Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Pilihan


__ADS_3

Keesokan paginya..


Menghalau sinar matahari pagi dengan tangannya, Widya perlahan membuka matanya. Ketika ia menoleh ke arah jendela kamarnya yang terbuka, samar-samar ia mendengarkan suara siulan riang dari luar kamarnya. Sepertinya suasana hati Radit pagi ini sedang bagus.


Mencium aroma yang masuk ke dalam kamar, Widya menduga bahwa Radit saat ini sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Namun, ia tidak tahu apa yang menyebabkan suaminya bersenandung seperti itu. Ini pertama kalinya ia mendengarnya. Nanti. Nanti ia akan menanyakan hal itu pada suaminya.


Merenggangkan badannya di atas kasur, Widya dibuat terkejut saat mendapati ia tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Menarik selimut yang melorot ke bawah dadanya, Widya mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya.


Perlahan ingatan malam tadi pun tumpah ruah di dalam kepalanya. Berawal dari kemunculannya yang tiba-tiba di acara reuni Radit, perdebatan sepulangnya mereka ke rumah, hingga akhir dari pertengkaran itu menuju kamar tidur mereka. Menarik ujung selimut menutupi kepalanya, Widya menendang-nendang kecil di dalam selimutnya.


Ya ampun, aku tadi malam melakukannya. Sekarang aku seorang wanita.


Sekarang setelah ia mengingatnya begitu jelas, ia tidak bisa menutupi rasa malunya. Wajahnya terasa memanas jika mengingat kenangan akan belaian Radit padanya tadi malam. Suaminya itu benar-benar tidak melepaskannya sepanjang malam. Ia bisa merasakannya dari rasa pegal di sekujur tubuhnya, karena serangan-serangan sensual Radit tadi malam.


Tunggu dulu! Ini bukan saatnya mengingat malam pertama mereka sebagai pasangan suami-istri. Ia harus mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, sebelum suami nakalnya itu masuk ke kamar.


Mengeluarkan kepalanya dari balik selimut, Widya melirik gugup ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Ia tidak ingin suatu waktu Radit akan memergokinya, saat ia sedang memungut pakaiannya yang ada di lantai.


Akan sangat memalukan menghadapi suaminya itu dalam keadaan telanjang bulat di dalam selimutnya. Apalagi dengan cahaya terang begini. Tidak peduli mereka sekarang sudah resmi sebagai pasangan suami-istri. Ia masih belum terbiasa mengekspos dirinya seterbuka ini pada suaminya.


Menahan erat selimut dengan satu tangan, Widya berusaha menggapai pakaian dalamnya yang berada di bawah ranjang. Sedikit lagi. Saat ia sudah hampir menyentuhnya, suara siulan serta langkah kaki Radit terdengar kian mendekat ke arah kamar.


Sial! Kenapa dia harus datang disaat aku hampir saja meraihnya.


Tidak punya pilihan lain, Widya dengan cepat kembali ke posisi berbaringnya sembari memejamkan matanya erat-erat. Setidaknya, ia bisa berpura-pura belum bangun tidur. Dengan begitu, Radit tidak akan menggodanya.


Dentuman jantungnya terdengar begitu berisik di telinganya, sehingga Widya takut jika Radit akan mendengarkannya juga. Lebih parahnya lagi, ia semakin gugup, saat mendengarkan suara langkah kaki Radit berjalan mendekat ke arah ranjang.


Tenang, Widya, tenang! Jangan gugup. Kalau kamu panik begini, itu hanya akan membongkar kebohonganmu.


"Kalau kamu menahan napasmu seperti itu terus, maka nggak lama lagi kamu akan kehabisan napas," ujar Radit, terkekeh geli di sampingnya. "Nggak ada gunanya pura-pura tidur begitu, Sayang. Siapa pun bisa tahu kalau saat ini kamu sedang berpura-pura tidur, jika wajahmu saja setegang itu."


Menghembuskan napasnya, yang tak ia sadari telah ditahannya sejak tadi, Widya tetap tidak ingin membuka matanya. Ia masih terlalu malu untuk beradu tatap langsung dengan Radit.


"Dan, jika kamu punya rasa peka sedikit, seharusnya kamu juga pura-pura nggak menyadari kebohonganku ini. Dasar kamu suami nggak pengertian!"


"Kenapa aku harus melakukannya?"


"Pikirkan saja sendiri dengan otakmu yang lola itu!"


"Nggak baik berbicara dengan seseorang dalam keadaan mata tertutup begitu, Manis," bisik Radit di telinganya.


Terlonjak kaget oleh suara bisikan itu, Widya seketika membuka matanya lebar-lebar sambil menjerit kecil. Ia bergeser menjauh dari Radit, yang tersenyum geli melihat ketakutannya.


"Kamu melukai hatiku, Sayang," desahnya dramatis, menempelkan telapak tangannya di dada. "Aku ini suamimu. Kamu nggak perlu menjerit ketakutan begitu."


"Sebaiknya kamu berangkat kerja sana! Daripada menggangguku dengan omong kosongmu itu. Aku perlu privasi."


Bukannya menuruti kemauannya, Radit malah duduk menyamping di atas kasur.


"Privasi aoa maksudmu? Privasi ini, maksudmu?"


Dengan sengaja Radit menyentak pelan selimut yang digenggam erat olehnya.


"Apa yang kamu lakukan!" jerit Widya, hampir terjatuh dari atas ranjang.


"Astaga, Widya, tenanglah!" tegur Radit, terkejut melihatnya yang hampir terjungkal ke bawah ranjang. "Kamu hampir saja mematahkan lehermu."


"Ini semua karena kamu mengagetkanku!" tuduhnya. "Kumohon, Dit, menjauhlah dariku."


Akhirnya, kali ini Radit menuruti kemauannya. Dia beranjak bangun dari atas kasur sembari mengangkat kedua tangannya.


"Jujur, aku benar-benar nggak mengerti dengan sikapmu pagi ini." Radit menggeleng-gelengkan kepalanya. "Seharusnya, setelah malam tadi, kamu nggak perlu bersikap malu-malu begini."


"Itu malam tadi. Sekarang sudah pagi, dan aku nggak merasa nyaman sama sekali bertatap muka denganmu dalam keadaan seperti ini."

__ADS_1


Sebuah senyuman nakal menghiasi wajah Radit.


"Seperti ini, bagaimana maksudmu?"


"Kamu tahu maksudku! Nggak usah berlagak sok bodoh."


"Ayolah, Sayang, nggak perlu malu begitu. Aku sudah melihat semuanya tadi malam. Tak ada gunanya kamu bertindak malu-malu begini, setelah apa yang kita lakukan tadi malam."


"Kamu nggak perlu mengingatkanku tentang hal itu lagi," ujar Widya, tersipu malu. "Aku ini bukan seperti dirimu, yang dengan santainya mondar-mandir ke sana kemari tanpa mengenakan sehelai benang pun."


"Kalau boleh tahu, kapan tepatnya, aku 'mondar-mandir ke sana kemari tanpa sehelai benang pun' itu? Seingatku, aku nggak pernah melakukan hal itu di depanmu sama sekali."


"Itu hanya perumpamaan," jawab Widya, mulai lelah menjelaskan tentang perasaannya pada suaminya. "Intinya, kamu itu nggak punya malu! Nah, cukup sekian pembicaraannya. Sekarang, tinggalkan aku sendiri."


"Daripada berkutat dengan rasa malumu yang tak berguna itu, lebih baik kamu membantuku mengancingkan kemejaku ini saja," saran Radit, memperlihatkan beberapa kancing bajunya yang masih belum terpasang.


"Kamu punya tangan sendiri. Jadi, jangan merepotkanku dengan sesuatu yang bisa kamu lakukan sendiri," tolaknya, mengibaskan tangannya. "Omong-omong, mau ke mana kamu dengan penampilan seperti itu? Tumben sekali kamu mengenakan kemeja ke peternakan. Biasanya kamu 'kan selalu mengenakan kaos biasa."


"Akhirnya kamu memperhatikanku juga. Sejak tadi aku sudah menunggumu mengajukan pertanyaan tentang penampilanku hari ini," ujar Radit, berjalan ke depan cermin besar untuk melihat penampilannya. "Aku mau mampir sebentar ke pusat kota untuk membeli beberapa keperluan dan menemui seseorang, jika itu bisa menjawab rasa penasaranmu."


"Seseorang?" seru Widya, tidak bisa menahan nada curiga di suaranya. "Siapa seseorang itu, kalau boleh aku tahu?"


"Hanya calon pembeli, Widya sayang," jawab Radit, menoleh dari balik bahunya. "Kalau kamu securiga itu, kamu bisa ikut bersamaku."


"Nggak perlu sedramatis itu. Aku terlalu lelah untuk pergi ke mana pun saat ini."


"Jika berkenan, Istriku, bolehkah aku...."


"Nggak!" sahut Widya cepat, sebelum Radit menyelesaikan kalimatnya. "Aku tahu apa yang akan kamu tanyakan padaku, dan aku menolak keras untuk menjawabnya, demi rasa puasmu menggodaku terus-menerus itu."


"Kamu ini sensitif sekali," gerutu Radit.


"Berkat siapa aku mendapatkan perasaan sensitif ini?" balasnya jengkel. "Aku peringatkan padamu. Awas saja kalau kamu bertemu dengan mantan sialanmu itu lagi tanpa sepengetahuanku."


"Sudah kukatakan berkali-kali, aku nggak pernah menemuinya tanpa sepengetahuanmu sekali pun," ucap Radit, mendesah frustasi. "Kemarin itu, murni kebetulan saja aku bertemu dengannya di sana."


"Kamu dan rasa cemburumu yang berlebihan itu," gumam Radit.


"Apa katamu tadi?" serunya lantang, tidak senang apa yang baru saja ia dengar. "Bilang sekali lagi. Maka aku akan melemparkan wajah Gilang ke hadapanmu sekarang juga. Lalu kita akan melihat, seperti apa perilakumu padanya."


"Baiklah. Baiklah. Aku mengaku salah."


Radit mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.


"Berani sekali kamu mengkritik perilakuku, mengingat kamu lebih mengerikan lagi ketika sedang cemburu," gerutunya, mencebikkan bibirnya.


"Sudah cukup ngomel-ngomelnya! Sekarang berikan suamimu ini ciuman selamat pagi."


Menangkupkan kedua tangannya di pipi Widya, Radit menunduk untuk mengecup bibirnya. Mengangkat kepalanya, Radit menyeringai lebar padanya.


"Hapus seringai menyebalkanmu itu dari wajahmu!" perintahnya, sangat terganggu oleh seringaian suaminya. "Kamu nggak perlu mengumumkan pada semua orang yang ada di desa ini, bahwa kamu baru saja meniduri istrimu."


"Kamu ini bawel sekali," omel Radit, mengecup kembali bibirbya dengan keras. "Sekali lagi kamu mengeluarkan satu patah kata saja dari bibir manismu ini, maka kamu akan mendapati aku akan berpenampilan sama denganmu. Melihatmu begini, sungguh godaan besar bagiku."


Hanya perlu satu kali itu saja Radit memperingatkannya, Widya langsung menutup mulutnya serapat mungkin agar tidak mengeluarkan sepatah kata pun lagi.


***


Usai berganti pakaian dengan kaos yang ia bawa dari rumah, Radit bersiap untuk melakukan pekerjaannya. Saat menuju salah satu kandang hewan ternaknya, beberapa pekerjanya dibuat keheranan oleh tingkah lakunya, yang tidak seperti biasanya. Ia sadar itu semua diakibatkan oleh siulannya yang tiada henti, semenjak ia tiba di peternakan.


Meskipun ada beberapa orang yang menggodanya, termasuk temannya, Deni, itu tetap tidak bisa merusak suasana hatinya yang begitu bahagia hari ini. Bahkan, sikap ketus Sendi padanya beberapa jam yang lalu pun tidak bisa menghancurkan harinya yang indah ini.


Meski di samping itu, ia juga merasa kebingungan atas sikap ketus Sendi hari ini padanya. Setaunya ia tidak pernah melakukan hal apa pun, yang bisa menyinggung perasaan temannya itu.


Karena terlalu penasaran dengan sikap Sendi padanya tadi, Radit pun membagikan keluh kesahnya itu pada sahabatnya, Deni. Berharap sahabatnya itu tahu penyebab Sendi memiliki suasana hati yang begitu buruk hari ini.

__ADS_1


"Nggak usah kamu pikirkan, Dit. Palingan juga dia merindukan Mila, yang sampai sekarang belum juga kembali dari rumah Kakaknya di kota," ucap Deni, mengangkat bahunya. "Kamu tahu sendiri dia bagaimana. Rasa rindunya pada Mila, mungkin sudah membuatnya jadi agak sensitif."


"Semoga saja itu benar," ujar Radit, masih tetap merasa ada yang terlewatkan olehnya. "Entah mengapa, raut mukanya yang masam tadi masih terbayang-bayang di benakku. Seolah-olah dia tak merasa senang saat melihatku bahagia."


"Itu hanya perasaanmu saja. Yah, atau mungkin dia memang tak merasa senang. Lebih tepatnya iri dengan kebahagiaanmu mungkin," duga Deni, tergelak oleh pemikiran itu. "Dasar si Lajang Pendengki. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu, saat temannya sedang bahagia begini."


Tak kuasa menahan tawa, Radit juga ikut tertawa bersama Deni.


"Sepertinya kita berdua harus membantunya mendapatkan istri secepat mungkin, Den, supaya sikap dengkinya itu bisa hilang."


"Jangan sampai dia mendengar obrolan kita ini. Kalau dia tahu, dia akan melemparkan kita ke tengah kotoran sapi ini."


Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak oleh bayangan itu.


"Tunggu dulu! Ini bukan saatnya bagi kita tertawa haha hihu seperti ini," ujar Deni, memasang raut yang begitu serius. "Apa kamu tahu? Tadi malam setelah kepergianmu yang begitu mendadak bersama istrimu, nggak berapa lama Nadin juga berpamitan pulang dengan mata memerah, seperti orang mau menangis."


"Lalu, apa peduliku?" acuhnya.


"Kamu harus mempedulikannya," balas Deni. "Karena semua orang yang berada di sana langsung bergosip tentang dugaan-dugaan perkelahian di antara kalian bertiga, ketika berada di luar."


"Masa bodo apa pun yang orang lain katakan, aku nggak peduli."


"Apa kamu nggak berpikir, hal ini bisa saja terdengar oleh Bapakmu nanti. Terus nanti kamu mau bilang apa padanya, hah?"


Mengacak-acak rambutnya, Radit menyandarkan tubuhnya di pagar kandang.


"Aku benar-benar lelah dengan semua masalah yang menimpaku ini," keluhnya, menurunkan bahunya lesu. "Hilang satu masalah, muncul lagi masalah baru. Selalu ada saja yang membuat masalah di kehidupan pernikahanku ini."


"Nah, itu dia sumber masalahnya," tunjuk Deni, menggerakkan kepalanya ke arah yang ada di belakangnya.


Menolehkan kepalanya, Radit benar-benar tidak senang apa yang ia lihat di sana. Ia sungguh tak habis pikir dengan sikap Nadin. Harusnya setelah pertemuan terakhir mereka tadi malam, dia tidak akan pernah lagi menampakkan diri di hadapannya.


Nyalinya begitu besar, meski sudah diperingatkan oleh Widya tadi malam.


"Maafkan aku, sudah mengganggu perbincangan kalian berdua," ucap Nadin, tersenyum meminta maaf pada mereka berdua. "Jika kamu nggak keberatan, bisakah kamu berbicara denganku sebentar, Dit?"


"Nggak ada yang perlu kita bicarakan," jawabnya ketus.


"Sebentar saja, kumohon," pinta Nadin memelas. "Aku perlu menjelaskan apa yang belum selesai kukatakan tadi malam."


"Aku nggak tertarik sama sekali dengan penjelasan ataupun yang ingin kamu katakan padaku mengenai pembicaraan kita tadi malam," tolaknya tegas. "Seharusnya peringatan istriku tadi malam sudah menjelaskan padamu, jika dia nggak ingin aku berbicara berdua lagi denganmu. Jadi, kalau kamu memiliki sikap hormat sedikit saja terhadap permintaan istriku, jangan pernah menemuiku seperti ini lagi."


Ekspresi terpukul terpampang jelas di wajah Nadin, ketika mendengarkan teguran pedas itu.


"Sepertinya aku di sini hanya mengganggu pembicaraan kalian saja. Kalau begitu, aku permisi." Deni pamit undur diri, tidak merasa nyaman mendengarkan percakapan itu.


"Kamu nggak perlu melakukan itu!" serunya, menghentikan Deni meninggalkan mereka berdua saja di sana. "Karena sekarang juga dia yang akan pergi."


"Radit, kumohon. Aku perlu membicarakan ini denganmu," bujuk Nadin, menahan air matanya yang hampir menetes.


"Jika sepenting itu membicarakannya denganku, kamu bisa mengatakannya di sini."


"Dit, ini bukanlah hal yang bisa kita bicarakan di depan orang banyak. Aku harus membicarakan ini berdua saja denganmu," sahut Nadin keras kepala. "Aku nggak akan pergi sampai kamu mau berbicara denganku."


Menoleh ke sana kemari, Deni berjalan mendekat ke arahnya sambil berbisik kecil, "Aku rasa kamu harus membawa Nadin pergi dari sini sekarang juga, Dit. Beberapa orang sedang memperhatikan kita. Apa kamu mau, jadi pusat perhatian lebih banyak orang lagi?"


Memperhatikan sekelilingnya, Radit merasa Deni ada benarnya juga. Ia harus membawa pergi Nadin dari tempat ini sekarang juga. Berdebat dengannya di sini lebih lama lagi, hanya akan menarik perhatian semua orang yang berada di sana.


"Baiklah cuma sebentar, 5 menit. Hanya itu waktu yang bisa kuberikan padamu."


Ia mengangkat sebelah tangannya saat Nadin ingin memprotes.


"5 menit atau nggak sama sekali." Meski agak keberatan atas waktu yang begitu singkat itu, Nadin menganggukkan kepalanya setuju. "Ikuti aku!"


Di belakangnya, Radit sempat mendengar suara helaan napas lega Deni. Sebenarnya ia sangat tidak menyukai ide berbicara berdua saja dengan Nadin seperti ini. Hal ini hanya menimbulkan perasaan bersalah, karena telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan Widya padanya.

__ADS_1


Namun, pilihan apa yang ia miliki, selain menuruti kemauan keras kepala dari Nadin. Bersikukuh menolak berbicara dengannya, bahkan sampai mengusirnya, cuma akan membuat Radit jadi bahan pergunjingan oleh para pekerjanya.


Setidaknya, ia bisa mengandalkan sahabatnya Deni untuk meredakan berbagai spekulasi buruk terhadapnya. Semoga saja sahabatnya yang penuh dengan ide cemerlang itu bisa memikirkan alasan, kenapa Radit harus berbicara berdua saja dengan seorang perempuan, yang bukan istrinya.


__ADS_2