
Mengalihkan pandangannya dari Radit, yang menatapnya penuh makna seperti itu, membuat Widya menjadi salah tingkah. Tidak ingin Radit merasa puas diri sudah membuatnya salah tingkah, ia dengan cepat mengubah ekspresinya dengan raut wajah kesal. Didorongnya kedua tangan Radit dari kedua pipinya.
"Sakit tahu!"
"Kalau kamu nggak menerimanya, kamu juga bisa mencubit kedua pipiku," ujar Radit, menyodorkan pipinya pada Widya dengan senyuman ceria.
"Siapa juga yang mau mencubit pipimu yang keras itu," sahut Widya, meringis menatap wajah Radit, yang begitu dekat dengannya.
"Yang benar saja, Widya. Pipiku ini bukan batu," bantah Radit, memasang ekspresi pura-pura kesal.
"Terserah kamu saja. Sekarang keluar dari kamarku, banyak hal yang harus kupersiapkan," dorong Widya pada Radit agar segera keluar dari kamarnya.
Tanpa perlawanan, Radit membiarkan dirinya didorong paksa oleh Widya hingga ke ambang pintu kamarnya. Lalu sebelum ia sempat menutup pintu kamarnya, Radit membalikkan badannya untuk berdiri menghadapnya.
Menyilangkan kedua tangannya, Widya menaikkan sebelah alisnya.
"Kali ini apa lagi yang mau kamu katakan?" tanya Widya dengan nada tidak sabar.
"Kunci rumah kita di kota masih kamu simpan bersamamu, kan?"
Mengerutkan alisnya, Widya tidak menduga jika Radit akan bertanya tentang rumah pemberian orang tuanya itu.
"Tentu saja aku masih menyimpannya."
"Oh begitu," angguk Radit. "Bagaimana kalau dengan tiket bulan madu yang diberikan Ibumu waktu itu, apa kamu masih menyimpannya?"
"Untuk apa juga aku masih menyimpannya? Kalau aku masih menyimpannya, itu nggak akan ada gunanya. Makanya, tiket itu kuberikan pada sepupuku Andre saat dia ke sini."
"Sepupumu sudah menikah?" seru Radit kaget.
"Ya nggaklah. Dia saja belum menyelesaikan studinya, bagaimana mungkin dia sudah menikah," dengus Widya.
"Kalau begitu, kenapa kamu memberikan padanya?"
"Memangnya yang harus pergi liburan harus orang yang sudah menikah, ya? Jangan berpikiran sempit deh." cibir Widya. "Lagian ngapain sih kamu menanyakan soal tiket itu?"
Radit mengangkat bahunya. "Cuma ingin bertanya saja. Barangkali saja kamu masih menyimpannya."
"Untuk apa juga aku menyimpannya, toh aku nggak pernah minat berbulan madu," gumam Widya. "Nah, nggak ada lagi 'kan yang ingin kamu tanyakan padaku? Kalau begitu, selamat malam."
Dengan cepat Radit menahan daun pintu kamar Widya dengan tangannya.
"Aku belum selesai."
__ADS_1
"Apa lagi sih mau kamu?" desah Widya frustasi.
Mengarahkan jari telunjuknya ke bawah ranjang, Radit meminta Widya memberikan koper miliknya padanya. Merasa lelah menghadapi Radit, tanpa bertanya lagi ia langsung mengambil koper miliknya dari bawah ranjang. Menyeret koper besar miliknya dengan kesal, diberikannya koper itu pada Radit. Lalu berdiam diri menunggu Radit meninggalkannya seorang diri.
Kesal mendapati Radit masih terpaku diam di tempatnya, Widya mengacakkan pinggangnya.
"Aku sudah memberikan apa yang kamu mau, jadi bisakah sekarang kamu pergi?" pinta Widya, mengertakkan giginya.
"Apa kamu nggak penasaran kenapa aku ingin menyimpan kopermu?" Radit tersenyum lebar, dia tampak menikmati kekesalan Widya padanya.
"Aku nggak penasaran dan nggak pernah minat untuk bertanya," jawab Widya dengan nada yang agak melengking. "Dan kalau kamu masih memiliki kesadaran, bisakah kamu pergi sekarang juga!?"
"Nggak perlu semarah itu, aku ini cuma nggak ingin berpisah cepat denganmu saja," goda Radit, tidak merasa takut sedikit pun oleh kemarahan Widya padanya.
"Berhentilah berbicara omong kosong, kita ini tinggal serumah," tatap Widya sinis.
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan membiarkanmu sendiri, seperti yang kamu inginkan," ujar Radit, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Tapi sebelumnya, aku ingin memberitahumu satu hal."
Terdiam sesaat, Radit sengaja memberi jeda. Kaki Widya mulai mengetuk lantai sebagai tanda kesabarannya sudah mulai habis.
"Berhubung kita akan ke kota, sebaiknya kamu mempersiapkan fisikmu juga."
"Fisikku? Memangnya kita mau berolahraga apa," ucap Widya, mendengus tak percaya.
Perlahan kedua mata Radit turun menatap perut Widya. "Aku jadi nggak sabar melihat perutmu itu membesar."
"Apa yang kamu pikirkan!" gugup Widya, kesal oleh nada suaranya yang bergetar.
Mencondongkan tubuhnya mendekat, Radit berbisik di telinganya.
"Menurutmu apa yang aku pikirkan?"
Tersentak mundur, kedua mata Widya melebar menatap Radit. Melengkungkan senyuman riang, Radit berjalan pergi meninggalkan Widya seorang diri, terdiam membeku ditempatnya berdiri. Dirasakannya kedua kakinya agak bergetar menopang tubuhnya berdiri.
Menutup pintu kamarnya pelan, Widya bersandar lemas di daun pintu kamarnya. Nggak mungkin! Pasti Radit hanya menggodaku saja. Widya sangat berharap kalau ia salah mengartikan ucapan Radit barusan padanya.
∞ ∞
Selesai bertelepon dengan teman sekaligus besannya, Pak Benny bersandar malas di tempat duduknya. Melirik sekilas ke arah jam dinding, Pak Benny terkejut mengetahui pembicaraannya akan selama itu. Namun, mengingat topik pembicaraannya barusan, rasanya tidaklah aneh kalau hal itu akan memakan waktu sebanyak itu.
Membicarakan perihal masalah rumah tangga anaknya Radit, memang tidak pernah ada habisnya. Setiap hari ia selalu saja mendengar desas-desus keributan yang sering terjadi di rumah kedua pengantin baru itu. Bahkan para warga banyak yang memintanya untuk menasehati perilaku Radit, yang mereka bilang, kalau anaknya itu sudah berubah kasar seperti menantunya. Akan tetapi, Pak Benny bukanlah tipikal orang yang akan termakan gosip murahan seperti itu.
Beberapa orang menganggapnya terlalu menyayangi putra satu-satunya itu, ketika ia berkata tidak ingin mencampuri kehidupan rumah tangga anaknya. Namun, sejujurnya ia menolak menuruti kemauan para warga --yang berkeluh kesah padanya itu-- karena ia memiliki informan yang bisa dipercaya di luar sana. Jika ia ingin mendengar kejadian yang sebenarnya terjadi pada anak dan menantunya, ia hanya perlu memanggil informan itu untuk menjelaskan serinci mungkin padanya perihal peristiwa yang terjadi di laur sana. Sebab ia tidak ingin mendengarkan cerita dari satu sisi saja.
__ADS_1
Sudut mulut Pak Benny terangkat ketika ia melihat dari sudut matanya, informannya sedang mengendap-ngendap berjalan melewatinya. Mungkin dia mengira kalau Pak Benny terlalu sibuk dengan isi pikirannya hingga tidak menyadari keberadaannya.
"Dari mana saja kamu, kenapa jam segini baru pulang?"
Suara desahan terdengar dari informannya, yang tidak lain putrinya sendiri Ririn. Menolehkan kepalanya, anak gadisnya itu tersenyum cerah padanya.
"Biasalah, Yah, dari rumah teman," jawabnya, mengibaskan tangan.
"Teman? Hmm...." Pak Benny menatap tajam pada Ririn. "Lain kali jangan pulang selarut ini lagi."
"Oke."
Setelah mengatakan itu, Ririn melangkahkan kakinya, berniat untuk segera kabur dari hadapan Pak Benny saat itu juga.
"Kebetulan, ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu. Sini duduk di sebelah Ayah!" panggil Pak Benny, menepuk tempat duduk di sebelahnya.
Bahu anaknya seketika merosot turun saat berjalan lemas ke tempat duduk yang ada di sebelahnya. Namun, bukannya langsung duduk seperti yang dimintanya, Ririn malah berdiri di dekat tempat duduk itu. Mendongak menatap anaknya, Pak Benny ingin tertawa keras melihat raut wajah putrinya, yang terlihat siap mendengarkan ceramah panjang, seperti yang dikiranya akan disampaikan oleh Pak Benny padanya.
"Tidak perlu setegang itu, Rin. Ayah bukannya ingin membahas soal perilakumu," ucap Pak Benny lembut.
Dalam sekejap ketegangan Ririn mulai agak mengendur, walaupun kilatan matanya masih terlihat begitu waspada saat menatap Pak Benny.
"Kalau bukan ingin menceramahiku, apa kiranya yang ingin Ayahanda bahas pada anakmu ini?" Menyelipkan sejumput rambutnya ke belakang telinga, Ririn memasang ekspresi genit padanya. "Oh, apakah Ayahku tercinta ingin mengenalkan putri semata wayangnya ini pada pemuda tampan?"
Lelucon itu sontak saja membuat Pak Benny tertawa terbahak-bahak di tempat duduknya. Putrinya itu selalu saja melakukan sesuatu yang akan membuatnya tertawa saat dirinya sedang terpojok. Karena itulah ia selalu tidak bisa marah pada putrinya itu begitu lama.
Pak Benny selalu bersyukur memiliki Ririn, sebab dia selalu mengisi rasa kesepian yang selalu menghigapi Pak Benny ketika ia teringat dengan mendiang istrinya. Terlebih lagi ketika anaknya Radit sudah menikah, rumah ini terasa begitu besar bagi mereka berdua. Namun, berkat putrinya yang memiliki sifat periang dan suka ceplas-ceplos, rumahnya selalu terasa begitu ramai.
Menghentikan tawanya, Pak Benny berdeham. "Jangan konyol kamu, Rin, kamu itu masih terlalu muda. Yang harus kamu pikirkan sekarang itu adalah bel...."
"Ya, ya, ya, belajar dan belajar, Ririn tahu kok, Yah," potong Ririn, tidak ingin mendengarkan ceramah Pak Benny. "Nah, sekarang katakan, apa yang ingin Ayah bahas?"
"Kamu ini ya, belum selesai Ayah ngomong, main potong aja," keluh Pak Benny. "Ayah cuma mau tanya, apa kamu tahu kabar Abangmu Radit dan Widya? Ayah dengar kemarin malam mereka bertengkar hebat, apa itu benar?"
Mengetukkan jemarinya di dagu, Ririn terdiam selama beberapa sesaat memikirkan pertanyaan itu.
"Kayaknya nggak deh, terakhir kali Ririn lihat mereka baik-baik aja kok."
"Kapan kamu melihat mereka, kemarin atau belum lama ini?" tanya Pak Benny dengan nada tak sabar.
"Senja tadi Ririn nggak sengaja melihat mereka berdua berjalan bergandengan begitu mesranya saat berjalan pulang ke rumah," jawab Ririn. "Jadi, gosip mengenai pertengkaran mereka berdua itu mungkin saja cuma gosip belaka atau... mereka berdua sudah berbaikan."
"Syukurlah kalau begitu," lega Pak Benny. "Sekarang kamu boleh pergi."
__ADS_1
"O yeah," seru Ririn senang, melesat pergi secepat angin.
Pak Benny benar-benar bahagia kalau gosip mengenai pertengkaran Radit dengan Widya hanyalah sekadar gunjingan belaka. Tetapi, bisa juga masalah itu sudah terselesaikan seperti yang dikatakan Ririn tadi padanya. Dan, dalam benaknya ia selalu berharap kalau rumah tangga putranya itu akan selalu baik-baik saja. Sejujurnya, Pak Benny juga berharap bahwa tidak lama lagi ia akan mendengarkan kabar baik dari menantu dan anaknya itu. Alangkah baiknya jika mereka berdua segera memiliki seorang anak dalam pernikahan mereka.