Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Rayuan


__ADS_3

Menghembuskan napas gemetar, Widya lega Radit telah pergi meninggalkannya. Ia bisa merasakan seluruh darahnya terkuras dari wajahnya, jantungnya juga berdegup kencang di dadanya, hingga ia takut jantungnya akan melompat keluar saat itu juga. Sentuhan sekilas itu tadi sungguh mendebarkan, tetapi juga sekaligus menakutkan baginya.


Itu adalah pertama kalinya Radit menyentuhnya begitu mesra, ia benar-benar tak tahu harus menanggapinya bagaimana, jadi ia hanya bisa terdiam membeku di tempatnya seperti orang bodoh. Apalagi lidahnya terasa kelu untuk melontarkan perkataan pedas, agar Radit berhenti menggodanya.


Apa yang terjadi padaku? Apakah aku terkena sihir rayuan Radit yang menyebalkan itu? Ah, sial! Pasti Radit senang sekali dengan reaksi bisuku tadi.


"Oh iya, Wid, apa kamu nggak melihat hadiah yang aku belikan untukmu di meja makan?" teriak Radit dari dalam kamarnya.


Hadiah?


"Saat kita pulang tadi, aku nggak memperhatikan sekelilingku dengan baik, jadi aku nggak tahu kamu telah membelikan sesuatu untukku," balas Widya berteriak juga.


Suara tawa kecil terdengar dari dalam kamar Radit. "Coba kamu cek deh. Aku yakin kamu akan senang dengan hadiahku."


Mengikuti perintah itu, Widya beranjak dari tempatnya duduk untuk melihat hadiah yang dimaksud oleh Radit. Di atas meja makan tergeletak banyak barang di sana. Membuka satu per satu bungkusan itu, Widya mendapati beraneka ragam benda di sana, tetapi dari sekian barang itu hanya satu hal yang membuatnya senang, yaitu kotak besar berisi kue tart kesukaannya. Meneguk air liurnya, Widya begitu tergiur melihat kue itu. Sudah lama sekali ia tak makan kue tart.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Radit, kepalanya mencelinguk dari samping kepala Widya.


Sadar akan kedekatan itu, Widya bergeser menjauh darinya. "Sejak kapan kamu ada di belakangku?"


"Sejak matamu berbinar-binar memandang kue tart ini," jawab Radit, meniru mimik wajah Widya ketika pertama kali melihat kue itu.


Widya cekikikan melihat peniruan itu. "Kamu terlihat aneh dengan ekspresi wajah seperti itu, sangat tak cocok dengan badanmu yang besar itu."


Mendengar itu, Radit juga ikut tertawa kecil. "Aku 'kan hanya menirukanmu."


"Dari mana kamu tahu aku suka kue tart?"

__ADS_1


"Ibumu yang memberitahukan padaku kalau kamu menyukai makanan manis seperti ini, saat aku mengabarinya soal pembatalan perjalanan kita mengunjungi mereka di kota."


Seketika wajah Widya kembali murung karena diingatkan tentang hal itu. Dengan cepat Radit langsung mengganti topik pembicaraan. "Apa kamu nggak ingin mencicipinya?"


Menggeser kotak kue itu mendekat padanya, Widya memotong kuenya dengan pisau plastik yang ada di samping kue tart itu. Mengambil potongan kue itu, mata Widya terpejam erat menikmati sensasi kelembutan kue itu di dalam mulutnya.


"Ini benar-benar enak. Apa kamu mau mencobanya?" Tangannya terulur memberikan sepotong kue yang sudah digigitnya pada Radit.


Mengambil kue itu dari tangannya, Radit meletakkan potongan kue itu di dalam kotaknya kembali. "Aku nggak terlalu menyukai kue manis seperti ini, tapi kalau ini," diambilnya krim yang menempel di pipi Widya, "aku menyukainya. Sangat manis. Akan lebih manis lagi kalau aku mengambilnya dengan mu--"


Membekap mulut Radit dengan tangannya yang bersih, Widya menghentikan ucapannya yang belum selesai itu. "Kalau kamu berniat membuatku malu, ya, kamu berhasil. Jadi, kumohon, berhentilah mengucapkan kata-kata mesum dari mulutmu itu."


Lalu Widya menarik cepat tangannya yang menutup mulut Radit. Ia begitu terkejut atas apa yang baru saja dilakukan Radit pada telapak tangannya barusan.


"Kamu mencium telapak tanganku!" seru Widya terkejut.


Menatap tak percaya, Widya mengepalkan tangannya yang dicium tadi seerat mungkin. Makin lama suaminya itu semakin liar saja, pikir Widya ngeri.


"Berhenti menatapku seolah-olah aku ini binatang buas. Aku nggak akan memakanmu hidup-hidup." Tawanya meledak melihat bola mata Widya semakin lebar menatapnya. "Ngomong-ngomong, apa cuma kue itu saja yang kamu suka? Apa kamu nggak menyukai hadiahku yang lainnya?"


Radit mengeluarkan semua barang yang telah dibelinya, kemudian meletakkannya ke atas meja makan.


"Aku nggak menyukainya, terutama baju kampungan yang kamu belikan untukku itu. Apa-apaan ini!" Widya mengangkat jijik pada baju norak yang dibeli Radit untuknya. "Aku punya lebih dari cukup baju santai, jadi tak ada gunanya kamu membelikanku baju kampungan seperti ini."


"Ini nggak kampungan, kamu aja yang sok modis. Lagian semua perempuan di desa ini memakai baju seperti ini. Lebih baik memakai baju tertutup seperti ini daripada baju yang selalu kamu kenakan. Ini akan membuatmu terlihat sama seperti orang di desa ini."


"Aku nggak suka terlihat sama seperti orang lain. Aku menyukai gaya berpakaianku, dan nggak ada niat untuk mengubahnya. Sebaiknya baju dan rok panjang itu kamu berikan saja pada orang lain," saran Widya. Mengatupkan kedua tangannya, mata Widya berkilat senang saat menatap Radit. "Sekarang aku tahu, baju itu harus kuberikan pada siapa."

__ADS_1


"Siapa?" tanya Radit penasaran.


"Mila. Dia 'kan punya banyak tuh baju yang bentuknya kayak gini."


"Aku membelikannya untukmu, bukan untuk orang lain. Pokoknya baju ini nggak boleh diberikan pada siapa pun. Suka ataupun nggak, baju ini milikmu." Radit menaruh pakaian itu di kedua tangan Widya.


"Dan suka ataupun nggak, aku nggak akan pernah memakainya," balas Widya ketus, wajahnya merengut kesal.


"Terserah."


"Terus apaan tuh boneka banteng dan gantungan kunci Angry Bird yang kamu beli, nggak guna banget," ledek Widya.


"Apa kamu nggak sadar kedua benda ini menggambarkan dirimu, terutama boneka ini." Mendekatkan boneka banteng di samping wajahnya, Radit mengangguk-angguk senang memandang perbandingan itu. "Persis."


Menjauhkan boneka itu dari wajahnya, Widya melotot marah pada Radit. "Persis apanya, justru kamu yang mirip banteng itu."


Radit menutup kedua telinga boneka banteng itu. "Huss, jangan gitu, kembaranmu marah." Mengelus kepala banteng itu dengan lembut, Radit memeluknya erat. "Banteng yang malang."


"Sepertinya kamu mulai gila." Widya mendecakkan lidahnya seraya membereskan barang yang ada di atas meja makan.


"Selamat membersihkan. Aku akan menunggumu di kamar bersama kembaranmu ini di tempat tidur." Ditepuknya pundak Widya ringan sebelum pergi ke kamarnya.


Untuk beberapa saat tadi, Widya sudah melupakan hal itu. Sekarang ia jadi teringat kembali pada hukuman yang menantinya di dalam sana. Mencomot kue yang belum habis dimakannya tadi, ia melahapnya dengan cepat, berharap rasa manis kue itu bisa menghilangkan stresnya.


"Aku belum berniat untuk tidur, kamu tidur saja duluan! Aku mau nonton TV dulu," teriaknya, memberitahukan pada Radit yang sudah memasuki kamar.


"Kalau begitu, aku juga akan menonton TV bersamamu," balas Radit berteriak di dalam kamar.

__ADS_1


Sialan, suami mesumnya ini nggak ingin melepaskanku dari cengkramannya semudah itu. Tamat sudah riwayatku, tidak ada jalan keluar.


__ADS_2