Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Teguran Menyakitkan


__ADS_3

Seperti biasa, setelah selesai melakukan rutinitasnya sehari-hari membantu para warga yang membutuhkan bantuan dan mengawasi para pekerja di peternakan ayahnya, Radit pulang ke rumah ketika matahari sudah mulai terbenam.


Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan, berkat gosip yang disebarkan oleh adiknya. Sepanjang hari ini Radit selalu diajukan pertanyaan yang sama, hingga hampir saja membuatnya ingin mengumpat karena kesal. Untungnya, ia bisa menahan diri untuk tidak memaki pada orang-orang yang selalu ingin tahu itu. Ia hanya menjawab singkat, membantah gosip tak berdasar itu sambil mengulas senyum palsu di bibirnya.


Sungguh hari yang panjang dan melelahkan. Sekarang Radit duduk di meja makan bersama keluarganya yang tidak begitu besar, hanya terdiri dari ia, ayahnya serta adiknya yang bermulut ember. Ibu mereka sudah tiada sejak 4 tahun lalu karena sakit keras.


“Bapak dengar hari ini kamu ditolak, Dit,” ucap Ayahnya, bersikap pura-pura tak terlalu penasaran.


“Jangan Bapak juga. Aku sudah lelah menjawab pertanyaan yang sama, untuk yang keseratus kalinya mungkin.” Helaan napas panjang berembus dari mulut Radit.


“Abang Radit terlalu melebihkan, ih. Nggak mungkinlah sebanyak itu.”


“Semua ini ulah anak nakal ini, Pak. Menyebarkan gosip yang tak berdasar sama sekali.” Radit melotot kepada adiknya dari seberang meja makan.


“Lho, jadi kamu toh yang nyebarin gosip itu, Rin?”


Membusungkan badannya berbangga diri, Ririn berujar, “Ririn gitu lho.”


“Itu bukanlah hal yang pantas dibanggakan, terlebih lagi gosip itu nggak benar sama sekali,” tegur Radit pada adiknya.


“Apa benar begitu, Rin?”


“Nggak kok, Yah. Ririn hanya menyimpulkan apa yang Ririn lihat. Pengamatan Ririn nggak mungkin salah, Bang Radit memang terlihat habis ditolak.”


“Daripada menyimpulkan hal tak berguna, lebih baik kamu belajar. Sebentar lagi kamu mau lulus SMP, Mulut Ember.”


“Sudah, sudah, jangan berdebat. Benar atau tidaknya, bapak cuma berharap kamu cepat berkeluarga, Dit. Ingat, kamu ini sudah 27 tahun. Sudah saatnya kamu menikah." Sejenak menarik napas, ayahnya melanjutkan, “Bapak dengar, cucu Nenek Aya masih lajang. Mungkin kamu bisa mempertimbangkannya.”


“Aku tahu aku sudah cukup umur untuk menikah, Pak. Tapi kalau aku menikah, pastilah cucu Nenek Aya bukan pilihanku,” tegas Radit.


“Kenapa begitu?”


“Aku tak menyukainya. Sikapnya sangat kasar.”


“Kamu 'kan bisa membimbingnya agar bersikap lebih baik.”


“Aku tak yakin sikapnya bisa diperbaiki,” gumam Radit skeptis. “Kenapa Bapak terlihat ingin sekali menjodohkan aku dengan dia?” Radit menyipitkan matanya penuh curiga.

__ADS_1


“Tidak, tentu saja tidak. Bapak hanya berpikir, mungkin saja kamu ada ketertarikan dengan cucu Nenek Aya. Bapak dengar dia sangat cantik.”


“Apa gunanya cantik kalau sifatnya buruk begitu," sahut Radit. "Aku janji akan mencari calon istri secepatnya. Bapak tenang saja.”


“Bapak harap begitu.”


Mereka bertiga pun melanjutkan acara makan malam mereka dengan obrolan lain untuk menceriakan suasana.


°°


Di luar pintu kamar Widya, Nenek Aya mengetuk pelan sebelum segera masuk untuk menyampaikan pesan, kalau besok pagi-pagi sekali Widya akan pergi bersama Radit untuk membeli ikan karena stok lauk mereka sudah habis. Agar tidak terlambat bangun pagi, Widya disuruh cepat tidur oleh neneknya.


Setelah neneknya melangkah keluar dari kamar, Widya menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Kenapa dari semua orang yang ada harus lelaki menyebalkan itu yang menemaninya ke pasar pagi besok. Padahal Widya bisa saja pergi sendiri, tapi neneknya tidak percaya Widya bisa menawar ikan, seperti kata neneknya barusan saat ia protes.


Pasti besok orang-orang akan bergosip melihat mereka berjalan berdua saja di pasar ikan. Astaga, ini benar-benar menjengkelkan! Widya berharap neneknya cepat sembuh supaya ia bisa cepat pergi dari sini. Menelungkupkan tubuhnya di atas kasur, Widya memukul-mukul bantalnya berulang-ulang kali untuk melampiaskan rasa frustasinya.


***


Hening seperti kemarin, Widya dan Radit berjalan bersama menuju pasar. Keduanya berusaha menjaga jarak agar tidak saling bersentuhan. Sayang sekali, hal itu tidak bisa dihindari saat mereka tiba di pasar yang penuh dengan penjual dan pembeli.


Beberapa orang di sana ada yang memperhatikan mereka, kemudian saling berbisik dan tersenyum penuh arti pada mereka berdua. Rasanya Widya ingin cepat pulang karena merasa risih dengan pandangan orang-orang terhadapnya.


"Aku nggak munafik sepertimu," balas Widya ketus.


"Ini bukanlah kemunafikan. Ini merupakan sikap santun kepada orang lain," sahut Radit jengkel.


Baru saja Widya ingin membalas perkataan Radit, seorang kakek tua memanggilnya di ujung jalan untuk meminta bantuan. Dengan segera Radit pergi meninggalkan Widya di antara kerumunan para penggosip. Mengacuhkan perkataan Radit agar tidak belanja ikan seorang diri, Widya mendekati penjual ikan di sebelah kirinya. Widya tidak ingin menunda waktu untuk segera pergi dari tempat ini.


"Silahkan dipilih, Neng. Masih segar ikannya," kata Ibu Penjual Ikan memperlihatkan ikan segar yang dijualnya.


"Ini bukan ikan dari kemarin 'kan, Bu? Baunya seperti mau busuk." Widya mengendus salah satu ikan yang dijual ibu itu.


"Ini masih segar kok, Neng. Biarpun baunya agak amis."


"Ini sih bukan amis lagi, tapi sudah mau busuk. Apa ikan begini masih layak dijual? Seharusnya dibuang saja. Lebih baik lagi kalau Ibu menjual yang masih hidup, bukan yang sudah mati seperti ini." Mengangkat ikan itu dengan ibu jari dan telunjuknya, Widya menjatuhkannya dengan jijik.


"Kalau nggak niat beli, nggak usah ngomongin ikan saya busuk gitu dong, Neng. Ucapan Eneng bisa membuat dagangan saya tidak laku," cetus Ibu Penjual Ikan itu menepis tangan Widya dari dagangannya.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada Widya dengan tatapan menuding, dan mengasihani Ibu Penjual Ikan itu. Sebuah tangan menyambar pergelangan tangan Widya dari kerumunan orang, yang sedang berbisik mencibir perilaku kasarnya.


"Maaf, Bu. Anak ini omongannya memang suka kasar, tapi dia nggak bermaksud seperti itu. Sekali lagi maaf." Radit membungkukkan badannya dan meminta Widya melakukannya juga.


Berdiri kaku di sebelah Radit, Widya melepaskan pegangan Radit dari tangannya, dan menatap Ibu Penjual Ikan itu dingin. "Aku tidak melakukan hal yang salah. Permisi."


Widya melangkah pergi dengan angkuhnya dan mengabaikan perkataan marah orang-orang di sekitarnya. Ia sama tak peduli meski dibilang kasar dan tak berpendidikan oleh semua orang di sana.


"Maaf, Bu. Aku akan menasehati Widya dan menyuruhnya meminta maaf nanti."


"Sudahlah, Dit. Perempuan kasar itu jangan kamu urusi lagi."


"Ini sudah jadi tugasku selama menjaganya, Bu. Kalau begitu, aku permisi. Sekali lagi maaf."


Menyeruak di antara kerumunan orang, Radit mengedarkan pandangan mencari perempuan sombong dan kasar itu. Radit menemukannya sudah berada di ujung jalan.


Langkah Widya terhenti, saat Radit menarik tangannya sekali lagi untuk menghadap padanya.


"Apa begitu susahnya mengucapkan kata maaf dari mulut pedasmu itu?" cela Radit.


"Nggak ada yang harus aku minta maafkan. Aku mengatakan hal yang benar, ikan itu memang busuk." Menarik lepas tangannya, Widya menatap tajam pada Radit. "Memangnya salah kalau aku bersikap jujur?"


"Jujur boleh, tapi cara kamu ngomong itu sudah menyinggung perasaan orang lain. Kamu 'kan bisa saja bilang, kalau ikan itu sudah nggak segar tanpa harus mencela jualan seseorang."


"Terserah, pokoknya aku nggak mau minta maaf."


"Sudahlah. Aku juga sudah capek menasehati perilaku kasarmu itu. Sini biar aku saja yang belanja ikan, kamu pulang saja ke rumah sana."


Radit menjulurkan tangannya meminta dompet yang dibawa Widya.


Dengan kasar, Widya meletakkannya di atas telapak tangan Radit, lalu membalikkan badan, berjalan kembali ke rumah neneknya.


Sebelum Widya pergi lebih jauh, perkataan Radit menghentikan langkahnya.


"Aku kasihan pada orang tuamu. Mereka pasti lelah menghadapi sifat kasarmu itu. Kamu seharusnya sadar, perilakumu ini hanya akan membuat didikan orang tuamu dipertanyakan oleh orang lain. Terutama hari ini, nenekmu pasti merasa malu sekali setelah mendengar perilakumu dari orang nanti."


Widya hanya diam terpaku di tempatnya, tidak sanggup membalas perkataan Radit seperti biasanya. Menyeka air matanya dengan kasar, Widya berusaha keras agar tidak mengeluarkan isak tangis yang hampir keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Jangan biarkan dia menang, batin Widya.


__ADS_2