Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Kejutan


__ADS_3

Akibat terlalu memikirkan lelaki muda yang datang mengunjungi Widya hari ini, Radit tidak bisa fokus bekerja sama sekali selama di peternakan. Itulah sebabnya sebelum senja hari Radit sudah berada di depan rumahnya, menunggu Widya membukakan pintu untuknya seperti biasanya. Akan tetapi, rasa tak sabar Radit menyebabkan ia langsung masuk saja ke dalam rumahnya.


Setelah melewati ruang tamunya, Radit berbelok dan menatap terkejut pada pemandangan yang ada di ruang keluarganya. Suara pekikan Widya bukanlah hal yang mengagetkannya melainkan penampilan Widya yang membuat Radit diam tertegun di tempatnya. Di hadapannya saat ini Widya hanya mengenakan sehelai handuk untuk menutupi tubuhnya yang terlihat masih agak basah, tangannya sedang memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Tetesan air dari rambutnya melewati tulang selangkanya, turun semakin ke bawah hingga hilang di tempat yang tertutup oleh handuk. Matanya tak bisa berpaling dari pemandangan itu sebab penampilan istrinya terlihat begitu menggairahkan. Pikirannya seketika dipenuhi dengan hal-hal nakal.


Menyadari tatapan Radit yang mengikuti tetesan air dari tubuhnya, Widya berdeham untuk menyadarkan Radit dari lamunannya yang mesum. Suaranya terdengar begitu tenang saat bertanya kepada Radit tentang kepulangannya yang lebih cepat dari biasanya.


Bukannya menjawab pertanyaan Widya langsung, Radit hanya menelengkan kepalanya menatap Widya dengan tatapan yang terlihat kebingungan. Ketenangan istrinya itu, entah mengapa, terlihat begitu aneh bagi Radit. Karena biasanya istrinya itu selalu malu terhadap hal-hal seperti ini. Namun, sekarang dia malah terlihat cuek terhadap situasi di antara mereka berdua, yang menurut Radit agak terlalu menggoda.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang aneh menempel di wajahku?" tanyanya dengan wajah polos, tangannya meraba wajahnya mencari sesuatu yang mungkin saja tertempel di wajahnya.


"Wajahmu baik-baik saja, yang aneh justru dirimu. Ah, sudahlah." Kibasan tangan Radit mengisyaratkan ia tak ingin menjelaskan keanehan itu lebih lanjut.


Menenangkan dirinya dari luapan gairah yang masih menggerogotinya, Radit memalingkan wajahnya dari penampilan menggoda istrinya itu.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa kamu pulang lebih cepat dari biasanya?"


Mendengar pertanyaan itu lagi mengingatkan Radit tentang kunjungan tamu misterius istrinya itu siang ini. Menolehkan kepalanya kembali pada Widya, ia tak bisa mengendalikan nada suaranya yang terdengar sangat menuduh pada istrinya itu.


"Apa kamu berharap aku pulang seperti biasanya sehingga kamu bisa bebas bersama seseorang?"


Kali ini giliran Widya yang menatapnya dengan kebingungan. "Apa maksudmu? Aku nggak mengerti apa yang kamu bicarakan."


"Kamu tahu maksudku. Jangan kamu kira aku tak tahu kamu kedatangan tamu siang ini, apalagi tamu itu adalah lelaki muda. Siapa dia?"

__ADS_1


Selama beberapa saat keheningan memenuhi udara di antara mereka berdua. Semenit kemudian--yang terasa sejam olehnya--Widya menjawab pertanyaannya.


"Oh, Itu." Senyuman di bibir Widya begitu lebar saat menatap Radit dengan mata berbinar nakal. "Jadi, itu toh yang membuatmu pulang cepat?"


Nada suara Widya tak tahu mengapa terdengar begitu meledek di telinganya, membuat Radit semakin jengkel. "Kepulanganku nggak berhubungan dengan hal itu. Hanya saja pekerjaanku hari ini cepat selesai. Ini memang sering terjadi jika tak ada lagi yang bisa kukerjakan."


Radit sadar jika dirinya telah berbohong, tapi ia tak peduli. Dan, dirinya semakin dibuat kesal saat senyuman Widya semakin lebar saja mendengar jawabannya itu, seolah-olah dia tahu kalau Radit telah berbohong.


Sial.


"Aku mengerti."


"Baguslah kalau kamu mengerti. Nah, sekarang katakan padaku, siapa lelaki yang mengunjungimu hari ini? Aku dengar kalian terlihat akrab sekali."


Tanpa diinginkannya Radit kembali menelusuri tubuh istrinya itu seperti saat pertama kali ia masuk ke dalam rumah tadi. Menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya, Radit sekali lagi memalingkan wajahnya.


"Baiklah. Kita akan membicarakan hal ini nanti. Lagi pula aku juga ingin mandi."


"Syukurlah. Aku pikir kamu lebih senang kita berbicara dengan keadaanku seperti ini, tapi sepertinya aku salah," celetuk Widya, menggoda Radit yang masih memalingkan wajahnya.


Tawa kecilnya mengikuti langkah kakinya yang berjalan ke arah kamarnya. Suara tawa itu pun mulai tak terdengar lagi saat pintu kamarnya menutup pelan di hadapan Radit.


Untuk sesaat Radit hanya bergeming di tempatnya, ia tak mempercayai dirinya untuk bergerak dari tempatnya sekarang. Karena ia tahu jika bergerak sekarang maka yang dilakukannya adalah melangkahkan kakinya ke arah kamar istrinya, bukannya ke arah kamar mandi.

__ADS_1


Sialan. Aku memang perlu mandi untuk mendinginkan kepalaku dari pikiran kotor ini. Kalau nggak, saat kami berbicara nanti pikiranku hanya akan dipenuhi bayangan Widya yang terbalut sehelai handuk beserta tetesan air sialan itu.


°°


Menyandarkan dirinya di pintu, Widya memejamkan matanya, ia mengingat kembali pertemuan mengejutkan antara dirinya dan Radit di luar kamarnya tadi. Saat itu jantungnya serasa mencelos dari dadanya, ia tak menduga kalau hari ini Radit akan pulang cepat.


Darahnya serasa mengalir deras ke wajahnya ketika Radit memandanginya dengan tatapan bergairah. Saat itu Widya sangat ketakutan oleh tatapan itu. Karena suaminya itu terlihat seperti siap untuk menerkamnya. Tatapannya membuat Widya hanya bisa terdiam terpaku di tempatnya, bukannya langsung berlari ke dalam kamarnya.


Anehnya lagi, meskipun Widya begitu ketakutan oleh tatapan itu, ia juga merasa senang. Sungguh konyol. Untunglah suaminya itu tidak menyadari jika dirinya begitu malu saat itu. Karena tatapannya hanya fokus memandang tubuhnya saja. Jadi, sebelum suaminya menyadari kalau situasi tadi membuat dirinya begitu malu, ia dengan cepat menenangkan dirinya agar Radit tidak bisa menggoda dirinya seperti biasanya.


Tersenyum kecil, Widya teringat wajah syok Radit saat menatap dirinya keheranan. Sepertinya, dia benar-benar tak menduga bahwa Widya bisa bersikap tenang dalam situasi itu. Tentunya hal itu jugalah yang telah membangkitkan sifat usil dalam diri Widya untuk menggoda Radit, seperti yang selalu dilakukan suaminya itu kepadanya. Ia masih ingat tatapan jengkel yang diarahkan Radit padanya, rasanya saat itu juga Widya ingin meloncat-loncat kegirangan karena telah berhasil membalas perbuatan yang sering dilakukan Radit padanya selama ini.


Belum cukup sampai disitu, rasa girangnya semakin bertambah saat mengetahui kepulangan Radit berhubungan dengan tamu yang mengunjunginya hari ini. Seperti yang diduganya bahwa kabar kedatangan tamunya itu pasti akan terdengar oleh suaminya itu, tapi ia tak menyangka kalau kedatangan tamunya itu akan membuat Radit cemburu. Pastilah itu kecemburuan. Ia tak mungkin salah menafsirkan nada menuduh Radit tadi sebagai bentuk kecemburuan.


Walaupun ia begitu senang oleh rasa cemburu itu, di lain sisi ia juga begitu penasaran apa yang sudah dikatakan orang-orang di luar sana hingga menyebabkan Radit jadi cemburu seperti itu. Sebab ia tak melakukan hal aneh apa pun yang bisa mengakibatkan rasa kecemburuan dari suaminya itu.


Hemmm... Pastinya hal yang terdengar di luar sana bukanlah seperti yang terjadi sebenarnya. Desa ini selalu punya caranya sendiri untuk menyampaikan berita biasa menjadi kesalahpahaman.


Widya sangat mengetahui hal itu sebab ia sering mengalaminya selama tinggal di desa ini. Menegapkan posisi tubuhnya, Widya berjalan ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Masalah kunjungan hari ini bisa menunggu nanti untuk dijelaskan. Sekarang ini, ia perlu melakukan sesuatu yang ingin dilakukannya sebelum Radit datang tadi.


Hal itu harus selesai sebelum suaminya itu selesai mandi. Jadi, Widya dengan cepat mengeringkan rambutnya, dan berganti pakaian untuk mempersiapkan kejutan yang ingin dipersiapkannya untuk Radit, yang sekarang ini tentunya masih mandi.


Semoga saja kejutanku berhasil.

__ADS_1


__ADS_2