Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Pertengkaran


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, lelaki di sebelah Widya tidak mengeluarkan suara sekecil apapun, kecuali saat ia berpamitan dengan nenek Widya tadi. Senyum ramah yang ia perlihatkan tadi sungguh membuat Widya muak. Sangat Munafik.


Berjalan penuh kesunyian seperti ini bukanlah kebiasaan Radit. Melirik perempuan di sebelahnya yang berpakaian sangat tertutup, ia menggelengkan kepala tak percaya. Celananya yang panjang dipadukan dengan jaket hitam yang dia pakai menutupinya dari teriknya sinar matahari. Oh! Tidak lupa juga penutup kepala jaketnya dan masker hitam yang dikenakannya, persis seperti pencuri penampilannya. Kalau bukan karena Nenek Aya, Radit tidak akan mau berjalan bersama perempuan sombong ini.


Tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, Radit berkomentar, "Kenapa tidak sekalian saja kamu membawa payung?"


Dari semua pembicaraan yang ada, kata sindiran yang pertama kali keluar dari mulut lelaki baik nan ramah bagi neneknya ini.


"Itu terlihat kampungan," balas Widya ketus.


"Tapi setidaknya, nggak berlebihan seperti penampilan yang kamu kenakan sekarang ini."


Melepas masker mulutnya, Widya mendongakkan kepalanya pada lelaki tinggi di sebelahnya.


"Ini nggak berlebihan, ini diperlukan, wahai Tuan Maha Benar," kata Widya sarat nada sindiran.


"Perlu untukmu, tapi berlebihan bagi orang lain.yang melihatnya, wahai Tuan Putri Maha Agung," balas Radit menyindir balik.


Keduanya saling bertatapan dengan sengit. Tepukkan bahu dari belakang mereka membuat keduanya menoleh. Di belakang mereka, Mila sedang menatap mereka dengan senyuman ceria twrulas di bibirnya. Mengamati keduanya secara bergantian, Mila mengetukkan jari telunjuk di dagunya.


"Apa kalian sedang bertengkar?" tanyanya curiga.


Secara bersamaan Widya dan Radit menjawab "Nggak!" Lalu kembali saling melotot karena tidak suka berkata hal yang sama secara bersamaan.


Entah mengapa, Mila merasa keduanya sangat lucu. Ini pertama kalinya, Mila melihat Radit cepat marah karena hal sepele. Biasanya, Radit selalu bersikap sangat tenang terhadap orang disekitarnya. Mila memang sudah mengenal Radit sejak kecil, jadi, ia sangat mengenalnya. Ia tahu, Radit selalu menahan emosinya agar dia bisa mengendalikan keadaan.


Sekarang lihatlah! Seorang perempuan cantik dari kota telah menghancurkan pertahanan yang telah Radit bangun dengan begitu mudahnya. Ingin rasanya Mila bertepuk tangan gembira untuk merayakan hancurnya kendali diri teman masa kecilnya itu.


"Ayolah, jangan saling melotot begitu! Tatapan mata kalian mungkin bisa menghanguskan gorengan seseorang," goda Mila, yang mendapatkan pelototan dari keduanya, kemudian keduanya saling membuang muka satu sama lain.

__ADS_1


"Iuw, apa ini?" celetuk Widya melihat ke sol sepatunya sambil mengerutkan hidung.


"Cuma kotoran sapi. Begitu saja heboh," ujar Radit, melirik tak acuh pada sepatu Widya.


"Cuma? Cuma, kamu bilang? Ini sepatu kesayanganku!"


"Nggak usah heboh. Tinggal di cuci aja, beres, 'kan?"


"Siapa juga yang mau pakai sepatu bekas kotoran." Menghampiri batu besar di pinggir jalan, Widya duduk untuk melepaskan sepatunya. Dilemparnya sepatu yang sudah ternoda kotoran itu ke tengah jalan. "Aku sudah tak sudi memakainya."


"Katanya, sepatu kesayangan, tapi, gampang sekali membuangnya," gumam Radit, tersenyum miring.


Mengambil sepatu itu dari tengah jalan, Mila menggesek sol sepatu milik Widya di pinggiran batu.


"Masih bisa dipakai kok, Wid." Mila memberikan sepatu itu kepada Widya kembali.


Membuang muka sambil menutup hidungnya, Widya mengibaskan tangan menyuruh Mila menyingkirkan sepatu itu dari hadapannya.


Widya melepaskan sepatu sebelahnya untuk diberikan pada Mila. Senyuman lebar terulas di bibir Mila, dia bahagia mendapatkan sepatu sebagus itu.


"Nah, sekarang kamu akan berjalan menggunakan apa? Nyeker?" ejek Radit.


"Kamu 'kan bisa kembali ke rumah nenekku untuk mengambil sepatuku yang lain. Sekarang cepat pergi sana!" perintah Widya, mengibaskan tangannya sebagai tanda mengusir.


"Atas dasar apa kamu berpikir aku mau menuruti perintahmu, wahai Tuan Putri Maha Agung?"


"Atas dasar kemanusiaan. Yah, kalau kamu memilikinya juga sih."


Sebelum Radit membuka mulut untuk membalas sindiran itu, Mila segera berdiri di antara keduanya dan menawarkan sandal yang dipakainya untuk digunakan oleh Widya dan memasang sepatu yang telah diberikan Widya dengan cepat di kedua kakinya.

__ADS_1


"Setidaknya ini lebih baik daripada menyeker. Bukankah begitu, Tuan Maha Benar?" sindir Widya lagi. "Sekarang aku mau pulang, moodku sudah rusak karena kotoran sapi menjijikkan itu."


"Bahkan ucapan terima kasih saja nggak keluar dari mulutmu itu atas bantuan Mila. Yah, walaupun aku nggak heran sih."


"Radit!" tegur Mila menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar dia tidak memulai perdebatan lagi. "Ayo, Wid! Biar kutemani pulang." Menggandeng lengan Widya, Mila menyeretnya menjauh dari Radit.


"Bisa gila aku kalau bersama cowok kasar itu lebih lama lagi." Widya mengipasi dirinya yang dipenuhi rasa amarah.


"Biasanya Radit nggak gitu kok, Wid."


Widya hanya memberikan Mila tatapan tak percaya.


Hari ini suasana hati Radit benar-benar buruk akibat perempuan sombong bermulut pedas dari kota itu. Menendang kerikil yang ada di jalanan, Radit melampiaskan rasa kesalnya.


"Wow! Kuat sekali tendanganmu, Bang."


Adiknya yang cerewet muncul entah dari mana, memberikan tepukan tangan meriah yang sangat berlebihan padanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Abang mengingkari janji Abang sama aku, 'kan tadi malam aku sudah bilang, aku ingin ikut acara jalan siangmu dengan cucu Nenek Aya."


"Abang nggak pernah berjanji apa pun sama kamu mengenai hal itu, Ririn. Dan Abang juga nggak melakukan acara jalan siang dengan penyihir itu. Abang hanya disuruh Nenek Aya menemaninya keliling desa."


"Sama saja. Sekarang mana cucu Nenek Aya? Kok Abang cuma sendiri?" Menghentikan jawaban Radit dengan mengangkat sebelah tangannya, Ririn tersenyum mengejek. "Biar kutebak, Abang ditinggalkan seorang diri di sini karena sikap Abang yang membosankan. Makanya, Abang terlihat kesal dan memanggil cucu Nenek Aya dengan sebutan, 'Penyihir'. Ahaha, Abangku yang malang."


Tawa terbahak-bahak Ririn makin membuat Radit kesal.


"Itu nggak benar! Jangan mengarang cerita kamu," kata Radit, mendelik marah pada adiknya. "Hey! mau kemana kamu? Ririn!"

__ADS_1


Panggilan Radit tidak dipedulikan sama sekali oleh adiknya. Ririn sudah berlari menjauh, meloncat-loncat girang ke sana kemari, bersiap menceritakan hal konyol itu ke seluruh warga desa. Hancur sudah ketenangan hidupnya, sebentar lagi ia akan menjadi bahan gosip hangat di desanya. Ini semua karena ulah adiknya yang sok tahu itu.


__ADS_2