Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Teror


__ADS_3

Tidak berapa lama setelah kepergian Mila dan Ririn dari rumahnya, seseorang datang mengetuk pintu rumahnya. Menenangkan degup jantungnya, Widya mengambil napas dalam-dalam sebelum menghadapi teror pertamanya, yang saat ini sedang menunggunya di balik pintu. Tentulah itu pasti Radit yang baru pulang bekerja, pikirnya muram.


Memasang ekspresi setenang mungkin, matanya beradu tatap dengan Pak Benny, yang sedang berdiri di depan pintunya sembari tersenyum ramah. Kakinya agak goyah saat mempersilakan ayah mertuanya itu masuk. Menunggu tamu yang tak disangkanya itu duduk di sofa, ia bersiap pergi untuk mengambilkan minuman.


"Tidak perlu repot, Wid. Bapak cuma mampir sebentar." Memberi isyarat agar Widya duduk juga, Pak Benny menunggunya duduk sebelum melanjutkan perkataannya. "Jangan takut begitu, Bapak datang ke sini bukan untuk menghakimi kamu."


Widya tetap tidak berani menatap mata ayah mertuanya, kepalanya menunduk memandang kedua tangannya yang bergerak-geraB gelisah di atas pangkuannya. Degup jantungnya berdetak tak beraturan, bahkan ia merasakan keringat dingin mulai bergulir di punggungnya.


"Kamu jangan merasa bersalah begitu. Bapak memang tidak terlalu mengenalmu, tapi Bapak tahu kamu tidaklah seperti yang dikatakan semua orang di luar sana." Pak Benny terdiam, seolah menunggu respons dari Widya.


Mendongakkan kepalanya, Widya menatap kedua mata Pak Benny dari seberang tempatnya duduk. Perlahan ia menghembuskan napasnya, yang tanpa disadarinya telah ia tahan sejak tadi.


"Mungkin apa yang mereka katakan tentangku memang benar adanya. Aku ini hanyalah orang kasar yang tidak tahu sopan santun. Maafkan aku," tunduknya lagi.


Pak Benny menggelengkan kepala, menyangkal tudingan Widya kepada dirinya sendiri. "Jangan begitu, Nak. Kamu tidaklah seperti itu."


Memukul kepalanya dengan kepalan tangannya, Widya menatap Pak Benny dengan rasa bersalah. "Aku ini memang bodoh karena nggak bisa mengendalikan emosiku."


Pak Benny menatap terkejut saat Widya memukul kepalanya sekali lagi. Tangannya terulur seolah ingin menghentikan tindakan Widya.

__ADS_1


"Jangan memukul dirimu seperti itu, Nak. Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri," pinta Pak Benny khawatir.


Mendesah lega melihat Widya menuruti permintaannya, Pak Benny kembali santai di tempat duduknya.


"Aku nggak tahu harus berkata apa lagi pada Ayah. Aku tahu aku sudah mempermalukan Ayah atas sikapku tadi sore pada Bu Leni, tapi aku melakukan itu karena Bu Leni memancing aku duluan," ujar Widya menjelaskan, ia tidak bisa menahan dirinya membela diri, kemudian ia kembali menundukkan kepalanya.


Hening sesaat. Menarik napas sejenak, ia pun kembali melanjutkan perkataannya.


"Mungkin aku terdengar seperti memberi alasan atas sikap kurang ajarku, hanya saja aku nggak bisa memaafkan sikap Bu Leni yang ingin mencampuri urusan rumah tanggaku," ucap Widya lirih, diremasnya tangannya di atas pangkuannya saat menunggu respons dari Pak Benny.


"Tanpa perlu kamu jelaskan, Bapak juga tahu kamu bukanlah orang yang suka memulai perkelahian. Bapak sudah lama tinggal di sini, jadi Bapak sangat mengenal karakter semua orang yang ada di sini," jawab Pak Benny lembut. "Dan seperti yang Bapak bilang tadi, Bapak datang ke sini bukan untuk menghakimimu. Maksud kedatangan Bapak kemari hanya untuk melihat keadaanmu. Bapak tahu betapa beratnya hidup di lingkungan yang masih baru bagimu ini."


"Untuk sementara ini lebih baik kamu diam di dalam rumah saja sampai gosip mengenai keributan sore tadi sudah lebih tenang," saran Pak Benny. "Bapak harap kamu mengerti."


"Tentu saja aku paham maksud Ayah. Tenang saja, aku akan tetap di dalam rumah, dan aku berjanji nggak akan mengulangi perbuatanku ini lagi," janji Widya bersungguh-sungguh.


Pak Benny mengangguk senang dengan janji yang diucapkan Widya itu.


Suara langkah kaki yang terdengar di halaman rumahnya membuat Widya teringat akan teror keduanya, yaitu Radit. Menegakkan postur tubuhnya di sofa, ia bersiap menghadapi teror keduanya.

__ADS_1


°°


Berdiri di ambang pintu memandang spekulatif pada Widya dan ayahnya—yang sedang berbincang berdua di ruang tamu—Radit terlebih dahulu memberikan salam pada ayahnya, yang langsung tersenyum menyambut kedatangannya. Meski berbicara dengan ayahnya, tatapan matanya hanya fokus memandang Widya, yang terlihat begitu tegang di tempatnya duduk. Nampak sekali istrinya itu sedang menghindari dirinya, matanya tidak mau beralih dari ayahnya, seolah istri mungilnya itu meminta pertolongan ayahnya untuk menyelamatkannya dari cengkraman Radit.


Mengalihkan perhatiannya pada ayahnya yang sedang beranjak berdiri untuk pamit pulang, ia pun segera menemani ayahnya keluar teras, diikuti oleh Widya yang kentara sekali menjaga jarak darinya.


"Jangan terlalu keras sama istrimu, Dit. Bicaralah baik-baik dengannya," pinta Ayahnya dengan suara pelan agar tak terdengar Widya.


"Bapak nggak perlu khawatir, aku nggak ada niat untuk bertengkar dengan Widya karena masalah sore ini."


"Baguslah kalau begitu."


°°


Menunggu dengan sikap waspada saat Radit menutup pintu rumah mereka, Widya mengamati suaminya itu langsung berdiri di hadapannya. Tatapan matanya penuh tanda tanya ketika menatap Widya yang duduk gelisah di kursinya. Sepertinya dia sedang berpikir apa yang harus dilakukannya pada Widya. Lalu tiba-tiba saja dia mulai berjalan mondar-mandir di hadapannya.


Keheningan memenuhi ruangan. Tidak ada satu pun yang berbicara, Widya hanya duduk diam menanti apa yang akan diucapkan Radit kepada dirinya. Ia berpikir, tak ada gunanya memulai pembicaraan terlebih dahulu karena apa pun yang akan diucapkannya hanya akan terdengar seperti pembelaan diri oleh suaminya itu. Jadi, ia memutuskan hanya duduk diam, mempersiapkan diri dari semburan amarah suaminya itu.


Sekejap langkah kaki Radit terhenti, kemudian dia memutar badannya menghadap Widya, perlahan dia mulai mendekati Widya yang duduk tegap di kursinya. Kedua tangannya meremas bahu Widya pelan, menunggu dirinya mendongak menatapnya. Mengangkat kepalanya pelan, Widya menatap lurus pada suaminya, dikepalkannya tangannya di pangkuan untuk menguatkan dirinya dari omelan suaminya itu.

__ADS_1


"Kerja bagus! Bu Leni memang pantas mendapatkan teguran itu," ucap Radit seraya mengangguk puas.


__ADS_2