
Kemarahan Widya yang membabi buta itu menjelaskan semua hal pada Radit bahwa dugaannya benar, jika gosip yang ia dengar hari ini hanyalah omong kosong belaka, dan Radit juga lega kalau kecurigaannya selama siang ini ternyata salah. Ia sempat mengira jika yang datang mengunjungi Widya adalah seseorang yang spesial baginya, ternyata lelaki itu memanglah spesial baginya. Namun, dia spesial karena dia mempunyai hubungan kekerabatan dengan istrinya.
"Duduklah. Tak ada gunanya berkelahi dengan orang yang menyebarkan gosip bodoh itu. Lagi pula aku juga tak mempercayainya saat mendengar omong kosong soal ciuman pipi itu." Radit melambaikan tangannya agar Widya kembali duduk, yang segera diturutinya.
"Kalau kamu memang nggak mempercayainya, lalu untuk apa kamu bertanya padaku? Bukankah itu sama saja kamu mempercayai omong kosong sialan itu," hardik Widya kesal.
"Berhentilah memaki. Dan, nggak, aku bertanya hanya untuk mengkonfirmasinya saja, bukan karena aku percaya," elak Radit.
"Cih, sama saja. Ah, sudahlah, pusing kepalaku memikirkan gosip buruk yang tak ada habisnya mengenai diriku ini." Memalingkan wajahnya, Widya bergumam pelan. "Awas saja kalau nanti aku tahu pelakunya, kuhabisi dia."
"Apa katamu?" tanya Radit, mendekatkan telinganya.
Menghadap kembali pada Radit, senyuman manis terukir kembali di bibir Widya. "Bukan apa-apa, Suamiku. Nah, ayo makan, kalau terlalu dingin nanti nggak enak."
Widya mendorong pelan piring yang ada di tengah meja ke hadapan Radit agar dia segera menghabiskannya.
"Sebelum itu ada hal yang ingin aku tanyakan lagi padamu."
Memutar bola matanya, Widya mendesah kesal pada Radit. "Astaga, apa lagi?"
"Apa tujuanmu memasakkan ini untukku? Bukannya aku nggak senang, hanya saja ini terlalu aneh. Kamu nggak pernah sekalipun tertarik memasak untukku. Jadi, apa yang menyebabkanmu bertindak nggak biasanya seperti ini? Apa kamu menginginkan sesuatu lagi dariku?" tanya Radit curiga.
"Apa tindakan baikku harus selalu dikaitkan dengan hal-hal negatif? Aku hanya ingin berterima kasih saja padamu."
__ADS_1
"Berterima kasih? Terima kasih untuk apa?"
"Besok 'kan kita akan ke kota," jawab Widya singkat seolah itu menjelaskan segala hal.
"Hanya karena itu?" sahut Radit heran.
"Ya, hanya karena itu. Memangnya karena apa lagi?"
Tanpa bisa dihentikan, Radit menghembuskan napas panjang, matanya menunduk lemas menatap telor goreng di hadapannya. Beringsut di tempat duduknya, Radit kembali menatap serius pada Widya. Tatapan matanya membuat perasaan tak nyaman hinggap di benak Widya.
"Maafkan aku. Sepertinya kita tak akan bisa ke kota besok, dan aku juga nggak tahu kapan kita bisa ke sana." Jeda sejenak, lalu Radit melanjutkan dengan suara lirih. "Hari ini 2 pegawaiku berhenti secara mendadak. Aku nggak bisa meninggalkan peternakan untuk sementara waktu ini, kami kekurangan orang untuk mengurus hewan ternak."
"Kalau begitu, cari pegawai baru saja. Apa susahnya coba."
Selama sesaat Widya hanya terdiam tak menyahut ucapan Radit, kemudian kilatan yang sudah tak asing lagi bagi Radit terpancar dari mata Widya. Saat itulah Radit tahu pembatalan perjalanan mereka ke kota akan memicu pertengkaran lagi di antara mereka berdua.
"Baiklah, aku mengerti." Berdiri dari tempat duduknya, Widya menatap tajam padanya. "Aku akan ke kota sendiri saja."
Ikut berdiri juga, Radit menentang keras keputusan itu. "Aku tahu kamu akan seperti ini. Aku membatalkan perjalanan kita ini bukan karena aku menginginkannya, tapi keadaan yang menghalangi. Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi sendiri ke kota. Apa kata orang tuamu nanti saat tahu aku membiarkanmu pergi seorang diri? Pokoknya aku tak mengijinkannya!" protes Radit tegas.
"Aku hanya perlu menjelaskan, suamiku yang super sibuk terpaksa membiarkan istrinya pergi seorang diri karena kehilangan 2 pegawai di peternakannya," sahut Widya dengan nada sarkatis.
Meletakkan kedua tangannya di meja makan, Radit mencondongkan badannya menatap penuh amarah pada Widya.
__ADS_1
"Lakukan! Maka saat itu juga kamu akan mendapati dirimu dalam masalah. Aku akan menghukummu sampai kamu akan selalu menyesali tindakan gegabahmu itu."
"Menghukumku? Ha! Sungguh kata yang menakutkan." Memeluk tubuhnya, Widya berpura-pura gemetar ketakutan.
"Jangan memancingku," geram Radit, mengertakkan giginya.
Beberapa menit berlalu dengan aksi adu tatap di antara Radit dan Widya. Lalu perang dalam diam itu diakhiri dengan aksi mengejutkan Widya, tangannya menggapai piring yang ada di dekat Radit, kemudian dimasukkannya satu telor utuh itu sekaligus ke dalam mulutnya sembari mengunyah dengan kesal. Tak berapa lama, Widya terbatuk-batuk sambil menepuk-nepuk dadanya, dengan cepat Radit memberikan segelas air kepadanya. Menepis tangan Radit yang memegang gelas berisi air itu, Widya berlari ke arah wastafel lalu memuntahkan telor itu dari mulutnya.
Berjalan mendekatinya, Radit menepuk-nepuk pelan punggungnya. "Makanya, jangan langsung menelan utuh gitu dong. Keselek 'kan jadinya."
Mendorong tubuh Radit menjauh darinya, Widya segera membersihkan mulutnya dengan air keran. Setelahnya dia berbalik menghadap Radit, dan berjalan melewatinya untuk meminum segelas air.
"Sial, telor itu asin sekali," gumam Widya pelan.
Sayangnya gumamannya itu terdengar oleh Radit, yang berdiri tak jauh darinya. "Untunglah aku nggak sempat merasakannya berkat comotanmu yang begitu mendadak."
Menoleh cepat, mata Widya berkilat marah oleh gurauan Radit itu. "Itu nggak lucu! Walaupun itu asin, aku senang kalau cuma aku yang memakannya. Aku sungguh bodoh sudah rela mati-matian memasak telor goreng demi orang sepertimu."
"Aku 'kan sudah bilang aku membatalkan ini bukan karena kemauanku. Kenapa kamu nggak mau mengerti juga sih!?"
"Aku nggak peduli mau itu batal karena pegawaimu kek, hewan ternakmu kek, apa kek, bodo amat! Untuk sementara ini jangan mengajakku berbicara, aku sedang nggak mood berbincang ria ataupun berdebat denganmu."
Hentakkan kaki Widya mengiringi langkahnya memasuki kamarnya, pintunya sengaja dibanting begitu keras untuk menunjukkan seberapa marah dirinya terhadap Radit. Menghela napas frustasi, Radit terduduk di kursinya sambil mengacak-acak rambutnya. Ia tahu Widya sangat kecewa oleh pembatalan perjalanan mereka ini. Dia begitu menantikan pulang ke kota kelahirannya serta menemui kedua orang tuanya. Namun, tidak ada yang bisa diperbuat Radit agar perjalanan mereka diwujudkan. Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan peternakannya. Saat ini peternakannya benar-benar membutuhkan perhatiannya.
__ADS_1
Melirik sekilas pada pintu kamar Widya yang menutup, Radit berharap suasana hati istrinya itu akan kembali membaik besok. Semoga saja. Ia tak mau terlalu berharap lebih sebab sikap istri pemarahnya itu selalu tak terduga, bisa saja dia besok malah bersiap pergi ke kota seorang diri seperti yang dikatakannya barusan.