Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Tidak Ada Ampun


__ADS_3

Widya tidak tahu bagaimana harus mengatasi situasi canggung sekaligus memalukan ini. Ia melirik sekilas pada Radit untuk meminta bantuan, tetapi suami isengnya itu terlihat seolah menikmati kepanikan Widya terhadap situasi ini. Dia hanya menyeringai nakal padanya dan kilatan di matanya seolah berkata "Selesaikan masalah ini sendiri, aku nggak mau membantumu" Ha! Berani sekali dia bertingkah tak mau tahu seperti itu. Apa dia lupa kalau yang menyebabkan situasi memalukan ini adalah dirinya? Andai saja dia mendengarkan peringatan dari Widya, pasti mereka tidak akan berada dalam situasi memalukan ini.


Jika ia pikirkan baik-baik lagi, Ririn juga salah dalam hal ini. Andai saja dia tidak masuk menerobos seperti tadi, mungkin situasinya tidak akan secanggung ini. Kedua kakak-beradik ini, entah mengapa, selalu saja membuat Widya sakit kepala dengan kelakuan mereka yang suka memojokkannya.


"Apa aku harus pergi lagi supaya kalian bisa melanjutkan apa yang kalian lakukan tadi?" tanya Ririn polos, menahan senyumnya.


"Kami nggak melakukan apa pun!" tampik Widya terlalu keras.


"Kecilkan suaramu, Widya, atau semua orang di luar sana akan mendengarkan jeritan panikmu," tegur Radit, berusaha agar tidak tertawa.


"Aku nggak menjerit!" elak Widya, lalu sadar kalau ia meninggikan suaranya lagi. Berdeham, ia berbicara setenang yang ia mampu, "Ririn cepat masuk dan tutup pintunya! Atau orang yang ingin tahu di luar sana akan menonton kita semua di rumah ini."


"Apa Kak Widya yakin aku diperbolehkan masuk sekarang?" ujar Ririn ragu, tetap bergeming di ambang pintu. "Kalau kalian mau, aku bisa keluar lagi untuk memberi privasi pada kalian."


"Pengertian sekali kamu," sela Radit, beranjak bangun dari posisinya dan duduk menyandar di sofa. "Lain kali kalau kamu lebih peka lagi, ketuk pintu dulu sebelum menerobos seenak jidat seperti tadi. Ingat kami ini masih dalam masanya pengantin baru."


"Radit!" seru Widya, membeliakkan matanya pada Radit kesal.


"Baiklah ini semua salahku, karena lupa kalian berdua masih dalam masa mesra-mesranya," hela Ririn, menunduk penuh penyesalan. "Aku mulai merasa kalau tindakan Ayah menitipkanku pada kalian berdua, sepertinya bukanlah tindakan yang tepat."


"Syukurlah kalau kamu sadar diri. Selama ini kamu memang bisanya cuma menyusahkan orang saja," setuju Radit, menganggukkan kepalanya.


"Jadi mau Bang Radit apa? Mengusirku dari sini?"


"Nggak perlu sedramatis itu, Ririn." Radit menggoyang-goyangkan jari telunjuknya, menegur saran kasar itu. "Kamu bisa dengan sukarela kembali ke rumahmu seorang diri, yah itu pun kalau kamu berani melakukannya. Kamu 'kan penakut."


"Kalian berdua hentikan pembicaraan bodoh kalian!" teriak Widya, mengacak pinggangnya dan menatap keduanya dengan raut penuh amarah. "Nggak ada yang keberatan ataupun yang pergi dari sini dengan sukarela. Sekarang cepat masuk ke dalam rumah, Ririn, jangan membantah lagi!"


"Astaga, Widya, kami hanya bergurau. Nggak perlu marah-marah begitu kayak nenek lampir," ledek Radit, tersenyum mengejek. "Kami hanya sedang mencairkan suasana saja, iya 'kan, Rin?"


Menutup pintu rumah seperti perintah yang disampaikan Widya tadi, Ririn melangkah perlahan mendekati Widya.


"Apa yang dikatakan Bang Radit benar, Kak Widya nggak usah sensian begitulah. Malu sama tetangga," kekeh Ririn, menggandeng lengan Widya. "Nah sekarang ayo tunjukkan padaku, oleh-oleh yang aku minta waktu itu!"


"Candaan kalian nggak lucu sama sekali, dasar kalian kakak-beradik memiliki selera humor yang payah."


"Kalian berdua jangan terlalu lama mengobrolnya!" teriak Radit dari ruang tamu. "Masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan dengan Widya, apa kamu mendengarnya, Ririn?"


"Jangan berteriak, Radit! Ini sudah malam," balas Widya berteriak dari dalam kamar Ririn, yang dulunya kamar yang ia tempati.


"Aku nggak berteriak, Sayang, hanya meninggikan suara sedikit saja," sahut Radit, sekali lagi kembali berteriak, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya.


Mengambil bantal yang ada di atas kasur, Widya berniat melemparkan bantal itu ke wajah Radit. Namun, Ririn yang ada di sampingnya menghentikannya.


"Abaikan saja dia, Kak Widya," pinta Ririn, memegang lengan Widya. "Dia hanya ingin memancing emosi Kak Widya agar datang menemuinya di ruang tamu. Aku tahu akal bulus manusia kesepian itu, dia cemburu Kak Widya bersamaku saat ini."

__ADS_1


Memikirkan ucapan Ririn baik-baik, Widya merasa adik iparnya itu ada benarnya juga. Berjalan ke arah ranjang, ia kembali meletakkan bantal yang dipegangnya tadi ke sana dan kembali mengeluarkan oleh-oleh yang ia bawa dari dalam tas, kemudian menyerahkannya kepada Ririn.


Ada bagusnya Widya mengikuti saran Ririn, sebab dari ruang tamu tidak lagi terdengar suara Radit yang menyebalkan setelah ia mengabaikan omongannya tadi. Padahal selama ini dia selalu mengatakan kalau Widya kekanakan, tapi lihatlah tingkahnya tadi? Apalagi sebutannya bagi orang yang sengaja cari masalah dengannya hanya untuk menarik perhatiannya, kalau bukan kekanakan? Suami menyebalkannya itu selalu tidak sadar diri.


Nanti. Ketika mereka hanya berdua saja, Widya akan mengingatkan hal itu lagi padanya. Bahwa dia juga tak ada bedanya dengan Widya. Ia sungguh tidak sabar melihat bagaimana respon suami sok dewasanya itu.


∞ ∞


Akhirnya apa yang selama ini dinantikan oleh Radit terjadi juga. Malam ini ia akan memiliki Widya seutuhnya. Konyolnya lagi, istrinya itu dengan sengaja menyisir rambutnya di depan meja rias begitu lama, dia mengulur waktu naik ke atas ranjang bersamanya.


Bersandar santai dengan kedua lengan ditempatkan di bawah kepalanya, Radit menatap Widya lekat-lekat, sengaja membuat Widya merasa tidak nyaman. Dari tempatnya berbaring, ia bisa melihat kalau tangan istri pemalunya itu sempat bergetar sebentar, tetapi pulih dengan cepat dan dia kembali menyisir rambutnya dengan tenang.


"Kamu yang ke sini atau aku yang ke sana?" tawar Radit, tidak bisa bersikap sabar lagi menunggu Widya menyelesaikan sisiran menyebalkannya. "Aku beri kamu waktu 10 detik."


Menghentakkan sisirnya ke meja rias, Widya segera bangkit dari tempat duduknya, lalu berbalik menghadap Radit dengan raut kesal.


"Kamu ini nggak sabar sekali," keluh Widya, berjalan cepat ke ranjang.


"Bukannya aku nggak sabar, kamu saja yang terlalu menyebalkan dengan bertingkah menunda-nunda sesuatu yang harus dilakukan," balas Radit, menarik tangan Widya sehingga dia jatuh berbaring di sebelahnya. "Nggak ada lagi alasan, kamu nggak bisa menolakku lagi."


"Kecilkan suaramu! Nanti Ririn mendengarkan kita dari kamar sebelah," tegur Widya, beringsut gelisah di bawahnya.


"Aku sudah mengecilkan suaraku sekecil mungkin, Sayangku," ucap Radit, terkekeh geli dengan kegelisahan Widya. "Kamu saja yang terlalu gugup sehingga mengira aku berteriak lantang."


Widya mendorong tubuhnya menjauh. Dengan enggan, Radit beranjak bangun dari posisinya, kemudian mamatikan lampu di kamar seperti yang diinginkan istrinya yang pemalu itu. Lalu dilihatnya Widya bersembunyi di balik selimut, seakan-akan itu tempat berlindungnya dari Radit.


Melengkungkan senyuman licik, Radit menghampiri tempat tidurnya dan menyelipkan dirinya ke dalam selimut. Menjerit kecil, Widya tertawa dengan kegigihan Radit melepaskan selimut itu dari tangannya. Selama beberapa menit mereka saling bermain-main di dalam selimut. Namun, tak berapa lama permainan saling merebut selimut itu berubah menjadi sesuatu yang lebih panas.


Kali ini mereka bergulat untuk sesuatu yang lebih sensual. Terdengar desahan-desahan dan suara napas yang kian memburu dari balik selimut itu.


"Jangan bersuara seperti itu, Widya! Nanti Ririn mendengarmu," tegur Radit, tertawa geli.


"Ucapanmu itu sama saja kamu menyuruh seekor kucing agar nggak mengeong," balas Widya.


"Berarti kamu tadi sedang mengeong?"


"Jangan konyol, aku bukan kucing! Berhenti berpura-pura bodoh dan nggak memahami ucapanku."


"Apa kamu nggak kepanasan? Sebaiknya kita lepaskan saja selimut sialan ini."


"Aku merasa nyaman di dalam sini."


"Begitukah?"


"Apa yang kamu pegang?" desis Widya, menegang merasakan sentuhan Radit di area sensitifnya.

__ADS_1


"Aku hanya menyentuh apa yang menjadi milikku, apa salahnya?" sahut Radit, tidak merasa bersalah sama sekali.


"Pelan-pelan, Radit."


"Bagaimana kalau aku nggak bisa?" goda Radit. "Sudahlah, Wid, jangan berbicara lagi! Aku nggak ingin membicarakan apa pun lagi sekarang ini."


Setelah itu Radit membungkam balasan yang akan dikatakan Widya padanya dengan ciuman yang begitu dalam. Seketika tidak ada lagi kata-kata yang terucap di antara mereka berdua, selain desahan-desahan nikmat mengisi ruangan dalam selimut itu.


Tidak berapa lama kemudian terdengar gedoran kencang dari luar pintu kamar mereka.


"Bang Radit, Kak Widya, buka pintunya!" teriak Ririn dari balik pintu, terdengar sangat panik. "Apa kalian sedang tidur? Kumohon bangunlah!"


Mengangkat selimut yang berada di atas tubuhnya, Radit melemparkan tatapan membunuh pada pintu kamarnya. Seumur hidup, baru kali ini Radit merasakan ingin menyumpal mulut adiknya itu, kemudian melemparkannya ke dalam lemari dan menguncinya di dalam sana untuk beberapa jam.


"Radit menyingkir dari atasku!" pinta Widya, mendorong tubuh Radit susah payah. "Ririn sepertinya perlu bantuan kita."


"Abaikan saja dia!" Radit menahan kedua tangan Widya di sisi tubuhnya. "Anak itu selalu menghebohkan sesuatu yang nggak penting."


"Radit!" geram Widya, melotot marah padanya. "Berhenti bersikap konyol. Adikmu membutuhkan bantuan kita."


Menghela napas frustasi, Radit dengan enggan segera menyingkir dari atas tubuh Widya. Mengacak-acak rambutnya kesal, ia menatap pintu penuh kejengkelan. Tiba-tiba terdengar suara terkesiap dari Widya, menolehkan kepalanya, ia menatap istrinya itu dengan kebingungan.


"Sejak kapan kamu nggak berpakaian? Tunggu dulu, apa aku juga nggak berpakaian?" Memasuki kepalanya ke dalam selimut, Widya mengeluarkan kepalanya kembali dengan raut lega. "Syukurlah aku masih berpakaian lengkap, meskipun ada beberapa tempat yang tersingkap."


Melemparkan tatapan menuduh pada Radit, dia berusaha merapikan penampilannya yang berantakan.


"Sikapmu konyol sekali," ucap Radit, menggelengkan kepalanya, menatap heran pada Widya. "Percuma saja kamu merapikan penampilanmu, siapa pun bisa melihat kalau kamu baru saja dilahap oleh seseorang."


Ekspresi ngeri terpampang di wajah Widya hingga ingin membuat Radit tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Akan tetapi, ia menahannya karena sekarang bukanlah saatnya untuk tertawa. Ketukan tak sabar di balik pintu kamarnya lebih membutuhkan perhatiannya.


"Apa sejelas itu? Kalau begitu kamu saja yang membukakan pintu. Aku akan melihat dari sini saja," usir Widya. "Tapi sebelum itu, pakailah pakaianmu lebih dulu."


Widya mengambil kaos Radit dari dalam selimut dan mengulurkannya dengan wajah memerah padam.


"Tanpa kamu beritahu pun, aku akan melakukannya." Radit dengan gesit memasang baju atasannya. "Daripada mengkhawatirkanku, sebaiknya kendalikan dulu rona wajahmu itu."


"Aku nggak tahu kamu segesit itu sampai aku nggak sadar kamu sudah melepaskan baju atasanmu," gumam Widya, menyembunyikan sebagian wajahnya di balik selimut.


"Bukan karena aku gesit, kamu saja yang terlalu menikmati aktivitas kita tadi sehingga lupa diri. Jadinya nggak sadar ketika aku melepas atasanku."


Sekali lagi Widya mengeluarkan suara terkesiap saat mendengarkan perkataan terus terang Radit padanya. Mata Radit berkilat geli melihat rona wajah Widya semakin memerah padam. Namun, ekspresi wajahnya berubah serius saat berbalik menghadap ke arah pintu kamarnya.


"Berhentilah mengetuk, Ririn!" seru Radit lantang, memutar kunci pintu. "Dasar anak nakal, berani sekali kamu membuat kegaduhan di tengah malam begini."


Awas saja kalau ini bukanlah sesuatu yang penting, bersiaplah menerima sentilan dariku.

__ADS_1


__ADS_2