
Lalu, yang lebih membuat Widya lebih kaget lagi, wajah Radit mulai bergerak mendekat ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang di dadanya, menanti apa yang akan dilakukan Radit padanya. Matanya langsung dipejamkannya begitu erat, kedua tangannya mencengkram selimut yang menutupinya sekuat tenaga di depan dadanya.
Saat itulah suara bisikan terdengar di telinganya. "Apa kamu berharap, aku akan menciummu, Istriku?" Nada gelinya terdengar sangat menjengkelkan bagi Widya.
Mendorong tubuh Radit menjauh, Widya merasakan panas di kedua pipinya. "Kamu menggodaku lagi!"
Senang oleh reaksinya, Radit tertawa mengejek. "Jujur saja, aku nggak menyangka kamu akan menutup matamu sambil menanti ciuman dariku."
Mengambil boneka banteng yang diletakkan Radit di atas meja samping tempat tidur, Widya melemparkan boneka itu tepat ke wajahnya yang masih tertawa.
"Siapa juga yang mau dicium olehmu. Aku tadi hanya syok, makanya cuma bisa berdiam diri seperti itu," elak Widya.
Masih dengan senyuman menjengkelkan terpampang di wajahnya, Radit meletakkan boneka banteng itu di dekat kepala ranjang.
"Apa katamu sajalah," balas Radit, tersenyum mengejek.
Kemudian dia segera membalikkan badannya untuk kembali tidur lagi. Radit dengan sengaja mengabaikan tatapan amarah yang dilayangkan Widya pada punggung belakangnya.
Tidak ingin mengungkit hal itu lebih lama lagi, Widya juga kembali memejamkan matanya untuk mencoba tidur lagi. Meskipun ia merasa tidak akan bisa tertidur cepat, sebab dirinya masih merasa malu dan marah pada Radit, yang telah berhasil menggodanya.
__ADS_1
Dasar bodoh, bisa-bisanya saat itu kamu memejamkan matamu. Aahhh, ini memalukan.
°°
Mungkin inilah yang dinamakan, "Senjata Makan Tuan". Akibat keputusan cerobohnya, sekarang Radit terjebak dalam situasi tidak menyenangkan. Ia tidak bisa kembali tertidur pulas seperti tadi. Tentu saja itu bukan karena ulah istri pendendamnya yang telah membangunkannya--dengan cara menendangnya jatuh dari tempat tidur--melainkan rasa tidak nyaman telah tidur satu ranjang dengan istrinya untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka.
Awalnya ketika Radit memberikan hukuman pada Widya untuk tidur bersamanya malam ini, ia tidak berpikir bahwa itu akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sekarang ia baru menyadari, walau bagaimanapun Widya tetaplah seorang perempuan, dan ia seorang lelaki, ditambah lagi sekarang mereka berdua sudah sah menjadi suami istri. Tentunya hal itu sudah cukup membangkitkan imajinasi liar dari dalam dirinya. Apalagi saat ia menatap wajah Widya begitu dekat tadi. Melihat istri cantiknya itu begitu pasrah menanti ciuman darinya, ia hampir saja menerkamnya seperti serigala yang kelaparan.
Beruntunglah saat itu Radit berhasil menghentikan dirinya sebelum Widya sadar apa yang ada di benaknya. Karena itulah ia tadi sengaja memancing amarah Widya untuk memadamkan gairahnya yang hampir meledak. Dan, rencananya berhasil, Widya meluapkan rasa amarahnya dengan melemparkan boneka tepat ke depan wajahnya sekeras mungkin. Namun, itu hanya bersifat sementara.
Mendengarkan suara napas tenang Widya di belakangnya, kembali membangkitkan imajinasi liar lagi di dalam dirinya. Membalikkan badan, dilihatnya Widya sudah tertidur pulas, wajahnya yang selalu mengerut kesal pada Radit kini terlihat begitu damai.
Dasar perempuan menyebalkan, bisa-bisanya kamu tertidur pulas setelah membuatku bergairah seperti ini.
Berbaring miring, Radit sudah menyerah untuk mencoba kembali tidur lagi. Selama menunggu hari menjelang pagi, ia memutuskan menghabiskan sisa malam itu dengan memandang wajah Widya. Kini ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa tanpa disadarinya dia telah mulai menyukai istri kasarnya itu. Dan sampai kapan pun ia tak akan pernah mengakui hal itu kepada Widya. Pengakuannya itu hanya akan membuat Widya makin besar kepala, dan bertindak semaunya pada dirinya nanti. Jadi, ia memutuskan untuk menyimpan perasaan itu untuk dirinya sendiri.
***
Terbangun dari tidurnya, Widya merasakan ada seseorang sedang menatapnya di samping tempat tidur. Menduga kalau itu adalah Radit, ia menahan diri untuk tidak membuka kedua matanya. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, apa kegerangan yang dilakukan Radit, bukannya bersiap-siap berangkat kerja, dia malah memperhatikan dirinya tidur.
__ADS_1
Sejak kapan dia mulai menatapku? Apakah dia memandangku sepanjang malam?
Dirasakannya gerakan di sampingnya, kasur di bawah tubuhnya terasa bergerak saat Radit turun dari tempat tidurnya. Suara telapak kakinya terdengar seperti melangkah keluar kamar. Mengintip kecil dari balik matanya, Widya melihat Radit sudah berjalan keluar dari kamar dalam keadaan pintu kamar tetap terbuka.
Menghela napas lega, Widya merenggangkan tubuhnya di atas kasur. Duduk di atas kasur, ia melirik ke arah jendela kamar, dan melihat kalau hari sudah pagi.
Akhirnya, berakhir sudah masa hukumanku.
~ ~
Melirik sekilas penampilannya di depan cermin besar lemari riasnya, Widya mengerutkan kening pada pakaian yang dikenakannya. Hari ini ia berencana untuk keluar jalan-jalan seorang diri, dan ada satu tempat yang ingin dikunjunginya sejak lama, yang sayangnya tidak bisa didatanginya karena berbagai masalah menghalanginya pergi ke sana. Namun, siang ini tekadnya sudah bulat, apa pun yang terjadi ia akan pergi ke sana seorang diri.
Kembali lagi pada permasalahan mengenai pakaiannya, Widya awalnya tidak ingin menggunakan pakaian norak yang dibelikan oleh Radit itu sama sekali. Akan tetapi, ia membutuhkan pakaian itu agar tidak terlalu menarik perhatian. Demi melengkapi penampilannya yang berpakaian ala orang desa, ia juga sudah mengepang rambutnya biar lebih sempurna lagi penampilannya. Mengepang samping rambutnya, ia tetap merasa parasnya yang rupawan tidak bisa menutupi bahwa ia bukanlah salah satu penduduk di desa ini.
Beberapa orang mungkin menganggap Widya terlalu percaya diri dan sombong dengan kecantikannya, sampai mengakui pada dirinya sendiri jika ia tidak memiliki tampang orang desa. Namun nyatanya, memanglah begitu adanya, dan ia tidak peduli jika semua orang berpikiran seperti itu mengenai dirinya.
Pertama kalinya mengenakan rok panjang, awalnya Widya tidak merasa leluasa ketika berjalan. Beberapa kali ia hampir tersandung kakinya sendiri. Oleh sebab itu, akhirnya ia mencoba untuk tidak terlalu terburu-buru saat berjalan ke arah pintu keluar.
Memastikan keadaan di luar tidak ada siapa pun, Widya bergegas keluar rumah. Membuka payungnya, ia berjalan perlahan di halaman rumahnya sambil melirik ke kiri dan ke kanan, lega belum ada yang melihatnya, ia kembali melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Ada gunanya juga punya payung, ini bisa menghalangi pandangan orang-orang melihat ke arahku langsung, pikir Widya bangga. Selama perjalanan itu ia mengingat jalanan yang dilaluinya saat malam ia kepergok bersama Radit di dalam Rumah Buku. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya mengenang malam mengerikan itu, yang membuatnya berakhir menikah dengan Radit, ia tidak sadar kalau di depannya ada Bu Leni bersama ibu-ibu lain--yang tidak terlalu dikenalnya--melihat ke arahnya penuh rasa ingin tahu.
Terkejut melihat musuh bebuyutannya itu, Widya agak memiringkan payungnya untuk menghalangi pandangan mereka sambil berjalan secepat mungkin melewati mereka. Ia sedang tidak ingin meladeni mulut pedas Bu Leni. Harinya yang indah akan rusak jika melawan omongan menyebalkan tetangga keponya itu.