Pasti di luar sana ada orang yang sedang membicarakanku, pikirnya kesal.
Mengambil sepotong kue lagi, Widya langsung menutup kotak kue itu serapat mungkin. Ia tidak ingin berat badannya jadi naik karena makan kue terlalu banyak malam ini. Masih ada hari esok untuk melanjutkan acara makannya.
***
Menghempaskan tubuhnya di atas kasur, Radit mengangkat cincin yang dipegangnya di kedua jemarinya. Melihat cincin ini kembali hanya membangkitkan kenangan masa lalu yang tidak ingin ia ingat lagi. Rasanya kejadian itu seperti baru saja terjadi kemarin. Ingatannya tentang lamarannya pada Nadin begitu jelas dibenaknya. Menutup mata dengan lengannya, Radit mengingat kembali kenangan menyakitkan yang terjadi empat tahun lalu.
__ADS_1
[FLASHBACK]
Seperti biasanya, hari ini Radit akan bertemu dengan Nadin sepulang kerja. Menepuk kantong jaketnya, ia memastikan jika kotak cincinnya masih berada di dalam sana. Tekadnya sudah bulat untuk melamar Nadin malam ini. Telepon dari ayahnya yang mengatakan ibunya sedang sekarat ambil andil dalam keputusannya ini.
Hari ini ia juga sudah mengajukan surat pengunduran dirinya di kantor. Walau bagaimanapun juga ia akan mengajak Nadin bersamanya pulang kampung. Radit tidak akan bisa kembali ke kota ini lagi, kondisi ibunya sudah semakin memburuk, ia sudah memutuskan akan tinggal di desa Manju untuk selamanya. Ayah serta adiknya yang masih kecil membutuhkannya di sana.
Walaupun begitu, Radit tidak sanggup meninggalkan Nadin seorang diri di sini tanpa dirinya, ia tidak ingin berpisah dari pacarnya itu meskipun hanya sebentar. Oleh sebab itu, malam ini Radit membulatkan tekad melamar Nadin, dan berharap pacarnya itu mau ikut bersamanya pulang kampung.
Tangannya berkeringat dingin saat menunggu Nadin di depan kantornya seperti biasa, Radit sangat gugup sekali. Kepalanya penuh dengan kata-kata lamaran yang sudah disusunnya sepanjang malam kemarin. Sibuk dengan pikirannya, ia tidak menyadari jika Nadin sudah berada di dekatnya. Tangannya melambai-lambai di depan wajah Radit untuk menyadarkannya dari lamunannya.
"Kamu sedang mikirin apa sih, Dit, kok serius gitu mukamu?" tanya Nadin, menelengkan kepalanya.
"Tentu saja aku memikirkanmu," jawabnya, yang membuat Nadin tertawa kecil mendengar gombalannya.
_Di Taman Pelangi_
Nadin begitu terpesona dengan pemandangan di sekitarnya, ia meloncat-loncat kecil sembari menarik tangan Radit, menyeretnya ke sana kemari.
"Aku kira kita akan pulang dulu. Aku sungguh nggak menyangka kamu malah membawaku ke tempat seperti ini," ucap Nadin pura-pura merajuk, menyentak lepas tangan mereka yang bergandengan.
"Ada hal mendesak yang ingin aku katakan padamu," ujar Radit, merogoh ke dalam saku jaketnya.
__ADS_1
Bingung dengan sikap seriusnya yang begitu tiba-tiba, Nadin menatapnya kebingungan.
Membuka kotak cincin yang ada dalam genggamannya, Radit memalingkan wajahnya, terlalu malu menatap mata Nadin secara langsung. Ia sangat gugup sekali.
"Maaf, aku nggak bisa berlutut untuk melamarmu. Aku nggak ingin kita menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sini." Matanya melirik ke sana kemari, memastikan tidak ada yang melihat. Untunglah mereka berdua berada di tempat yang jauh dari keramaian.
"A-Aku ... Aku...." Nadin terbata-bata, tangannya terulur ragu-ragu menyentuh cincin yang ada di dalam kotak itu.
Mengambil cincin keluar dari kotaknya, Radit menggenggam tangan Nadin lembut. "Aku tahu lamaranku ini begitu mendadak, tapi aku sungguh-sungguh ingin menikahimu."
"Kenapa?" tanya Nadin, yang anehnya terdengar heran. "Bukannya aku nggak senang, hanya saja ini terlalu mendadak bagiku."
Menunduk menatap tangan mereka yang bertautan, Radit menjelaskan, "Sebenarnya besok aku berencana kembali ke Desa Manju. Seperti yang kamu ketahui sendiri, ibuku sedang sakit keras. Jadi, aku memutuskan untuk kembali ke kampung halamanku. Selamanya." Radit mendongak, penasaran seperti apa reaksi Nadin atas pemberitahuannya itu.
Wajah syok Nadin membuat Radit sedikit gusar. "Selamanya? Apa maksudmu kamu nggak akan kembali lagi ke sini? Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Ditariknya tangannya dari genggaman Radit.
"Aku sudah berhenti hari ini." Menarik tangan Nadin kembali, Radit menatapnya sendu. "Dan, ya, aku nggak akan kembali lagi ke sini, makanya aku memutuskan untuk melamarmu hari ini. Ikutlah bersamaku, Nad. Aku janji akan membahagiakanmu, jadi, menikahlah denganku."
Menarik tangannya sekali lagi, Nadin memalingkan wajahnya dari Radit. "Maafkan aku, Dit. Aku nggak bisa menerima lamaran darimu. Aku ... aku...." Rasa sedih terpancar dari matanya saat berpaling kembali menatapnya, "Aku belum siap menikah. Aku masih ingin berkarier di sini. Maafkan aku. Aku nggak bisa ikut bersamamu."
Hatinya serasa tercabik-cabik ketika memandang Nadin berbalik meninggalkannya, kakinya begitu mati rasa, suaranya tiba-tiba saja tersumbat, tidak sanggup memanggil ataupun mengejar Nadin.
__ADS_1
Ini pertama kali dalam hidupnya, Radit melamar seseorang, dan ditolak. Rasanya benar-benar tak terkatakan. Ia tidak tahu harus bagaimana. Memaksakan kehendaknya agar Nadin ikut bersamanya rasanya itu tidaklah benar, tetapi mengakhiri hubungan mereka seperti ini juga sangatlah salah.
Radit tak tahu apa yang merasukinya, bukannya mengejar Nadin agar mengubah pikirannya, ia malah membalikkan badan dari seseorang yang ia cintai itu, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Mungkin harga dirinya begitu terluka oleh penolakan Nadin. Hatinya terasa hampa, sebab Nadin lebih memilih kariernya daripada menikahinya.